Share

Takdir Memisahkan Kita
Takdir Memisahkan Kita
Author: Sena

Bab 1

Author: Sena
Hari ini, Laila terbaring di ranjang rumah sakit. Tatapannya jatuh pada kaki kanannya yang terluka, cedera akibat kecelakaan yang disebabkan oleh Aya. Pikirannya kembali pada saat kecelakaan itu terjadi, di detik pertama, Bima langsung berlari ke arah Aya tanpa ragu. Untuk ke-sekian kalinya, Laila membuka buku catatannya dan menulis, [Memaafkan ke-96].

Buku catatan itu hanya memiliki 99 halaman. Sama seperti hatinya, ia hanya mampu memaafkan Bima sebanyak 99 kali. Jika sampai halaman ke-99 terisi, maka saatnya dia pergi.

Laila menarik napas dalam-dalam, lalu menutup buku itu.

Saat ia hendak menyimpannya, Bima yang tertidur di sofa samping ranjang terbangun. Dia melihat gerakan Laila sambil mengucek mata dan bertanya dengan suara serak, “Apa yang kamu sembunyikan?”

“Bukan apa-apa, hanya catatan kerja.” Laila menjawab singkat, menghindari inti pembicaraan.

Setelah mendengar jawaban Laila, Bima tidak bertanya lebih jauh. Ia mendekat, memeriksa infus Laila. Sejak kecelakaan itu terjadi, Bima terjaga siang dan malam untuk menjaga Laila, tadi dia hanya tertidur di sofa selama dua puluh menit.

Melihat mata Bima yang memerah, Laila akhirnya tak kuasa menahan diri untuk berbicara.

“Dokter sudah bilang aku tidak apa-apa. Pulanglah dan istirahat dulu.”

“Mana bisa begitu?” Bima dengan spontan menolak.

“Kamu pasien, satu menit pun meninggalkanmu sendirian, aku tak tenang,” katanya sambil merapikan selimut Laila dan mengatur sandaran ranjang, setiap geraknya penuh perhatian.

Menatap pria di hadapannya, dengan ekspresi lembut, penuh cinta dan rasa simpati, bayangan lain tiba-tiba muncul di benak Laila.

Wajah Aya dua hari lalu, yang menatapnya dan berkata dengan senyum arogan, “Laila, kudengar tiga tahun lalu kamu sampai bertengkar dengan kakak kandungmu dan memutus hubungan keluarga demi Bima, lalu pergi bersama Bima ke Kota Jaya. Karena hal itu Bima jadi mencintaimu setengah mati.”

“Tapi coba tebak. Jika kita berdua kecelakaan di saat yang sama, menurutmu Bima akan menyelamatkan siapa dulu?”

Setelah mengatakan kalimat itu, Aya tak memberi Laila kesempatan untuk bereaksi dan langsung menginjak pedal gas. Seketika mobil meluncur menghantam pembatas jalan. Laila yang sama sekali tidak siap, pada detik tabrakan terjadi, salah satu kakinya terjepit dan darah pun mengalir deras.

Tak jauh dari sana, Bima yang mendengar suara benturan seketika berlari tergesa-gesa.

Namun, ia tidak langsung berlari ke arah Laila, melainkan menuju Aya lebih dulu. Pada detik itu juga, mimpi indah yang selama ini dirajut Laila, yang ia beri nama ‘Bima masih mencintaiku’, hancur berkeping-keping.

Naluri spontanitas manusia tak pernah berbohong. Di hadapan pilihan hidup dan mati, Bima telah memilih orang lain.

Ketika Laila hendak membuka mulut untuk menyuruh Bima pulang dan beristirahat, ponsel Bima tiba-tiba berdering. Ia melirik nomor di layar, untuk sejenak ekspresinya terlihat ragu ragu. Ia lalu menoleh ke arah Laila dan berkata, “Telepon dari kantor. Aku keluar sebentar untuk mengangkatnya.”

Usai berkata demikian, ia berbalik dan keluar. Tak lama kemudian, seorang perawat masuk untuk mengecek kondisi Laila. Tepat ketika pintu kamar didorong terbuka, suara dari ponsel Bima di luar terdengar jelas.

“Bima, bagaimana ini… aku mimpi buruk lagi… Aku selalu dihantui oleh bayangan Laila akan menabrakku sampai mati… cepat datang ke sini…”

Mendengar kalimat itu, wajah Bima langsung berubah, di matanya terbit rasa iba. Ia kemudian merendahkan suara, menenangkan dengan lembut, “Tenang, jangan takut. Aku akan ke sana sebentar lagi.”

Beberapa menit kemudian, Bima kembali ke dalam kamar. Ia mengecup kening Laila lalu berkata, “Maaf ya, sayang. Ada urusan mendesak di kantor. Aku harus segera pergi, nanti aku kembali ke sini untuk menemanimu lagi.”

Setelah itu, ia langsung bergegas pergi, bahkan tanpa menunggu jawaban Laila.

Tak lama berselang, seorang perawat muda masuk dengan senyum lebar sambil berbisik penuh gosip.

“Pria yang barusan keluar dari kamar ini tampan sekali. Bukan cuma tampan, tapi juga lembut. Dari tadi memegang ponsel sambil memanggil ‘sayang… sayang’, seperti sedang menenangkan pacarnya. Enak sekali ya, bisa punya pacar yang begitu perhatian…”

Seorang perawat senior yang mengetahui hubungan Laila dan Bima segera menepuknya. Barulah perawat muda itu sadar ada yang tidak beres dan cepat-cepat menutup mulut lalu pergi.

Laila menekan bibirnya rapat-rapat. Ia kembali mengeluarkan buku catatan yang baru saja disimpannya, lalu menulis lagi dengan tenang.

[Memaafkan ke-96. Dia pernah berkata akulah satu-satunya wanita yang akan dia panggil sayang, tapi ternyata dia membohongiku.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 29

    Acara pertunangan Laila dan Hendri digelar dengan suasana yang hangat dan penuh keintiman. Meski hanya pertunangan, Hendri tetap mengundang tim perancang busana internasional ternama dan secara khusus meminta mereka merancang gaun pertunangan untuk Laila.Seorang gadis memang tak pernah bisa tahan jika dihadapkan dengan pakaian yang indah, terlebih lagi Laila sendiri berlatar belakang desain. Saat mengenakan gaun itu, hati Laila langsung dipenuhi kegembiraan. Ia bahkan spontan berjinjit dan mengecup pipi Hendri.“Pak Hendri benar-benar royal. Terima kasih!”Setelah ciuman di pipi itu, Laila hendak pergi, namun Hendri segera menariknya kembali ke dalam pelukan sambil tersenyum nakal.“Ucapan terima kasihmu terlalu asal. Aku tidak terima.”Laila tertawa. “Lalu Pak Hendri mau yang seperti apa?”Hendri mendekat ke telinga Laila, berbisik pelan, “Malam ini…”Wajah Laila langsung memerah. Setelah mendengar kelanjutannya, ia melotot kesal.“Dasar mesum!”Hendri tertawa lepas, lalu mencuri dua

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 28

    Hubungan asmara Laila dan Hendri terjalin secara alami. Tak ada pengakuan cinta yang resmi, tak ada momen dramatis yang dibuat-buat. Perasaan di antara mereka tumbuh perlahan, seperti aliran air yang tenang namun pasti.Di hari rancangan akhir pemandian air panas disetujui, seluruh tim berkumpul untuk merayakan keberhasilan itu dalam sebuah jamuan. Di tengah suasana hangat dan tawa yang riuh, Hendri tiba-tiba mengeluarkan sebuah cincin berlian besar, berkilau sebesar telur merpati. Lalu, dengan sedikit pengaruh alkohol, mengangkatnya ke hadapan Laila.“Laila, maukah kamu menikah denganku?”Lukas yang melihat pemandangan itu langsung mendengus dingin. “Menikahi adikku tidak semudah itu. Kamu pikir cukup dengan cincin murahan seperti itu?”Tak disangka, Hendri sudah menyiapkan semuanya. Ia kemudian memberi isyarat singkat pada asistennya, dan tak lama kemudian sebuah map tebal diserahkan ke tangannya. Hendri langsung mengoper map itu ke Lukas.“Ini dua puluh persen saham perusahaanku. Su

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 27

    Mendengar semua kebenaran yang diucapkan Bima, bukan hanya terkejut, tapi Laila juga merasa semuanya begitu tak masuk akal. Hal-hal yang dulu tak pernah bisa ia pahami, kini justru menjadi jelas dalam sekejap. Ternyata Bima bukan tiba-tiba berhenti mencintainya, melainkan sejak awal, Bima memilih untuk tidak lagi mencintainya.Laila terkekeh pelan seraya berkata, “Jadi selama ini kamu yakin aku akan selalu berada di sisimu bukan karena aku mencintaimu, tapi karena kamu merasa aku berutang padamu, ya?”“Kamu menganggapku sebagai kompensasi dari Keluarga Permata, sebagai barang yang seharusnya menjadi milikmu, benar begitu?”Bahasanya kasar, tapi logikanya tepat. Bima terdiam, tak ada satu kata pun sanggahan keluar dari mulutnya.Saat itu juga, Laila benar-benar memahami situasi. Ia menatap Bima, menelusuri wajahnya dengan saksama. Seolah Laila melihatnya untuk terakhir kali.“Bima, sekarang aku sadar, selama ini aku tidak benar-benar memahamimu. Mungkin selama bertahun-tahun ini, yang k

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 26

    Pupil mata Aya mendadak membesar. Pertanyaan yang datang tiba-tiba itu membuat suaranya mulai bergetar.“A-aku… aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”Laila melanjutkan dengan nada bicara yang stabil dan tenang, “Kamu menyuap dokter di Kota Jaya untuk memalsukan semuanya. Karena itu, di setiap momen penting kamu selalu mengeluh perutmu sakit, agar Bima datang menemui kamu. Kalau tebakanku tidak salah, pada hari kami hendak mendaftarkan pernikahan pun, kamu sengaja membesar-besarkan kondisimu, sampai-sampai Bima begitu khawatir dan lupa sama sekali untuk pergi ke Kantor Catatan Sipil, benar bukan?”Sebenarnya, Laila sudah lama mencurigai hal ini. Sejak melihat Aya mampu bangun dan bergerak dengan leluasa sesaat setelah "operasi keguguran" selesai. Apalagi dia juga sempat melihat Aya diam-diam menyelipkan uang tunai kepada dokter yang menanganinya di rumah sakit, kecurigaan Laila menjadi semakin kuat.Ia pun mencoba menguji kebenarannya. Laila menyiapkan uang 40 juta dan memberikan

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 25

    “Tidak mungkin! Kamu pasti bicara seperti itu karena kamu masih marah!”Bima sama sekali tidak bisa menerima jawaban Laila. Selama ini, dia berani bersikap semena-mena dan bermain gila-gilaan dengan Aya, itu berdasarkan satu keyakinan mutlak bahwa Laila cinta mati padanya. Termasuk saat Laila kembali ke Kota Hana. Bima terus mengganggu Laila, terus memaksakan diri muncul di hadapan Laila, karena ia yakin Laila masih mencintainya.Namun, tadi Laila lebih memilih Hendri ketika bahaya datang, dan kata-kata yang ia ucapkan tanpa ragu itu benar-benar membuat Bima merasakan kepanikan mutlak untuk pertama kalinya.Laila kembali berbicara, suaranya masih tenang dan tegas. “Aku tidak sedang bicara karena emosi. Semua yang kukatakan adalah kebenaran.”Bima yang sudah kehilangan kendali tetap menggeleng keras, menolak percaya kalimat-kalimat yang diucapkan Laila.“Baik! Kalau begitu katakan padaku, sejak kapan kamu tidak mencintaiku? Dan kenapa?”“Sejak pertama kali aku tahu tentang hubungan gela

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 24

    Setelah acara lelang berakhir dan jamuan malam dimulai, Laila baru melangkahkan kaki untuk keluar ketika seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh, dan mendapati Bima berdiri di sana. Di tangan Bima tergenggam gelang giok jadeite yang baru saja ia menangkan dalam lelang. Kemudian ia mengulurkannya ke arah Laila.“Laila, kamu sudah 99 kali memaafkanku, aku bersedia menebus semuanya satu per satu, asal kamu mau memberiku satu kesempatan lagi.”“Cincin lamaran yang kuberikan padamu itu sebenarnya sudah kupilih sejak beberapa tahun lalu. Meski tidak besar, itu adalah wujud niatku untuk menikahimu. Sedangkan yang diperlihatkan Aya padamu, itu dia beli sendiri dengan kartu kreditku. Aku tahu hal itu sangat melukaimu, jadi anggap saja gelang giok ini sebagai permintaan maafku.”Setelah berpisah dengan Laila, Bima justru semakin menyadari betapa baiknya Laila padanya, dan betapa penting keberadaan Laila dalam hidup Bima. Bima dengan cepat dapat memastikan satu hal, ia tak bisa keh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status