Share

Bab 2

Author: Sena
Setelah dirawat di rumah sakit selama satu minggu, Laila akhirnya diperbolehkan pulang. Awalnya Bima berjanji akan menjemputnya, namun mendadak ada urusan. Dan akhirnya dia hanya meminta sopir untuk menjemput Laila.

Laila tidak berkata apa-apa. Ia naik ke mobil, lalu dengan santai mengeluarkan ponselnya dan membuka sosial media. Tepat saat itu, ia melihat unggahan terbaru Aya.

[Pemandian air panas di pinggiran ibu kota benar-benar luar biasa. Begitu berendam, semua bekas di tubuh langsung hilang. Jadi "si dia" tidak akan menyadari bekas itu.]

Foto yang ia unggah adalah swafoto Aya yang mengenakan bikini. Dan di sampingnya, tampak sebuah lengan pria.

Tanpa perlu berpikir lama, Laila langsung mengenali lengan itu. Itu Bima, sekarang Laila mengerti, ternyata inilah urusan mendadak yang dimaksud Bima. Kemudian Laila dengan mantap menekan tombol suka.

Malam itu, pukul sepuluh lewat, Bima baru pulang. Begitu masuk, ia langsung memeluk Laila sambil meminta maaf.

“Laila, maaf. Tadi pekerjaan di kantor sangat banyak. Aku tidak sempat menjemputmu dari rumah sakit.”

Laila menghindari pelukannya dengan ekspresi datar. “Tidak apa-apa. Pekerjaan memang lebih penting.”

Melihat sikapnya yang tampak biasa saja, Bima segera menghela napas lega. Ia kembali berbicara dengan lembut, “Kamu belum makan malam, kan? Aku sudah menyuruh asistenku membeli masakan dari restoran favoritmu. Makan ya, meskipun hanya sedikit.”

“Nanti malam waktu kamu mandi, aku bantu menutup semua lukamu dengan kasa tahan air, supaya tidak terkena air.”

“Dan juga saat tidur, hati-hati. Jangan sampai lukamu tergesek.”

Mendengar kata-kata penuh perhatian itu, hati Laila terasa remuk.

“…Iya,” jawab Laila singkat.

Aneh sekali. Padahal tidak ada yang berubah dari sikap Bima, namun kini segala sesuatunya terasa berbeda. Orang di hadapannya masih sama. Tapi perasaan cinta yang dulu tak mungkin lagi ditemukan kembali.

Saat Bima bangkit menuju kamar mandi, Laila kembali tenggelam dalam pikirannya. Kemudian ponsel Laila bergetar. Laila melirik layarnya, di sana menampilkan pesan dari Aya.

[Tadi malam kami melakukannya empat kali. Enak sekali.]

[Sudah berapa lama dia tidak menyentuhmu? Apa kamu tidak penasaran alasannya?]

[Kalau ingin tahu jawabannya, coba cek saku bajunya. Di dalamnya ada kejutan.]

Begitu pesan itu terkirim, Aya langsung menghapus semua pesan itu. Sungguh, upaya menutupi yang justru memperjelas segalanya.

Laila tahu Aya sengaja ingin menusuk perasaannya, tapi ia tetap tak kuasa menahan diri. Pada akhirnya Laila tetap berjalan dan mengambil jaket Bima yang dilempar sembarangan.

Saat tangannya masuk ke dalam saku, yang ia dapati adalah celana dalam thong wanita yang dihiasi renda dan pita kecil, sangat seksi dan vulgar.

Laila masih terpaku ketika Bima keluar dari kamar mandi. Melihat celana dalam itu di tangan Laila, Bima langsung merebutnya dengan wajah panik.

“Pasti ulah iseng Wahyu dan lainnya. Laila, jangan salah paham, aku… aku…”

Penjelasan itu membuat rasa mual yang sangat hebat menyergap Laila. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan muntah tanpa henti, seperti hampir memuntahkan empedunya. Bima panik dan mengambilkan air untuk Laila, lalu memeluk dan menepuk punggungnya dengan cemas.

Beberapa saat kemudian, Bima tiba-tiba berkata, “Laila, kamu tidak sedang hamil, kan?”

Laila tertegun sejenak. Lalu ia mendongak, wajahnya yang pucat pasi menampilkan senyuman getir.

“Bima, apa kamu ingat sudah berapa lama kamu tidak menyentuhku?”

“Aku sendirian. Dengan siapa aku bisa hamil?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 29

    Acara pertunangan Laila dan Hendri digelar dengan suasana yang hangat dan penuh keintiman. Meski hanya pertunangan, Hendri tetap mengundang tim perancang busana internasional ternama dan secara khusus meminta mereka merancang gaun pertunangan untuk Laila.Seorang gadis memang tak pernah bisa tahan jika dihadapkan dengan pakaian yang indah, terlebih lagi Laila sendiri berlatar belakang desain. Saat mengenakan gaun itu, hati Laila langsung dipenuhi kegembiraan. Ia bahkan spontan berjinjit dan mengecup pipi Hendri.“Pak Hendri benar-benar royal. Terima kasih!”Setelah ciuman di pipi itu, Laila hendak pergi, namun Hendri segera menariknya kembali ke dalam pelukan sambil tersenyum nakal.“Ucapan terima kasihmu terlalu asal. Aku tidak terima.”Laila tertawa. “Lalu Pak Hendri mau yang seperti apa?”Hendri mendekat ke telinga Laila, berbisik pelan, “Malam ini…”Wajah Laila langsung memerah. Setelah mendengar kelanjutannya, ia melotot kesal.“Dasar mesum!”Hendri tertawa lepas, lalu mencuri dua

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 28

    Hubungan asmara Laila dan Hendri terjalin secara alami. Tak ada pengakuan cinta yang resmi, tak ada momen dramatis yang dibuat-buat. Perasaan di antara mereka tumbuh perlahan, seperti aliran air yang tenang namun pasti.Di hari rancangan akhir pemandian air panas disetujui, seluruh tim berkumpul untuk merayakan keberhasilan itu dalam sebuah jamuan. Di tengah suasana hangat dan tawa yang riuh, Hendri tiba-tiba mengeluarkan sebuah cincin berlian besar, berkilau sebesar telur merpati. Lalu, dengan sedikit pengaruh alkohol, mengangkatnya ke hadapan Laila.“Laila, maukah kamu menikah denganku?”Lukas yang melihat pemandangan itu langsung mendengus dingin. “Menikahi adikku tidak semudah itu. Kamu pikir cukup dengan cincin murahan seperti itu?”Tak disangka, Hendri sudah menyiapkan semuanya. Ia kemudian memberi isyarat singkat pada asistennya, dan tak lama kemudian sebuah map tebal diserahkan ke tangannya. Hendri langsung mengoper map itu ke Lukas.“Ini dua puluh persen saham perusahaanku. Su

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 27

    Mendengar semua kebenaran yang diucapkan Bima, bukan hanya terkejut, tapi Laila juga merasa semuanya begitu tak masuk akal. Hal-hal yang dulu tak pernah bisa ia pahami, kini justru menjadi jelas dalam sekejap. Ternyata Bima bukan tiba-tiba berhenti mencintainya, melainkan sejak awal, Bima memilih untuk tidak lagi mencintainya.Laila terkekeh pelan seraya berkata, “Jadi selama ini kamu yakin aku akan selalu berada di sisimu bukan karena aku mencintaimu, tapi karena kamu merasa aku berutang padamu, ya?”“Kamu menganggapku sebagai kompensasi dari Keluarga Permata, sebagai barang yang seharusnya menjadi milikmu, benar begitu?”Bahasanya kasar, tapi logikanya tepat. Bima terdiam, tak ada satu kata pun sanggahan keluar dari mulutnya.Saat itu juga, Laila benar-benar memahami situasi. Ia menatap Bima, menelusuri wajahnya dengan saksama. Seolah Laila melihatnya untuk terakhir kali.“Bima, sekarang aku sadar, selama ini aku tidak benar-benar memahamimu. Mungkin selama bertahun-tahun ini, yang k

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 26

    Pupil mata Aya mendadak membesar. Pertanyaan yang datang tiba-tiba itu membuat suaranya mulai bergetar.“A-aku… aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”Laila melanjutkan dengan nada bicara yang stabil dan tenang, “Kamu menyuap dokter di Kota Jaya untuk memalsukan semuanya. Karena itu, di setiap momen penting kamu selalu mengeluh perutmu sakit, agar Bima datang menemui kamu. Kalau tebakanku tidak salah, pada hari kami hendak mendaftarkan pernikahan pun, kamu sengaja membesar-besarkan kondisimu, sampai-sampai Bima begitu khawatir dan lupa sama sekali untuk pergi ke Kantor Catatan Sipil, benar bukan?”Sebenarnya, Laila sudah lama mencurigai hal ini. Sejak melihat Aya mampu bangun dan bergerak dengan leluasa sesaat setelah "operasi keguguran" selesai. Apalagi dia juga sempat melihat Aya diam-diam menyelipkan uang tunai kepada dokter yang menanganinya di rumah sakit, kecurigaan Laila menjadi semakin kuat.Ia pun mencoba menguji kebenarannya. Laila menyiapkan uang 40 juta dan memberikan

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 25

    “Tidak mungkin! Kamu pasti bicara seperti itu karena kamu masih marah!”Bima sama sekali tidak bisa menerima jawaban Laila. Selama ini, dia berani bersikap semena-mena dan bermain gila-gilaan dengan Aya, itu berdasarkan satu keyakinan mutlak bahwa Laila cinta mati padanya. Termasuk saat Laila kembali ke Kota Hana. Bima terus mengganggu Laila, terus memaksakan diri muncul di hadapan Laila, karena ia yakin Laila masih mencintainya.Namun, tadi Laila lebih memilih Hendri ketika bahaya datang, dan kata-kata yang ia ucapkan tanpa ragu itu benar-benar membuat Bima merasakan kepanikan mutlak untuk pertama kalinya.Laila kembali berbicara, suaranya masih tenang dan tegas. “Aku tidak sedang bicara karena emosi. Semua yang kukatakan adalah kebenaran.”Bima yang sudah kehilangan kendali tetap menggeleng keras, menolak percaya kalimat-kalimat yang diucapkan Laila.“Baik! Kalau begitu katakan padaku, sejak kapan kamu tidak mencintaiku? Dan kenapa?”“Sejak pertama kali aku tahu tentang hubungan gela

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 24

    Setelah acara lelang berakhir dan jamuan malam dimulai, Laila baru melangkahkan kaki untuk keluar ketika seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh, dan mendapati Bima berdiri di sana. Di tangan Bima tergenggam gelang giok jadeite yang baru saja ia menangkan dalam lelang. Kemudian ia mengulurkannya ke arah Laila.“Laila, kamu sudah 99 kali memaafkanku, aku bersedia menebus semuanya satu per satu, asal kamu mau memberiku satu kesempatan lagi.”“Cincin lamaran yang kuberikan padamu itu sebenarnya sudah kupilih sejak beberapa tahun lalu. Meski tidak besar, itu adalah wujud niatku untuk menikahimu. Sedangkan yang diperlihatkan Aya padamu, itu dia beli sendiri dengan kartu kreditku. Aku tahu hal itu sangat melukaimu, jadi anggap saja gelang giok ini sebagai permintaan maafku.”Setelah berpisah dengan Laila, Bima justru semakin menyadari betapa baiknya Laila padanya, dan betapa penting keberadaan Laila dalam hidup Bima. Bima dengan cepat dapat memastikan satu hal, ia tak bisa keh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status