INICIAR SESIÓNSatu bulan sudah berlalu sejak kejadian mengerikan di kediaman keluarga Jude. Sejak saat itu, tidak ada lagi kabar apapun tentang Linira. Sampai pada suatu sore, seorang pedagang yang sedang melewati jalan utama melihat sosok perempuan berjalan tanpa arah di pinggir jalan. Rambutnya berantakan, pakaiannya sudah kotor, kakinya bahkan tidak mengenakan alas yang layak untuk seorang gadis. Perempuan itu tiba-tiba saja berlari sambil tertawa. “Hahaha!” Beberapa orang yang sedang berjalan di sana langsung menyingkir. Linira berhenti tepat di tengah jalan. Ia menatap sebuah pohon lalu tertawa sendiri. “Lihat! Banyak sekali koin emas yang aku dapat!” Tangannya bergerak mengais tanah di bawah pohon, namun yang ditemukannya hanya daun-daun kering yang sebagian bahkan membusuk. Linira menggenggamnya erat. “Ini semua milikku!” Seorang anak kecil yang melihatnya pun tertawa. Linira tiba-tiba menoleh dan berteriak, “Jangan ambil! Jangan ambil koinku!!” Anak itu langsung
“Akhhh... sakit. Tolong!!!!” teriakan Linira menggema di ruang bawah tanah. Tubuhnya terjatuh ke lantai. Kedua tangannya segera memeluk perutnya yang terasa seperti diremas dari dalam. Napasnya tersengal-sengal berantakan. “Tolong.... kumohon...” Keringat dingin membasahi wajah dan lehernya, namun rasa sakit itu semakin hebat menghantam ke seluruh tubuhnya. Ketika Linira melihat darah yang terus mengalir, seluruh tubuhnya pun membeku. “Tidak, tidak...” Tangannya gemetar. “Tidak, anakku...” Ia berusaha bangkit, tetapi kedua kakinya tidak lagi memiliki tenaga sedikitpun. Darah terus membasahi pakaian dan lantai di bawahnya, Linira semakin menangis ketakutan. “Tolong... tolong aku...” Sayangnya, tidak ada yang menjawab. Beberapa saat sebelumnya, dua penjaga telah memperlakukannya dengan kejam. Pelecehan dengan kasar, peristiwa itu membuat Linira berada dalam kondisi sangat lemah, dan kini tubuhnya mulai menunjukkan tanda bahaya. “Jangan lakukan itu...” Linira meme
“Tuan Jude, tolong bantu aku keluar dari sini. Aku janji tidak akan menganggu hidupmu lagi, aku akan pergi. Tolong... tolong biarkan aku pergi, aku harus merawat anak ini dengan baik.” Jude menatap dingin lalu menjawab, “Anak itu tidak boleh lahir!” Linira menatap kosong untuk beberapa saat setelah mendengar ucapan Jude barusan. Perlahan matanya mulai tertuju pada pria itu dengan ekspresi yang nampak begitu kecewa. “Apa? Tuan Jude, kau benar-benar...” “Iya. Anak itu tidak boleh sampai lahir. Kalau Nanti orang di luar tahu anak itu adalah anakku, aku bisa malu. Aku tidak mau punya anak dari perempuan sepertimu, banyak orang yang akan jijik padaku nantinya.” Seluruh tubuh Linira rasanya seperti terhimpit besi panas. Sakit, sakit sekali sampai ingin banyak bicara juga sudah tidak sanggup lagi. “Kenapa kau jadi seperti ini? Aku sudah melakukan apa yang aku bisa, Kenapa kau memperlakukanku dengan sangat buruk padahal anak yang aku kandung juga anakmu?!” protes Linira. Jude melir
Di ruang bawah tanah yang lembap itu, Linira menangis tanpa henti. Tubuhnya gemetar setelah diperlakukan dengan kejam oleh penjaga yang sebelumnya datang. Tangannya terus melindungi perutnya. Bagaimanapun, bayi itu hanya akan ada sekali dalam hidupnya. “Anakku... anakku...” Air mata mengalir di wajahnya. “Tolong jangan apa-apakan anakku. Ini kehamilan pertama dan mungkin juga terakhir. Aku mohon...” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab. Linira tidak tahu bahwa semua yang terjadi malam itu bukan kebetulan. Jauh sebelum semua ini terjadi, Suran sudah mengetahui bahwa hubungan Linira dengan Jude akan berakhir seperti ini, bahkan drama ini dia juga lah yang mengaturnya. Kabar mengenai penggerebekan penginapan, pengakuan Linira sebagai calon istri Jude, hingga perselisihan dengan kedelapan istrinya, sebagian besar telah masuk ke dalam perhitungan Suran. Suran hanya perlu mendorong beberapa keadaan, sisanya akan dilakukan oleh sifat serakah dan ambisi Linira sendiri. N
Ruangan itu mendadak sunyi setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kini Linira. Dokter menatap hasil pemeriksaannya beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Dia benar-benar hamil, para Nyonya.” Linira yang sejak tadi duduk dengan wajah tegang langsung mengangkat kepala. “Apa? Apa yang aku katakan barusan?” Dokter mengangguk lalu melanjutkan, “Usia kehamilannya masih sangat muda, kira-kira dua minggu. Di usia ini, kondisi sangat rawan sehingga perlu dijaga dengan baik.” Kedelapan istri Jude saling berpandangan, tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka akan mendengar kabar seperti itu meskipun kehamilan itu sudah mereka dengar. Linira justru terlihat sangat bahagia. Tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri. “Aku benar-benar hamil...” Senyumnya muncul. “Anak Tuan Jude.” wajah Linira terlihat benar-benar bahagia, merasa yakin kalau keberadaan anak itu akan menyelamatkan dirinya. Ia menatap para istri Jude dengan keyakinan yang mulai tumbuh k
Linira menatap Jude dengan wajah kosong. “Jadi... sejak awal kau hanya sok baik? Kau cuma ingin bermain denganku?” Jude kembali menatap sinis dan berkata, “Memangnya perempuan sepertu pantasnya dianggap apa? Sejak awal kau memang sudah menargetkan ku, Kenapa pura-pura jadi korban sekarang? Kau tidak pikir aku ini bodoh sampai tidak tahu niatmu sejak awal?” Seluruh tubuh Linira limbung. Tangannya terkepal erat gemetar, baru menyadari kalau sejak awal dialah yang begitu banyak berhalusinasi. Sudah tidak ada lagi yang bisa dia katakan, apapun yang keluar dari mulut Jude selalu memojokkan dirinya. Linira akhirnya keluar dari balai keadilan dengan langkah yang terasa begitu berat. Di tangannya terdapat surat peringatan yang baru saja diberikan kepadanya, sudah ada tanda tangannya juga. Satu lembar kertas saja, namun bagi Linira, benda itu terasa begitu berat. Namanya kini tercatat dalam daftar pelanggaran dan perbuatan tidak baik yang pernah dilakukannya, bukan cuma sekali s







