Share

Bab 4 Kejutan

Author: Nadira Dewy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-17 23:10:23

Setelah kejadian itu, Suran dan yang lainnya kini berada di ruang tengah.

Suasananya cukup santai hingga Linira bisa dengan nyaman bertingkah manja pada Luderin.

“Kak, nanti kalau berhasil jadi pejabat istana, kau jangan lupa traktir kami, belikan kakak hadiah yang menarik juga, ya?” ucap Linira, sesekali melirik pada Suran, sengaja menggunakan kata ‘kita’ agar Suran tidak curiga.

Namun, Suran benar-benar tenang. Dia sibuk menikmati teh, bahkan di kepalanya bukan lagi memikirkan soal cinta atau perasaan apapun yang harus berurusan dengan hati.

Luderin tersenyum. “Iya. Aku janji akan membeli hadiah untuk kalian. Suran, hadiah apa yang kau mau? Aku beli kalau nanti surat putusan istana keluar.”

Mendengar pertanyaan itu hampir saja Suran tersedak.

Sejenak menatap Luderin yang tersenyum begitu lebih rasa percaya diri, ia jadi mulai menantikan seperti apa ekspresi wajah Luderin saat surat putusan dari istana nanti tiba.

Namun, ia pun harus bersabar karena butuh 3 sampai 7 hari untuk bisa mengetahui hasilnya.

Suran tersenyum, senyum yang dilatihnya agar terus terkesan masih seperti Suran yang dulu.

“Tidak perlu hadiah,” jawab Suran lalu kembali tersenyum manis.

Luderin menghela napas. “Jangan sungkan begitu, aku pasti akan belikan untukmu.”

“Nyawamu,” batin Suran.

Sambil meletakkan tehnya, Suran mulai mempersiapkan diri karena dia tahu bahwa berpura-pura memang hal yang paling melelahkan.

“Karena kau memaksa... bagaimana kalau aku minta gelang yang kau pakai?” tanya Suran, dia tersenyum seolah tak enak hati.

Semua yang ada di sana menatap bingung.

Luderin pun menatap gelang tua di tangannya dengan ekspresi bingung. “Gelang ini? Kau tidak salah? Ini gelang tua, peninggalan nenek ku. Tidak ada yang istimewa, gelang ini bahkan cuma dibuat dari kayu hutan yang diolah hingga mengkilat seperti batu meskipun juga sangat ringan.”

Suran menatap dengan tatapan memohon lalu berkata, “Tidak apa, Luderin. Aku tidak terlalu menginginkan hadiah mewah, gelang sederhana itu saja sudah lebih dari pada cukup untuk ku.”

Linira dan Ailin menyembunyikan senyumnya. Mereka saling menatap seolah mengatai Suran yang sangat bodoh dan buta karena cintanya.

“Dia memang orang bodoh yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi otaknya,” gumam pelan Linira.

Semua yang menyaksikan di sana benar-benar meremehkan Suran, menganggap kalau Suran memang tidak pantas menjadi penerus keluarga Hideria.

Namun, yang tidak diketahui oleh semua orang di sana termasuk Luderin adalah... gelang itu sebenarnya bukan hanya gelang kayu kuno biasa. Gelang itu lah yang akan membuat identitas Luderin mencuat nyata.

Sebenarnya, Luderin adalah anak haram salah satu jenderal istana. Karena gelang itu juga lah akhirnya Luderin dan Linira sukses merebut keluarga Hideria tanpa banyak hambatan dan tentangan.

Tanpa berpikir banyak, Luderin melepaskan gelang itu dan langsung memberikannya kepada Suran.

Dia tidak tahu kenapa dia menggunakan gelang itu secara jelasnya, hanya saat kecil dulu ibunya bilang bahwa gelang itu adalah gelang jimat.

Kenyataan hidup yang sebelumnya Luderin terlalu buruk, itu sudah cukup menjelaskan kalau gelang itu tidak memiliki pengaruh apapun hidupnya. Bagi Luderin, Suran barulah jimat keberuntungan.

Suran menerima gelang itu dengan senyum yang mengembang.

“Kalau gelang ini tidak ada padamu, yang mulia raja pasti tidak akan putus asa menghentikan perebutan kuasa atas keluarga Hideria dulu,” batin Suran.

Linira dan Luderin menahan tawa.

Luderin jelas tidak pernah mengeluarkan uang banyak untuk membelikan hadiah Suran, itu juga termasuk beruntung.

Ailin menghela napas lega. Jika nanti Luderin harus mengeluarkan banyak uang untuk memberikan hadiah kepada Suran, bukankah Ailin juga pasti akan terseret? Selama ini mereka sudah bekerja sama untuk merebut semua harta Suran, tapi untungnya tidak perlu mengeluarkan uang lagi.

Suran menyerahkan gelang itu pada Wulien agar pelayannya saja yang menyimpan.

Ia pun menghela napas. Tinggal menunggu sebentar lagi, kejutan untuk untuk Linira akan segera tiba.

Benar saja, suara langkah terdengar cepat dan tidak beraturan. Pelayan datang dengan terburu-buru, memberikan hormat kepada anggota keluarga yang ada di sana.

“Nyonya, Nona sulung dan Nona kedua, Tuan Luderin... pelayan Nona kedua dia... dia...” pelayan itu terbata-bata membuat Linira menjadi tidak sabaran.

Gadis itu bangkit dengan tatapan matanya yang tajam. “Apa yang sebenarnya mau kau katakan? Pelayan ku kenapa? Kalau dia masih tidak mau mengaku salah, bisa pukul dia beberapa kali sampai dia mengakui dan menyesali perbuatannya.”

Pelayan itu menggelengkan kepalanya. “Bukan itu. Pelayan anda... pelayan anda sudah tewas.”

Sepasang mata Linira melotot kaget. Dia merasa lututnya lemas hingga Luderin harus membantunya untuk berdiri dengan benar.

“Linira, kau tidak apa-apa?” tanya Luderin yang terlihat khawatir.

Menyadari tatapan Suran yang begitu tertuju padanya, Luderin langsung menarik tangannya.

Entahlah... rasanya Luderin seperti reflek berhati-hati. Setiap Suran menatap ada perasaan aneh, bahkan dia merasa seperti asing kesana Suran di matanya saat ini.

Linira menggelengkan kepalanya, tidak percaya kalau pelayan yang selama ini melayani dan membantunya tewas begitu saja.

Suran berpura-pura sedih. “Ya ampun... adik, aku sangat sedih untuk kabar ini. Padahal dia baru saja bersenang-senang, tapi sekarang dia sudah tewas.”

Seluruh tubuh Linira gemetar, dia tidak bisa berkata-kata.

“Adik, andai saja kau tidak menghukumnya, andai saja kau bisa lebih memaklumi, dan memaafkan saja perbuatannya, mungkin saja pelayan mu msih bernapas sekarang,” timpal Suran.

“Kau—” Linira menatap Suran marah, tapi dia juga tidak bisa mengatakan apapun apalagi sampai menyalahkan Suran.

Linira kembali mengingat, tetapi memang dia lah Yang memerintahkan pelayan untuk menghukumnya. Bahkan barusan juga meminta kepada pelayan untuk menambahkan hukumannya.

“Kedepannya, Aku harap Adik bisa mendapatkan pengganti yang fisiknya lebih kuat. Jangan sampai karena hanya beberapa pukulan saja langsung tiada,” tambah lagi Suran.

Linira benar-benar marah. Sebenarnya, dari cara berbicara Suran memang sangat pengertian seperti Suran yang sebelumnya. Tetapi anehnya, Linira merasa seperti ada tekanan yang sangat besar di dadanya setiap kali Suran berbicara.

Hari itu juga pelayan Linira diselesaikan proses pemakamannya.

Suran sendiri memilih kembali di tempatnya. Beruntung sekali, halaman tempat Suran tinggal cukup luas, ada beberapa macam pohon buah dan bunga-bunga.

Tempat itu cukup jauh dari kamar Ailin dan Linira, tapi sejatinya tempat yang Suran tinggali memang yang paling aman dan nyaman.

Suran duduk di kursi bawah pohon buah, menyerahkan gelang milik Luderin kepada Wulien.

“Bakar,” titahnya, membuat Wulien kaget. “Jangan tinggalkan sisa sedikitpun. Gelang ini harus jadi abu sepenuhnya.”

Meskipun masih merasa bingung dan ingin sekali meminta penjelasan dari Suran, Wulien memutuskan untuk menahan diri saja karena dia juga yakin bahwa Suran pasti sudah memperhitungkan semua ini.

Wulien memasukkan gelang itu ke api yang menyala.

Sejenak Wulien menatap ragu, tapi dia tetap memutuskan untuk bertanya, “Nona, hadiah yang anda siapkan jauh hari untuk Tuan Luderin besok akan diantar dari toko. Apa... Anda yakin?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
ORTYA POI
Rapi juga kerjaan
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 153 Protes Kirina

    “Apa kau tahu arti tiga hari itu juga bisa seperti tiga detik?! Kenapa kau buru-buru sekali ingin menikah?” Greyson tersenyum, tapi hal pertama yang dilakukan adalah memeluk Suran dari belakang. “Menikah bulan depan atau tahun akan sama saja, kenapa harus buang banyak waktu?” Suran menghela napas. “Aku tidak memiliki persiapan sejauh itu, Greyson. Menikah bukan sesuatu yang bisa digunakan untuk main-main.” Mendengar itu, Greyson pun mengeratkan pelukannya. “Aku tahu. Tapi aku sudah meminta orang kepercayaan ku untuk mengurus semua, kita hanya perlu melakukan sumpah pernikahan.” “Apa harus secepat ini? Greyson, apa kau tidak takut akan menyesal nantinya?” tanya Suran, meski tahu pernikahan itu dilakukan nanti atau sekarang pasti akan sama saja. Greyson tersenyum. “Menyesal? Maka karena itu, aku takut kau akan menyesal nantinya jadi aku putuskan untuk segera menikahi mu. Kalau sudah masa menyesal mu itu datang, kau tentu tidak bisa berbuat apa-apa karena kita sudah terikat hubunga

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 152 Tiga Hari = Tiga Detik

    Greyson tersenyum, dia bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Pangeran kedua, begitu juga dengan pangeran lain yang terobsesi menjadi Raja berikutnya. “Saya mencintai wanita itu lebih dari apapun, bahkan sudah menunggunya lama sekali. Yang Mulia, saya harap kali ini berikan saya kewenangan untuk menentukan siapa yang akan saya nikahi,” ucap Greyson yang makin membuat Pengaran kedua puas meski tidak ada ekspresi jelas yang ditunjukkan. Pangeran ke-6 juga merasakan kepuasan itu. Dia hanya tahu kalau Greyson adalah pria payah yang sebenarnya hanya memiliki sedikit kelebihan dan kepintaran. Raja pun menghela napas. Greyson tidak pernah menuntut apapun, permintaan kali ini juga tidak bisa dengan mudah ditolak oleh Raja. Awalnya, Raja pikir karena Greyson tidak pernah protes akan semua keputusan yang dia ambil, maka itulah yang jadi alasan Raja memutuskan menikahkan Greyson dengan Kirina. Greyson memang memiliki kemampuan untuk menjadi Raja, tapi karena Raja ingin Greyson

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 151 Menolak Perjodohan

    Suran menghela napas, menggeleng heran dengan Greyson yang mengirimkan hadiah Banyaka sekali. Wulien menatap kotak-kotak perhiasan dan peti uang yang melimpah di hadapannya dengan sorot mata yang berbinar. “Nona, pangeran ke-9 benar-benar mengirimkan semua ini untuk anda? Dia... sudah gila atau bagaimana? Mengirimkan hadiah sebanyak ini apa bedanya mengalihkan seluruh hartanya untuk anda?” Pada akhirnya, perlahan bibir Suran tertarik membentuk senyuman. Rasanya ingin sekali ia menahan dan tidak tersenyum, tapi sungguh sulit untuk melakukannya. “Dia sedang menunjukkan padaku bahwa dia tidak main-main,” ucap Suran pelan. Wulien pun tersenyum lega. Dia tahu kalau pangeran ke-9 yang selama ini menyamar sebagai Rey adalah orang yang bicara tanpa dipikirkan dulu, tapi dia memang adalah orang baik. “Nona, Pangeran Greyson banyak membantu anda secara diam-diam, saya harap dia benar-benar tulus seperti yang saya pikirkan,” ujar Wulien. Suran tidak mengatakan apapun, tapi kali ini d

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 150 Kemana Pangeran Greyson?

    Brak! Pangeran ke-6 memukul meja, melampiaskan emosi yang tidak bisa dia tahan. “Kenapa aku selalu gagal untuk melumpuhkan Suran? Dia seperti bisa memprediksi apa saja yang akan aku lakukan. Perempuan itu ternyata orang yang sangat sulit dihadapi. Kalau begini terus... makin sulit untuk bisa menikah dengannya,” ucap pangeran ke-6 begitu mendengar kabar dari salah satu pengawal pribadinya yang mengatakan kalau rencana mereka untuk menjebak Suran gagal total, bahkan sebelum rencana itu sampai dipertengahan jalan. Pengawal itu pun tertunduk, merasa gagal tapi kali ini gagal yang dirasakan seperti sangat aneh. “Pangeran, menurut saya, Nona Suran pasti memiliki mata-mata di istana ini. Entah kenapa saya merasa setiap gerakan dan rencana yang kita susun begitu cepat untuk diketahui,” ucap pengawal pangeran. Mendengar itu, Pangeran ke-6 pun mengepalkan tangannya. Tidak ada yang tidak mungkin, bagaimanapun pengaruh yang dimiliki oleh keluarga Hideria memang sangat besar di istana

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 149 Sepenggal Cerita

    Wulien ingin mendorong pintu, tapi dia justru lebih dulu mendengar suara aneh dari orang yang ada di dalam sana. “Ahhhh...” Seketika membeku, Wulien bahkan sempat lupa bernapas untuk beberapa saat. Ia pun menggigit bibir bawahnya, mencoba menguping lebih dalam lagi suara siapa yang ada di dalam. Tidak berani masuk, bagaimanapun jelas kalau Suran tidak sedang mengeluarkan suara kesakitan. Terlalu aneh bagi Wulien sampai gadis itu hanya bisa diam membeku. “Greyson, jangan menjilat di sana! Ahhhh... hen... hentikan... ahhh...” Wulien merasakan tubuhnya merinding hebat, bahkan sampai panas dingin tak tentu. Glek... Beberapa kali ia menelan ludah hingga akhirnya menggelengkan kepalanya, lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. “Gila... apa yang dilakukan Nona Suran dan pangeran ke-9 di dalam sana? Aku... kenapa wajahku panas sekali?” Beberapa saat kemudian, Suran tengah mengatur nafasnya yang memburu, begitupun dengan Greyson. Pria itu masih di atasnya, enggan untuk

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 148 Sesuatu Terjadi

    Suran ingin melepaskan ciuman itu, menjauhkan Greyson darinya, tapi pria itu justru mencengkram erat tu ibunya, enggan untuk melepaskan. “Ugh...!” keluh Suran karena merasa sesak. Saat itulah Greyson mulai tersadar bahwa dia tidak boleh kelewatan. Dengan cepat ia melepaskan tubuh Suran, membiarkan Suran selamat dari rasa haus yang keterlaluan itu. “Maaf, maafkan aku... aku...” Greyson melepaskan pakaian luarnya, kali ini dia benar-benar berharap hal itu bisa mengurangi rasa panas yang terus muncul dari tubuhnya. Meskipun saat ini cuaca cukup dingin, hal itu sama sekali tidak bisa lagi Greyson rasakan. Suran benar-benar tercengang melihat bagaimana keadaan Greyson. Sebenarnya, yang ingin dia lakukan tadi begitu Greyson bisa sadar dan melepaskannya adalah langsung memaki pria itu, tetapi melihat bagaimana kondisinya sekarang tentu saja mustahil untuk dia lakukan. “Kau kenapa?” tanya Suran. Greyson terengah-engah, wajahnya semakin merah, matanya bahkan sampai berair.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status