LOGINKinanti tampak benar-benar kesal melihat putra bungsunya itu. Begitu Arkan masuk rumah, langkahnya terhenti karena tatapan tajam sang ibu yang seperti menusuk dada.
“Arkan! Ibu nggak habis pikir sama kamu!” suara Kinanti langsung meninggi. “Pulang jam segini? Kamu ingat nggak kamu yang harus jemput Nayel? Ibu kan sudah minta tolong. Kamu bilang bisa! Kenapa kamu malah nggak jemput anak kamu sendiri? Kalau Nayel diculik gimana?” Arkan menghela napas, ingin menjawab, tapi Kinanti tidak memberi celah. “Untung tadi ketemu sama Serena, anak sahabat Ibu. Kalau nggak? Kamu bayangin aja kondisi Nayel! Sendirian! Capek! Lapar!” Kinanti terus mengomel tanpa jeda, membuat Arkan memilih diam dan melangkah pergi. Wajahnya datar, tetapi ada letupan emosi yang ia tahan. Nayel berdiri di dekat sofa, memandang ayahnya dengan mata kecil yang berharap diperhatikan, walau hanya sedikit. Tapi Arkan lewat begitu saja. “Hei! Kamu mau ke mana? Ibu belum selesai ngomong!” seru Kinanti. “Dan kamu! Kamu bahkan nggak minta maaf ke Nayel karena nggak jemput dia!” Namun Arkan tetap melangkah, membuka pintu kamarnya, dan menutupnya tanpa sepatah kata pun. Kinanti menatap pintu itu dengan kecewa yang menggunung. “Bu… sudahlah. Udah malam,” Aksa mencoba menenangkan ibunya, menepuk bahu wanita itu pelan. “Yang penting Nayel udah pulang, udah aman.” Kinanti mengembuskan napas panjang. “Ibu tuh cuma kasihan sama Nayel… anak sekecil itu harus nunggu lama sendirian.” Samudra yang sejak tadi diam ikut bersuara. “Sudahlah, sayang. Kamu tahu sifat Arkan gimana. Dimarahin juga percuma. Nggak akan dia dengar.” Ia kemudian menatap istrinya penasaran. “Jadi… siapa yang antar Nayel pulang? Tadi kamu bilang anak sahabatmu? Sejak kapan kamu punya sahabat dekat? Setahu aku, kamu cuma punya teman arisan.” Kinanti duduk, meneguk air putih sebelum menjawab. “Oh, itu… Serena. Anaknya Amira. Dulu waktu ibu masih kerja di kantor lama, Amira itu sahabat ibu. Kita sudah lama banget nggak ketemu. Kebetulan kemarin ketemu di mall.” Aksa ikut duduk dan menyela pelan, “Orangnya baik, Bu?” Kinanti mengangguk cepat. “Baik banget. Nayel juga kelihatan nyaman sama dia. Tadi Serena bilang Nayel lapar dan kecapekan, jadi diajak makan dulu sebelum diantar pulang.” Samudra mengelus dagunya. “Hmm… bagus kalau begitu. Setidaknya ada orang yang peduli sama anak itu.” Mata Kinanti berkaca-kaca. “Ibu cuma berharap Arkan sadar… Nayel butuh ayah yang hadir, bukan cuma ayah yang tinggal serumah.” Aksa menatap pintu kamar Arkan yang tertutup rapat, lalu memandang Nayel yang sedang duduk diam sambil memeluk bantal diruang tamu. Anak yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Anak itu terlihat kecil… dan kesepian. “Ayo, Nayel,” Aksa mendekat sambil tersenyum lembut. “Sini Om anter ke kamar terus tidur, ya.” Nayel mengangguk pelan. Sementara itu, di dalam kamar, Arkan duduk di tepi ranjang, menunduk. Rahangnya mengeras, ada rasa bersalah yang ia sembunyikan dalam-dalam, tapi keegoisan dan kelakuannya membuatnya tak mampu keluar dan meminta maaf. ***** Di dalam kamar, Kinanti masih terus mengoceh panjang lebar kepada suaminya. Samudra hanya bisa duduk di sisi ranjang, mendengarkan dengan sabar meski matanya sudah mulai berat. “Kamu tahu nggak, Yah,” Kinanti membuka percakapan dengan nada serius, “Serena itu anaknya Bastian. Sahabat kamu itu, ternyata.” Samudra mengerjap, sedikit kaget. “Oh ya? Aku baru tahu kalau Bastian punya anak perempuan. Setahuku dia memang punya anak, tapi aku nggak pernah tanya anaknya laki-laki atau perempuan.” Kinanti mengangguk mantap. “Kata Amira sih, Serena itu anak tunggal. Makanya disembunyiin dari publik. Bastian kan terkenal dikalangan pengusaha… ya kamu tahu sendiri. Dia selalu jaga privasi keluarganya.” Samudra menghela napas, merasa informasi itu masuk akal. Tiba-tiba, Kinanti bersandar ke suaminya, matanya berbinar-binar penuh ide. “Yah… Ibu kepikiran sesuatu.” Samudra langsung waspada. “Apa lagi?” “Gimana kalau Arkan kita jodohin sama Serena?” ujar Kinanti penuh keyakinan. “Serius, Yah. Ibu suka banget sama anak itu. Sopan, lembut, perhatian. Dan dia anaknya Bastian. Ibu rasa mereka cocok.” Samudra sontak menoleh cepat, wajahnya jelas menunjukkan ketidaksetujuan. “Bu… jangan ada perjodohan kayak gitu, lah. Aku tahu Bastian. Dia itu tipe yang nggak bakal sembarangan ngasih anaknya ke orang lain. Lagian… Arkan?” Samudra menghela napas berat. “Kamu tahu sendiri sifat anak kita itu keras kayak batu. Apa mau Bastian ngasih Serena ke orang yang nggak bisa urus anaknya sendiri?” Kinanti tidak menyerah. Dia malah semakin semangat. “Tapi itu justru alasan Ibu yakin! Serena itu lembut, sabar, keibuan banget. Ibu lihat sendiri bagaimana dia perlakuin Nayel. Ibu rasa… dia bisa mencairkan hati Arkan. Bisa bikin Arkan berubah.” Samudra memijat pelipisnya. “Bu… punya harapan sih boleh. Tapi jangan berharap terlalu tinggi. Arkan aja belum bisa jadi ayah yang benar buat Nayel. Masa kamu mau tarik-tarik Serena masuk ke masalah ini?” Kinanti terdiam sejenak, namun matanya masih menunjukkan keyakinan yang sama. “Ibu cuma ingin yang terbaik… buat Arkan, buat Nayel. Dan entah kenapa… hati Ibu bilang Serena itu jawaban yang tepat.” Samudra menghela napas lagi, lebih panjang kali ini. “Sudahlah. Kita ngomongin yang lain besok aja. Sekarang sudah malam, Bu.” Kinanti mengangguk, tapi senyum kecilnya tetap ada. Dalam hati, ia sudah punya rencana. ***** Di kediaman Serena, Bastian dan Amira sudah duduk di meja makan menunggu putri mereka bergabung untuk makan malam. Serena, yang baru pulang tak lama tadi, sedang membersihkan diri di kamarnya. “Tadi Serena pulang jam berapa, Bun?” tanya Bastian sambil menyesap kopi hangatnya. “Agak sore, Yah. Nggak seperti biasanya,” jawab Amira santai. Bastian mengernyit. “Tumben? Ke mana dulu dia?” Nada suaranya terdengar khas seorang ayah protektif yang selalu ingin memastikan putri tunggalnya baik-baik saja. “Katanya sih, habis nganterin Nayel dulu,” jawab Amira. “Nayel?” Bastian menghentikan gerakan tangannya. “Siapa Nayel?” “Oh, itu cucunya Kinanti,” jelas Amira. “Ingat kan? Sahabat aku yang pernah aku ceritain dulu. Eh, ternyata dia sekarang menikah sama sahabat kamu.” Bastian memandang istrinya, terlihat bingung. “Sahabat aku? Siapa?” “Samudra.” Amira tersenyum kecil. “Ternyata dunia sekecil itu.” Bastian mengangguk pelan, kini mengerti. “Jadi… Serena mengantar cucunya Samudra?” “Iya,” jawab Amira sambil menuang air putih ke gelas. “Katanya kasihan, anak itu ditinggal lama sama ayahnya. Serena kan gampang iba kalau soal anak kecil.” Bastian memandang ke arah koridor yang menuju kamar Serena. Ada kekhawatiran kecil di matanya, khas seorang ayah yang terlalu menjaga. “Hm… Serena memang begitu,” gumamnya. “Tapi tetap saja… aku ingin tahu anak siapa itu sebenarnya.” Amira tersenyum, menepuk tangan suaminya lembut. “Nanti Serena cerita sendiri, Yah. Tenang saja.” Belum sempat Bastian membalas, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Serena pun turun, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya segar selepas mandi. ***** "Yah, nanti malam kita diundang sama keluarga Kinanti," ucap Amira.Mendengar kabar bahwa anak kesayangan mereka jatuh sakit karena efek kehamilan, Amira dan Bastian tak menunda waktu. Dari luar kota, keduanya segera mengatur penerbangan untuk pulang. Kekhawatiran itu tak bisa ditutupi meski Serena sudah menikah, di mata mereka, ia tetap anak yang sama.Di apartemen, Serena sedang berbaring setengah duduk di sofa. Kepalanya bersandar di dada Arkan, lengannya melingkar erat di pinggang suaminya seolah takut ditinggal barang sedetik. Sejak tahu dirinya hamil, Serena berubah jauh lebih manja. Ia mudah lelah, mudah mual, dan yang paling kentara adalah tak mau jauh dari Arkan.Arkan membiarkan. Bahkan tangannya sejak tadi tak berhenti mengusap punggung Serena dengan gerakan pelan, menenangkan.“Nayel kapan pulang ya, Mas?” tanya Serena lirih, suaranya sedikit manja bercampur lelah.Arkan menunduk, mengecup pelipis istrinya.“Bentar lagi, sayang. Nanti dijemput sopirnya Ibu,” jawabnya lembut.Serena mengangguk kecil, tapi pelukannya justru mengencang.“Aku
Arkan terkejut saat suara bel apartemennya berbunyi bertubi-tubi pagi itu. Ia mengerjap, menoleh ke arah jam dinding—06.30 pagi.“Siapa sih sepagi ini…” gumamnya pelan.Dengan hati-hati, Arkan melepaskan pelukan Serena yang masih terlelap di sisinya. Ia bangkit perlahan, berjalan gontai menuju pintu, masih dengan sisa kantuk yang berat.Begitu pintu terbuka, matanya langsung membulat.“Ibu?”“Kak Eliza?”Dua sosok itu berdiri di depan pintu dengan wajah penuh antusias.“Loh, ngapain Ibu pagi-pagi ke sini?” tanya Arkan refleks.Kinanti tersenyum lebar. “Ibu mau ketemu Serena, kan kamu bilang kemarin dia lagi hamil. Ibu pengin lihat mantu Ibu.”Eliza ikut tersenyum. “Iya, Kan. Masa kami nunggu lama-lama?”Arkan belum sempat menjawab, ketika dari dalam apartemen terdengar suara pintu kamar terbuka disusul langkah tergesa.“Mas—”Belum selesai Serena memanggil, suara itu langsung berganti dengan bunyi muntah dari kamar mandi.Arkan refleks berbalik. “Serena!”Ia berlari kecil menyusul ist
Di kediaman keluarga Arkan, suasana sore berjalan seperti biasa. Mereka berkumpul di ruang keluarga, menikmati teh hangat sambil berbincang ringan obrolan yang tampak sederhana, namun menyimpan rasa penasaran.Samudra meletakkan cangkirnya, lalu menoleh pada anak sulungnya.“Arkan sudah dua hari nggak ke kantor. Kamu tahu kenapa, Aksa?” tanyanya.Aksa mengangkat bahu. “Nggak tahu, Yah. Arkan juga nggak ngabarin apa-apa. Tapi kata asistennya, kerjaan Arkan tetap jalan. Kayaknya dia kerja dari rumah.”Samudra mengernyit tipis. “Kerja dari rumah?” gumamnya.Kinan yang sejak tadi duduk di sisi lain sofa langsung menoleh. “Lho, Arkan nggak masuk kantor?”“Iya,” jawab Samudra. “Sudah dua hari. Kerjaannya memang tetap beres, tapi Ayah heran. Biasanya Arkan paling jarang absen ke kantor.”“Bener,” sambung Aksa. “Sejak dulu dia selalu datang paling pagi, pulang paling akhir.”Kinan terdiam sejenak, pikirannya mulai berkelana. “Apa jangan-jangan Serena kenapa-kenapa?”Samudra menatap Kinan, lal
Mobil Arkan berhenti tepat di depan gerbang sekolah Nayel. Jam pulang baru saja usai, anak-anak kecil berlarian keluar dengan wajah ceria, tas menggantung di punggung mereka. Serena masih duduk diam di kursi penumpang, tangannya tak lepas dari perutnya sendiri gerakan refleks yang bahkan belum ia sadari sepenuhnya.“Kamu tunggu di sini ya,” ucap Arkan lembut. “Mas yang jemput Nayel.”Serena mengangguk. “Mas jangan lama-lama.”Arkan tersenyum kecil, lalu turun dari mobil. Tak lama, Nayel muncul dari balik gerbang, matanya langsung berbinar begitu melihat Arkan.“Papa!” teriaknya sambil berlari.Arkan berlutut dan membuka tangan. Tubuh kecil itu menabraknya dengan pelukan erat.“Papa jemput?” tanya Nayel antusias.“Iya. Mama juga ada,” jawab Arkan sambil mengusap kepala Nayel.Nayel langsung menoleh ke arah mobil. Begitu melihat Serena di dalam, ia melambai cepat. “Mama!”Serena turun perlahan dari mobil. Nayel menghampirinya, tapi kali ini langkahnya terhenti di depan Serena, seperti m
Sudah satu bulan berlalu sejak liburan keluarga itu berakhir. Kehidupan kembali berjalan dengan ritme biasa. Arkan dengan pekerjaannya, Serena dengan toko dan rutinitas rumah, Nayel dengan hari-harinya yang riuh.Tak ada tanda apa pun. Sampai malam tadi...Semalam, ketika Arkan baru saja pulang dari kantor, ia langsung dikejutkan oleh kondisi Serena. Istrinya tertidur di ranjang dengan wajah pucat, keningnya basah oleh keringat dingin. Begitu Arkan menyentuh keningnya, panas samar langsung terasa.Lebih anehnya lagi, Serena begitu manja malam itu.Ia tidak mau melepaskan pelukan Arkan sedikit pun. Bahkan saat Arkan belum sempat mandi atau berganti pakaian kerja, Serena tetap memeluknya erat, seolah takut ia menghilang.Arkan sempat mengira Serena hanya kelelahan.Namun menjelang subuh, Arkan terbangun karena Serena tiba-tiba menghentakkan tangannya.“Mas…” suaranya parau.Belum sempat Arkan bertanya, Serena sudah bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Arkan langsung menyusul dan mend
Setelah seminggu penuh berlibur, keluarga kecil Arkan akhirnya harus rela mengakhiri perjalanan mereka. Waktu berjalan terlalu cepat saat kebahagiaan terasa sederhana tertawa bersama, bermain salju, dan menikmati kebersamaan yang selama ini terasa tertunda.Satu minggu ke depan, Nayel sudah “dibooking” oleh Kinanti. Sang nenek ingin mengajak cucu kesayangannya berlibur, seperti kebiasaan mereka selama ini.Malam sebelum kepulangan, Arkan duduk di tepi tempat tidur hotel, memperhatikan Nayel yang tertidur pulas setelah seharian bermain. Serena berdiri di dekat jendela, menutup tirai perlahan.“Mas,” panggil Serena lembut.Arkan menoleh. “Hm?”“Nayel bakal seminggu sama ibu. Kamu nggak apa-apa?”Arkan tersenyum tipis. Ada sesuatu di dadanya yang terasa mengganjal, tapi ia berusaha menutupinya.“Dulu… Nayel lebih sering pergi tanpa aku. Sekarang rasanya beda.”Serena mendekat, duduk di sampingnya. Ia menggenggam tangan suaminya erat.“Mas bukan kehilangan waktu. Mas cuma lagi belajar ber







