LOGIN"Halo?" sapa Ethan dengan nada pelan namun tegas."Ethan, ini aku," sahut suara parau Arthur Sinclair dari seberang telepon.Nada suara pria paruh baya itu terdengar jauh lebih ringan dan lega dibandingkan dengan percakapan mereka beberapa hari yang lalu.Beban berat di dada Arthur seolah telah terangkat sepenuhnya setelah membuang sumber penyakit dari dalam rumah tangganya semalam."Ada apa, Arthur? Kamu belum tidur jam segini?" tanya Ethan berbasa-basi dengan sopan."Aku tidak bisa tidur, Ethan. Pikiranku terus melayang pada putriku," jawab Arthur jujur mencurahkan isi hatinya."Aku ingin bertemu dengan Tiffany besok pagi. Aku ingin datang ke rumah kalian untuk meminta maaf padanya secara langsung."Permintaan tulus dari mertuanya itu membuat Ethan menyunggingkan senyuman hangat yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain.Pria penguasa itu tahu betul betapa hancurnya perasaan Arthur, namun ia juga menghargai keberanian pria tua itu untuk mengakui kesalahannya dan berus
Wanita yang dulu menyewa koki bintang lima untuk memasak hidangan laut mewah, kini harus menangis mengunyah daging sisa bekas gigitan orang asing.Semua kekuasaan, uang curian miliaran rupiah, dan takhta palsunya hancur lebur ditukar dengan sebungkus sampah di belakang restoran.Kesombongannya telah dibayar lunas oleh hukum karma yang paling menyiksa mental dan fisiknya tanpa ampun.Tanpa Beatrice sadari, adegan menyedihkan yang sedang ia lakukan itu tidak luput dari pengawasan sepasang mata tajam dari kejauhan.Sekitar dua puluh meter dari mulut gang gelap tersebut, sebuah mobil sedan hitam legam tanpa pelat nomor terparkir rapi di bawah bayangan pohon besar.Kaca film mobil yang luar biasa gelap menyembunyikan sosok pria berjas abu-abu yang duduk diam di kursi kemudi.Marcus menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya, menatap lurus ke arah Beatrice yang sedang asyik memakan sampah dari dalam plastik hitam.Tangan kanan Marcus memegang sebuah ponsel pintar, mengarahkan kamera r
Tangis keputusasaan akhirnya meledak menghancurkan dada Beatrice.Ia menangis tersedu-sedu, menutupi wajahnya yang berdarah menggunakan telapak tangannya yang kotor.Ia teringat kata-kata Arthur semalam yang mengutuknya untuk hancur menjadi debu yang tidak berharga di kota ini.Kutukan itu benar-benar menjadi kenyataan yang paling mematikan bagi kesombongannya.Matahari sore perlahan meredup, langit ibu kota berubah menjadi gelap gulita ditutupi oleh awan hitam pertanda malam akan turun membawa hujan baru.Beatrice memaksa dirinya untuk kembali berdiri, mengabaikan rasa perih di lututnya yang terus mengeluarkan darah segar.Ia harus menyingkir dari kawasan mal ini sebelum satpam butik itu benar-benar memanggil polisi untuk menangkapnya lagi.Wanita paruh baya itu kembali berjalan tanpa arah, menyeret kakinya menembus kegelapan malam yang perlahan mulai menyelimuti pinggiran kota.Rasa haus yang tadi menyiksa kini berganti menjadi rasa lapar yang teramat sangat buas.Perutnya
Nyonya Vivian atau Nyonya Rosaline pasti bersedia meminjamkan uang padanya jika ia memelas dengan gaya yang tepat.Dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, Beatrice menyeberangi jalan raya dengan susah payah, mengabaikan klakson panjang dari deretan mobil yang marah padanya.Ia melangkah menaiki trotoar pualam di depan lobi butik mewah tersebut.Dua orang satpam berseragam safari hitam berdiri tegap menjaga pintu kaca ganda butik yang tertutup rapat.Beatrice mengenali salah satu satpam itu. Pria berbadan besar bernama Herman yang kemarin sore sempat membukakan pintu mobilnya dengan sangat hormat."Herman," panggil Beatrice dengan suara serak seraya melambaikan tangannya yang kotor.Satpam bernama Herman itu menoleh cepat, mengerutkan keningnya melihat sosok wanita berpenampilan mengerikan berjalan ke arah pintu masuk butik.Herman sama sekali tidak mengenali wajah kotor dan rambut kusut di depannya ini sebagai Nyonya Sinclair yang elegan.Ia hanya melihat seorang gelandangan gil
"Permisi ... Pak, permisi," panggil Beatrice pada seorang pria paruh baya berkemeja rapi yang berjalan ke arahnya."Boleh saya pinjam telepon selulernya sebentar? Saya harus menghubungi keluarga saya," pinta wanita itu dengan sisa-sisa gaya bicaranya yang sopan.Pria itu menatap Beatrice dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan jijik yang sangat terang-terangan."Pergi sana, orang gila! Jangan dekat-dekat denganku!" bentak pria itu seraya mengibaskan tangannya mengusir Beatrice.Pria itu bergegas mempercepat langkahnya, takut jika wanita berpakaian aneh ini tiba-tiba menyerang atau mencopet dompetnya.Penolakan kasar itu menghantam harga diri Beatrice dengan sangat keras.Dulu, pria kelas pekerja seperti itu pasti akan menundukkan kepala dan menyapanya dengan panggilan hormat setiap kali berpapasan di jalan.Sekarang, pria miskin pun merasa berhak membentak dan menghinanya di tempat umum.Beatrice menggigit bibir bawahnya, menahan air mata penghinaan yang terus mend
Dunia di sekelilingnya serasa berputar cepat, menghantam kepalanya dengan kenyataan yang luar biasa mengerikan.Tanpa kartu identitas, ia tidak akan bisa menyewa kamar hotel, tidak bisa melamar pekerjaan, bahkan tidak bisa meminta bantuan pada lembaga sosial pemerintah.Ia benar-benar dihapus dari keberadaan dunia sipil."Kalian tidak bisa melakukan ini padaku! Ini melanggar hak asasi manusia!" teriak Beatrice histeris meronta-ronta menolak kenyataan."Aku akan melaporkan kalian semua ke komisi hak asasi! Aku akan menyewa pengacara hebat untuk memenjarakan kalian!" ancam wanita itu membabi buta.Komandan polisi itu mendengus kasar, ia memberi isyarat tangan pada dua petugas jaga yang berdiri di dekat pintu."Bawa orang gila ini keluar lewat pintu belakang. Jangan biarkan dia mengotori lobi depan kantor kita," perintah komandan itu tanpa belas kasihan.Dua petugas itu langsung melangkah maju, mencengkeram kedua lengan Beatrice dengan sangat kuat."Lepaskan aku! Kalian polisi k
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan
Beatrice meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun tajam, lalu meraih tangan Chloe yang masih terulur manja ke arah Arthur. Tatapannya tertuju lurus pada suami yang kini tampak bimbang di bawah pengaruh kata-katanya. Dia mengusap punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang yang







