ログイン“Huek...” Suran tidak tahan, ia mual, namun beruntung suara para tamu di sana tidak akan membuat ada yang menyadari hal itu kecuali Wulien yang ada di belakangnya.
“Nona, apa anda baik-baik saja?” tanya Wulien panik. Suran mengangkat tangannya, meminta agar Wulien tidak perlu khawatir dengan kondisinya. “Tenang saja, aku baik. Aku cuma... seperti melihat anjing betina yang sedang birahi sampai terus mengibaskan ekornya.” Wulien benar-benar tidak memahaminya, tapi dia juga tidak bertanya. Suran akhirnya masuk ke dalam. Begitu sosoknya bisa dilihat dengan jelas oleh para tamu, sorotan pun langusng tertuju padanya seakan keberadaan Linira sudah tidak ada lagi artinya. Pakaian Suran tentu lebih terlihat elegan, bahan pakaian yang dia gunakan juga terbuat dari bahan khusus yang semua produknya hanya diperuntukkan pada Suran seorang saja. Riasan wajahnya sederhana karena wajah Suran memang tidak membutuhkan terlalu banyak tambahan riasan. Begitu Suran berdiri, tersenyum pada para tamu, semua yang ada di sana seolah tersihir, termasuk juga Luderin. Pria itu memang menyadari kalau Suran sangat cantik, hanya saja status Suran yang sangat tinggi membuatnya selalu takut, dan ketakutan itulah yang sering membuatnya tidak tenang. Linira mencengkram kalian pakaiannya sendiri. Dia benar-benar benci momen seperti ini. Padahal dia sudah berusaha sebaik mungkin agar terlihat cantik, menarik, dan tidak bosan dipandang mata. Tapi begitu Suran muncul, hal itu seperti menjelaskan bahwa usahanya benar-benar tidak ada artinya. “Selamat datang, semua. Aku sebagai Nona pertama dan pewaris sah Hideria menyambut anda semua. Mari nikmati pesta ini,” ucap Suran yang membuat para tamu semakin kagum pada sosoknya. Namun, tidak untuk Linira dan Luderin. “Kenapa dia harus menyebutkan bahwa dia adalah Nona pertama dan pewarisan keluarga hideria? Dia sedang mempermalukan ku?” gumam Linira. Suran tersenyum, dia tahu apa yang dipikirkan oleh dua orang munafik itu. Luderin tersenyum, dia langsung mendekati Suran untuk berdiri di sampingnya. Ia juga mengulurkan tangan untuk bergandeng dengan Suran. “Kau cantik sekali,” puji Luderin. Suran pun tersenyum. Memikirkan apa yang terjadi sebelumnya, dia benar-benar kesal hingga berpura-pura tersenyum seperti sekarang ada hal yang paling sulit untuk dilakukan. Di kehidupan sebelumnya, Suran yang bodoh itu tidak bisa menghindari nasib buruknya. Gara-gara kehilangan kesucian dan menanggung malu di depan banyak orang, dia terpaksa menerima pernikahan yang sangat merendahkan harga dirinya. Tidak ada hantaran sebagai bentuk kesungguhan dari seorang pria kepada wanita, yang ada justru Suran yang menggelontorkan banyak sekali harta dari keluarga Hideria keada Luderin. Semua itu Suran lakukan bukan hanya karena didesak oleh keadaan saat itu sudah tidak suci lagi, melainkan karena merasa bersalah pada Luderin, merasa telah mengkhianati pria itu, berharap harta keluarga Hideria dapat membuatnya terlihat tulus. Namun, dia benar-benar terlalu naif hingga tidak bisa sedikitpun menyadari bahwa semua yang terjadi ini sudah diatur oleh mereka semua. Untunglah bisa menghindari hal itu, namun sekarang Suran juga yakin bahwa Luderin dan Linira pasti akan mencari cara lain untuk menjatuhkannya. “Hei, kenapa kau diam saja?” tanya Luderin, suaranya benar-benar lembut, dan hal itulah yang dulu sering membuat Suran merasa bahwa Luderin memang pria yang sangat pantas untuk semua pengorbanannya. “Ah, tidak. Aku cuma merasa bahagia kau sudah kembali, dan sebentar lagi akan jadi pejabat istana,” ucapnya basa basi. Luderin tersenyum, ia juga sudah sangat menantikan hari itu tiba. Bertahun-tahun hidup susah, dia yakin akan hidup sangat baik dan mewah ketika berhasil mendapatkan kedudukan nanti. Dia bahkan sudah berniat menyombongkan diri kepada orang yang dulu menolak untuk membantunya. Para tamu lain mendekat, menyapa Suran dengan sopan. “Suran, terakhir kita bertemu di acara kedewasaan putriku. Sekarang putriku sedang kursus karena akan mengikuti seleksi istana. Mohon berikan dukungan untuk putriku Ashra,” ucap salah satu keluarga. Mendengar itu, Suran pun tersenyum meski hatinya tidak. Seorang Bibi yang berdiri di hadapannya, ibu dari Ashra, dia juga salah satu anggota keluarga yang mengkhianatinya. “Wanita tua ini... dialah yang yang mendukung Ailin sampai dia bisa melumpuhkan ku secara ekonomi di kehidupan sebelumnya. Tunggu saja, aku akan memberikan hadiah untukmu nanti,” batin Suran. “Iya. Aku juga berharap Ashra bisa masuk ke istana,” ucapnya. Masuk ke istana sebenarnya kata lain dari selir raja. “Suran ku,” panggil Luderin, tersenyum. Suran menatap tangan Luderin dengan ekspresi jijik untuk beberapa detik. Tepat saat dia dengan terpaksa akan menerima uluran tangan itu, seorang pelayan datang menghampiri. “Nona, ada barang yang harus anda terima. Ini, katanya dari toko bulan biru.” Semua yang ada di sana terkejut mendengarnya. “Toko bulan biru? Itu kan toko kelas elit. Selain para raja dan petinggi negara, hampir mustahil bisa membeli barang dari toko bulan biru.” “Hadiah itu... apa hadiah itu untuk Tuan Luderin?” “Ya ampun, pria itu benar-benar beruntung.” Luderin tersenyum karena dia yakin hadiah itu untuknya, dia sangat bahagia karena mampu membuat semua yang ada di sana merasa iri padanya. Suran menerima kotak hadiah itu, dia langsung membukanya di depan umum yang semakin membuat semua tamu kagum. “Itu kan... set peralatan tulis yang terbuat dari batu alam terbaik!” Luderin menatap dengan tidak sabaran. Dia tahu benda itu sangat mahal. Ia pun bersiap mengambil hadiah itu. “Suran sayangku, aku suka hadiah darimu,” ucapnya. Suran tersenyum, “Hadiah ini...”“Huek...” Suran tidak tahan, ia mual, namun beruntung suara para tamu di sana tidak akan membuat ada yang menyadari hal itu kecuali Wulien yang ada di belakangnya. “Nona, apa anda baik-baik saja?” tanya Wulien panik. Suran mengangkat tangannya, meminta agar Wulien tidak perlu khawatir dengan kondisinya. “Tenang saja, aku baik. Aku cuma... seperti melihat anjing betina yang sedang birahi sampai terus mengibaskan ekornya.” Wulien benar-benar tidak memahaminya, tapi dia juga tidak bertanya. Suran akhirnya masuk ke dalam. Begitu sosoknya bisa dilihat dengan jelas oleh para tamu, sorotan pun langusng tertuju padanya seakan keberadaan Linira sudah tidak ada lagi artinya. Pakaian Suran tentu lebih terlihat elegan, bahan pakaian yang dia gunakan juga terbuat dari bahan khusus yang semua produknya hanya diperuntukkan pada Suran seorang saja. Riasan wajahnya sederhana karena wajah Suran memang tidak membutuhkan terlalu banyak tambahan riasan. Begitu Suran berdiri, tersenyum pada pa
Plak! Belum sempat pelayanan itu melanjutkan ucapannya, Linira langsung menamparnya. Ya. Tidak boleh sampai mengungkit hal tadi, Suran tidak boleh mencurigainya. Linira melotot pada pelayanan, mengancam tanpa mengatakan apapun. Seketika itu pelayan pribadi Linira terdiam. Meski jelas terlihat dari sorot matanya yang memohon bantuan agar dia tidak dihukum, sayangnya Linira hanya fokus menyelamatkan dirinya. Apapun itu resikonya, akan Linira limpahkan kepada pelayan karena tanggung jawab terburuk tidak boleh datang padanya. Tahu kalau nanti akan jadi masalah besar jika membuka mulut lebih banyak lagi, pelayan pribadi Linira itu pun terdiam. Tangisnya masih terdengar, tapi dia benar-benar pasrah sekarang. “Pengawal, pukul pelayan tidak tahu malu ini, dan buat hukuman juga yang pantas untuk pria liat kurang ajar ini!” titah Linira pada pelayan yang memang selalu ada di sudut kediaman Hideria. Luderin dan Ailin nampak pasrah. Menghukum pelayan itu memang bukan jala
Setelah kejadian itu, Suran dan yang lainnya kini berada di ruang tengah. Suasananya cukup santai hingga Linira bisa dengan nyaman bertingkah manja pada Luderin. “Kak, nanti kalau berhasil jadi pejabat istana, kau jangan lupa traktir kami, belikan kakak hadiah yang menarik juga, ya?” ucap Linira, sesekali melirik pada Suran, sengaja menggunakan kata ‘kita’ agar Suran tidak curiga. Namun, Suran benar-benar tenang. Dia sibuk menikmati teh, bahkan di kepalanya bukan lagi memikirkan soal cinta atau perasaan apapun yang harus berurusan dengan hati. Luderin tersenyum. “Iya. Aku janji akan membeli hadiah untuk kalian. Suran, hadiah apa yang kau mau? Aku beli kalau nanti surat putusan istana keluar.” Mendengar pertanyaan itu hampir saja Suran tersedak. Sejenak menatap Luderin yang tersenyum begitu lebih rasa percaya diri, ia jadi mulai menantikan seperti apa ekspresi wajah Luderin saat surat putusan dari istana nanti tiba. Namun, ia pun harus bersabar karena butuh 3 sampai 7
Setelah Luderin kembali dengan tangan yang masih agak basah, semua hidangan sudah tersedia, khusus untuk menyambut pria itu. Suran tersenyum, “Makanan sudah siap, cepat duduk dan nikmati dengan nyaman.”Linira tersenyum begitu lembut. “Kak, semoga hidangan kali ini membuatmu puas ya?”Luderin menganggukkan kepalanya. Mereka semua pun menikmati hidangan itu. Sepanjang acara penyambutan itu yang lebih banyak bicara pada Luderin adalah Linira, sementara Suran hanya mengamati tanpa bicara. “Sial. Kenapa aku dulu begitu buta hingga tidak bisa melihat dengan jelas semua ini?”Hingga akhirnya Linira bangkit, menuangkan teh yang masih hangat, menyodorkan pada Suran. Dengan senyuman yang nampak begitu perhatian Linira berkata, “Kak, sebentar lagi kau akan menikah dengan Kak Luderin, anggap saja ini sedikit bukti baktiku padamu.”Suran mencengkram jemarinya sendiri. Di kehidupan sebelumnya, gara-gara teh itu kesucian Suran ternodai oleh seorang gelandangan yang datang entah dari mana. Namu
Suran menggosok matanya beberapa kali, takut kalau itu hanya halusinasinya saja. “Apa ini? Apa ini bagian dari ingatan ku menjelang mati?” bisiknya pada diri sendiri. Wulien mengguncang tubuh Suran karena tidak merespon cepat seperti sebelumnya, apa lagi Suran nampak kebingungan. “Nyonya, ada apa? Anda baik-baik saja?” tanya Wulien yang jadi semakin khawatir. Suran menatap Wulien, tidak berkedip karena takut akan menghilang begitu dia menutup mata walaupun sedetik. “Cubit aku!” titah Suran. Wulien mengerutkan keningnya, bingung dengan permintaan Suran yang begitu aneh. “Cepat!” Wulien hanya bisa patuh mencubit Suran. Sakit! “Akh!” pekik Suran. Wulien terkejut, merasa bersalah. “Maaf, Nona. Salah saya terlalu kuat mencubit anda. Maafkan saya, pantas untuk Saya dihukum, Nona.” Suran tersenyum, matanya sudah penuh cairan. Ia pun bangkit dan memeluk Wulien erat. “Kau masih hidup. Syukurlah... aku bahagia kau masih hidup, Wulien...” ucap Suran. Suaranya b
“Akhhh...!” teriak Suran saat punggungnya dipukul menggunakan rotan kering. Tangan gadis itu terikat ke dua sisi dinding tua yang lembab, bahkan banyak lumut yang tumbuh. Bau darah menyengat. Padahal, di adalah putri sah, pewaris keluarga Hideria. Kedua penjaga yang senang tiasa menyiksanya itu semakin bersemangat setiap kali Suran memekik kesakitan. “Hahaha... berteriak lah, Nyonya bodoh! Kau pikir akan ada yang peduli padamu?” ucap salah satu penjaga. Suran menangis. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa hidupnya jadi kacau balau seperti ini. Selama 7 hari di dalam penjara bawah tanah milik keluarganya sendiri itu, menangislah yang bisa dia lakukan. Semakin berteriak, maka semakin kuat penjaga akan memukulinya. Seluruh tubuhnya penuh luka. Wajah cantiknya dirusak dengan kejam, bahkan dua kukunya dicabut paksa saat dia menjerit, dan mengancam dua penjaga penjara bawah tanah itu. Akan tetapi, mereka justru semakin bersemangat menyakiti Suran. Penderitaannya t







