LOGINSetelah kejadian itu, Suran dan yang lainnya kini berada di ruang tengah.
Suasananya cukup santai hingga Linira bisa dengan nyaman bertingkah manja pada Luderin. “Kak, nanti kalau berhasil jadi pejabat istana, kau jangan lupa traktir kami, belikan kakak hadiah yang menarik juga, ya?” ucap Linira, sesekali melirik pada Suran, sengaja menggunakan kata ‘kita’ agar Suran tidak curiga. Namun, Suran benar-benar tenang. Dia sibuk menikmati teh, bahkan di kepalanya bukan lagi memikirkan soal cinta atau perasaan apapun yang harus berurusan dengan hati. Luderin tersenyum. “Iya. Aku janji akan membeli hadiah untuk kalian. Suran, hadiah apa yang kau mau? Aku beli kalau nanti surat putusan istana keluar.” Mendengar pertanyaan itu hampir saja Suran tersedak. Sejenak menatap Luderin yang tersenyum begitu lebih rasa percaya diri, ia jadi mulai menantikan seperti apa ekspresi wajah Luderin saat surat putusan dari istana nanti tiba. Namun, ia pun harus bersabar karena butuh 3 sampai 7 hari untuk bisa mengetahui hasilnya. Suran tersenyum, senyum yang dilatihnya agar terus terkesan masih seperti Suran yang dulu. “Tidak perlu hadiah,” jawab Suran lalu kembali tersenyum manis. Luderin menghela napas. “Jangan sungkan begitu, aku pasti akan belikan untukmu.” “Nyawamu,” batin Suran. Sambil meletakkan tehnya, Suran mulai mempersiapkan diri karena dia tahu bahwa berpura-pura memang hal yang paling melelahkan. “Karena kau memaksa... bagaimana kalau aku minta gelang yang kau pakai?” tanya Suran, dia tersenyum seolah tak enak hati. Semua yang ada di sana menatap bingung. Luderin pun menatap gelang tua di tangannya dengan ekspresi bingung. “Gelang ini? Kau tidak salah? Ini gelang tua, peninggalan nenek ku. Tidak ada yang istimewa, gelang ini bahkan cuma dibuat dari kayu hutan yang diolah hingga mengkilat seperti batu meskipun juga sangat ringan.” Suran menatap dengan tatapan memohon lalu berkata, “Tidak apa, Luderin. Aku tidak terlalu menginginkan hadiah mewah, gelang sederhana itu saja sudah lebih dari pada cukup untuk ku.” Linira dan Ailin menyembunyikan senyumnya. Mereka saling menatap seolah mengatai Suran yang sangat bodoh dan buta karena cintanya. “Dia memang orang bodoh yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi otaknya,” gumam pelan Linira. Semua yang menyaksikan di sana benar-benar meremehkan Suran, menganggap kalau Suran memang tidak pantas menjadi penerus keluarga Hideria. Namun, yang tidak diketahui oleh semua orang di sana termasuk Luderin adalah... gelang itu sebenarnya bukan hanya gelang kayu kuno biasa. Gelang itu lah yang akan membuat identitas Luderin mencuat nyata. Sebenarnya, Luderin adalah anak haram salah satu jenderal istana. Karena gelang itu juga lah akhirnya Luderin dan Linira sukses merebut keluarga Hideria tanpa banyak hambatan dan tentangan. Tanpa berpikir banyak, Luderin melepaskan gelang itu dan langsung memberikannya kepada Suran. Dia tidak tahu kenapa dia menggunakan gelang itu secara jelasnya, hanya saat kecil dulu ibunya bilang bahwa gelang itu adalah gelang jimat. Kenyataan hidup yang sebelumnya Luderin terlalu buruk, itu sudah cukup menjelaskan kalau gelang itu tidak memiliki pengaruh apapun hidupnya. Bagi Luderin, Suran barulah jimat keberuntungan. Suran menerima gelang itu dengan senyum yang mengembang. “Kalau gelang ini tidak ada padamu, yang mulia raja pasti tidak akan putus asa menghentikan perebutan kuasa atas keluarga Hideria dulu,” batin Suran. Linira dan Luderin menahan tawa. Luderin jelas tidak pernah mengeluarkan uang banyak untuk membelikan hadiah Suran, itu juga termasuk beruntung. Ailin menghela napas lega. Jika nanti Luderin harus mengeluarkan banyak uang untuk memberikan hadiah kepada Suran, bukankah Ailin juga pasti akan terseret? Selama ini mereka sudah bekerja sama untuk merebut semua harta Suran, tapi untungnya tidak perlu mengeluarkan uang lagi. Suran menyerahkan gelang itu pada Wulien agar pelayannya saja yang menyimpan. Ia pun menghela napas. Tinggal menunggu sebentar lagi, kejutan untuk untuk Linira akan segera tiba. Benar saja, suara langkah terdengar cepat dan tidak beraturan. Pelayan datang dengan terburu-buru, memberikan hormat kepada anggota keluarga yang ada di sana. “Nyonya, Nona sulung dan Nona kedua, Tuan Luderin... pelayan Nona kedua dia... dia...” pelayan itu terbata-bata membuat Linira menjadi tidak sabaran. Gadis itu bangkit dengan tatapan matanya yang tajam. “Apa yang sebenarnya mau kau katakan? Pelayan ku kenapa? Kalau dia masih tidak mau mengaku salah, bisa pukul dia beberapa kali sampai dia mengakui dan menyesali perbuatannya.” Pelayan itu menggelengkan kepalanya. “Bukan itu. Pelayan anda... pelayan anda sudah tewas.” Sepasang mata Linira melotot kaget. Dia merasa lututnya lemas hingga Luderin harus membantunya untuk berdiri dengan benar. “Linira, kau tidak apa-apa?” tanya Luderin yang terlihat khawatir. Menyadari tatapan Suran yang begitu tertuju padanya, Luderin langsung menarik tangannya. Entahlah... rasanya Luderin seperti reflek berhati-hati. Setiap Suran menatap ada perasaan aneh, bahkan dia merasa seperti asing kesana Suran di matanya saat ini. Linira menggelengkan kepalanya, tidak percaya kalau pelayan yang selama ini melayani dan membantunya tewas begitu saja. Suran berpura-pura sedih. “Ya ampun... adik, aku sangat sedih untuk kabar ini. Padahal dia baru saja bersenang-senang, tapi sekarang dia sudah tewas.” Seluruh tubuh Linira gemetar, dia tidak bisa berkata-kata. “Adik, andai saja kau tidak menghukumnya, andai saja kau bisa lebih memaklumi, dan memaafkan saja perbuatannya, mungkin saja pelayan mu msih bernapas sekarang,” timpal Suran. “Kau—” Linira menatap Suran marah, tapi dia juga tidak bisa mengatakan apapun apalagi sampai menyalahkan Suran. Linira kembali mengingat, tetapi memang dia lah Yang memerintahkan pelayan untuk menghukumnya. Bahkan barusan juga meminta kepada pelayan untuk menambahkan hukumannya. “Kedepannya, Aku harap Adik bisa mendapatkan pengganti yang fisiknya lebih kuat. Jangan sampai karena hanya beberapa pukulan saja langsung tiada,” tambah lagi Suran. Linira benar-benar marah. Sebenarnya, dari cara berbicara Suran memang sangat pengertian seperti Suran yang sebelumnya. Tetapi anehnya, Linira merasa seperti ada tekanan yang sangat besar di dadanya setiap kali Suran berbicara. Hari itu juga pelayan Linira diselesaikan proses pemakamannya. Suran sendiri memilih kembali di tempatnya. Beruntung sekali, halaman tempat Suran tinggal cukup luas, ada beberapa macam pohon buah dan bunga-bunga. Tempat itu cukup jauh dari kamar Ailin dan Linira, tapi sejatinya tempat yang Suran tinggali memang yang paling aman dan nyaman. Suran duduk di kursi bawah pohon buah, menyerahkan gelang milik Luderin kepada Wulien. “Bakar,” titahnya, membuat Wulien kaget. “Jangan tinggalkan sisa sedikitpun. Gelang ini harus jadi abu sepenuhnya.” Meskipun masih merasa bingung dan ingin sekali meminta penjelasan dari Suran, Wulien memutuskan untuk menahan diri saja karena dia juga yakin bahwa Suran pasti sudah memperhitungkan semua ini. Wulien memasukkan gelang itu ke api yang menyala. Sejenak Wulien menatap ragu, tapi dia tetap memutuskan untuk bertanya, “Nona, hadiah yang anda siapkan jauh hari untuk Tuan Luderin besok akan diantar dari toko. Apa... Anda yakin?”“Akhhh... sakit. Tolong!!!!” teriakan Linira menggema di ruang bawah tanah. Tubuhnya terjatuh ke lantai. Kedua tangannya segera memeluk perutnya yang terasa seperti diremas dari dalam. Napasnya tersengal-sengal berantakan. “Tolong.... kumohon...” Keringat dingin membasahi wajah dan lehernya, namun rasa sakit itu semakin hebat menghantam ke seluruh tubuhnya. Ketika Linira melihat darah yang terus mengalir, seluruh tubuhnya pun membeku. “Tidak, tidak...” Tangannya gemetar. “Tidak, anakku...” Ia berusaha bangkit, tetapi kedua kakinya tidak lagi memiliki tenaga sedikitpun. Darah terus membasahi pakaian dan lantai di bawahnya, Linira semakin menangis ketakutan. “Tolong... tolong aku...” Sayangnya, tidak ada yang menjawab. Beberapa saat sebelumnya, dua penjaga telah memperlakukannya dengan kejam. Pelecehan dengan kasar, peristiwa itu membuat Linira berada dalam kondisi sangat lemah, dan kini tubuhnya mulai menunjukkan tanda bahaya. “Jangan lakukan itu...” Linira meme
“Tuan Jude, tolong bantu aku keluar dari sini. Aku janji tidak akan menganggu hidupmu lagi, aku akan pergi. Tolong... tolong biarkan aku pergi, aku harus merawat anak ini dengan baik.” Jude menatap dingin lalu menjawab, “Anak itu tidak boleh lahir!” Linira menatap kosong untuk beberapa saat setelah mendengar ucapan Jude barusan. Perlahan matanya mulai tertuju pada pria itu dengan ekspresi yang nampak begitu kecewa. “Apa? Tuan Jude, kau benar-benar...” “Iya. Anak itu tidak boleh sampai lahir. Kalau Nanti orang di luar tahu anak itu adalah anakku, aku bisa malu. Aku tidak mau punya anak dari perempuan sepertimu, banyak orang yang akan jijik padaku nantinya.” Seluruh tubuh Linira rasanya seperti terhimpit besi panas. Sakit, sakit sekali sampai ingin banyak bicara juga sudah tidak sanggup lagi. “Kenapa kau jadi seperti ini? Aku sudah melakukan apa yang aku bisa, Kenapa kau memperlakukanku dengan sangat buruk padahal anak yang aku kandung juga anakmu?!” protes Linira. Jude melir
Di ruang bawah tanah yang lembap itu, Linira menangis tanpa henti. Tubuhnya gemetar setelah diperlakukan dengan kejam oleh penjaga yang sebelumnya datang. Tangannya terus melindungi perutnya. Bagaimanapun, bayi itu hanya akan ada sekali dalam hidupnya. “Anakku... anakku...” Air mata mengalir di wajahnya. “Tolong jangan apa-apakan anakku. Ini kehamilan pertama dan mungkin juga terakhir. Aku mohon...” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab. Linira tidak tahu bahwa semua yang terjadi malam itu bukan kebetulan. Jauh sebelum semua ini terjadi, Suran sudah mengetahui bahwa hubungan Linira dengan Jude akan berakhir seperti ini, bahkan drama ini dia juga lah yang mengaturnya. Kabar mengenai penggerebekan penginapan, pengakuan Linira sebagai calon istri Jude, hingga perselisihan dengan kedelapan istrinya, sebagian besar telah masuk ke dalam perhitungan Suran. Suran hanya perlu mendorong beberapa keadaan, sisanya akan dilakukan oleh sifat serakah dan ambisi Linira sendiri. N
Ruangan itu mendadak sunyi setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kini Linira. Dokter menatap hasil pemeriksaannya beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Dia benar-benar hamil, para Nyonya.” Linira yang sejak tadi duduk dengan wajah tegang langsung mengangkat kepala. “Apa? Apa yang aku katakan barusan?” Dokter mengangguk lalu melanjutkan, “Usia kehamilannya masih sangat muda, kira-kira dua minggu. Di usia ini, kondisi sangat rawan sehingga perlu dijaga dengan baik.” Kedelapan istri Jude saling berpandangan, tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka akan mendengar kabar seperti itu meskipun kehamilan itu sudah mereka dengar. Linira justru terlihat sangat bahagia. Tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri. “Aku benar-benar hamil...” Senyumnya muncul. “Anak Tuan Jude.” wajah Linira terlihat benar-benar bahagia, merasa yakin kalau keberadaan anak itu akan menyelamatkan dirinya. Ia menatap para istri Jude dengan keyakinan yang mulai tumbuh k
Linira menatap Jude dengan wajah kosong. “Jadi... sejak awal kau hanya sok baik? Kau cuma ingin bermain denganku?” Jude kembali menatap sinis dan berkata, “Memangnya perempuan sepertu pantasnya dianggap apa? Sejak awal kau memang sudah menargetkan ku, Kenapa pura-pura jadi korban sekarang? Kau tidak pikir aku ini bodoh sampai tidak tahu niatmu sejak awal?” Seluruh tubuh Linira limbung. Tangannya terkepal erat gemetar, baru menyadari kalau sejak awal dialah yang begitu banyak berhalusinasi. Sudah tidak ada lagi yang bisa dia katakan, apapun yang keluar dari mulut Jude selalu memojokkan dirinya. Linira akhirnya keluar dari balai keadilan dengan langkah yang terasa begitu berat. Di tangannya terdapat surat peringatan yang baru saja diberikan kepadanya, sudah ada tanda tangannya juga. Satu lembar kertas saja, namun bagi Linira, benda itu terasa begitu berat. Namanya kini tercatat dalam daftar pelanggaran dan perbuatan tidak baik yang pernah dilakukannya, bukan cuma sekali s
Wajah Jude seketika berubah. Ia sudah mendengar sebelumnya bahwa penginapan tersebut sedang diperiksa karena menerima banyak laporan mengenai perjudian dan perselingkuhan yang mulai meresahkan. “Ini benar-benar celaka!” Tanpa banyak berpikir, Jude segera mengenakan pakaiannya yang untungnya tidak sulit. Linira yang masih berada di kamar menatapnya dengan bingung. “Tuan Jude, tunggu aku!” “Tidak bisa. Aku harus pergi sekarang.” “Tapi aku belum selesai bersiap, tunggu sebentar!” Jude tidak menjawab, ia langsung keluar melalui pintu belakang yang biasa digunakan para tamu untuk menghindari perhatian. Linira pun membeku. “Tuan Jude!” Pria itu benar-benar pergi meninggalkannya sendirian. Linira menatap pakaian yang masih berantakan di sekelilingnya, tatapannya panik dan bingung. Mengenakan semuanya dengan cepat bukan perkara mudah. Beberapa bagian pakaiannya memiliki banyak lapisan dan pengikat yang cukup rumit. Sementara suara langkah para petugas semakin mende







