Home / Fantasi / Takdir sang Nona Pewaris / Bab 117 Sebuah Ingatan Menakutkan

Share

Bab 117 Sebuah Ingatan Menakutkan

Author: Nadira Dewy
last update publish date: 2026-09-06 21:33:28

Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Suran kembali ke Hideria.

Kereta yang membawanya perlahan memasuki halaman kediaman keluarga Hideria.

Begitu pintu kereta terbuka, Suran turun dengan langkah tenang.

Namun baru beberapa langkah ia berjalan, suara para pelayan langsung terdengar.

“Selamat datang kembali, Nona Suran!”

“Selamat datang, Nona Suran!”

Para pelayan berdiri berbaris di sepanjang halaman.

Tidak ada lagi wajah-wajah ketakutan seperti beberapa waktu lalu.

Tidak ada lagi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 136 Niat Membunuh

    Linira tidak menunggu lama. Begitu mengetahui bahwa Ailin sengaja membuat Tuan Ken menjauh darinya, ia langsung mencari ibunya. Pintu kamar Ailin terbuka dengan kasar. “Ibu!” Ailin yang sedang duduk langsung menoleh. “Apa?” “Kenapa Ibu melakukan itu kepadaku?” Nada suara Linira meninggi. Ailin menatap putrinya tanpa gentar. “Kalau yang kau maksud adalah Tuan Ken, maka aku memang sengaja melakukannya.” Linira mengepalkan tangan. “Kenapa?” “Karena aku ingin menyelamatkan suamiku dari kehancuran.” Jawaban itu membuat Linira terdiam sesaat. Ailin berdiri. “Nama Tuan Ken sudah mulai dibicarakan orang. Pedagang yang selama ini bekerja sama dengannya mulai menjaga jarak. Kalau gosip itu terus menyebar, bukan hanya reputasinya yang hancur. Bisnisnya juga bisa ikut runtuh.” “Itu bukan urusan Ibu!” “Justru itu urusanku!” Ailin membentak. “Dia suamiku!” Linira tertawa sinis. “Jadi Ibu hanya peduli pada Tuan Ken saja?” Ailin menatapnya tajam. “Aku juga peduli padamu, Linir

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 135 Linira Dengan Kegilaannya

    Menjelang malam, Tuan Ken akhirnya kembali ke kediamannya. Langkahnya berat. Wajahnya tampak sangat lelah, bahkan beberapa kancing pakaiannya sudah terbuka karena seharian ia harus menghadiri pertemuan bisnis yang tidak ada habisnya. Namun bukan pekerjaan yang paling menguras pikirannya, melainkan percakapan yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Gosip tentang kedekatannya dengan Linira ternyata sudah mulai menyebar. Beberapa pedagang besar yang selama ini bekerja sama dengannya bahkan mulai menjaga jarak. Ada yang secara terang-terangan mempertanyakan hubungan mereka. Ada pula yang memilih menunda kerja sama baru. Tuan Ken berhasil menjelaskan keadaan dan meyakinkan mereka bahwa gosip tersebut tidak berdasar. Namun ia tahu, satu kesalahan saja bisa membuat semua usahanya selama bertahun-tahun hancur. Karena itu, ketika memasuki kediaman dan melihat seseorang berdiri menunggunya, ekspresinya langsung berubah. Linira. Malam itu Linira sengaja berdandan lebih rapi

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 134 Tuan Ken Berubah

    Setelah pertengkarannya dengan Ailin, Linira mengurung diri di kamar. Wajahnya terlihat tenang, tetapi pikirannya terus berputar kemanapun arahnya. Jika Ailin benar-benar memusuhinya, bagaimana dia akan hidup dengan nyaman di rumah ini? Linira jelas sangat mengenal ibunya. Ailin mungkin terlihat lemah ketika menangis, tetapi ketika sudah merasa terancam, wanita itu bisa menjadi sangat licik, bahkan semua otak liciknya juga berasal dari Ibunya itu. Linira tidak boleh membiarkannya mengambil kendali. “Kalau begitu...” ia perlahan tersenyum. “Aku harus membuat Tuan Ken semakin berpihak kepadaku.” Bagi Linira, satu-satunya cara adalah memberikan lebih banyak perhatian. Lebih banyak pengertian, lebih banyak kasih sayang. Dia yakin jika Tuan Ken semakin terbiasa dengan keberadaannya, Ailin tidak akan mudah memisahkan mereka. Namun Linira tidak mengetahui bahwa pada saat yang sama, Ailin sudah mengambil langkah lain. Malam itu, Ailin meminta Tuan Ken berbicara secara prib

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 133 Saling Bertentangan

    Pagi itu, Ailin sebenarnya tidak berniat mencari Linira. Ia hanya ingin memastikan Tuan Ken benar-benar pergi bekerja. Namun ketika melewati lorong samping rumah, langkahnya tiba-tiba terhenti. Dari kejauhan, ia melihat Tuan Ken berdiri di dekat pintu samping, dan di hadapannya adalah Linira. Ailin membeku. Lagi-lagi Putrinya berdiri terlalu dekat dengan Tuan Ken. Bahkan ketika Tuan Ken hendak pergi, Linira masih menahannya dengan berbagai alasan kecil. “Tuan Ken, hati-hati.” “Aku tahu.” “Jangan terlalu memaksakan diri.” Tuan Ken hanya mengangguk, lalu Linira mencium pipi dan bibirnya. “Sampai jumpa nanti malam, sayang...” Tuan Ken tersenyum. “Iya, jaga dirimu.” Ailin mengepalkan tangan. Pemandangan itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak. Tujuh hari, selama tujuh hari itu dia seperti orang bodoh, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua kecurigaannya salah. Ia berusaha percaya kepada putrinya. Tetapi sekarang, ia tidak bisa lagi memejamkan mata.

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 132 Desahan Kebenaran

    Selama tujuh hari, Ailin tidak mengatakan apa pun kepada Linira lagi. Ia hanya mengawasi dari jauh. Setiap kali Tuan Ken pulang, Ailin memperhatikan siapa yang pertama kali mencarinya. Setiap kali Linira meninggalkan kamar, Ailin memperhatikan ke mana putrinya pergi, dan setiap kali pintu ruang kerja Tuan Ken tertutup lebih lama dari biasanya, dada Ailin terasa semakin sesak. Malam itu, akhirnya sesuatu terjadi. Ailin yang sejak awal sudah bersiap di tempat tersembunyi melihat Linira keluar dari kamarnya. Langkah putrinya pelan. Ia melihat ke kanan dan kiri sebelum berjalan menuju ruang kerja Tuan Ken. Ailin membeku. “Linira...” Jantungnya berdegup keras. Selama tujuh hari ia menunggu bukti dan sekarang, putrinya sendiri berjalan menuju tempat yang selama ini ia curigai. Linira berhenti di depan pintu. Setelah memastikan keadaan sekitar, ia masuk. Pintu tertutup. Ailin berdiri terpaku. Untuk beberapa saat ia hanya menatap pintu tersebut. Ada bagian dalam dirinya yang i

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 131 Tidak Akan Memaafkan Mu

    Malam setelah mengantarkan teh untuk Tuan Ken, Ailin masih berdiri di tengah ruangan itu. Tatapannya menyapu ruangan sekali lagi. Tidak ada apa pun seperti sebelumnya, namun kali ini, pikirannya justru tertuju pada satu nama. Linira. Ailin mengingat beberapa hari terakhir. Linira yang tiba-tiba sering turun saat makan malam. Linira yang mulai memperhatikan kapan Tuan Ken pulang. Linira yang beberapa kali meminta Tuan Ken membantunya mengambil sesuatu. Linira yang bahkan sekarang semakin sering berada di sekitar ruang kerja pria itu. Sebelumnya Ailin menganggap semua itu sebagai bagian dari proses pemulihan putrinya. Tetapi sekarang, semuanya terasa berbeda. “Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?” Ailin mengerutkan kening. Ia teringat bagaimana Linira memandang Tuan Ken setiap kali pria itu berbicara kepadanya. Dulu ia tidak memperhatikannya. Namun setelah kecurigaan muncul, setiap gerakan kecil terasa mencurigakan. Cara Linira tersenyum, cara Linira mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status