Share

BAB 3

Author: Rainina
last update Huling Na-update: 2025-11-27 16:40:06

“Ya. Dia ada di dalam, kan?”

Adriana melihat dari kejauhan, Evelyn sudah menyerahkan tasnya pada wanita yang bertanya padanya untuk dibawakan.

“Ya, Nona, tapi sedang ada interview di dalam,” jawab wanita itu.

Menyadari Evelyn akan bergerak ke arahnya, Adriana dengan panik bergerak menuju arah berlawanan, memunggungi arah datang Evelyn. Semoga saja wanita itu tidak menyadari kehadiran Adriana di sana.

“Interview? Untuk posisi apa? Jarang ada yang interview langsung dengan ayahku.” Evelyn bertanya bingung.

“Sekretaris barunya, Nona.” Suara wanita yang mengikuti Evelyn terengah karena mengikuti langkahnya yang cepat.

“Oh, kau akan berhenti?” Evelyn akhirnya berhenti berjalan dan melihat ke arah wanita itu.

“Iya… saya akan menikah dan pindah keluar kota.” jawabnya canggung.

“Aku harus melihat langsung kandidatnya.” ucap Evelyn sambil kembali berjalan. Perlahan, ia mulai mendengus pelan. “Semoga sekretaris itu biasa saja seperti dirimu, dan bukan gold digger yang mengincar harta ayahku. Aku butuh orang yang tahu diri.”

Adriana yang sudah berbalik di ujung koridor memutar bola matanya. Wanita itu benar-benar berkepribadian buruk. Bagaimana bisa ia mengatakan hal seperti itu di depan wajah sekretaris ayahnya secara langsung?

Adriana mengintip dari balik tembok, hanya senyuman canggung yang terlihat di wajah sekretaris ayah Evelyn. Senyuman yang jelas mengatakan ia sudah sangat muak dengan perilaku Evelyn, tapi tidak memiliki kemampuan untuk melakukan apapun.

Bekerja di sekitar wanita itu pasti terasa begitu buruk. Tunggu… Adriana lupa memikirkan kemungkinan jika Evelyn ternyata bekerja di kantor milik ayah.

Adriana membeku sejenak, hingga suara sekretaris Victor yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya menyedarkan Adriana.

“Apa yang anda lakukan di sini?”

Untuk sesaat, Adriana membeku, sebelum syok di wajahnya berubah menjadi senyuman canggung. 

“Oh… saya… menyasar…” jawabnya gugup.

Sekretaris wanita itu menghela nafasnya, sementara Adriana baru menyadari kalau Evelyn sudah tidak berada di sana. Tampaknya, Evelyn sudah masuk ke ruang kerja ayahnya.

“Aku akan mengantarmu ke arah lift.”

Adriana mengangguk, menerima tawaran wanita itu. Ia melirik ke arahnya sesaat. Mencoba mencari kesempatan untuk bertanya tentang Evelyn.

“Apa yang tadi juga seorang kandidat lain?” tanyanya akhirnya, berpura-pura tidak tahu.

“Bukan.” wanita itu menjawab dengan nada malas. “Itu putri Tuan Victor.”

“Apa dia juga bekerja di sini?” tanya Adriana lagi, tidak ingin melewatkan kesempatan.

“Tidak.” wanita terdiam sejenak, terlihat berpikir. “Seharusnya iya. Tapi Nona Evelyn jarang ke kantor.”

“Oh…” Adriana mengangguk. Bagus, ia akan mencari cara untuk menghindar jika wanita itu sedang berada di kantor.

“Terima kasih.” Adriana tersenyum pada wanita itu saat ia akhirnya tiba di lift.

Setelah ini, ia akan menyiapkan rencananya dengan matang.

=

Victor Sterling.

Adriana tidak membuang waktunya lagi. Begitu ia sampai di rumahnya, yang pertama kali ia lakukan adalah mencari nama pria itu di internet.

Sebelumnya ia hanya fokus pada targetnya untuk menggoda siapa saja yang menjadi ayah Evelyn tanpa mempedulikan seperti apa rupa pria itu.

Sekarang ia merasa harus menggali lebih jauh.

Hal pertama yang Adriana dapatkan adalah fakta bahwa Victor sudah bercerai dari istrinya lebih dari lima belas tahun yang lalu. Tidak mengejutkan, bahkan itu kabar baik.

Tapi yang selanjutnya muncul dari portal berita benar-benar membuatnya terperangah. Nama pria itu beberapa kali muncul di portal gosip karena daftar wanita yang dikencaninya.

Aktris terkenal. Super model. Semua wanita-wanita yang terlalu tinggi jika dibandingkan dengan dirinya.  Apa Adriana bahkan punya kesempatan?

“Haaahhh…” Adriana menatap langit-langit dengan kesal.

Rasanya ia ingin menyerah saja.

Ya, benar. Untuk apa ia mempertahankan kebencian yang sudah bertahan selama bertahun-tahun ini? Ia hanya perlu mengabaikan Evelyn, dan wanita itu pasti akan menyerah dan melupakan semuanya.

Adriana memejamkan matanya, tubuh dan pikirannya sudah lelah. Besok, ia tidak akan datang ke Sterling Industries.

Dan ia akan mengirimkan email pengunduran dirinya dari posisi sekretaris Victor Sterling begitu pagi datang.

Hingga ponselnya berbunyi. Adriana meraih ponselnya dengan malas, matanya masih setengah tertutup hingga ia membaca pesan yang muncul di sana.

[Lihat apa yang dibelikan oleh kekasihku, romantis, kan?]

Sebuah foto yang menunjukkan jari Evelyn yang dihiasi cincin berlian terlampir di sana. Dengan tangan seorang pria yang menggenggam miliknya.

Adriana mengenal tangan itu dengan baik, itu adalah tangan milik Darren. Pria yang sama yang pernah mengatakan bahwa ia tidak bisa hidup tanpa dirinya.

Seketika itu juga, Adriana kembali berubah pikiran. Ia bangkit dari posisi berbaringnya dan meremas ponselnya dengan kesal.

Masa bodoh dengan daftar wanita yang dikencani oleh Victor sebelumnya. Apapun harganya, ia akan memiliki Victor Sterling dan membuat Evelyn menyesal pernah bertatapan mata dengannya.

Tangan Adriana mulai bergerak cepat, mengetikkan pesan balasan untuk wanita itu.

[Selamat. Kuharap dia cukup untukmu, karena aku sedang mengincar sesuatu yang jauh lebih berharga darinya.]

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 222

    Beberapa hari kemudian, di sebuah ruang private viewing butik perhiasan paling eksklusif di kota.Berbagai macam kotak beludru berisi kalung berlian, cincin, dan tiara bernilai jutaan dolar terhampar di atas meja kaca. Di sebelahnya, tumpukan katalog venue pernikahan dan sample dekorasi bunga dari wedding organizer kelas atas ikut memenuhi ruangan.Adriana duduk bersandar di sofa kulit yang empuk, menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya pelan. Merencanakan pesta pernikahan dengan Victor ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada yang ia bayangkan, apalagi dengan Victor yang bersikeras memberikan semua hal terbaik yang bisa dibeli dengan uang.Padahal ini bukan pertama kalinya Adriana merencanakan pesta pernikahan jika ia menghitung persiapan pernikahannya dengan Darren waktu itu.Melihat istrinya yang tampak kelelahan, Victor memberi isyarat tangan. Para staf butik dan perwakilan wedding organizer yang sejak tadi berdiri di ruangan itu langsung menunduk hormat dan bergegas

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 221

    "Bukannya... bukannya kau bilang kau mendapatkan penawaran kerja dari ayahku lagi?" tuntut Evelyn dengan suara bergetar, menatap lurus ke mata pria itu.Davian menatapnya dengan raut tak terbaca. "Ya.""Lalu? Apa kau tidak mengambilnya?" desak Evelyn. Langkah kakinya tanpa sadar maju mendekati Davian.Matanya memancarkan permohonan yang menyedihkan. "Kau sudah mendapatkan dokumennya waktu itu, kan? Kenapa kau harus repot-repot mencari pekerjaan di luar kota kalau posisimu di sini sudah aman?"Mendengar rentetan pertanyaan putus asa itu, Davian terdiam. Pria itu menatap wajah istrinya yang pucat pasi cukup lama, sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang dan berat.Rasa lelah perlahan menyapu raut wajah Davian yang selalu kaku. Mengingat tenggat waktu mereka yang tinggal menghitung hari, Davian sadar kebohongan impulsif yang ia ciptakan malam itu sudah tidak ada gunanya lagi untuk dipertahankan."Ah..." gumam Davian pelan. "Itu."Tanpa mengatakan apa-apa lagi untuk menjelaskan, Davia

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 220

    Adriana membuka pintu ruang kerja suaminya dengan perlahan. Pikirannya masih tertinggal pada satu kata lirih yang baru saja menyapa telinganya di lorong tadi. Victor mendongak dari balik tumpukan dokumennya. Melihat raut wajah istrinya yang tampak sedikit tertegun, pria paruh baya itu segera meletakkan penanya."Ada apa, Sayang? Kau berpapasan dengannya di luar?" tanya Victor. Suara baritonnya mengalun tenang, menyambut kedatangan Adriana.Adriana mengangguk pelan. Ia melangkah mendekati meja kerja Victor dan duduk di kursi tepat di hadapan suaminya. Mengingat sejarah panjang permusuhan dan kebencian Evelyn padanya, wajar jika Adriana merasa khawatir rencana pesta pernikahan ini akan kembali memicu amukan dari putri tirinya itu."Apa Evelyn bisa menerimanya?" tanya Adriana langsung pada intinya.Victor menyandarkan punggung tegapnya ke kursi kulit kebesarannya. Ekspresi wajahnya menunjukkan keheranan yang sama persis dengan yang dirasakan istrinya saat ini."Ya" jawab Victor pelan.

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 219

    "Aku dan Adriana akan mengadakan pesta pernikahan."Itu adalah kalimat pertama yang menyambut Evelyn begitu ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Tidak ada basa-basi ataupun sapaan hangat yang diberikan Ayah Evekyn itu.Pagi tadi, Victor tiba-tiba memanggilnya datang ke rumah utama. Panggilan itu sempat membuat Evelyn bertanya-tanya dengan dada berdebar. Apa yang membuat ayahnya mendadak mengundangnya setelah berhari-hari membiarkannya ‘diasingkan’ di paviliun tanpa gangguan apa pun? Apakah ayahnya tahu tentang kekacauan di dapur tadi pagi? Ataukah tentang kontrak pernikahannya dengan Davian?Ternyata, dugaannya salah. Ini tentang Adriana."Oh." gumam Evelyn pelan.Hanya satu kata itu yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Memangnya, apa lagi yang harus Evelyn bilang? Ia tidak terkejut. Wanita itu sudah tahu soal status mereka sejak ia memergoki Davian mengerjakan rancangan pernikahan waktu itu.Melihat respons putrinya yang luar biasa datar, Victor menautkan alisnya.

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 218

    Jeritan tertahan meluncur dari bibir Evelyn. Wanita itu menarik tangannya secepat kilat. Rasa panas yang menyengat langsung menjalar dari kulit telapak tangannya yang melepuh.Evelyn menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Nyeri yang tajam membuat matanya seketika memanas. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Evelyn, Tapi, Nona Sterling itu menolak menyerah. Ia menahan isak tangis di tenggorokannya, memaksakan diri meraih spatula itu kembali dengan tangannya yang gemetar, berniat melanjutkan membalik sosis yang mulai mengeluarkan asap hitam."Kenapa anda berteriak?" Sebuah suara bariton yang berat dan serak khas orang bangun tidur tiba-tiba terdengar dari arah pintu kamar.Evelyn tersentak hebat hingga spatulanya kembali terlepas. Ia menoleh dengan panik. Di ambang pintu, Davian berdiri dengan rambut yang sedikit berantakan dan kaus tidur yang melekat di tubuh tegapnya. Pria itu menatap lurus ke arah Evelyn, lalu tatapannya beralih menyapu pemandangan dapur yang hancur berantakan

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 217

    Adriana tersenyum manis, hatinya menghangat mendengar pujian suaminya yang selalu berhasil meruntuhkan segala keraguannya. Matanya kembali menatap lembaran sketsa di atas map coklat itu. Setelah menimbang-nimbang sejenak, jari telunjuknya akhirnya berhenti pada salah satu desain.Gaun itu berpotongan A-line dengan kerah off-shoulder berenda klasik. Siluetnya jatuh dengan sangat elegan, tidak terlalu ketat di bagian perut, memberikan kesan mewah tanpa terlihat berlebihan."Aku suka yang ini." bisik Adriana lembut. "Sederhana, tapi sangat cantik."Victor menunduk, menatap sekilas sketsa yang ditunjuk istrinya sebelum pandangannya kembali terkunci pada bibir Adriana."Pilihan yang sempurna." puji Victor dengan suara serak yang berat. "Sama sempurnanya dengan wanita yang akan memakainya."Sebelum Adriana sempat merespons gombalan maut itu, tangan Victor yang berada di tengkuk istrinya memberikan tarikan lembut. Pria itu menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam. Map coklat d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status