로그인“Baik,” gumamnya. “Kita punya banyak waktu.” Dia melirik ke arah anggota PM dan beberapa anak buahnya yang baru masuk. Tanpa perlu perintah panjang, dua orang langsung maju. Kursi Raka didorong kasar hingga hampir terjatuh. Tubuhnya ditarik, lalu dipaksa berdiri. Kedua tangannya diikat membentang. BUGH! Pukulan kedua. Kali ini dari sisi lain. Tubuh Raka terhuyung, tapi dia tetap bertahan. Kakinya tidak goyah. Meski napasnya mulai berat. “Ngaku saja,” ujar salah satu petugas dengan suara rendah. “Ini akan lebih mudah. Kamu tidak perlu menahan rasa sakit ini.” Raka terkekeh pelan. Suaranya sudah terdengar serak dan berat. “Mudah untuk siapa?” Satu pukulan lagi mendarat di perutnya. Raka membungkuk sesaat. Napasnya terputus, ketika merasakan gelenyar aneh di area perutnya. Kolonel Andi menatap itu semua tanpa ekspresi. Seol
Sebelumnya… Raka mengikuti sesuai arahan. Dia tahu kalau mereka akan langsung membawanya ke penjara. “Apa di sana ada Kolonel?” Pertanyaan Raka membuat satu prajurit meliriknya. Dia mengangguk sungkan. “Siap. Ada Kapten!” Suara lantangnya membuat Raka tersenyum. Karena sebelumnya mereka tidak setakut ini. “Maafkan kami, Kapten—” kalimat mereka menggantung ketika Raka berdehem. Langkah mereka berhenti, lalu melirik Raka pelan. Pria itu sudah tersenyum. “Kalian hanya melakukan tugas. Kalau kalian tidak patuh, itu baru kesalahan.” Mereka semua menunduk. Mereka tidak menyangka akan menyeret Raka ke dalam penjara. Orang yang paling pengertian, orang yang paling ramah dan tidak pernah sombong walau prestasinya melebihi pangkatnya sendiri. Perjalanan dilanjutkan. Tepat ketika berada di depan pintu besi yang tertutup itu, dada Raka sedikit menyempit. Dia ingat janj
Aluna menyandarkan tubuhnya di kursi besi. Dia kini sedang duduk di ruang UGD. Mendapatkan pasien yang tiba-tiba banyak, membuat tenaganya terkuras habis malam ini. Salah satu dokter UGD sampai tidak enak karena mendapat bantuan dari Aluna yang jelas bukan bagian dari UGD. Sebagai tanda terima kasih, dia bahkan diberi beberapa cemilan dan air mineral, lengkap dengan waktu bersantai. Tubuhnya memang bersantai, tapi isi kepalanya masih terlalu penuh. “Raka… gimana kabar kamu di sana?” bisik Aluna sambil meneguk minuman bersoda di tangannya. Dia menatap langit-langit rumah sakit sebentar, lalu memejamkan mata. Menikmati setiap denyut rasa lelah yang mengalir bersama darahnya. Belum ada lima belas menit dia menikmati waktunya, tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Sindi. ‘Aluna ke ruang ICU sekarang! Rengganis kolaps! Panggil Dr. Sari juga!’ Suara Sindi ya
Jantung Aluna berdetak lebih cepat. Dia yakin, raut wajahnya juga sudah berubah tegang. Dengan terus menahan diri, Aluna berusaha menarik napas, lalu tersenyum simpul. “Saya nggak punya alasan untuk takut,” katanya. “Karena saya tidak melakukan kesalahan. Terlebih, operasi sudah berjalan lancar, dan pasien selamat. Itu sudah cukup.” Aisar mengangguk pelan. Dia bertingkah seolah mengapresiasi jawaban itu. “Bagus,” gumamnya. “Karena memang itu tugas dokter yang sebenarnya.” Aluna menatap Aisar lama, sebelum akhirnya dia tersenyum. Lalu membuang muka. “Atau jangan-jangan kamu tidak tahu kalau Rengganis adalah pasien lama di rumah sakit ini?” Namun Aisar tidak menjawab. Dia hanya mendorong tubuhnya dari dinding, lalu berjalan mendekati Aluna. Langkahnya pelan. Tapi setiap pijakan terasa menekan dan mencekam. Dia berhenti tepat di depan Aluna. Terlalu dekat. “Aku akan tahu semua yang harus aku ta
‘Aisar…’ Belum sempat Raka mengingat semuanya, tiba-tiba beberapa petugas bersenjata lengkap datang. “Maafkan kami, Kapten,” ujar salah seorang petugas yang berdiri paling depan. Bahkan Raka dan Dion juga tahu siapa dia dan siapa mereka. Iya. Mereka adalah anggota polisi militer dan juga bawahan Ankum. Sebelumnya mereka sangat dekat dengan Raka. Mereka juga tahu bagaimana Raka dan kebiasaan Raka. Tak ada satupun yang percaya kalau Raka menjadi dalang atas kematian Lukas. Namun hukum hanya melihat bukti. Dan sekarang, pria itu akan kembali diproses. Raka menatap lurus ke arah mereka. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja akan kembali diseret ke dalam proses hukum yang tidak adil baginya. Dion berdiri lebih dulu. Kursinya terdorong ke belakang dengan suara keras yang memantul di dinding ruang interogasi. “Ini belum selesai,” ucap
“Tambahkan cairan. Jangan sampai drop.” Matanya menyapu luka itu. Mencari, menghitung, sambil memperkirakan jalur peluru. Dan di saat itu, tangan Aluna berhenti. Bayangan muncul di kepalanya. Bayangan tentang lorong gelap dan bau darah, serta suara tembakan yang pernah dialami sebelumnya. Satu nama terlintas kembali di benaknya. Raka. “Fokus, Luna!” suara Sindi membuyarkan lamunannya. Aluna tersentak dengan satu tarikan napas yang berat. “Maaf,” gumamnya lirih. Dia mengangguk samar. Untuk kali ini, dia tidak boleh goyah. Nasib Rengganis ada di tangannya. “Clamp.” Tangannya kembali bergerak. Dan akhirnya, dia menemukan sesuatu yang dia cari. “Ketemu.” Peluru itu terlihat. Dia tersangkut di jaringan paling dalam.
Tepat ketika Raka hendak mencium lehernya, Aluna kembali mendorong Raka untuk menjauh. Raka sedikit mengernyit. Dia menatap Aluna lebih dalam. “Kenapa? Kamu belum siap?” Aluna menggeleng. Gelengan itu bukan jawaban dari pertanyaan Raka. Dia hanya berusaha menolak
“Aluna apa yang terjadi?” Raka kembali mengguncang pundak Aluna, pelan. Wanita di depannya masih menatap dengan tatapan kosong. Nyawanya seperti habis ditarik dan diajak pergi entah kemana. Tangan Aluna yang dingin, kembali menyentuh wajah tegas Raka. Dia bahkan memir
“Aku jadi bingung, kamu jahat apa cuma korban dari rasa sakit,” gumam Aluna, seraya menyandarkan tubuhnya di kursi di sisi ranjang. Matanya tidak lepas dari Rengganis yang tampak lebih pucat. Aluna menarik napas berat, lalu memejamkan matanya. Baru beberapa detik matanya terp
“Jangan bunuh dia. Dia berhak bahagia. Raka sudah mulai berubah. Dia mulai mencintai Aluna. Kamu tahu itu, kan? Rumah tangga mereka bisa diselamatkan, nggak semua cerita harus berakhir sedih, kan?” Jarinya makin mencengkeram tangan Rengganis. “Please… aku mohon. Jangan ambil itu







