Share

BAB 2 - ANCAMAN GROK

Penulis: KaoruTheLovers
last update Tanggal publikasi: 2026-09-07 16:52:26

Duk! Duk! Duk!

Suara derap langkah berat Tuan Grok menaiki tangga kayu menggema seperti tabuh kematian di telinga Olivia. Setiap pijakan membuat debu-debu tua berjatuhan dari celah atap dapur.

Jantung Olivia berdegup kencang hantam dada. Lambungnya yang melilit perih seolah tak ada artinya lagi dibandingkan dengan rasa dingin yang menjalar dari tengkuk hingga ujung kakinya. Tubuh Perempuan dua puluh tahun yang kurus kering ini terlalu lemah untuk kabur, apalagi berduel fisik.

"Sial... aku tidak boleh mati konyol di sini!" bisik Olivia seraya menatap sekeliling dengan mata liar.

Grok menendang pintu jebakan hingga terbuka lebar. Tap! Tubuh tambunnya kembali muncul di permukaan dapur. Di tangan kanannya, sebuah pisau pemotong daging yang tebal berkilat tajam di bawah remang cahaya lampu minyak.

"Ternyata kamu, tikus kecil," mendesis Grok dengan napas terengah-engah. Wajahnya yang berminyak tampak sangat bengis. "Apa yang kamu lihat, Olivia?!"

Olivia memundurkan langkahnya perlahan hingga punggungnya menabrak meja potong kayu. Tangannya di belakang tubuh bergerilya cepat, mencari benda apa pun yang bisa dijadikan senjata.

"Saya... saya cuma mau mengambil air seperti yang Tuan minta," sahut Olivia, mencoba menjaga nada suaranya agar tidak bergetar meski napasnya memburu.

"Bohong!" bentak Grok histeris. Ia melangkah maju dua tindak, mengacungkan pisau besarnya tepat ke arah wajah Olivia. "Kamu mengintip ke bawah! Kamu melihat isi ruang bawah tanahku, kan?!"

"Saya tidak melihat apa-apa, Tuan Grok! Saya cuma mendengar suara berderit—"

"Tutup mulutmu!" potong Grok garang. Matanya menyalang penuh kegilaan. "Kalau sampai ada orang luar atau prajurit perbatasan yang tahu soal gandum gandum itu, kepalaku yang akan melayang! Kamu pikir aku bakal percaya pada pelayan miskin sepertimu?!"

"Tuan Grok, dengarkan saya dulu!" seru Olivia lantang. Ia membusungkan dadanya, menatap lurus mata Grok tanpa mengedip. "Kalau Tuan membunuh saya di sini, siapa yang bakal membereskan darahnya? Siapa yang bakal menjelaskan ke pelanggan perbatasan kenapa dapur ini tutup?"

Grok tertegun sejenak, langkahnya terhenti. "Apa katamu?"

"Pelanggan perbatasan sebentar lagi datang," lanjut Olivia cepat, memanfaatkan celah keraguan di wajah pria itu. "Kalau Tuan membunuh saya, Tuan harus membuang mayat saya sendirian, membersihkan darah di lantai, lalu memasak untuk puluhan orang kasar di depan. Apa Tuan sanggup mengerjakan semuanya sendiri dalam waktu lima belas menit?"

Grok menggeram rendah, rahangnya mengeras. "Aku bisa bilang kamu kabur dari kedai!"

"Lalu bagaimana dengan supnya?" tembak Olivia dingin. "Siapa yang mengiris bahan? Siapa yang menjaga tungku? Tuan sendiri yang bilang, kalau saya tidak bekerja, kedai ini rugi! Kalau saya mati, bisnis Tuan berantakan hari ini!"

Urat-urat di leher Grok bertonjolan. Pisau besar di tangannya bergetar. Ia menimbang-nimbang perkataan Olivia dengan otak serakahnya. Menghabisi pelayan ini sangat mudah, tetapi kehilangan tenaga kerja gratisan di saat kedai sedang ramai adalah kerugian besar baginya.

"Kamu..." Grok maju satu langkah lagi hingga jarak mereka hanya sejengkal. Aroma napasnya yang busuk menusuk hidung Olivia. "Kamu mengancamku, Olivia?"

"Saya tidak mengancam. Saya memberi Tuan pilihan rasional," balas Olivia tenang, walau sebenarnya telapak tangannya di belakang meja sudah bersimbah keringat dingin. "Rahasia Tuan aman bersama saya. Saya cuma pelayan yang butuh makan dan tempat tinggal. Saya tidak peduli Tuan menimbun gandum atau minyak, asal Tuan tidak mengusik saya."

Grok memicingkan matanya tajam, mencari celah kebohongan di wajah polos gadis itu. "Kenapa aku harus percaya padamu?"

"Karena kalau saya berniat melapor, saya sudah berteriak dari tadi," sahut Olivia tegas. "Saya tidak bodoh, Tuan Grok. Di wilayah perbatasan ini, orang miskin yang sok jadi pahlawan cuma akan berakhir jadi bangkai di selokan. Saya cuma ingin bertahan hidup."

Hening merayapi dapur selama beberapa detik yang terasa menyiksa. Grok menatap pisau di tangannya, lalu menatap Olivia bergantian.

"Bagus," mendesis Grok akhirnya. Ia menurunkan pisaunya, meski tatapannya masih sarat ancaman mati. "Ingat kata-katamu, Olivia. Satu patah kata bocor dari mulut sampahmu itu, aku sendiri yang akan menguliti lehermu dan membuang tubuhmu ke rawa perbatasan!"

"Paham, Tuan," jawab Olivia singkat.

"Sekarang cepat ambil air dan nyalakan tungku!" bentak Grok kasar seraya menghempaskan pintu jebakan ruang bawah tanah dan menggeser kembali peti kayu penutupnya. "Kalau supnya belum matang saat rombongan tentara bayaran datang, kamu tetap akan kurajam!"

Grok berbalik dan melangkah keluar dapur dengan menghentakkan kaki, meninggalkan Olivia yang berdiri terpaku sendirian.

Pintu depan tertutup dengan dentuman keras.

"Hah... hah..."

Seketika itu juga, lutut Olivia menyerah. Ia jatuh terduduk di lantai kayu yang kotor, menyandarkan punggungnya pada kaki meja. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Adrenalin yang tadi memuncak mendadak surut, menyisakan rasa lemas luar biasa dan pusing yang makin parah.

"Hampir saja..." bisik Olivia seraya memegangi dadanya yang naik turun. "Pria tua itu benar-benar gila."

Ia membuang napas kasar, mencoba menata kembali pikirannya yang kalut. Terjebak di tubuh yang lemah, perut kelaparan, dan kini harus hidup di bawah ancaman pembunuhan oleh majikannya sendiri. Dunia novel ini benar-benar tidak memberi Olivia ruang untuk bernapas lega.

"Aku tidak bisa terus-terusan di sini," gumamnya seraya memaksakan diri untuk kembali berdiri berpegangan pada meja. "Aku harus mengumpulkan uang dan kabur dari Kedai Babi Hutan secepatnya."

Dengan sisa tenaga yang ada, Olivia mengangkat ember kayu kosong dan berjalan pelan menuju pintu belakang dapur. Ia mendorong daun pintu kayu yang lapuk itu hingga terbuka.

Udara dingin khas perbatasan Vance langsung menyapu wajahnya yang pucat. Di belakang kedai, terdapat sebuah sumur batu tua yang dikelilingi semak belukar liar.

Olivia melangkah mendekati bibir sumur. Ia menurunkan ember kayu menggunakan tali tambang yang sudah bersabut kasar. Otot-otot tangannya yang kurus terasa seperti mau putus saat ia menarik kembali ember yang kini terisi penuh oleh air sumur.

"Ugh... berat sekali," ringisnya seraya menahan nyeri melilit di perutnya.

Setetes demi setetes air terciprat ke lantai tanah. Olivia membopong ember itu kembali ke dalam dapur, menyiramkan sebagian air ke dalam kuali besi besar di atas tungku batu.

Srek... Srek...

Ia kembali mengambil pisau dan beberapa potong lobak liar yang sudah layu di atas meja. Dengan keahlian memotong tingkat tinggi dari kehidupan sebelumnya, jemari Olivia bergerak sangat cepat. Lobak-lobak itu teriris tipis sempurna dengan ketebalan yang sangat presisi, memungkinkan bahan cepat matang dan menyerap rasa meski dengan kayu bakar minimal. Olivia sendiripun sampai hari ketiga ini masih terkesima, dengan tubuh yang berbeda, kemampuannya masih tetap sama.

Olivia memasukkan irisan lobak dan sisa-sisa tulang babi beraroma tengik ke dalam kuali. Ia menyalakan pemantik batu, membakar racikan jerami kering hingga api menjilat kayu bakar di bawah kuali.

"Tanpa garam murni, rasanya pasti seperti air tajin," gumam Olivia seraya menatap kuali yang mulai mengepulkan uap tipis.

Ia memutar otak. Di dapur ini tidak ada bumbu layak. Namun, ingatan dari novel yang pernah dibacanya tiba-tiba melintas di kepalanya, tentang vegetasi lokal di wilayah Vance.

Olivia melangkah cepat ke sudut rak tempat penyimpanan herbal kusam. Ia mengambil seikat tanaman liar berdaun hijau tua yang dikeringkan, Aethel Leaf. Di dunia ini, orang awam menganggapnya sebagai rumput liar pahit penolak serangga, tetapi sebagai koki profesional yang membaca detail novel, Olivia tahu tanaman ini mengandung kadar sodium alami tinggi jika direbus pada suhu tertentu.

Ia meremas daun kering itu hingga menjadi serbuk, lalu menaburkannya ke dalam kuali mendidih.

Aroma sup yang semula tengik dan hambar mendadak berubah. Uap gurih yang tajam dan menggugah selera perlahan menguar, memenuhi setiap sudut dapur yang pengap.

"Berhasil," senyum tipis terukir di bibir Olivia yang pucat. "Setidaknya ini bisa dimakan."

BRAK!

Pintu depan kedai mendadak terdorong keras. Suara bising puluhan orang dan tawa kasar pria-pria dewasa terdengar membahana dari area makan depan.

"Grok! Mana sup dan daging hangatnya?!" teriakan suara berat dari luar menggema. "Kami baru saja melakukan perjalanan tiga hari dari perbatasan! Cepat keluarkan makanan kalau tidak mau tempat ini kami acak-acak!"

"Siap, Tuan-tuan! Sebentar lagi siap!" suara Grok terdengar panik dan membungkuk-bungkus dari luar.

Tak lama kemudian, Grok menerobos masuk ke dalam dapur dengan wajah bersimbah keringat. Ia hendak memaki Olivia lagi, tetapi langkahnya terhenti seketika saat aroma gurih luar biasa menyengat hidungnya.

"Bau... bau apa ini?" Grok melotot menatap kuali besi yang mendidih. "Kamu masukkan apa ke dalam sup itu, Olivia?!"

"Hanya bumbu sederhana," sahut Olivia datar seraya menyodorkan centong kayu. "Supnya sudah siap disajikan, Tuan Grok."

Grok merampas centong kayu itu, mencicipi kuah panas itu sedikit dengan lidahnya. Matanya yang kecil membelalak lebar tak percaya. Rasa gurih yang kaya dan hangat meledak di lidahnya, rasa yang tak pernah dihasilkan oleh dapur kumuh ini sebelumnya.

"Bagaimana bisa..." gumam Grok terperangah, menatap Olivia seolah gadis itu baru saja melakukan sihir.

"Bawa keluar sekarang sebelum para pembeli mengamuk," potong Olivia dingin.

Grok menelan ludah, lalu dengan cepat menyendokkan sup itu ke dalam mangkuk-mangkuk kayu kasar dan membawanya keluar menggunakan nampan besar.

Olivia menghela napas lega. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding hangat di samping tungku, menikmati uap panas yang sedikit meredakan dingin di tubuhnya.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan kurang dari dua menit.

PLAK!

Pintu dapur kembali dihantam keras dari luar hingga engselnya hampir terlepas!

Seorang pria berbadan raksasa dengan zirah besi berkarat dan pedang besar terikat di pinggangnya melangkah masuk. Di belakangnya, Grok mengekor dengan wajah pucat pasi seperti mayat.

Pria berzirah itu menatap sekeliling dapur dengan mata merah yang menyalang, lalu pandangannya tertambat tepat pada Olivia yang berdiri lemah di samping tungku.

"Pria tambun ini bilang... pelayan kecil ini yang memasak sup tadi?" suara pria raksasa itu menggema berat, sarat akan tekanan intimidasi yang luar biasa.

Grok gemetar hebat di sampingnya. "B-benar, Tuan Kapten... dia yang memasak..."

Pria berzirah itu melangkah mendekati Olivia. Setiap pijakannya membuat lantai kayu bergetar. Ia mencengkeram gagang pedang di pinggangnya dengan mata menatap lurus ke arah Olivia.

"Siapa namamu, Gadis?" tanya pria raksasa itu dingin. "Dan dari mana kamu belajar meracik resep rahasia milik Keluarga Bangsawan Vance?!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 7 - RAHASIA PENGINAPAN RAMBUSA

    Olivia menggenggam kunci besi berkarat itu erat-erat. Rasa heran membendung di kepalanya, tetapi kelelahan fisik membuat kakinya terus bergerak."Terima kasih, Nenek," bisik Olivia pelan."Naiklah. Jangan keluyuran ke lantai atasnya lagi," sahut Nenek tua itu tanpa berpaling dari meja kasirnya.Olivia menaiki tangga kayu pertama dengan hati-hati. Suara kayu berderit nyaring bergema di lantai dasar yang kumuh. Namun, begitu kakinya memijak anak tangga terakhir dan memasuki lorong lantai dua, napasnya seketika tertahan."Loh? Ini... penginapan yang sama?" gumam Olivia terperangah.Lantai dua penginapan itu sama sekali berbeda dengan lantai dasar yang berdebu dan bobrok. Karpet merah tebal terbentang rapi di sepanjang koridor. Dindingnya terbuat dari kayu jati tua yang dipoles hingga mengkilap, memancarkan aroma terapi kayu manis yang menenangkan. Barang-barang yang ada di sana memang tampak tua, tetapi berkesan sangat klasik, elegan, dan bersih tanpa setitik debu pun.Di lorong luas itu

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 6 - JALAN KELUAR

    "Batuk! Uhuk-uhuk!"Olivia terbatuk-batuk hebat. Dadanya sesak akibat debu tebal yang membumbung di dalam kegelapan pekat. Keheningan mencekam langsung menyergap. Suara teriakan para pemburu liar dan gemuruh batuan yang runtuh tadi mendadak lenyap ditelan dinding batu raksasa yang kini menyumbat mulut gua."Dingin... gelap banget..." bisik Olivia gemetar.Gadis itu memeluk lututnya sendiri di atas tanah lembap. Tangannya mengepal erat, meremas kepingan perak yang berhasil ia pertahankan mati-matian. Rasa sakit di pipinya akibat tamparan keras pemburu tadi masih berdenyut nyeri, ditambah darah kental yang mengering di sudut bibirnya."Bisa-bisanya aku terkurung di sini?" ringis Olivia, berusaha menelan ludah yang terasa pahit. "Pikir, Olivia, pikir! Di novel The Legend of Astra, gua tempat bersarangnya monster berduri pasti punya celah ventilasi. Nggak mungkin gua ini benar-benar kedap udara!"Olivia merayap perlahan dalam kegelapan. Jemarinya bergerilya membelai dinding batu yang dingi

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 5 - ANCAMAN DI GUA

    "Sialan..." umpat Olivia lirih.Suaranya nyaris tenggelam oleh degup jantungnya sendiri yang berdegup kencang bagai dihantam palu. Tubuhnya yang terbaring kaku di lantai gua berkerikil mendadak tak sanggup digerakkan. Rasa lelah dan kelaparan yang melilit perutnya mendadak menguap, tergantikan oleh ketakutan murni.Dua titik cahaya merah menyala itu makin mendekat. Bayangan besar berbulu lebat perlahan keluar dari kegelapan ceruk gua. Seekor Monster Berduri, monster tingkat rendah yang sering ditulis dalam novel The Legend of Astra, sedang menatapnya dengan liur yang menetes ke tanah."Kenapa harus ketemu monster di saat tubuhku begini?!" ringis Olivia seraya merayap mundur perlahan di tanah lembap.Groarrr!Monster itu menggeram rendah, memamerkan deretan taring tajam yang berkilat di bawah tembusan cahaya bulan dari mulut gua. Langkah kakinya yang berakar kuku tajam mengikis batuan gua dengan bersuara nyaring."Jangan mendekat..." bisik Olivia, tangannya bergerilya cepat di lantai g

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 4 - KABUR DULU

    "Sial!" umpat Olivia dalam hati.Darahnya membeku seketika. Suara serak dan berat itu muncul tepat dari arah bayangan semak-semak tebal di bawah dinding kedai. Olivia menahan napas, tangannya gemetar hebat seraya merapatkan tubuhnya ke dinding kayu yang berdebu.Sesosok pria berbadan tegap melangkah keluar dari kegelapan lorong samping. Ia tidak mengenakan zirah resmi prajurit Vance, melainkan mantel kulit kusam dengan penutup muka hitam. Di tangan kanannya, sebuah pisau pemburu berkilat tajam di bawah remang cahaya sore.Bukan Kapten Brandon, melainkan orang suruhan Grok yang ditugaskan menjaga lorong belakang."Kupikir Tuan Grok cuma berprasangka buruk," mendesis pria itu seraya melangkah mendekat. Ujung pisaunya terangkat, mengarah tepat ke dada Olivia. "Ternyata kamu benar-benar berniat kabur membawa uang perak itu, Tikus Kecil.""Aku tidak berniat kabur!" seru Olivia cepat, memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak tumpukan kayu bakar. "Prajurit menyergap ke dalam! Kalau

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 3 - RESEP VANCE

    Olivia mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping celemek kusamnya. Tekanan dari pria berzirah di depannya membuat napasnya terasa makin berat. Tubuhnya yang masih lemah akibat kelaparan serasa mau roboh."Resep rahasia Keluarga Vance?" ulang Olivia seraya menundukkan kepala, mencoba berakting sepolos mungkin. "Saya tidak mengerti maksud Tuan. Saya cuma pelayan dapur biasa di sini.""Jangan berbohong!" bentak pria berzirah itu kasar. "Olahan daun Aethel dengan aroma seperti ini biasa disajikan koki istana Baron Vance! Tanpa takaran yang pas, daun itu cuma rumput liar pahit penolak serangga!"Pria itu melangkah maju satu tindak lagi, membuat Grok di belakangnya makin gemetar ketakutan."Bicaralah jujur, Gadis!" desaknya tajam. "Siapa yang mengajarimu racikan ini?!""Saya tidak tahu kalau daun itu resep rahasia bangsawan, Tuan!" seru Olivia dengan nada panik yang dibuat-buat, menatap pria itu dengan mata membelalak takut. "Tuan Grok cuma memberi saya tulang babi tengik dan lobak layu.

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 2 - ANCAMAN GROK

    Duk! Duk! Duk!Suara derap langkah berat Tuan Grok menaiki tangga kayu menggema seperti tabuh kematian di telinga Olivia. Setiap pijakan membuat debu-debu tua berjatuhan dari celah atap dapur.Jantung Olivia berdegup kencang hantam dada. Lambungnya yang melilit perih seolah tak ada artinya lagi dibandingkan dengan rasa dingin yang menjalar dari tengkuk hingga ujung kakinya. Tubuh Perempuan dua puluh tahun yang kurus kering ini terlalu lemah untuk kabur, apalagi berduel fisik."Sial... aku tidak boleh mati konyol di sini!" bisik Olivia seraya menatap sekeliling dengan mata liar.Grok menendang pintu jebakan hingga terbuka lebar. Tap! Tubuh tambunnya kembali muncul di permukaan dapur. Di tangan kanannya, sebuah pisau pemotong daging yang tebal berkilat tajam di bawah remang cahaya lampu minyak."Ternyata kamu, tikus kecil," mendesis Grok dengan napas terengah-engah. Wajahnya yang berminyak tampak sangat bengis. "Apa yang kamu lihat, Olivia?!"Olivia memundurkan langkahnya perlahan hingg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status