Home / Fantasi / Takdir sang Nona Pewaris / Bab 116 Akhir Lucien

Share

Bab 116 Akhir Lucien

Author: Nadira Dewy
last update publish date: 2026-09-05 20:33:02

“Masih berani kau datang ke sini?!”

Ia tiba-tiba melangkah maju. Tangannya terulur, berniat meraih tubuh Suran dan memukulnya.

Namun sebelum tangannya berhasil menyentuh Suran, dua penjaga istana langsung bergerak.

Salah satu dari mereka menangkap pergelangan tangan Lucien, sementara yang lainnya berdiri di antara mereka.

“Jhalang! Berani sekali kau, hah?” Lucien berusaha melepaskan tangannya. “Lepaskan aku!”

Para penjaga tidak bergeming.

Suran yang berdiri beberapa langkah di belakang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 119 Hilangnya Pangeran Ke-9

    “Keadaan Tuan Rey benar-benar kritis. Banyak sekali lukanya, darahnya sudah banyak yang terbuang. Kita cuma bisa berdoa saja sekarang.” Suran melotot tak percaya. “Apa...?” Ia pun menggelengkan kepalanya, “Tidak boleh. Datangkan dokter terbaik, dia harus selamat.” Beberapa saat kemudian, Rey mendapatkan perawatan terbaik yang bisa diberikan Hideria. Begitu dokter terbaik dipanggil, seluruh perlengkapan pengobatan segera disiapkan. Tidak ada satu pun luka Rey yang dibiarkan tanpa penanganan. Suran bahkan memutuskan agar Rey tetap berada di kamarnya. Ia ingin memastikan pria itu berada di tempat yang paling mudah diawasi. Sepanjang malam, Suran hampir tidak meninggalkan sisi tempat tidur Sesekali ia memeriksa wajah Rey, sesekali ia melihat perban yang membalut tubuh pria itu, dan setiap kali napas Rey terdengar sedikit lebih berat, jantung Suran ikut berdegup kencang. “Nona, sebaiknya Anda beristirahat.” Dokter yang baru selesai memeriksa Rey berdiri di samping tempat

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 118 Kedatangan Rey Mengejutkan

    Sore itu, Suran sedang duduk di ruang kerjanya ketika seorang kepercayaannya datang membawa kabar. “Nona.” Suran mengangkat wajah. “Bagaimana keadaan Linira? Sudah lama aku tidak tahu keadaannya.” “Ingatan Nona Linira mulai kembali. Dokter mengatakan kondisinya menunjukkan perkembangan yang cukup baik.” Mendengar itu, Suran justru tersenyum. “Benarkah?” “Benar, Nona.” Suran menyandarkan tubuhnya pada kursi. Untuk sesaat, ia hanya diam kemudian senyum tipis muncul di bibirnya. “Kalau begitu, berikan lebih banyak uang kepada dokter yang merawatnya.” Orang kepercayaannya sedikit terkejut. “Lebih banyak uang?” “Ya.” “Pastikan semua kebutuhan pengobatannya terpenuhi.” Suran mengambil cangkir teh di hadapannya. “Jangan sampai dia kekurangan obat atau perawatan hanya karena masalah uang.” Orang itu mengangguk. “Baik, Nona.” Ia kemudian ragu sejenak sebelum bertanya, “Namun... mengapa Nona begitu memperhatikan keadaan Nona Linira?” Suran tertawa kecil. “Karena aku ingin

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 117 Sebuah Ingatan Menakutkan

    Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Suran kembali ke Hideria. Kereta yang membawanya perlahan memasuki halaman kediaman keluarga Hideria. Begitu pintu kereta terbuka, Suran turun dengan langkah tenang. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, suara para pelayan langsung terdengar.“Selamat datang kembali, Nona Suran!” “Selamat datang, Nona Suran!” Para pelayan berdiri berbaris di sepanjang halaman. Tidak ada lagi wajah-wajah ketakutan seperti beberapa waktu lalu. Tidak ada lagi kepala yang tertunduk karena takut kepada Lucien. Hari itu, wajah mereka dipenuhi kebahagiaan. Suran berhenti sejenak. Matanya menyapu seluruh halaman Hideria. Tempat ini akhirnya kembali menjadi rumahnya sepenuhnya. Seorang pelayan tua bahkan tidak mampu menahan air matanya. “Kami sangat merindukan Nona.” Suran tersenyum lembut. “Aku juga merindukan kalian.”Selama berhari-hari hanya di dalam kamar, wajar jika pelayan rumahnya tidak bisa bertemu dengan Suran dengan leluasa. Men

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 116 Akhir Lucien

    “Masih berani kau datang ke sini?!”Ia tiba-tiba melangkah maju. Tangannya terulur, berniat meraih tubuh Suran dan memukulnya. Namun sebelum tangannya berhasil menyentuh Suran, dua penjaga istana langsung bergerak. Salah satu dari mereka menangkap pergelangan tangan Lucien, sementara yang lainnya berdiri di antara mereka. “Jhalang! Berani sekali kau, hah?” Lucien berusaha melepaskan tangannya. “Lepaskan aku!” Para penjaga tidak bergeming. Suran yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka justru tersenyum tipis. Ia sama sekali tidak terlihat takut. Tatapannya tenang ketika memandang kakeknya. “Menarik sekali.” Lucien menoleh tajam. “Apa yang menarik sekarang?” Suran berjalan perlahan mendekat. “Di sini, kaulah yang melakukan kesalahan.” Ia berhenti beberapa langkah di hadapan Lucien. Kaulah yang meracuni aku. Kaulah yang mencoba mengambil alih Hideria. “Kaulah yang memerintahkan orang-orang untuk menyingkirkan ku.”Suran tersenyum kecil. “Tapi sekarang kau yang bert

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 115 Selesai Sudah

    Pagi itu, suasana istana berubah menjadi jauh lebih serius dari biasanya. Satu demi satu orang berdatangan membawa dokumen yang selama ini tersembunyi. Catatan transaksi, surat perintah, kesaksian para pelayan yang bersangkutan, kesaksian orang-orang yang pernah menerima perintah dari Tuan Lucien, bahkan beberapa bukti yang menunjukkan bagaimana pria tua itu perlahan-lahan mengambil alih Hideria dengan cara yang kotor. Semua bukti itu dikumpulkan dan dibawa langsung ke ruang pengadilan istana. Tidak ada satu pun yang berani menganggap masalah ini sepele karena yang dilakukan Lucien bukan sekadar perselisihan keluarga. Ia telah meracuni pewaris sah Hideria, mengambil alih kediaman tanpa hak, memerintahkan orang-orang untuk menyingkirkan Suran, dan yang paling berat, ia telah menggunakan orang-orang di sekitarnya untuk melaksanakan kejahatannya. Raja duduk di kursi pengadilan dengan wajah yang semakin dingin setiap kali satu bukti dibacakan, padahal jarang sekali dia ikut ha

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 114 Hanya Hari Ini

    Suran tersenyum puas setelah menyelesaikan surat yang ditujukan kepada pihak istana. Surat itu tidak panjang, tetapi setiap kalimat di dalamnya berisi sesuatu yang mampu menentukan nasib Tuan Lucien kedepannya. Suran melipat surat tersebut dan menyerahkannya kepada orang kepercayaannya. “Antarkan langsung ke istana. Surat ini juga sudah ditunggu.” “Baik, Nona Suran.” “Jangan sampai surat ini jatuh ke tangan siapa pun. Kau tahu konsekuensinya, kan?” “Saya mengerti, Nona.” Setelah orang itu pergi, Suran kembali duduk dengan tenang. Sementara itu, pelayan yang sebelumnya tertangkap akhirnya kembali ke sisi Tuan Lucien, tentu juga Suran sudah tahu. Pria tua itu langsung memperhatikannya. “Bagaimana?” Pelayan tersebut menundukkan kepala. “Kita berhasil, Tuan.” Tuan Lucien langsung tersenyum. “Dia memakannya?” “Benar, Tuan.” Jawaban itu membuat Tuan Lucien seolah mendapatkan kembali seluruh keyakinannya. “Bagus.” Ia berjalan mendekati pelayan itu. “Apakah dia meny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status