MasukAluna terdiam cukup lama setelah mendengar kalimat itu. Tatapannya terus tertuju pada wajah Raka yang berada begitu dekat di depannya. Tidak ada keraguan di sana. Tidak ada kebohongan. Hanya keyakinan yang justru membuat dada Aluna kembali terasa penuh. “Kenapa liatin aku terus?” tanya Raka pelan. Sudut bibirnya sedikit terangkat. “Aku makin ganteng, ya? Kamu kangen sama aku?” Aluna langsung mendengus kecil. Lalu mengulas senyum. “Situasinya serius, Raka,” katanya dengan suara berbisik. “Masih aja bercanda.” “Aku juga serius.” Raka mengusap ujung mata Aluna yang masih basah. “Aku serius mau jagain kamu. Aku serius mau ada terus di dekat kamu.” Kalimat itu membuat Aluna kembali menunduk. Jemarinya tanpa sadar memainkan ujung kaos Raka. Kepalanya masih penuh dengan ketakutan, tapi sekarang ada sesuatu yang berbeda. Kini Aluna merasa tidak sendirian lagi. Raka memperhatikan wanita di depannya diam-diam. Rambut Aluna masih sedikit berantakan. Matanya sembab karena terlalu banyak mena
“Aku cuka tokoh variabel yang bisa menghilang dan terasing kapanpun.” Raka mengeraskan rahangnya. Pupilnya menggelap tanpa sadar. Dia juga terluka. Dia terkoyak, bahkan lebih buruk dari Aluna. “Aku tahu,” bisiknya. “Aku tahu semuanya, Aluna.” Aluna kembali menggeleng. Dia mendorong dada Raka. “Sekarang kamu bilang, kamu tahu semuanya?” tanya Aluna. “Lalu apa yang terjadi sama dunia ini, Raka? Akan hilang? Akan hancur?” Hening. Tak ada yang bicara. Keduanya bungkam dalam isi kepala masing-masing. Sebelum akhirnya Raka menghela napas panjang. Raka pelan-pelan menyentuh pundak Aluna. “Kamu masih percaya sama aku, Luna?” Raka menatap Aluna lebih dalam. “Aku Raka. Aku suami kamu, Aluna…” Dada Aluna mengembang dalam sekejap. Tatapan Raka masih sama. Hangat, dan sangat menenangkan. Aluna menatap Raka cukup lama. Seolah sedang memastikan pria di depannya benar-benar nyata dan tidak akan menghilang begitu saja. “Aku percaya sama kamu,” bisiknya lirih. “Tapi aku takut, Raka. Aku ta
Aluna masuk ke dalam rumah dengan setengah berlari. Dadanya masih berdegup dengan cepat. “Tatapan Arga,” gumamnya pelan. Kedua tangannya mencengkram pinggiran sofa. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana Arga tersenyum padanya. Sentuhan hangat di pundaknya, membuat Aluna refleks menepis. Dia mundur satu langkah. Wajahnya tegang dan pucat. “Kamu kenapa?” tanya Raka dengan kedua alis saling bertaut. Sedangkan Aluna, wanita itu masih tegang. Lidahnya tak bisa bergerak. “Hey, kenapa? Apa yang terjadi?” Raka menyentuh pipi Aluna yang pucat pasi. “Aku di sini, semua akan baik-baik aja.” Aluna menggeleng. Dia menelan salivanya susah payah. “Ra-Raka… Raka, apa dia sudah pulang?” tanta Aluna. Tatapannya mengarah ke pintu utama, membuat Raka ikut menoleh ke sana. “Apa dia udah pulan, Raka!” Suara Aluna meninggi. “Jawab aku!” “Hey, semua baik-baik aja, Aluna.” Raka menarik Aluna masuk ke dalam dekapannya. “Semua baik-baik aja. Kamu nggak perlu setakut ini.” Aluna mempererat peluk
“Kapten Raka ada di rumah?” Suara itu membuat Raka dan Aluna membeku. Mereka berdua mengenal dengan jelas siapa pemilik suara itu. “Arga,” gumam Raka. Dia meremas ujung meja, lalu bergegas pergi menuju pintu utama. Sedangkan Aluna, wanita itu justru tak bisa bergerak. Matanya terus menatap kepergian Raka. Rahangnya mengeras dengan tangan mencengkram sendok. “Jadi dia juga ada di sini?” gumam Raka dengan suara yang nyaris tak terdengar. “Arga… si editor itu?” Aluna perlahan berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar. Napasnya sudah sedikit tersengal. Di dalam kepala Aluna terus terbayang ucapan-ucapan Arga di ruang tunggu rumah sakit kala itu. “Luna?” Suara Raka dari arah ruang depan membuat Aluna tersadar dari lamunannya. Namun tubuhnya masih terasa kaku. Jemarinya dingin walau telapak tangannya mulai berkeringat. Dia menelan ludah pelan. Langkah kaki terdengar mendekat dari arah pintu utama. Disusul suara Mbok Sari yang masih terdengar ramah menyambut tamu. “Masuk dulu Pak
Raka tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Aluna. Jemari pria itu perlahan mengusap punggung tangan Aluna menggunakan ibu jarinya. Gerakan kecil yang biasanya menenangkan, tapi kali ini justru membuat dada Aluna semakin tidak nyaman.“Kenapa nanya begitu?” tanya Raka akhirnya. “Apa ada yang aneh sama Letkol Arga?”Aluna menggigit bibir bawahnya pelan. Dia sendiri bingung harus menjawab apa. Karena kalau dia terlalu banyak bertanya tentang Arga, Raka pasti mulai curiga.“Aku cuma—” Aluna menghela napas pelan. Dia menggantung kalimatnya. “Ngerasa kamu berubah tiap dengar nama dia. Tadi aja, ekspresi kamu jadi berubah dingin.”Raka terkekeh kecil. Tawa yang jelas tak sampai ke matanya. “Aku berubah tiap dengar banyak nama orang, Luna. Bukan karena Letkol Arga aja.” Aluna sedikit menyandarkan tubuhnya. Dia menatap Raka dengan napas yang berat. “Tapi ini beda, Raka.” Aluna sedikit menekan kalimatnya. Raka terdiam beberapa saat. Dia ingin menceritakan semuanya, tapi Aluna
Hening langsung turun di meja makan. Aluna yang tadi masih memegang sendok perlahan menghentikan gerakannya. Sedangkan Raka, pria itu masih menatap layar ponselnya tanpa berkedip.Getaran ponsel itu berhenti. Namun beberapa detik kemudian, kembali bergetar. Nama yang sama muncul lagi.“Kenapa nggak diangkat?” tanya Aluna hati-hati. “Itu atasan kamu kan? Ko mukanya tegang banget. Apa ada masalah?”Raka tidak langsung menjawab. Rahangnya masih terlihat mengeras. Tatapannya begitu tajam sampai Aluna ikut menahan napas.“Raka?” tanya Aluna lebih hati-hati. “Kamu baik-baik aja?”Pria itu akhirnya menghela napas panjang. Lalu membalik ponselnya hingga layar menghadap meja.“Gangguan pagi,” gumamnya datar. “Nggak harus diangkat. Ini belum masuk jam kerja.”Aluna mengernyit samar. Dia tidak percaya akan mengatakan ini. Karena Raka sebelumnya yang ia kenal, tidak akan pernah mengabaikan panggilan atasannya semudah ini.“Gangguan? Yakin?” tanya Aluna sedikit mengintrogasi. Raka kembali menyand
Mobil melesat. Mesin meraung keras ketika Raka menekan pedal gas lebih dalam. Jalan yang tadinya lengang tiba-tiba terasa seperti arena perburuan. Aluna mencengkeram pegangan di atas pintu. “Raka mereka makin dekat!” pekiknya. Mobil hitam di belakang mereka mempercepat laju. Lampu depannya meny
Halaman kantor polisi sektor itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa motor terparkir dan satu mobil patroli yang berdiri di dekat gerbang. Aluna masih duduk di dalam mobilnya. Kedua tangannya memegang setir dengan lemah. Napasnya belum benar-benar stabil setelah kejadian tadi. Ia menatap ke
Mobil Aluna melaju cukup cepat di jalan raya yang masih dipenuhi kendaraan pagi hari. Matahari sudah naik lebih tinggi, tapi udara kota masih terasa sedikit dingin. Mungkin efek dari pagi tadi yang sempat turun hujan. Kedua tangan Aluna mencengkeram stir dengan erat. Ia tidak benar-benar tahu k
Di bawah, Arga dan Sabrina sudah duduk tenang seperti sebelumnya. Sabrina tampak anggun dengan aura dingin yang sulit disentuh. Dia duduk dengan kaki disilangkan, gaun biru tua membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara rambutnya terikat rapi tanpa satu helai pun yang lepas.







