Beranda / Fantasi / Takdir sang Nona Pewaris / Bab 67 Sesuatu yang Berbeda

Share

Bab 67 Sesuatu yang Berbeda

Penulis: Nadira Dewy
last update Tanggal publikasi: 2026-08-03 21:26:02

Menjelang malam, suara roda kereta berhenti tepat di depan kediaman keluarga Luderin yang kini terasa sepi.

Ibunya Luderin turun tergesa-gesa, diikuti seorang pria tua berjubah lusuh dengan rambut yang telah memutih. Di tangannya tergenggam sebuah tongkat kayu berukir, sementara di punggungnya tergantung sebuah tas kain yang berisi berbagai perlengkapan ritual.

“Beliau adalah tabib spiritual yang direkomendasikan oleh seorang kenalanku,” ujar sang ibu kepada si pelayan yang merekomendasikan a
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 148 Sesuatu Terjadi

    Suran ingin melepaskan ciuman itu, menjauhkan Greyson darinya, tapi pria itu justru mencengkram erat tu ibunya, enggan untuk melepaskan. “Ugh...!” keluh Suran karena merasa sesak. Saat itulah Greyson mulai tersadar bahwa dia tidak boleh kelewatan. Dengan cepat ia melepaskan tubuh Suran, membiarkan Suran selamat dari rasa haus yang keterlaluan itu. “Maaf, maafkan aku... aku...” Greyson melepaskan pakaian luarnya, kali ini dia benar-benar berharap hal itu bisa mengurangi rasa panas yang terus muncul dari tubuhnya. Meskipun saat ini cuaca cukup dingin, hal itu sama sekali tidak bisa lagi Greyson rasakan. Suran benar-benar tercengang melihat bagaimana keadaan Greyson. Sebenarnya, yang ingin dia lakukan tadi begitu Greyson bisa sadar dan melepaskannya adalah langsung memaki pria itu, tetapi melihat bagaimana kondisinya sekarang tentu saja mustahil untuk dia lakukan. “Kau kenapa?” tanya Suran. Greyson terengah-engah, wajahnya semakin merah, matanya bahkan sampai berair.

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 146 Rencana Pangeran Ke-2

    “Greyson, bagiamana perasaan mu setelah tahu akan menikah dengan salah satu putri dari petinggi istana?” tanya sang Raja dengan ekspresi yang penuh harap seolah-olah keputusan untuk menikahkan Greyson dengan salah satu putri petinggi istana adalah hal yang begitu dia inginkan. Sejenak Greyson terdiam. Sebenarnya, dia paling tidak suka basa basi seperti ini, tapi apa boleh buat? Orang yang mengajaknya bicara memang Ayah kandungnya, tapi dibanding sosok Ayah, tentu saja dia adalah Raja yang pasti tidak menginginkan cara bicara antar anak dan Ayah. Greyson meletakkan cangkir di tangannya, menatap Raja dengan tenang dan berkata, “Perjodohan itu belum dibicarakan secara langsung dengan saya, bingung untuk merespon pasti sudah anda perkiraan, Yang Mulai.” Sang Raja tersenyum. “Putri Kirina tidak memiliki keberatan sedikitpun untuk pernikahan ini, aku harap kau juga merasakan yang sama.” Pangeran ke-6 tersenyum dengan ekspresi mengejek pada Greyson. “Mau sok jual mahal? Sadarlah de

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 145 Kesempatan Baru

    Sejak Greyson mengutarakan keinginannya untuk menikah, pikirannya terus dipenuhi berbagai pertanyaan. Pria itu bahkan sudah memintanya memberikan jawaban. Namun Suran belum mampu mengatakannya. Ia masih membutuhkan waktu. Bukan karena dirinya membenci Greyson, justru sebaliknya, Suran mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap pria itu sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Hanya saja, bayangan masa lalu masih terlalu kuat. Pernikahan. Kata itu saja sudah cukup membuat hati Suran terasa berat. Di kehidupan sebelumnya, pernikahan justru menjadi awal dari kehancurannya, ia pernah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada seseorang, dan sebagai balasannya, ia mendapatkan pengkhianatan. Suran menghela napas. “Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.” Namun kali ini ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Greyson. Suran kemudian mulai mencari tahu lebih banyak tentang Pangeran Kesembilan. Ia meminta orang kepercayaannya mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Ha

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 144 Tidak Bisa Menunggu

    Suran mengerutkan keningnya. “Kau... kau... bocah yang tinggal di bilik terpencil istana? Kau yang selalu diam di atas pohon dan hanya melihat dari atas sana?”Greyson tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Iya, itu aku. Hari itu adalah hari paling mengejutkan dan berkesan bagiku. Pertama kali akua melihat wajah gadis kecil yang sangat cantik, tapi senyumnya juga jauh lebih cantik. Saat itu, matamu benar-benar memiliki binar yang cerah seolah tidak akan ada kegelapan di hidup mu.”Suran tidak mengatakan apapun, saat itu dia masih anak-anak, tentu saja semua yang dia ekspresikan adalah nyata, dan polos. “Sejak saat itu aku selalu berusaha untuk melihatmu walaupun harus dari jarak kejauhan.”Kali ini, Suran pun mulai merasa penasaran. “Lalu, semua yang terjadi belakangan ini... apa kau juga yang sengaja merencanakannya? Maksudku... pertemuan kita dan bagaimana kita akhirnya bisa dibilang agak akrab.”Greyson tertawa ringan, namun dia menjawab dengan serius. “Iya. Aku sengaja menjadi

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 143 Menikah Denganku

    Di ambang pintu Rey tersenyum. Pria itu sudah percaya diri tidak menggunakan topeng di hadapan Suran lagi. “Aku hanya merindukan mu, jadi aku tidak tahan lagi, dan memutuskan untuk segera datang,” jawab Rey. Suran membuang napas berat, bola matanya berputar jengah. “Omong kosong mu sudah selesai? Aku benar-benar tidak menyangka kalau kediaman Hideria bisa membuat mu keluar masuk sesuka hati.”Tidak nampak menyesal, Rey justru tersenyum lebar klau berjalan mendekati Suran. Ia duduk nyaman di seberang meja, menatap gadis itu dengan perasaan nyaman. “Beberapa waktu terakhir ini aku sibuk dengan berbagai macam hal, terutama melindungi mu dari pangeran ke 6. Kau benar-benar akan bersikap sinis seperti ini setelah apa yang aku lakukan untuk mu?”Sejenak Suran terdiam. Memang benar belakangan ini dia mengetahui pergerakan pangeran ke-6, mulai dari ingin memfitnah Suran, menyebarkan gosip tentang hubungan mereka, dan berbagai macam cara yang bahkan sampai mengarah pada kekerasan secara men

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 142 Suasana Tenang

    Meski Linira menolak hukuman itu, nyatanya tak ada satupun yang bisa menolongnya. Dulu, Ibunya yang selalu mencari cara untuk menyelematkan dirinya, namun sekarang dang Ibu telah tiada, bahkan penyebabnya adalah dia yang sebagai anak kandung. LInira pun menangis. Tiba-tiba ia mulai tersadar kalau ia salah telah membunuh Ibunya, ia salah karena hanya memikirkan diri sendiri, ia salah karena terbawa obsesi bodoh hingga tega mengakhiri hidup Ibunya sendiri. “Ibu, aku minta maaf... aku tidak mau begini, aku mau dengan Ibu di sini. Ibu... aku benar-benar menyesal.” Sayangnya, penyesalan itu tidak memiliki arti apapun. Sebesar gunung penyesalan itu bahkan tidak akan membawa kembali Ibunya yang sudah tiada. Akhirnya, Linira dipaksa mengambil posisi hingga tali kokoh dipasang di lehernya setelah kepalanya di tutup. Dia tidak bisa mengatakan apapun lagi karena mulutnya disumpal kain hingga penuh. Air matanya terus mengalir hingga kain penutup kepalanya ikut tekena bercak air mata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status