Share

Bab 3

Author: Sena
Sejak dulu, saat Laila baru mengenal dunia, Laila pun sudah mengenal Bima. Saat itu, Grup Permata dan Grup Brahmana adalah rekan bisnis. Kakak Laila, Lukas Permata, dan Bima pun sahabat karib. Ketiganya hampir selalu terlihat bersama, mereka tak terpisahkan.

Di masa-masa itu, Laila sangat bahagia, ia memiliki kakak yang menyayanginya, dan juga Bima, seorang sahabat yang tumbuh bersamanya.

Pada usia tujuh belas tahun, Bima menyatakan perasaannya pada Laila. Saat itu, di mata remaja itu, ada rasa gugup yang bercampur dengan rasa cinta yang tulus. Dan yang paling penting dari segalanya, yaitu tekad untuk menemani Laila seumur hidup.

Lima tahun berlalu begitu saja. Itu adalah lima tahun paling bahagia dalam hidup Laila. Namun kemudian, Grup Permata dan Grup Brahmana bersaing memperebutkan suatu proyek. Grup Permata unggul tipis dan memenangkan proyek itu.

Ayah Bima yang telah menanamkan modal sangat besar, berakhir rugi total. Dia langsung terkena serangan jantung dan nyawanya tidak bisa terselamatkan. Tak lama dari kejadian itu, Grup Brahmana pun jatuh bangkrut.

Kebencian Bima pun meluap tanpa batas. Ia seketika memutus hubungan sepenuhnya dengan Keluarga Permata. Dengan disaksikan banyak orang, ia melontarkan ancaman keras pada Laila.

“Antara Keluarga Permata atau aku, kamu hanya boleh memilih satu!”

Karena rasa cinta Laila kepada Bima, dan juga diliputi rasa bersalah atas kematian ayah Bima, Laila akhirnya mengambil keputusan kejam. Ia memutus hubungan dengan kakaknya, Lukas, dan mengikuti Bima ke kota Jaya untuk memulai usaha dari nol.

Di tahun pertama, Bima memang sangat terharu. Meski kebenciannya pada Lukas begitu dalam, ia tak pernah menunjukkannya di hadapan Laila. Bima bahkan sengaja menghindari pembicaraan soal pekerjaan di depannya.

Namun memasuki tahun kedua, saat karir Bima mulai menanjak, Aya hadir di kehidupan kami sebagai sekretaris Bima. Sejak saat itu, hubungan di antara Laila dan Bima perlahan berubah menjadi remang dan ganjil.

Bima mulai jarang pulang, dan ketika pulang ke rumah, ia menggunakan kesibukannya sebagai dalih lalu tidur di kamar tamu. Semakin lama, ia semakin sering berdua saja dengan Aya. Aya pun berubah, dari awalnya gugup dan menutupi, kini menjadi terang-terangan menantang.

Laila terus menenangkan dirinya sendiri, meyakinkan bahwa semua ini hanyalah pikiran buruknya saja. Hingga kecelakaan itu terjadi, barulah ia tersadar.

Bima sudah tidak mencintainya lagi. Kenyataan itu memang kejam, namun itulah faktanya.

Setelah Laila melontarkan kalimat itu, Bima langsung bergegas pergi sambil membanting pintu kamar keras-keras, tanpa menoleh sekali pun.

Tak lama kemudian, ada telepon dari sopir.

“Nona Laila, Tuan Bima mabuk berat dan terus memanggil nama Anda. Maaf merepotkan, tapi apa Anda bisa menjemput beliau?”

Mendengar itu, Laila hanya menjawab, “Hubungi sekretarisnya.” Kemudian dengan dingin langsung menutup telepon.

Namun sang sopir tak kunjung menyerah, dia terus menghubungi Laila. Akhirnya, setelah panggilan keempat, Laila tak punya pilihan selain bangkit dan pergi ke klub malam untuk menjemput Bima.

Laila baru tiba di depan pintu ruang privat, ia pun menyadari, Bima tidak sendirian. Di dalam ruangan itu, Bima sedang memeluk Aya sangat erat sambil menciumnya dengan menggebu, seolah ingin meleburkan perempuan itu ke dalam tubuhnya. Sementara itu, teman-teman di sekeliling mereka bersorak riuh, jelas pemandangan seperti ini sudah bukan hal baru bagi mereka.

Seseorang yang Laila tahu gemar menonton keributan, berseru lantang penuh sindiran, “Bima, kalau dibandingkan, cinta baru dan cinta lama, yang mana yang lebih cocok denganmu di ranjang?”

Bima tertawa liar, kemudian menjawab, “Kalau sudah punya yang baru, siapa yang mau naik ke ranjang cinta lama?”

Sorakan kembali meledak.

“Bos Bima memang gila!”

Ternyata, di hati Bima, Laila hanyalah cinta lama. Cinta lama yang tak bisa menandingi cinta baru. Cinta lama yang bahkan tak ingin ia sentuh lagi.

Jantung Laila rasanya seperti dicengkeram hebat. Kedua tangannya mengepal kuat, tubuhnya bersandar pada dinding, hanya dengan begitu ia bisa menahan diri agar tidak roboh.

Dari dalam ruangan, terdengar lagi suara Aya, lembut dan menggoda, “Kalau begitu, kenapa kamu tidak putus saja dengan Laila?”

“Aku tidak akan pernah putus dengan Laila.” Suara Bima terdengar dingin dan kejam.

“Dia harus tetap berada di sisiku, agar aku bisa terus diingatkan betapa mengenaskannya kematian ayahku dulu. Dan juga agar aku tak pernah lupa apa yang Keluarga Permata lakukan padaku.”

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Bima itu, Laila merasa seakan jatuh ke dalam jurang es. Jadi selama bertahun-tahun ini, ternyata Bima sangat membencinya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 29

    Acara pertunangan Laila dan Hendri digelar dengan suasana yang hangat dan penuh keintiman. Meski hanya pertunangan, Hendri tetap mengundang tim perancang busana internasional ternama dan secara khusus meminta mereka merancang gaun pertunangan untuk Laila.Seorang gadis memang tak pernah bisa tahan jika dihadapkan dengan pakaian yang indah, terlebih lagi Laila sendiri berlatar belakang desain. Saat mengenakan gaun itu, hati Laila langsung dipenuhi kegembiraan. Ia bahkan spontan berjinjit dan mengecup pipi Hendri.“Pak Hendri benar-benar royal. Terima kasih!”Setelah ciuman di pipi itu, Laila hendak pergi, namun Hendri segera menariknya kembali ke dalam pelukan sambil tersenyum nakal.“Ucapan terima kasihmu terlalu asal. Aku tidak terima.”Laila tertawa. “Lalu Pak Hendri mau yang seperti apa?”Hendri mendekat ke telinga Laila, berbisik pelan, “Malam ini…”Wajah Laila langsung memerah. Setelah mendengar kelanjutannya, ia melotot kesal.“Dasar mesum!”Hendri tertawa lepas, lalu mencuri dua

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 28

    Hubungan asmara Laila dan Hendri terjalin secara alami. Tak ada pengakuan cinta yang resmi, tak ada momen dramatis yang dibuat-buat. Perasaan di antara mereka tumbuh perlahan, seperti aliran air yang tenang namun pasti.Di hari rancangan akhir pemandian air panas disetujui, seluruh tim berkumpul untuk merayakan keberhasilan itu dalam sebuah jamuan. Di tengah suasana hangat dan tawa yang riuh, Hendri tiba-tiba mengeluarkan sebuah cincin berlian besar, berkilau sebesar telur merpati. Lalu, dengan sedikit pengaruh alkohol, mengangkatnya ke hadapan Laila.“Laila, maukah kamu menikah denganku?”Lukas yang melihat pemandangan itu langsung mendengus dingin. “Menikahi adikku tidak semudah itu. Kamu pikir cukup dengan cincin murahan seperti itu?”Tak disangka, Hendri sudah menyiapkan semuanya. Ia kemudian memberi isyarat singkat pada asistennya, dan tak lama kemudian sebuah map tebal diserahkan ke tangannya. Hendri langsung mengoper map itu ke Lukas.“Ini dua puluh persen saham perusahaanku. Su

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 27

    Mendengar semua kebenaran yang diucapkan Bima, bukan hanya terkejut, tapi Laila juga merasa semuanya begitu tak masuk akal. Hal-hal yang dulu tak pernah bisa ia pahami, kini justru menjadi jelas dalam sekejap. Ternyata Bima bukan tiba-tiba berhenti mencintainya, melainkan sejak awal, Bima memilih untuk tidak lagi mencintainya.Laila terkekeh pelan seraya berkata, “Jadi selama ini kamu yakin aku akan selalu berada di sisimu bukan karena aku mencintaimu, tapi karena kamu merasa aku berutang padamu, ya?”“Kamu menganggapku sebagai kompensasi dari Keluarga Permata, sebagai barang yang seharusnya menjadi milikmu, benar begitu?”Bahasanya kasar, tapi logikanya tepat. Bima terdiam, tak ada satu kata pun sanggahan keluar dari mulutnya.Saat itu juga, Laila benar-benar memahami situasi. Ia menatap Bima, menelusuri wajahnya dengan saksama. Seolah Laila melihatnya untuk terakhir kali.“Bima, sekarang aku sadar, selama ini aku tidak benar-benar memahamimu. Mungkin selama bertahun-tahun ini, yang k

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 26

    Pupil mata Aya mendadak membesar. Pertanyaan yang datang tiba-tiba itu membuat suaranya mulai bergetar.“A-aku… aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”Laila melanjutkan dengan nada bicara yang stabil dan tenang, “Kamu menyuap dokter di Kota Jaya untuk memalsukan semuanya. Karena itu, di setiap momen penting kamu selalu mengeluh perutmu sakit, agar Bima datang menemui kamu. Kalau tebakanku tidak salah, pada hari kami hendak mendaftarkan pernikahan pun, kamu sengaja membesar-besarkan kondisimu, sampai-sampai Bima begitu khawatir dan lupa sama sekali untuk pergi ke Kantor Catatan Sipil, benar bukan?”Sebenarnya, Laila sudah lama mencurigai hal ini. Sejak melihat Aya mampu bangun dan bergerak dengan leluasa sesaat setelah "operasi keguguran" selesai. Apalagi dia juga sempat melihat Aya diam-diam menyelipkan uang tunai kepada dokter yang menanganinya di rumah sakit, kecurigaan Laila menjadi semakin kuat.Ia pun mencoba menguji kebenarannya. Laila menyiapkan uang 40 juta dan memberikan

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 25

    “Tidak mungkin! Kamu pasti bicara seperti itu karena kamu masih marah!”Bima sama sekali tidak bisa menerima jawaban Laila. Selama ini, dia berani bersikap semena-mena dan bermain gila-gilaan dengan Aya, itu berdasarkan satu keyakinan mutlak bahwa Laila cinta mati padanya. Termasuk saat Laila kembali ke Kota Hana. Bima terus mengganggu Laila, terus memaksakan diri muncul di hadapan Laila, karena ia yakin Laila masih mencintainya.Namun, tadi Laila lebih memilih Hendri ketika bahaya datang, dan kata-kata yang ia ucapkan tanpa ragu itu benar-benar membuat Bima merasakan kepanikan mutlak untuk pertama kalinya.Laila kembali berbicara, suaranya masih tenang dan tegas. “Aku tidak sedang bicara karena emosi. Semua yang kukatakan adalah kebenaran.”Bima yang sudah kehilangan kendali tetap menggeleng keras, menolak percaya kalimat-kalimat yang diucapkan Laila.“Baik! Kalau begitu katakan padaku, sejak kapan kamu tidak mencintaiku? Dan kenapa?”“Sejak pertama kali aku tahu tentang hubungan gela

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 24

    Setelah acara lelang berakhir dan jamuan malam dimulai, Laila baru melangkahkan kaki untuk keluar ketika seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh, dan mendapati Bima berdiri di sana. Di tangan Bima tergenggam gelang giok jadeite yang baru saja ia menangkan dalam lelang. Kemudian ia mengulurkannya ke arah Laila.“Laila, kamu sudah 99 kali memaafkanku, aku bersedia menebus semuanya satu per satu, asal kamu mau memberiku satu kesempatan lagi.”“Cincin lamaran yang kuberikan padamu itu sebenarnya sudah kupilih sejak beberapa tahun lalu. Meski tidak besar, itu adalah wujud niatku untuk menikahimu. Sedangkan yang diperlihatkan Aya padamu, itu dia beli sendiri dengan kartu kreditku. Aku tahu hal itu sangat melukaimu, jadi anggap saja gelang giok ini sebagai permintaan maafku.”Setelah berpisah dengan Laila, Bima justru semakin menyadari betapa baiknya Laila padanya, dan betapa penting keberadaan Laila dalam hidup Bima. Bima dengan cepat dapat memastikan satu hal, ia tak bisa keh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status