Home / Fantasi / Takdir sang Nona Pewaris / Bab 90 Ingin Menangis

Share

Bab 90 Ingin Menangis

Author: Nadira Dewy
last update publish date: 2026-08-12 20:00:08

Luderin menutup matanya, air mata masih mengalir.

“Suran, aku salah. Maaf... aku memang pantas dihukum. Aku harap kau hidup dengan baik, bahagia.”

Bruk!

Tangan Luderin jatuh ke tanah, tubuhnya benar-benar sudah tidak mampu lagi untuk bertahan lebih lama.

Tangisan ibu Luderin pecah, tak lagi bisa ia tahan rasa sakitnya.

“Luderin!”

Tubuh putranya yang sejak tadi terbaring lemah akhirnya benar-benar tidak bergerak lagi, napasnya hilang sepenuhnya.

Matanya telah tertutup untuk sela
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 104 Kasih dan Butuh Partner

    Setelah mendapatkan uang dari Suran, Ailin tidak membuang waktu sedikit pun. Ia segera menggunakan sebagian besar uang tersebut untuk mendatangkan salah satu dokter terbaik yang biasa menangani keluarga bangsawan dan bahkan memiliki pengalaman selama bertahun-tahun merawat keluarga dari lingkungan istana. Biayanya sangat mahal, namun Ailin tidak lagi memikirkan dirinya sendiri sekarang. “Berapa pun biayanya, tolong sembuhkan putriku, biarkan dia kembali seperti semula.” Dokter itu menatap Linira cukup lama sebelum menjawab, “Saya akan melakukan yang terbaik. Tetapi Anda harus memahami bahwa kondisi seperti ini membutuhkan waktu, dan biayanya juga tidak sedikit.” Ailin mengangguk cepat. “Saya tahu, saya pasti sanggup.” Perawatan pun dimulai, tidak ada obat ajaib yang membuat Linira langsung kembali seperti semula. Semuanya dilakukan sedikit demi sedikit, penuh kesabaran. Dokter mulai mengatur waktu tidur Linira, memastikan ia mendapatkan makanan yang cukup, mengurangi ha

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 103 Memohon Pada Suran

    Sejak membawa Linira kembali ke Kediaman Hideria, Ailin benar-benar mencurahkan seluruh waktunya untuk putrinya seorang. Ia memanggil dokter satu demi satu memeriksa. Dokter pertama datang membawa berbagai peralatan pemeriksaan. Setelah memeriksa Linira cukup lama, ia hanya menggelengkan kepala dengan ekspresi yang nampak lesu. “Kondisi tubuhnya tidak menunjukkan penyakit yang menjadi penyebab utama perilakunya saat ini.” Ailin langsung bertanya, “Lalu apa yang harus dilakukan sekarang?” Dokter itu menghela napas. “Dia mengalami gangguan berat pada pikirannya. Dengan kondisi seperti ini, pengobatannya tidak akan sederhana, perlu orang yang ahli di bidang ini.” Dokter berikutnya memberikan pendapat yang hampir sama. Dokter lainnya bahkan mengatakan bahwa dirinya tidak mampu menangani kondisi Linira yang sudah separah ini. Setiap kali mendengar kalimat seperti itu, hati Ailin semakin hancur. “Tidak boleh...” Ia menggeleng. “Harus ada cara apapun itu.” Ia tidak ped

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 102 Sejumput Kepuasan

    Namun, seketika langkah kakinya terhenti kala matanya menatap seorang gadis duduk di tanah yang becek sambil memeluk daun-daun kering di bajunya. “L–Linira....” Ailin akhirnya menemukan Linira di sebuah sudut jalan. “Linira...” Perempuan itu menoleh. Wajahnya kotor, rambutnya berantakan, dan tatapannya nampak kosong. Namun Ailin tetap mengenalinya. “Itu... itu Linira.” Ia berlari menghampiri putrinya lalu langsung memeluknya erat. “Linira! Ini kau?” Tubuh Linira sempat menegang, tetapi tidak melakukan perlawanan sedikitpun. Ailin memegang wajah putrinya dengan kedua tangan. “Biarkan Ibu melihatmu, Nak.” Air mata Ailin langsung jatuh bercucuran. “Ya Tuhan... kenapa kau jadi begini?” Ia menyentuh pipi Linira yang kini jauh lebih kurus. “Benar-benar kau...” Linira hanya menatapnya, beberapa detik kemudian, ia tiba-tiba tertawa sendiri. “Hahaha...” Ailin terdiam. “Linira? Kau kenapa, nak?” Linira memiringkan kepala. “Ibu sudah datang...” Senyum aneh muncul d

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 101 Kenyataan Pahit

    Satu bulan sudah berlalu sejak kejadian mengerikan di kediaman keluarga Jude. Sejak saat itu, tidak ada lagi kabar apapun tentang Linira. Sampai pada suatu sore, seorang pedagang yang sedang melewati jalan utama melihat sosok perempuan berjalan tanpa arah di pinggir jalan. Rambutnya berantakan, pakaiannya sudah kotor, kakinya bahkan tidak mengenakan alas yang layak untuk seorang gadis. Perempuan itu tiba-tiba saja berlari sambil tertawa. “Hahaha!” Beberapa orang yang sedang berjalan di sana langsung menyingkir. Linira berhenti tepat di tengah jalan. Ia menatap sebuah pohon lalu tertawa sendiri. “Lihat! Banyak sekali koin emas yang aku dapat!” Tangannya bergerak mengais tanah di bawah pohon, namun yang ditemukannya hanya daun-daun kering yang sebagian bahkan membusuk. Linira menggenggamnya erat. “Ini semua milikku!” Seorang anak kecil yang melihatnya pun tertawa. Linira tiba-tiba menoleh dan berteriak, “Jangan ambil! Jangan ambil koinku!!” Anak itu langsung

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 100 Sisa Energi

    “Akhhh... sakit. Tolong!!!!” teriakan Linira menggema di ruang bawah tanah. Tubuhnya terjatuh ke lantai. Kedua tangannya segera memeluk perutnya yang terasa seperti diremas dari dalam. Napasnya tersengal-sengal berantakan. “Tolong.... kumohon...” Keringat dingin membasahi wajah dan lehernya, namun rasa sakit itu semakin hebat menghantam ke seluruh tubuhnya. Ketika Linira melihat darah yang terus mengalir, seluruh tubuhnya pun membeku. “Tidak, tidak...” Tangannya gemetar. “Tidak, anakku...” Ia berusaha bangkit, tetapi kedua kakinya tidak lagi memiliki tenaga sedikitpun. Darah terus membasahi pakaian dan lantai di bawahnya, Linira semakin menangis ketakutan. “Tolong... tolong aku...” Sayangnya, tidak ada yang menjawab. Beberapa saat sebelumnya, dua penjaga telah memperlakukannya dengan kejam. Pelecehan dengan kasar, peristiwa itu membuat Linira berada dalam kondisi sangat lemah, dan kini tubuhnya mulai menunjukkan tanda bahaya. “Jangan lakukan itu...” Linira meme

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 99 Kastil Kebahagiaan

    “Tuan Jude, tolong bantu aku keluar dari sini. Aku janji tidak akan menganggu hidupmu lagi, aku akan pergi. Tolong... tolong biarkan aku pergi, aku harus merawat anak ini dengan baik.” Jude menatap dingin lalu menjawab, “Anak itu tidak boleh lahir!” Linira menatap kosong untuk beberapa saat setelah mendengar ucapan Jude barusan. Perlahan matanya mulai tertuju pada pria itu dengan ekspresi yang nampak begitu kecewa. “Apa? Tuan Jude, kau benar-benar...” “Iya. Anak itu tidak boleh sampai lahir. Kalau Nanti orang di luar tahu anak itu adalah anakku, aku bisa malu. Aku tidak mau punya anak dari perempuan sepertimu, banyak orang yang akan jijik padaku nantinya.” Seluruh tubuh Linira rasanya seperti terhimpit besi panas. Sakit, sakit sekali sampai ingin banyak bicara juga sudah tidak sanggup lagi. “Kenapa kau jadi seperti ini? Aku sudah melakukan apa yang aku bisa, Kenapa kau memperlakukanku dengan sangat buruk padahal anak yang aku kandung juga anakmu?!” protes Linira. Jude melir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status