LOGINDi ambang pintu Rey tersenyum. Pria itu sudah percaya diri tidak menggunakan topeng di hadapan Suran lagi. “Aku hanya merindukan mu, jadi aku tidak tahan lagi, dan memutuskan untuk segera datang,” jawab Rey. Suran membuang napas berat, bola matanya berputar jengah. “Omong kosong mu sudah selesai? Aku benar-benar tidak menyangka kalau kediaman Hideria bisa membuat mu keluar masuk sesuka hati.”Tidak nampak menyesal, Rey justru tersenyum lebar klau berjalan mendekati Suran. Ia duduk nyaman di seberang meja, menatap gadis itu dengan perasaan nyaman. “Beberapa waktu terakhir ini aku sibuk dengan berbagai macam hal, terutama melindungi mu dari pangeran ke 6. Kau benar-benar akan bersikap sinis seperti ini setelah apa yang aku lakukan untuk mu?”Sejenak Suran terdiam. Memang benar belakangan ini dia mengetahui pergerakan pangeran ke-6, mulai dari ingin memfitnah Suran, menyebarkan gosip tentang hubungan mereka, dan berbagai macam cara yang bahkan sampai mengarah pada kekerasan secara men
Meski Linira menolak hukuman itu, nyatanya tak ada satupun yang bisa menolongnya. Dulu, Ibunya yang selalu mencari cara untuk menyelematkan dirinya, namun sekarang dang Ibu telah tiada, bahkan penyebabnya adalah dia yang sebagai anak kandung. LInira pun menangis. Tiba-tiba ia mulai tersadar kalau ia salah telah membunuh Ibunya, ia salah karena hanya memikirkan diri sendiri, ia salah karena terbawa obsesi bodoh hingga tega mengakhiri hidup Ibunya sendiri. “Ibu, aku minta maaf... aku tidak mau begini, aku mau dengan Ibu di sini. Ibu... aku benar-benar menyesal.” Sayangnya, penyesalan itu tidak memiliki arti apapun. Sebesar gunung penyesalan itu bahkan tidak akan membawa kembali Ibunya yang sudah tiada. Akhirnya, Linira dipaksa mengambil posisi hingga tali kokoh dipasang di lehernya setelah kepalanya di tutup. Dia tidak bisa mengatakan apapun lagi karena mulutnya disumpal kain hingga penuh. Air matanya terus mengalir hingga kain penutup kepalanya ikut tekena bercak air mata
Linira terduduk di sudut sel dengan tubuh gemetar. Air matanya tidak berhenti mengalir. “Biarkan aku keluar...” Suaranya serak. “Aku tidak membunuh ibuku.” Ia merangkak mendekati jeruji ketika mendengar langkah petugas. “Tolong...” Petugas yang berjaga hanya melirik sekilas. “Aku benar-benar tidak bersalah!” Tidak ada jawaban, Linira menggenggam jeruji dengan kedua tangannya. “Kalian harus percaya kepadaku!” Petugas tetap diam, tidak ada minat membantu Linira keluar. “Bukti sudah diperiksa di balai keadilan. Putusan sudah dijatuhkan.” “Tidak!” Linira menggeleng keras. “Itu semua salah!” Ia mulai menangis semakin hebat. “Ada seseorang yang menjebak ku!” Petugas menatapnya datar. “Kalau begitu sampaikan kepada pengadilan saja kemarin.” “Aku sudah mencoba!” Linira terisak. “Tidak ada yang mau mendengarkan!” Petugas menghela napas. “Karena semua bukti yang ada mengarah padamu. Mereka juga tidak akan mungkin acuh kalau menemukan kejanggalan.” Linira membeku. Beberapa detik kemud
Linira dibawa ke Balai Keadilan menjelang siang. Kedua tangannya terikat, sementara beberapa penjaga berjalan di belakangnya. Sepanjang perjalanan, Linira terus menatap kosong ke depan. Ia masih tidak percaya semuanya berubah secepat ini. Beberapa hari lalu ia masih tinggal di kediaman Tuan Ken. Sekarang dirinya justru menjadi tersangka pembunuhan. Begitu memasuki ruang persidangan, Linira melihat beberapa orang sudah menunggu. Hakim utama duduk di tempatnya. Para pejabat pencatat berada di sisi ruangan. Beberapa saksi juga telah dipanggil dan di atas meja panjang di hadapan hakim, sejumlah bukti sudah disusun. “Sidang dimulai.” Suasana langsung hening. Hakim membuka dokumen pertama. “Tersangka Linira diduga terlibat dalam kematian Nyonya Ailin.” Linira segera membantah. “Aku tidak membunuh ibuku!” Hakim mengangkat tangan. “Kau akan mendapatkan kesempatan untuk memberikan kesaksian. Jangan menyela.” Linira terpaksa diam. Satu demi satu bukti diperiksa
Malam itu, kediaman Tuan Ken mendadak dipenuhi suara tangisan dan langkah kaki para pelayan. Kabar kematian Ailin menyebar begitu cepat. Wanita itu ditemukan sudah tidak bernyawa di kamarnya. Dokter yang datang untuk memeriksa hanya bisa menggelengkan kepala. Ketika tubuh Ailin diperiksa lebih teliti, terlihat jelas bekas tekanan pada bagian lehernya. Bekas cekikan. Tidak ada seorang pun yang berani berbicara sembarangan setelah melihatnya. Tuan Ken berdiri terpaku di sisi tempat tidur. Wajahnya tampak muram. Ia tidak pernah menyangka Ailin akan berakhir seperti ini, padahal kondisinya sudah membaik sebelumnya. Bahkan, beberapa hari sebelumnya wanita itu masih berbicara dengannya dan memperingatkannya tentang Linira. Sekarang semuanya sudah terlambat. ”Siapa yang melakukan ini?” Suara Tuan Ken terdengar berat, tidak ada yang menjawab. Para pelayan hanya menundukkan kepala. Malam itu juga, persiapan pemakaman mulai dilakukan. Seluruh kediaman dipenuhi suasan
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari kamar Ailin dengan wajah serius. Tuan Ken yang sejak tadi menunggu langsung berdiri. Sebenarnya, dia juga sangat kelelahan karena pekerjaan hari itu full, tapi begitu sampai di rumah justru ada kejadian seperti ini.. “Bagaimana keadaannya?” tanya Tuan Ken. “Untuk sementara tidak dalam kondisi yang mengancam nyawa,” jawab dokter. “Nyonya Ailin pingsan karena tekanan darahnya meningkat cukup tinggi. Selain itu, kepalanya terbentur meja ketika didorong sehingga menyebabkan luka dan perdarahan.” Tuan Ken mengerutkan kening. “Apakah dia membutuhkan perawatan khusus?” “Ya. Setidaknya beberapa hari ke depan. Tekanan darahnya harus dipantau dan lukanya juga perlu dirawat dengan baik.” Tuan Ken mengangguk. “Pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik.” Dokter membungkuk lalu kembali masuk ke kamar. Tuan Ken berdiri beberapa saat dalam diam. Kemudian tatapannya beralih kepada Linira. Gadis itu berdiri tidak jauh dari sana. Wajahnya







