Share

BAB 3 - RESEP VANCE

Penulis: KaoruTheLovers
last update Tanggal publikasi: 2026-09-07 16:52:31

Olivia mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping celemek kusamnya. Tekanan dari pria berzirah di depannya membuat napasnya terasa makin berat. Tubuhnya yang masih lemah akibat kelaparan serasa mau roboh.

"Resep rahasia Keluarga Vance?" ulang Olivia seraya menundukkan kepala, mencoba berakting sepolos mungkin. "Saya tidak mengerti maksud Tuan. Saya cuma pelayan dapur biasa di sini."

"Jangan berbohong!" bentak pria berzirah itu kasar. "Olahan daun Aethel dengan aroma seperti ini biasa disajikan koki istana Baron Vance! Tanpa takaran yang pas, daun itu cuma rumput liar pahit penolak serangga!"

Pria itu melangkah maju satu tindak lagi, membuat Grok di belakangnya makin gemetar ketakutan.

"Bicaralah jujur, Gadis!" desaknya tajam. "Siapa yang mengajarimu racikan ini?!"

"Saya tidak tahu kalau daun itu resep rahasia bangsawan, Tuan!" seru Olivia dengan nada panik yang dibuat-buat, menatap pria itu dengan mata membelalak takut. "Tuan Grok cuma memberi saya tulang babi tengik dan lobak layu. Dapur ini bau sekali, jadi saya cuma asal memasukkan daun kering dari rak karena berpikir bau pahitnya bisa menutup aroma tengik. Sungguh, saya cuma asal cemplung!"

Pria berzirah itu memicingkan matanya tajam, mengamati wajah Olivia yang pucat dan tubuhnya yang kurus kering. "Asal cemplung?"

"Benar, Tuan!" sela Grok dengan suara gemetar, menyembah-nyembah di belakang. "Dia ini anak yatim piatu bodoh yang pingsan tiga hari lalu! Mana mungkin dia tahu resep bangsawan Vance! Itu... itu pasti cuma kebetulan semata!"

Olivia mengangguk cepat, menyembunyikan tatapan cerdasnya. "Saya cuma kelaparan dan takut dimarahi Tuan Grok kalau supnya bau. Saya tidak tahu apa-apa soal Baron Vance!"

Hening merayapi dapur selama beberapa saat. Pria berzirah itu kembali menatap kuali sup, lalu menatap Olivia dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Keberuntungan yang aneh," gumam pria itu pelan. Ia menghela napas kasar, lalu ketegangan di bahunya sedikit mereda. "Tapi tak bisa dipungkiri, kebetulanmu ini membuat sup tengik ini jadi sangat gurih."

Pria itu merogoh kantong kulit di pinggangnya, lalu mengeluarkan sebuah kantong kain kecil yang berdentang nyaring saat dijatuhkan ke atas meja potong.

CLINK!

Mata Grok langsung berbinar serakah melihat kantong tersebut.

"Dua keping perak," ucap Kapten itu datar. "Satu keping untuk membayar seluruh sup di kuali, dan satu keping lagi... bonus untuk pelayanmu karena keberuntungannya meracik sup enak hari ini."

"T-Tuan Kapten..." Grok maju dengan tangan terulur. "Sebagai pemilik kedai, saya yang berhak menerima—"

"Satu keping untuk kedaimu, Grok!" bentak Kapten itu dengan tatapan membunuh. "Satu keping lagi milik gadis ini! Kalau aku tahu kamu mencuri uangnya, aku pastikan pasukanku mengacak-acak kedaimu!"

Grok menelan ludah dengan susah payah dan menciut seketika. "B-baik, Tuan..."

Pria berzirah itu menatap Olivia sebentar. "Makan yang banyak, Gadis. Tubuhmu terlalu kurus."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kapten itu berbalik dan melangkah keluar dari dapur.

Begitu pintu depan tertutup, Olivia dengan cepat menyambar kantong perak bagiannya dan menyembunyikannya di balik lipatan celemek. Ia menatap Grok yang berdiri mematung. Wajah pria tambun itu kini merah padam ditahan amarah.

"Kamu... berani-beraninya simpan perak di depanku?" mendesis Grok seraya melangkah maju dengan mata berapi-api. "Serahkan uang itu sekarang!"

"Tuan Kapten baru saja mengancam akan mengacak-acak kedai ini kalau Tuan merebut uang saya," balas Olivia tenang seraya memundurkan langkahnya. "Apa Tuan mau berurusan dengan bawahan Baron Vance cuma demi satu keping perak?"

Ancaman itu membuat Grok menghentikan langkahnya. Pria itu menggeram frustrasi, mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya menonjol. Ketakutannya pada militer Vance jauh lebih besar daripada keserakahannya.

"Kurang ajar..." umpat Grok murka. "Awas kamu, Olivia! Cepat bereskan dapur ini!"

Grok membanting pintu kayu dan pergi menuju area depan.

Olivia membuang napas panjang yang tertahan. Ia menggenggam kepingan perak dingin di balik celemeknya dengan senyum tipis. Uang ini adalah modal utamanya untuk kabur dari kedai busuk ini.

Namun, saat Olivia hendak melangkah menuju kuali untuk mengambil sisa kuah sup demi mengganjal perutnya yang melilit, ia mendengar suara bisikan panik dari balik jendela kecil dapur yang mengarah ke lorong samping.

"Kapten Brandon!" suara seorang prajurit terdengar berbisik dari luar. "Surat perintah penggeledahan dari Baron Vance sudah terbit! Kita harus bergerak ke ruang bawah tanah kedai ini sekarang juga sebelum barang buktinya dipindahkan!"

Langkah kaki prajurit yang menjauh membuat darah Olivia mendadak berdesir dingin.

"Penggeledahan?" bisik Olivia panik pada dirinya sendiri.

Penggeledahan ruang bawah tanah? Itu tempat Grok menimbun gandum gandum ilegal! Jika prajurit menyerbu ke dalam sekarang, seluruh tempat ini akan disita, dan Olivia, sebagai satu-satunya pelayan di dapur ini, pasti akan ikut ditangkap dan dipenjara sebagai komplotan Grok!

"Sialan!" umpat Olivia pelan. Jantungnya berdetak kencang bagai dihantam palu. "Aku tidak boleh tertangkap di sini!"

Ia buru-buru menyambar pisau dapur kusamnya dan memasukkannya ke balik pinggang. Kepingan perak hadiah dari Kapten Brandon ia kaitkan kuat-kuat di balik kain celemeknya.

Olivia melangkah cepat menuju pintu belakang dapur yang mengarah ke sumur. Namun, saat ia menyentuh gagang kayu pintu belakang, pintu itu mendadak terkunci rapat dari luar!

"Apa?!" Olivia mengguncang-guncang pintu kayu itu. "Terkunci? Siapa yang menguncinya?!"

"Prajurit! Tutup dan kunci seluruh akses keluar kedai dari luar!" teriakan nyaring Kapten Brandon terdengar menggelegar dari lorong samping. "Jangan biarkan satu tikus pun lolos dari Kedai Babi Hutan!"

Wajah Olivia mendadak paut pias. Pintu belakang dijaga, pintu depan penuh dengan prajurit berzirah. Dapur ini telah berubah menjadi perangkap maut!

Duk! Duk! Duk!

Suara pintu depan kedai yang dihantam keras oleh para prajurit terdengar membahana. Teriakan kaget Grok dan jeritan para pelanggan memecah keheningan sore di perbatasan.

"Ada penggeledahan! Jangan ada yang bergerak!" seru suara prajurit dari luar.

Olivia memutar tubuhnya, memandang sekeliling dapur yang sempit dengan tatapan liar. Asap tungku makin memikat di udara, tetapi pikirannya bergerak seribu kali lebih cepat.

"Aku harus kabur... tapi lewat mana?!" gumamnya panik.

Matanya bertaut pada atap kayu dapur yang lapuk dan sedikit terbuka di atas tungku. Celah itu sangat sempit dan dipenuhi jelaga hitam, tetapi itu adalah satu-satunya jalan keluar yang tidak dijaga oleh prajurit berzirah.

Tanpa membuang waktu, Olivia memanjat meja potong kayu yang licin oleh minyak. Tubuhnya yang kurus dan lemah terengah-engah hebat akibat rasa lapar yang mendadak menyengat kembali lambungnya. Tangannya yang kasar memegang kasau kayu yang berdebu.

Kriet...

Kayu atap berderit memprotes beban tubuhnya.

"Satu... dua... angkat!" bisik Olivia memberi komando pada tubuh barunya sendiri.

Ia memaksakan sisa tenaganya untuk menarik tubuh ke atas, menembus celah atap kayu. Bau jelaga langsung menusuk hidungnya hingga ia hampir tersedak dan kehilangan pegangan.

Tepat saat kepala dan dadanya berhasil lolos ke luar atap kedai, pintu dapur di bawahnya didobrak sampai hancur!

BRAK!

"Geledah setiap sudut! Amankan pelayan dapur yang tadi!" bentak Kapten Brandon dari dalam dapur.

"T-Tuan Kapten! Dia tidak ada di sini!" seru prajuritnya.

Dari atas atap, Olivia menahan napasnya rapat-rapat, merayap perlahan di atas genteng kayu yang licin menuju ke tepi luar gedung kedai. Angin dingin perbatasan langsung menyengat kulitnya yang kurus. Setelah berhasil turun dari atap, Olivia berjalan jinjit untuk tidak mengeluarkan suara apapun. “Mau kemana gadis? Kau tidak akan bisa kabur!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 7 - RAHASIA PENGINAPAN RAMBUSA

    Olivia menggenggam kunci besi berkarat itu erat-erat. Rasa heran membendung di kepalanya, tetapi kelelahan fisik membuat kakinya terus bergerak."Terima kasih, Nenek," bisik Olivia pelan."Naiklah. Jangan keluyuran ke lantai atasnya lagi," sahut Nenek tua itu tanpa berpaling dari meja kasirnya.Olivia menaiki tangga kayu pertama dengan hati-hati. Suara kayu berderit nyaring bergema di lantai dasar yang kumuh. Namun, begitu kakinya memijak anak tangga terakhir dan memasuki lorong lantai dua, napasnya seketika tertahan."Loh? Ini... penginapan yang sama?" gumam Olivia terperangah.Lantai dua penginapan itu sama sekali berbeda dengan lantai dasar yang berdebu dan bobrok. Karpet merah tebal terbentang rapi di sepanjang koridor. Dindingnya terbuat dari kayu jati tua yang dipoles hingga mengkilap, memancarkan aroma terapi kayu manis yang menenangkan. Barang-barang yang ada di sana memang tampak tua, tetapi berkesan sangat klasik, elegan, dan bersih tanpa setitik debu pun.Di lorong luas itu

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 6 - JALAN KELUAR

    "Batuk! Uhuk-uhuk!"Olivia terbatuk-batuk hebat. Dadanya sesak akibat debu tebal yang membumbung di dalam kegelapan pekat. Keheningan mencekam langsung menyergap. Suara teriakan para pemburu liar dan gemuruh batuan yang runtuh tadi mendadak lenyap ditelan dinding batu raksasa yang kini menyumbat mulut gua."Dingin... gelap banget..." bisik Olivia gemetar.Gadis itu memeluk lututnya sendiri di atas tanah lembap. Tangannya mengepal erat, meremas kepingan perak yang berhasil ia pertahankan mati-matian. Rasa sakit di pipinya akibat tamparan keras pemburu tadi masih berdenyut nyeri, ditambah darah kental yang mengering di sudut bibirnya."Bisa-bisanya aku terkurung di sini?" ringis Olivia, berusaha menelan ludah yang terasa pahit. "Pikir, Olivia, pikir! Di novel The Legend of Astra, gua tempat bersarangnya monster berduri pasti punya celah ventilasi. Nggak mungkin gua ini benar-benar kedap udara!"Olivia merayap perlahan dalam kegelapan. Jemarinya bergerilya membelai dinding batu yang dingi

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 5 - ANCAMAN DI GUA

    "Sialan..." umpat Olivia lirih.Suaranya nyaris tenggelam oleh degup jantungnya sendiri yang berdegup kencang bagai dihantam palu. Tubuhnya yang terbaring kaku di lantai gua berkerikil mendadak tak sanggup digerakkan. Rasa lelah dan kelaparan yang melilit perutnya mendadak menguap, tergantikan oleh ketakutan murni.Dua titik cahaya merah menyala itu makin mendekat. Bayangan besar berbulu lebat perlahan keluar dari kegelapan ceruk gua. Seekor Monster Berduri, monster tingkat rendah yang sering ditulis dalam novel The Legend of Astra, sedang menatapnya dengan liur yang menetes ke tanah."Kenapa harus ketemu monster di saat tubuhku begini?!" ringis Olivia seraya merayap mundur perlahan di tanah lembap.Groarrr!Monster itu menggeram rendah, memamerkan deretan taring tajam yang berkilat di bawah tembusan cahaya bulan dari mulut gua. Langkah kakinya yang berakar kuku tajam mengikis batuan gua dengan bersuara nyaring."Jangan mendekat..." bisik Olivia, tangannya bergerilya cepat di lantai g

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 4 - KABUR DULU

    "Sial!" umpat Olivia dalam hati.Darahnya membeku seketika. Suara serak dan berat itu muncul tepat dari arah bayangan semak-semak tebal di bawah dinding kedai. Olivia menahan napas, tangannya gemetar hebat seraya merapatkan tubuhnya ke dinding kayu yang berdebu.Sesosok pria berbadan tegap melangkah keluar dari kegelapan lorong samping. Ia tidak mengenakan zirah resmi prajurit Vance, melainkan mantel kulit kusam dengan penutup muka hitam. Di tangan kanannya, sebuah pisau pemburu berkilat tajam di bawah remang cahaya sore.Bukan Kapten Brandon, melainkan orang suruhan Grok yang ditugaskan menjaga lorong belakang."Kupikir Tuan Grok cuma berprasangka buruk," mendesis pria itu seraya melangkah mendekat. Ujung pisaunya terangkat, mengarah tepat ke dada Olivia. "Ternyata kamu benar-benar berniat kabur membawa uang perak itu, Tikus Kecil.""Aku tidak berniat kabur!" seru Olivia cepat, memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak tumpukan kayu bakar. "Prajurit menyergap ke dalam! Kalau

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 3 - RESEP VANCE

    Olivia mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping celemek kusamnya. Tekanan dari pria berzirah di depannya membuat napasnya terasa makin berat. Tubuhnya yang masih lemah akibat kelaparan serasa mau roboh."Resep rahasia Keluarga Vance?" ulang Olivia seraya menundukkan kepala, mencoba berakting sepolos mungkin. "Saya tidak mengerti maksud Tuan. Saya cuma pelayan dapur biasa di sini.""Jangan berbohong!" bentak pria berzirah itu kasar. "Olahan daun Aethel dengan aroma seperti ini biasa disajikan koki istana Baron Vance! Tanpa takaran yang pas, daun itu cuma rumput liar pahit penolak serangga!"Pria itu melangkah maju satu tindak lagi, membuat Grok di belakangnya makin gemetar ketakutan."Bicaralah jujur, Gadis!" desaknya tajam. "Siapa yang mengajarimu racikan ini?!""Saya tidak tahu kalau daun itu resep rahasia bangsawan, Tuan!" seru Olivia dengan nada panik yang dibuat-buat, menatap pria itu dengan mata membelalak takut. "Tuan Grok cuma memberi saya tulang babi tengik dan lobak layu.

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 2 - ANCAMAN GROK

    Duk! Duk! Duk!Suara derap langkah berat Tuan Grok menaiki tangga kayu menggema seperti tabuh kematian di telinga Olivia. Setiap pijakan membuat debu-debu tua berjatuhan dari celah atap dapur.Jantung Olivia berdegup kencang hantam dada. Lambungnya yang melilit perih seolah tak ada artinya lagi dibandingkan dengan rasa dingin yang menjalar dari tengkuk hingga ujung kakinya. Tubuh Perempuan dua puluh tahun yang kurus kering ini terlalu lemah untuk kabur, apalagi berduel fisik."Sial... aku tidak boleh mati konyol di sini!" bisik Olivia seraya menatap sekeliling dengan mata liar.Grok menendang pintu jebakan hingga terbuka lebar. Tap! Tubuh tambunnya kembali muncul di permukaan dapur. Di tangan kanannya, sebuah pisau pemotong daging yang tebal berkilat tajam di bawah remang cahaya lampu minyak."Ternyata kamu, tikus kecil," mendesis Grok dengan napas terengah-engah. Wajahnya yang berminyak tampak sangat bengis. "Apa yang kamu lihat, Olivia?!"Olivia memundurkan langkahnya perlahan hingg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status