LOGINSerena menunduk sedikit ke arah Nayel yang sedang menunduk.
“Nayel, ikut pulang sama Tante, ya?” ajak Serena. Nayel yang sejak tadi tampak mengantuk dan lelah hanya mengangguk pelan. Dia lebih memilih ikut bersama Serena daripada menunggu ayahnya yang belum memberi kabar sejak tadi. Di dalam mobil, Serena menatap Nayel melalui kaca spion. Wajah kecil itu terlihat pucat dan lelah. “Nayel sudah makan siang belum, Sayang?” tanya Serena lembut sambil mengusap kepala Nayel. Sentuhan itu membuat Nayel terkejut kecil, lalu menunduk malu. Ia jarang, hampir tidak pernah diperlakukan selembut itu oleh orang dewasa selain Kinanti. Ada sesuatu yang hangat terasa di dadanya. Serena hendak bertanya lagi, tapi tiba-tiba.... Krukk… Suara perut Nayel terdengar jelas di dalam mobil yang sunyi. Serena tersenyum kecil. “Aduh… perutnya lapar banget ya?” ucap Serena. Nayel buru-buru menutup perutnya dengan kedua tangan, wajahnya memerah menahan malu. “Tadi… Nayel cuma makan roti,” gumamnya pelan yang masih bisa didengar oleh Serena. “Hm… gitu ya. Kalau begitu kita makan dulu, ya? Tante tahu tempat makan yang enak. Setelah itu baru kita pulang.” “Tapi…” Nayel ragu. Ia takut dimarahi ayahnya. “Tante nanti bilang ke nenek dan papamu, oke? Kamu nggak salah apa-apa. Kamu cuma lapar.” Perlahan Nayel mengangguk. Serena menepuk lembut pahanya, meyakinkan. ***** Serena membawa Nayel ke sebuah restoran kecil yang nyaman dan tidak terlalu ramai. Ia memilih tempat duduk di dekat jendela. “Apa yang Nayel mau makan?” tanya Serena sambil menyerahkan buku menu. Nayel menggeleng. “Tante pilihkan aja…” Serena tersenyum. “Oke, tapi nanti Nayel harus habiskan, ya?” Tak lama kemudian makanan datang, nasi dengan ayam panggang dan sup hangat. Begitu makanan diletakkan, mata Nayel langsung berbinar. “Silakan dimakan,” ujar Serena. Nayel tidak banyak bicara. Ia makan pelan-pelan, sopan, tapi terlihat sangat lapar. Serena memperhatikannya dengan tatapan yang… entah kenapa terasa seperti seorang ibu yang memperhatikan anaknya sendiri. “Pelan-pelan aja, Sayang. Nanti seret,” ucap Serena sambil memberikan tisu. “Maaf tante…” Nayel menunduk. “Kenapa minta maaf?” Serena mengusap kepalanya lagi. “Nayel nggak salah apa-apa. Kamu hebat, bisa makan sendiri." Mata Nayel berkedip-kedip. Ada perasaan asing yang muncul di dadanya… perasaan yang membuatnya hangat, tapi juga ingin menangis. Setelah makan siang, Serena dan Nayel segera bergegas pulang. Saat makan tadi, Serena sempat meminta nomor Kinanti dari Amira agar memudahkan mengantar Nayel pulang. Kini, mereka sudah sampai di depan rumah Nayel. Namun sesampainya di sana, Nayel sudah tertidur pulas di kursi belakang mobil. Kelelahan dan kekenyangan membuat tubuh kecil itu benar-benar terlelap. Serena menghela napas pelan. “Kasihan sekali… sampai ketiduran begini.” Akhirnya, ia memutuskan untuk menggendongnya. Meskipun tubuh Nayel sudah lumayan berat, Serena tetap mengangkatnya dengan hati-hati dan penuh kelembutan. Begitu pintu rumah terbuka, sosok Kinanti langsung muncul. Matanya membesar saat melihat Serena menggendong Nayel. “Ya ampun, Serena… maafin Tante ya, jadi merepotkan kamu. Itu Arkan, ya ampun… bisa-bisanya lupa anak sendiri!” oceh Kinanti kesal. Serena tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Tante. Serena kebetulan lewat, tadi kasihan lihat Nayel nunggu sendirian. Dia sudah sangat capek.” “Aduh, makasih banyak ya, Sayang. Ayo masuk dulu.” Serena pun melangkah masuk, masih menggendong Nayel. Ia meminta izin mengantar anak itu ke kamar. Dengan lembut ia membaringkan Nayel di tempat tidur, menyelimuti tubuh kecil itu. Saat hendak keluar, mata Serena tak sengaja menangkap beberapa bingkai foto di rak sudut kamar. Tidak ada satu pun foto kebersamaan Nayel dengan orang tuanya. Hanya foto-foto Nayel sendiri… dan satu foto bayi digendong seorang pria dewasa. Wajah pria itu, meski masih muda dalam foto, sangat mirip dengan Nayel. Serena menduga itu pasti Ayahnya. Hatinya terasa hangat sekaligus miris. ***** Serena kembali ke ruang tamu. Kinanti sudah menunggu sambil membawa dua gelas minuman. “Serena, duduk dulu. Jangan langsung pergi. Minum dulu, ya,” ucapnya ramah. Serena buru-buru menggeleng. “Eh, Tante nggak perlu repot-repot. Tadi Serena sama Nayel baru makan.” “Tante nggak repot sama sekali,” jawab Kinanti sambil memaksakan gelas ke tangannya. “Sekali lagi, terima kasih sudah mengantar Nayel. Ayahnya tuh… kerja melulu sampai lupa anak.” Serena mengecap sedikit minumannya sebelum memberanikan diri bertanya, “Tan… maaf sebelumnya. Memang ibunya Nayel… ke mana? Kok kayaknya Tante yang sering jemput Nayel?” Kinanti terdiam sejenak. “Nggak apa-apa kamu tanya. Nayel memang nggak punya ibu,” ucap Kinanti akhirnya. Serena menatapnya, tak menyangka. “Maksud Tante…?” Kinanti menghela napas panjang, seperti mengingat sesuatu yang tak menyenangkan. “Nayel itu… hadir karena kesalahan ayahnya di masa lalu. Waktu itu Arkan dijebak teman-temannya. Mereka kasih obat ke minumannya, sampai kejadian yang nggak diinginkan itu terjadi,” jelasnya perlahan. Serena terperangah, tak menduga cerita seperti itu. “Dan setelah diselidiki, ternyata ibunya Nayel sendiri yang sengaja mencampur obat itu. Tujuannya cuma satu....mengincar harta keluarga. Tapi Arkan bukan tipe yang gampang diperdaya. Dia cuma bertanggung jawab sampai proses kehamilan dan persalinan selesai. Setelah Nayel lahir, Arkan menolak hidup bersama perempuan itu.” “Lalu ibunya…?” tanya Serena hati-hati. “Ya pergi. Nggak terima. Sejak itu Nayel dirawat Tante dan Om. Ayahnya Arkan juga ikut bantu. Arkan… ya, begitu deh. Dia belum bisa berdamai dengan masa lalu itu. Belum bisa benar-benar menerima Nayel sepenuhnya.” Serena menunduk. Kata-kata itu terasa menusuk. “Tante kasihan sama Nayel,” lanjut Kinanti lirih. “Dia kurang kasih sayang seorang ayah. Tapi susah… sifat Arkan itu keras. Luka hatinya masih dalam.” Serena terdiam. Baru sekarang ia mengerti. Mengapa Nayel selalu tampak takut. Mengapa dia selalu sendirian. Mengapa ia begitu cepat lelah dan mudah cemas. Semua terjawab. Ternyata anak itu menyimpan luka yang bahkan ia sendiri tidak tahu cara mengungkapkannya. ***** "Arkan! Ibu nggak habis pikir sama kamu!" suara Kinanti meninggi.Mendengar kabar bahwa anak kesayangan mereka jatuh sakit karena efek kehamilan, Amira dan Bastian tak menunda waktu. Dari luar kota, keduanya segera mengatur penerbangan untuk pulang. Kekhawatiran itu tak bisa ditutupi meski Serena sudah menikah, di mata mereka, ia tetap anak yang sama.Di apartemen, Serena sedang berbaring setengah duduk di sofa. Kepalanya bersandar di dada Arkan, lengannya melingkar erat di pinggang suaminya seolah takut ditinggal barang sedetik. Sejak tahu dirinya hamil, Serena berubah jauh lebih manja. Ia mudah lelah, mudah mual, dan yang paling kentara adalah tak mau jauh dari Arkan.Arkan membiarkan. Bahkan tangannya sejak tadi tak berhenti mengusap punggung Serena dengan gerakan pelan, menenangkan.“Nayel kapan pulang ya, Mas?” tanya Serena lirih, suaranya sedikit manja bercampur lelah.Arkan menunduk, mengecup pelipis istrinya.“Bentar lagi, sayang. Nanti dijemput sopirnya Ibu,” jawabnya lembut.Serena mengangguk kecil, tapi pelukannya justru mengencang.“Aku
Arkan terkejut saat suara bel apartemennya berbunyi bertubi-tubi pagi itu. Ia mengerjap, menoleh ke arah jam dinding—06.30 pagi.“Siapa sih sepagi ini…” gumamnya pelan.Dengan hati-hati, Arkan melepaskan pelukan Serena yang masih terlelap di sisinya. Ia bangkit perlahan, berjalan gontai menuju pintu, masih dengan sisa kantuk yang berat.Begitu pintu terbuka, matanya langsung membulat.“Ibu?”“Kak Eliza?”Dua sosok itu berdiri di depan pintu dengan wajah penuh antusias.“Loh, ngapain Ibu pagi-pagi ke sini?” tanya Arkan refleks.Kinanti tersenyum lebar. “Ibu mau ketemu Serena, kan kamu bilang kemarin dia lagi hamil. Ibu pengin lihat mantu Ibu.”Eliza ikut tersenyum. “Iya, Kan. Masa kami nunggu lama-lama?”Arkan belum sempat menjawab, ketika dari dalam apartemen terdengar suara pintu kamar terbuka disusul langkah tergesa.“Mas—”Belum selesai Serena memanggil, suara itu langsung berganti dengan bunyi muntah dari kamar mandi.Arkan refleks berbalik. “Serena!”Ia berlari kecil menyusul ist
Di kediaman keluarga Arkan, suasana sore berjalan seperti biasa. Mereka berkumpul di ruang keluarga, menikmati teh hangat sambil berbincang ringan obrolan yang tampak sederhana, namun menyimpan rasa penasaran.Samudra meletakkan cangkirnya, lalu menoleh pada anak sulungnya.“Arkan sudah dua hari nggak ke kantor. Kamu tahu kenapa, Aksa?” tanyanya.Aksa mengangkat bahu. “Nggak tahu, Yah. Arkan juga nggak ngabarin apa-apa. Tapi kata asistennya, kerjaan Arkan tetap jalan. Kayaknya dia kerja dari rumah.”Samudra mengernyit tipis. “Kerja dari rumah?” gumamnya.Kinan yang sejak tadi duduk di sisi lain sofa langsung menoleh. “Lho, Arkan nggak masuk kantor?”“Iya,” jawab Samudra. “Sudah dua hari. Kerjaannya memang tetap beres, tapi Ayah heran. Biasanya Arkan paling jarang absen ke kantor.”“Bener,” sambung Aksa. “Sejak dulu dia selalu datang paling pagi, pulang paling akhir.”Kinan terdiam sejenak, pikirannya mulai berkelana. “Apa jangan-jangan Serena kenapa-kenapa?”Samudra menatap Kinan, lal
Mobil Arkan berhenti tepat di depan gerbang sekolah Nayel. Jam pulang baru saja usai, anak-anak kecil berlarian keluar dengan wajah ceria, tas menggantung di punggung mereka. Serena masih duduk diam di kursi penumpang, tangannya tak lepas dari perutnya sendiri gerakan refleks yang bahkan belum ia sadari sepenuhnya.“Kamu tunggu di sini ya,” ucap Arkan lembut. “Mas yang jemput Nayel.”Serena mengangguk. “Mas jangan lama-lama.”Arkan tersenyum kecil, lalu turun dari mobil. Tak lama, Nayel muncul dari balik gerbang, matanya langsung berbinar begitu melihat Arkan.“Papa!” teriaknya sambil berlari.Arkan berlutut dan membuka tangan. Tubuh kecil itu menabraknya dengan pelukan erat.“Papa jemput?” tanya Nayel antusias.“Iya. Mama juga ada,” jawab Arkan sambil mengusap kepala Nayel.Nayel langsung menoleh ke arah mobil. Begitu melihat Serena di dalam, ia melambai cepat. “Mama!”Serena turun perlahan dari mobil. Nayel menghampirinya, tapi kali ini langkahnya terhenti di depan Serena, seperti m
Sudah satu bulan berlalu sejak liburan keluarga itu berakhir. Kehidupan kembali berjalan dengan ritme biasa. Arkan dengan pekerjaannya, Serena dengan toko dan rutinitas rumah, Nayel dengan hari-harinya yang riuh.Tak ada tanda apa pun. Sampai malam tadi...Semalam, ketika Arkan baru saja pulang dari kantor, ia langsung dikejutkan oleh kondisi Serena. Istrinya tertidur di ranjang dengan wajah pucat, keningnya basah oleh keringat dingin. Begitu Arkan menyentuh keningnya, panas samar langsung terasa.Lebih anehnya lagi, Serena begitu manja malam itu.Ia tidak mau melepaskan pelukan Arkan sedikit pun. Bahkan saat Arkan belum sempat mandi atau berganti pakaian kerja, Serena tetap memeluknya erat, seolah takut ia menghilang.Arkan sempat mengira Serena hanya kelelahan.Namun menjelang subuh, Arkan terbangun karena Serena tiba-tiba menghentakkan tangannya.“Mas…” suaranya parau.Belum sempat Arkan bertanya, Serena sudah bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Arkan langsung menyusul dan mend
Setelah seminggu penuh berlibur, keluarga kecil Arkan akhirnya harus rela mengakhiri perjalanan mereka. Waktu berjalan terlalu cepat saat kebahagiaan terasa sederhana tertawa bersama, bermain salju, dan menikmati kebersamaan yang selama ini terasa tertunda.Satu minggu ke depan, Nayel sudah “dibooking” oleh Kinanti. Sang nenek ingin mengajak cucu kesayangannya berlibur, seperti kebiasaan mereka selama ini.Malam sebelum kepulangan, Arkan duduk di tepi tempat tidur hotel, memperhatikan Nayel yang tertidur pulas setelah seharian bermain. Serena berdiri di dekat jendela, menutup tirai perlahan.“Mas,” panggil Serena lembut.Arkan menoleh. “Hm?”“Nayel bakal seminggu sama ibu. Kamu nggak apa-apa?”Arkan tersenyum tipis. Ada sesuatu di dadanya yang terasa mengganjal, tapi ia berusaha menutupinya.“Dulu… Nayel lebih sering pergi tanpa aku. Sekarang rasanya beda.”Serena mendekat, duduk di sampingnya. Ia menggenggam tangan suaminya erat.“Mas bukan kehilangan waktu. Mas cuma lagi belajar ber







