分享

Bab 13

作者: Antonia
Seluruh tubuh Aji bergetar hebat.

"Cara pandangmu padanya sudah berbeda! Kamu bisa mengernyitkan dahi cuma karena dia berlutut di tengah salju. Kamu bisa merasa kesal cuma karena air matanya dan kamu bisa murka cuma karena kalimatnya yang berkata 'Yang Mulia boleh menambah selir'! Kamu pikir kamu menyembunyikannya dengan sangat baik? Aku bisa melihat semuanya!"

Ranti meneteskan air mata, tetapi dia tetap tertawa. "Kamu tahu kenapa aku bersikeras menginginkan anak keduanya? Bukan karena aku ingin
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 21

    "Aku dengar kabar ... dia sudah mati."Ranti tiba-tiba tertawa. Suara tawanya terdengar parau dan serak seperti embusan angin dari alat tua yang rusak. "Di saat-saat terakhirnya, nama yang dia panggil adalah namamu."Arum diam."Kamu tahu bagaimana aku menghabiskan 15 tahun terakhir ini?"Ranti menatapnya. "Aku melihatmu naik selangkah demi selangkah, melihat putramu menjadi Putra Mahkota, melihatmu menjadi Ibu Suri. Sementara aku, membusuk di sini seperti anjing!""Itu ganjaran yang layak untukmu," ucap Arum dengan tenang."Layak?"Ranti tertawa melengking. "Ya! Aku layak! Aku memang pantas! Tapi, kamu? Arum, apa kamu bahagia selama 15 tahun terakhir ini?"Arum menatapnya. "Apa itu penting?""Penting!" teriak Ranti parau. "Aku harus tahu kalau meski aku kalah, kamu belum tentu menang! Kamu menjadi Ibu Suri yang dihormati, tapi bagaimana dengan hatimu? Orang yang kamu pernah cintai membencimu, orang yang kamu benci sudah mati. Seumur hidupmu, kamu ditakdirkan sebatang kara!"Arum terdi

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 20

    Kabar mengenai kembalinya Arum ke istana bagaikan sebongkah batu raksasa yang dilemparkan ke permukaan danau yang tenang, memicu gelombang yang dahsyat.Seluruh istana dan kalangan pejabat terkejut, sementara harem pun gempar.Akan tetapi, Aji menggunakan kekuasaan mutlaknya untuk menekan dan membungkam semua keraguan yang ada.Dia mengumumkan bahwa sang Permaisuri saat itu dijebak oleh kaki tangan penjahat, sehingga terpaksa memalsukan kematiannya demi menyelamatkan diri.Kini, setelah kebenaran terungkap sepenuhnya, sudah sepatutnya dia disambut kembali ke istana.Tidak ada satu orang pun yang berani membantah.Sebab, mantan Permaisuri dari Keluarga Wirasana masih dikurung di dalam Istana Pengasingan dan semua pelayan istana yang terlibat dalam kasus tersebut telah dieksekusi.Tidak ada yang mau menjadi korban berikutnya.Arum pun kembali menempati Istana Pranaba.Segala sesuatu di sana masih sama seperti dulu, hanya saja kini ada tambahan jejak dari kedua anak mereka. Kuda kayu keci

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 19

    Upacara pengangkatan Putra Mahkota ditetapkan pada hari pertengahan musim kemarau.Hari itu, seluruh pejabat memberi penghormatan, dan seluruh rakyat menyaksikan upacara tersebut.Bayu yang baru berusia tiga tahun mengenakan jubah kebesaran Putra Mahkota berwarna kuning aprikot. Tangan kecilnya digandeng oleh Aji, berjalan selangkah demi selangkah menaiki tangga batu batu alam putih di depan Aula Harmoni Agung.Meski masih sangat kecil, bocah itu melangkah dengan sangat mantap. Sorot matanya memancarkan ketenangan yang melampaui usianya.Aji menatap putranya, lalu tiba-tiba teringat pada Arum. Mata anak ini benar-benar sangat mirip dengan wanita itu.Setelah upacara itu selesai, acara dilanjutkan dengan jamuan istana.Alunan musik dan tarian memenuhi ruangan, diiringi denting cawan-cawan anggur yang saling beradu dalam kemeriahan.Aji duduk di atas takhta Raja. Dia memandang kemewahan dan keramaian di dalam aula, tetapi hatinya terasa hampa.Dia teringat waktu-waktu seperti ini pada ta

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 18

    "Lalu, setelah itu?""Setelah itu, aku ingin Bayu menjadi Putra Mahkota yang sah."Arum menatap ayahnya. "Ayah, kerajaan ini kelak akan menjadi milik putraku dan juga milik keluarga kita. Kalau aku tidak memperjuangkannya, apa aku harus membiarkannya jatuh ke tangan sisa-sisa pengikut Keluarga Wirasana? Atau menyerahkannya kepada selir-selir lain yang mungkin akan muncul di masa depan?"Jantung Pandu berdegup kencang mendengarnya."Jadi, saat Ayah bertanya apa aku sudah memikirkannya matang-matang."Arum berkata dengan sangat tenang, "Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Mundur satu langkah berarti jatuh ke jurang tanpa dasar. Maju satu langkah, mungkin aku masih bisa memperjuangkan secercah jalan hidupku.""Dan jalan hidupmu ada di dalam istana?""Jalan hidupku ada di tanganku sendiri." Arum tersenyum tipis. "Apa bedanya di dalam atau di luar istana? Selama Bayu ada, selama keluarga kita tetap berdiri, aku pasti bisa bertahan hidup dengan baik di mana pun aku berada."Arum me

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 17

    Ketika kabar mengenai pemakzulan Permaisuri sampai ke kediaman luar, Arum sedang berjemur di halaman.Dayang Sumbi masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa sepucuk surat rahasia. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa gembira. "Nyonya, ada kabar dari istana. Yang Mulia telah memakzulkan Permaisuri! Nyonya Ranti telah dicopot dari gelarnya menjadi rakyat jelata dan diasingkan ke Istana Pengasingan!"Buku di tangan Arum sama sekali tidak bergerak. Dia hanya meliriknya sedikit. "Hmm."Dayang Sumbi tertegun. "Nyonya, Anda tidak senang?""Aku senang," ucap Arum datar. "Mengapa aku harus tidak senang?"Akan tetapi, di wajahnya memang sama sekali tidak menyiratkan kegembiraan.Dayang Sumbi ragu-ragu sejenak. "Nyonya, kalau sudah begini, situasinya menjadi lebih baik. Pangeran dan Tuan Putri akhirnya bisa mengakui Anda sebagai ibu mereka secara terang-terangan. Setelah beberapa waktu berlalu dan keadaan mulai tenang, mungkin Anda bisa ....""Bisa apa?" Arum memotong ucapannya. "Kembali ke ist

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 16

    Tiga hari kemudian, Pandu akhirnya sembuh dari sakitnya dan kembali memasuki istana.Aji menemuinya di Istana Kedaton.Baru setengah bulan mereka tidak bersua, uban di pelipis Penasihat Agung itu kini telah jauh lebih banyak. Gurat-gurat merah terlihat jelas di matanya dan raut wajahnya tampak begitu kuyu.Aji menatapnya, rasa bersalah di dalam dadanya kian dalam."Penasihat Agung Pandu, turut berduka cita." Dia menuangkan sendiri secangkir teh, lalu mendorongnya ke hadapan Pandu.Pandu mengucap terima kasih atas kemurahan hati sang Raja, tetapi sama sekali tidak menyentuh cangkir teh tersebut."Yang Mulia memanggil hamba ke istana, apa ada urusan tertentu?"Aji terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku telah menaikkan status Arum dengan gelar anumerta sebagai Permaisuri dan memindahkan makamnya ke makam kerajaan. Apa Penasihat Agung Pandu sudah mendengarnya?""Hamba sudah tahu," jawab Pandu dengan suara tenang. "Mewakili putri hamba, hamba mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya at

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status