LOGINPlak!
Belum sempat pelayanan itu melanjutkan ucapannya, Linira langsung menamparnya. Ya. Tidak boleh sampai mengungkit hal tadi, Suran tidak boleh mencurigainya. Linira melotot pada pelayanan, mengancam tanpa mengatakan apapun. Seketika itu pelayan pribadi Linira terdiam. Meski jelas terlihat dari sorot matanya yang memohon bantuan agar dia tidak dihukum, sayangnya Linira hanya fokus menyelamatkan dirinya. Apapun itu resikonya, akan Linira limpahkan kepada pelayan karena tanggung jawab terburuk tidak boleh datang padanya. Tahu kalau nanti akan jadi masalah besar jika membuka mulut lebih banyak lagi, pelayan pribadi Linira itu pun terdiam. Tangisnya masih terdengar, tapi dia benar-benar pasrah sekarang. “Pengawal, pukul pelayan tidak tahu malu ini, dan buat hukuman juga yang pantas untuk pria liat kurang ajar ini!” titah Linira pada pelayan yang memang selalu ada di sudut kediaman Hideria. Luderin dan Ailin nampak pasrah. Menghukum pelayan itu memang bukan jalan keluar yang aman di masa depan, tapi itu cukup untuk menunda waktu sementara ini. Menyaksikan semua itu, Suran pun tersenyum, senyum yang paling muak. “Akting yang sangat buruk. Aku benar-benar jijik,” batinnya. “Nona kedua... tolong ampuni saya. Jangan hukum saya, mohon...” pinta pelayan itu, dia ditarik paksa keluar dari ruangan itu, menuju tempat di mana akan mendapatkan hukuman dan perbuatan mesum yang dilakukan. Meskipun hanya bisa menyingkirkan satu pelayan setia Linira, Suran yakin kedepannya satu persatu orang yang berkhianat demi mendukung Linira akan dia depak tanpa lulus dari siksaan. Membuat Suran merasa sendiri adalah tujuannya. Dengan kebiasaannya yang manja, Linira meraih tangan Suran, mengayunkan pelan dengan ekspresi yang terlihat sedih. “Kak, kau tau kan kalau aku paling tidak suka adanya perbuatan seperti ini? Aku sama sekali tidak menyangka kalau pelayan pribadiku akan melakukan hal memalukan seperti ini. Hukuman yang aku berikan untuk pelayanku kau cukup puas, kan?” ucap Linira, kini ia terlihat memohon. Suran tersenyum. “Adik tidak perlu merasa terbebani. Hukuman itu... menurutku cukup berat, apa kau tidak takut dia akan mati?” Seketika Linira terdiam, namun durasinya tidak lama hingga akhirnya dia tersenyum meski jelas sekali dipaksakan olehnya. “T–tidak, tidak mungkin, kak. Aku tidak peduli bagaimana nasib pelayan pribadiku. Aku bisa mengganti pelayan kapanpun aku mau,” jawab Linira. Suran kembali tersenyum. “Benarkah? Pelayan yang sudah banyak mendukung kejahatan mu selama ini bisa kau abaikan begitu saja? Linira, semoga kau menyukai kejutan dariku nanti,” batinnya. Suran meninggalkan tempat itu, Linira dan Ailin menghela napas lega, sementara Luderin mengerutkan keningnya. Pria itu seolah menyadari ada yang tidak bisa dari Suran. “Kenapa aku merasa kalau Suran sekarang sangat berbeda? Dia seperti tidak terlalu peduli,” gumam Luderin. Mendengar itu, Suran pun tersenyum sinis. “Hadiah itu tentu saja harus dikirimkan, bukankah aku sudah memesannya dari jauh-jauh hari?” ucapnya, lalu ia pun kembali tersenyum penuh rencana. Wulien menganggukkan kepalanya. Dia sudah paham bahwa sebenarnya saat ini nona yang ia layani itu telah dibukakan sedikit matanya sehingga dapat melihat seberapa bobroknya kepribadian Luderin. Besok adalah hari di mana Luderin mengadakan pesta kecil untuk menyambut masa di mana dia akan menjadi pejabat istana. Ya, terlalu percaya diri dan suka membuang uang. Bagaimana tidak? Uang itu adalah milik Suran sepenuhnya meskipun ada di bawah kuasa Ailin. “Wulien,” panggil Suran, “di acara besok... bantu aku untuk melakukan satu hal.” Wulien mendekat, ia membungkuk sehingga Suran bisa berbisik di sana. Menganggukkan kepalanya, Wulien mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Suran, memahami agar tidak salah mengambil langkah. Wulien pun kembali tegak. “Nona, maka itu artinya... gudang harta keluarga Hideria akan...” Suran tersenyum tipis. “Tidak masalah. Aku tahu apa yang kulakukan dan konsekuensi seperti apa yang akan aku dapatkan.” Ia pun bangkit dari duduknya. Tatapan matanya menelisik dalam sambil menghitung satu demi satu orang-orang yang akan mendapatkan balasan darinya. “Wulien, percayalah semua akan baik-baik saja jika semua yang aku perintahkan padamu kau lakukan dengan benar,” ucap Suran. Mendengar itu rasanya Wulien seperti tersihir. Tidak ada pertanyaan yang diajukan, dia mulai yakin bahwa Nona yang ia layani akan berhasil dalam setiap tindakan. “Nona, hidup dan mati ini sudah menjadi milik anda. Kedepannya, jika pun anda mengalami kesulitan, anda bisa menggunakan saya sebagai tameng. Namun, anda harus memastikan bahwa anda tetap baik-baik saja,” ucap Wulien. Suran menatap gadis itu. Ia tersenyum, senyum yang paling tulus yang bisa dia berikan. “Wulien, tidak heran di kehidupan sebelumnya kau mati mengenaskan. Di kehidupan ini, aku akan memastikan kau hidup dengan baik, bahagia dengan semua yang kau miliki dan kau pilih,” batin Suran. Hari itu adalah hari di mana Luderin menggunakan aula kediaman keluarga Hideria untuk mengadakan pesta kecil. Ya, pesta kecil, katanya. Namun, yang datang ke sana adalah orang-orang yang cukup penting di kota mereka tinggal. Bahkan, katanya akan datang seseorang misterius yang pernah menyelematkan nyawa Luderin juga diundang. Para tamu berdatangan, memberikan selamat kepada Luderin. “Tuan Luderin, anda benar-benar pria yang beruntung. Sebentar lagi jagi pejabat istana, ditambah akan segera menikah dengan Nona pewaris Hideria. Di kehidupan lampau kau pasti pernah menyelematkan galaksi Bima sakti,” ucap salah satu tamu. “Tuan Luderin, ujian istana negara katanya sangat sulit, tahap demi tahap benar-benar menguras tenaga dan pikiran, bahkan katanya ada yang sampai gila padahal baru tahap 2. Anda benar-benar hebat karena bisa menyelesaikan dengan cepat.” “Benar. Anda akan jadi pejabat istana yang paling beruntung, apa lagi Nona sah Hideria itu kan sangat cantik. Di kota ini, tidak ada yang bisa menyainginya.” “Kalau aku jadi anda, aku psti akan mengabdikan waktuku untuk dewa kehidupan yang begitu baik.” Blaa blaa blaa... Suran menghela napas, tersenyum sinis mendengar semua itu. Dia baru sampai pintu tapi harus mendengar omong kosong yang hampir membuatnya tidak tahan, muntah. “Manusia-manusia penjilat ini dulu pun menggerakkan lidahnya dengan sangat pintar untuk memuji ayahku, tapi ternyata lidah mereka juga sangat lihai sampai bisa membicarakan ayahku di belakangnya.” Suran mengepalkan tangannya. “Mereka membuat reputasi Ayahku buruk dengan rumor tidak masuk akal. Mereka semua... aku akan memastikan kalian juga tidak akan hidup nyaman,” gumamnya. Dari sisi lain ia melihat Linira datang dengan pakaian mewahnya, riasan wajahnya juga terlihat lebih mencolok daripada biasanya. Tidak heran, Suran paling memahami Linira akan hal ini. Gadis itu paling menyukai sorotan, harus pujian, dan apa lagi ada yang mengatakan kalau dia lebih terlihat serasi jika bersama Luderin ketimbang ia. Suran tersenyum, mengingat hal itu dia merasa konyol sekali cara pikir Linira, dan yang paling konyol adalah bagaimana bisa ia memberi kehidupan pada manusia semenjijikan itu? Linira benar-benar tebar pesona. Dia berdiri di dekat Luderin, beberapa kalau mengibaskan rambutnya agar diperhatikan para pria di sana. “Huek...”Suran tersenyum, “Hadiah ini...” ia mengedarkan pandangannya, menikmati momen di mana Luderin benar-benar berpikir barang semahal itu hanya untuk dirinya saja. “Suran, berikan padaku, aku janji akan menjaga pemberian darimu,” ucap Luderin. Pria itu bahkan tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. Matanya seolah silau oleh kilau benda itu, bahkan sudah mulai membayangkan bagaimana tatapan iri dan pujian dari pada pejabat istana lain jika melihat dia menggunakan set alat tulis dengan harga yang sangat fantastis.Namun, sayang sekali karena semua gambaran indah di kepalanya seketika lenyap saat Suran kembali membuka mulutnya. “Untuk anda, Tuan bertopeng.”Luderin dan semua orang yang ada di sana benar-benar sangat terkejut mendengarnya. Benar saja, di ujung ruangan ada seorang pria menggunakan topeng di wajahnya. Pria itu duduk dengan santai, sedangkan matanya sejak tadi hanya mengamati tanpa bicara sedikitpun. “Suran, kau ini sedang bicara apa? Kau sedang bercanda, kan?” tanya
“Huek...” Suran tidak tahan, ia mual, namun beruntung suara para tamu di sana tidak akan membuat ada yang menyadari hal itu kecuali Wulien yang ada di belakangnya. “Nona, apa anda baik-baik saja?” tanya Wulien panik. Suran mengangkat tangannya, meminta agar Wulien tidak perlu khawatir dengan kondisinya. “Tenang saja, aku baik. Aku cuma... seperti melihat anjing betina yang sedang birahi sampai terus mengibaskan ekornya.” Wulien benar-benar tidak memahaminya, tapi dia juga tidak bertanya. Suran akhirnya masuk ke dalam. Begitu sosoknya bisa dilihat dengan jelas oleh para tamu, sorotan pun langusng tertuju padanya seakan keberadaan Linira sudah tidak ada lagi artinya. Pakaian Suran tentu lebih terlihat elegan, bahan pakaian yang dia gunakan juga terbuat dari bahan khusus yang semua produknya hanya diperuntukkan pada Suran seorang saja. Riasan wajahnya sederhana karena wajah Suran memang tidak membutuhkan terlalu banyak tambahan riasan. Begitu Suran berdiri, tersenyum pada pa
Plak! Belum sempat pelayanan itu melanjutkan ucapannya, Linira langsung menamparnya. Ya. Tidak boleh sampai mengungkit hal tadi, Suran tidak boleh mencurigainya. Linira melotot pada pelayanan, mengancam tanpa mengatakan apapun. Seketika itu pelayan pribadi Linira terdiam. Meski jelas terlihat dari sorot matanya yang memohon bantuan agar dia tidak dihukum, sayangnya Linira hanya fokus menyelamatkan dirinya. Apapun itu resikonya, akan Linira limpahkan kepada pelayan karena tanggung jawab terburuk tidak boleh datang padanya. Tahu kalau nanti akan jadi masalah besar jika membuka mulut lebih banyak lagi, pelayan pribadi Linira itu pun terdiam. Tangisnya masih terdengar, tapi dia benar-benar pasrah sekarang. “Pengawal, pukul pelayan tidak tahu malu ini, dan buat hukuman juga yang pantas untuk pria liat kurang ajar ini!” titah Linira pada pelayan yang memang selalu ada di sudut kediaman Hideria. Luderin dan Ailin nampak pasrah. Menghukum pelayan itu memang bukan jala
Setelah kejadian itu, Suran dan yang lainnya kini berada di ruang tengah. Suasananya cukup santai hingga Linira bisa dengan nyaman bertingkah manja pada Luderin. “Kak, nanti kalau berhasil jadi pejabat istana, kau jangan lupa traktir kami, belikan kakak hadiah yang menarik juga, ya?” ucap Linira, sesekali melirik pada Suran, sengaja menggunakan kata ‘kita’ agar Suran tidak curiga. Namun, Suran benar-benar tenang. Dia sibuk menikmati teh, bahkan di kepalanya bukan lagi memikirkan soal cinta atau perasaan apapun yang harus berurusan dengan hati. Luderin tersenyum. “Iya. Aku janji akan membeli hadiah untuk kalian. Suran, hadiah apa yang kau mau? Aku beli kalau nanti surat putusan istana keluar.” Mendengar pertanyaan itu hampir saja Suran tersedak. Sejenak menatap Luderin yang tersenyum begitu lebih rasa percaya diri, ia jadi mulai menantikan seperti apa ekspresi wajah Luderin saat surat putusan dari istana nanti tiba. Namun, ia pun harus bersabar karena butuh 3 sampai 7
Setelah Luderin kembali dengan tangan yang masih agak basah, semua hidangan sudah tersedia, khusus untuk menyambut pria itu. Suran tersenyum, “Makanan sudah siap, cepat duduk dan nikmati dengan nyaman.”Linira tersenyum begitu lembut. “Kak, semoga hidangan kali ini membuatmu puas ya?”Luderin menganggukkan kepalanya. Mereka semua pun menikmati hidangan itu. Sepanjang acara penyambutan itu yang lebih banyak bicara pada Luderin adalah Linira, sementara Suran hanya mengamati tanpa bicara. “Sial. Kenapa aku dulu begitu buta hingga tidak bisa melihat dengan jelas semua ini?”Hingga akhirnya Linira bangkit, menuangkan teh yang masih hangat, menyodorkan pada Suran. Dengan senyuman yang nampak begitu perhatian Linira berkata, “Kak, sebentar lagi kau akan menikah dengan Kak Luderin, anggap saja ini sedikit bukti baktiku padamu.”Suran mencengkram jemarinya sendiri. Di kehidupan sebelumnya, gara-gara teh itu kesucian Suran ternodai oleh seorang gelandangan yang datang entah dari mana. Namu
Suran menggosok matanya beberapa kali, takut kalau itu hanya halusinasinya saja. “Apa ini? Apa ini bagian dari ingatan ku menjelang mati?” bisiknya pada diri sendiri. Wulien mengguncang tubuh Suran karena tidak merespon cepat seperti sebelumnya, apa lagi Suran nampak kebingungan. “Nyonya, ada apa? Anda baik-baik saja?” tanya Wulien yang jadi semakin khawatir. Suran menatap Wulien, tidak berkedip karena takut akan menghilang begitu dia menutup mata walaupun sedetik. “Cubit aku!” titah Suran. Wulien mengerutkan keningnya, bingung dengan permintaan Suran yang begitu aneh. “Cepat!” Wulien hanya bisa patuh mencubit Suran. Sakit! “Akh!” pekik Suran. Wulien terkejut, merasa bersalah. “Maaf, Nona. Salah saya terlalu kuat mencubit anda. Maafkan saya, pantas untuk Saya dihukum, Nona.” Suran tersenyum, matanya sudah penuh cairan. Ia pun bangkit dan memeluk Wulien erat. “Kau masih hidup. Syukurlah... aku bahagia kau masih hidup, Wulien...” ucap Suran. Suaranya b







