MasukMalam itu, kediaman Tuan Ken mendadak dipenuhi suara tangisan dan langkah kaki para pelayan. Kabar kematian Ailin menyebar begitu cepat. Wanita itu ditemukan sudah tidak bernyawa di kamarnya. Dokter yang datang untuk memeriksa hanya bisa menggelengkan kepala. Ketika tubuh Ailin diperiksa lebih teliti, terlihat jelas bekas tekanan pada bagian lehernya. Bekas cekikan. Tidak ada seorang pun yang berani berbicara sembarangan setelah melihatnya. Tuan Ken berdiri terpaku di sisi tempat tidur. Wajahnya tampak muram. Ia tidak pernah menyangka Ailin akan berakhir seperti ini, padahal kondisinya sudah membaik sebelumnya. Bahkan, beberapa hari sebelumnya wanita itu masih berbicara dengannya dan memperingatkannya tentang Linira. Sekarang semuanya sudah terlambat. ”Siapa yang melakukan ini?” Suara Tuan Ken terdengar berat, tidak ada yang menjawab. Para pelayan hanya menundukkan kepala. Malam itu juga, persiapan pemakaman mulai dilakukan. Seluruh kediaman dipenuhi suasan
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari kamar Ailin dengan wajah serius. Tuan Ken yang sejak tadi menunggu langsung berdiri. Sebenarnya, dia juga sangat kelelahan karena pekerjaan hari itu full, tapi begitu sampai di rumah justru ada kejadian seperti ini.. “Bagaimana keadaannya?” tanya Tuan Ken. “Untuk sementara tidak dalam kondisi yang mengancam nyawa,” jawab dokter. “Nyonya Ailin pingsan karena tekanan darahnya meningkat cukup tinggi. Selain itu, kepalanya terbentur meja ketika didorong sehingga menyebabkan luka dan perdarahan.” Tuan Ken mengerutkan kening. “Apakah dia membutuhkan perawatan khusus?” “Ya. Setidaknya beberapa hari ke depan. Tekanan darahnya harus dipantau dan lukanya juga perlu dirawat dengan baik.” Tuan Ken mengangguk. “Pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik.” Dokter membungkuk lalu kembali masuk ke kamar. Tuan Ken berdiri beberapa saat dalam diam. Kemudian tatapannya beralih kepada Linira. Gadis itu berdiri tidak jauh dari sana. Wajahnya
Makan malam berlangsung dalam keheningan. Linira duduk berseberangan dengan Ailin, sedangkan Tuan Ken sedang melakukan kontrol di pelabuhan. Di atas meja, makanan sudah tersaji dengan rapi. Ailin baru saja hendak mengambil sendok ketika seorang pelayan berdiri di belakangnya. Pelayan itu menunduk dan berpura-pura hendak merapikan meja. Namun saat melewati sisi Ailin, ia berbisik sangat pelan. “Jangan dimakan, Nyonya.” Tangan Ailin langsung berhenti. Pelayan itu melanjutkan dengan suara hampir tak terdengar. “Makanan itu sudah diberi racun.” Ailin membeku. “Siapa pelakunya...” Pelayan itu menelan ludah. “Nona Linira.” Ailin perlahan menoleh ke arah putrinya. Linira masih duduk tenang. Wajahnya bahkan terlihat tidak bersalah. Seolah-olah tidak terjadi apa pun. Ailin merasakan seluruh tubuhnya menegang. Jadi benar. Setelah semua yang ia lakukan untuk menyelamatkan Linira, putrinya sekarang mencoba membunuhnya. Tangannya mengepal di bawah meja. ‘Linira, k
Linira tidak menunggu lama. Begitu mengetahui bahwa Ailin sengaja membuat Tuan Ken menjauh darinya, ia langsung mencari ibunya. Pintu kamar Ailin terbuka dengan kasar. “Ibu!” Ailin yang sedang duduk langsung menoleh. “Apa?” “Kenapa Ibu melakukan itu kepadaku?” Nada suara Linira meninggi. Ailin menatap putrinya tanpa gentar. “Kalau yang kau maksud adalah Tuan Ken, maka aku memang sengaja melakukannya.” Linira mengepalkan tangan. “Kenapa?” “Karena aku ingin menyelamatkan suamiku dari kehancuran.” Jawaban itu membuat Linira terdiam sesaat. Ailin berdiri. “Nama Tuan Ken sudah mulai dibicarakan orang. Pedagang yang selama ini bekerja sama dengannya mulai menjaga jarak. Kalau gosip itu terus menyebar, bukan hanya reputasinya yang hancur. Bisnisnya juga bisa ikut runtuh.” “Itu bukan urusan Ibu!” “Justru itu urusanku!” Ailin membentak. “Dia suamiku!” Linira tertawa sinis. “Jadi Ibu hanya peduli pada Tuan Ken saja?” Ailin menatapnya tajam. “Aku juga peduli padamu, Linir
Menjelang malam, Tuan Ken akhirnya kembali ke kediamannya. Langkahnya berat. Wajahnya tampak sangat lelah, bahkan beberapa kancing pakaiannya sudah terbuka karena seharian ia harus menghadiri pertemuan bisnis yang tidak ada habisnya. Namun bukan pekerjaan yang paling menguras pikirannya, melainkan percakapan yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Gosip tentang kedekatannya dengan Linira ternyata sudah mulai menyebar. Beberapa pedagang besar yang selama ini bekerja sama dengannya bahkan mulai menjaga jarak. Ada yang secara terang-terangan mempertanyakan hubungan mereka. Ada pula yang memilih menunda kerja sama baru. Tuan Ken berhasil menjelaskan keadaan dan meyakinkan mereka bahwa gosip tersebut tidak berdasar. Namun ia tahu, satu kesalahan saja bisa membuat semua usahanya selama bertahun-tahun hancur. Karena itu, ketika memasuki kediaman dan melihat seseorang berdiri menunggunya, ekspresinya langsung berubah. Linira. Malam itu Linira sengaja berdandan lebih rapi
Setelah pertengkarannya dengan Ailin, Linira mengurung diri di kamar. Wajahnya terlihat tenang, tetapi pikirannya terus berputar kemanapun arahnya. Jika Ailin benar-benar memusuhinya, bagaimana dia akan hidup dengan nyaman di rumah ini? Linira jelas sangat mengenal ibunya. Ailin mungkin terlihat lemah ketika menangis, tetapi ketika sudah merasa terancam, wanita itu bisa menjadi sangat licik, bahkan semua otak liciknya juga berasal dari Ibunya itu. Linira tidak boleh membiarkannya mengambil kendali. “Kalau begitu...” ia perlahan tersenyum. “Aku harus membuat Tuan Ken semakin berpihak kepadaku.” Bagi Linira, satu-satunya cara adalah memberikan lebih banyak perhatian. Lebih banyak pengertian, lebih banyak kasih sayang. Dia yakin jika Tuan Ken semakin terbiasa dengan keberadaannya, Ailin tidak akan mudah memisahkan mereka. Namun Linira tidak mengetahui bahwa pada saat yang sama, Ailin sudah mengambil langkah lain. Malam itu, Ailin meminta Tuan Ken berbicara secara prib







