Masuk“Ehem.” Adriana berdehem pelan, merasa canggung dengan diam yang sudah berlangsung sejak ia masuk ke ruangan milik Victor Sterling.
Pria itu masih membolak-balik resume miliknya, membaca dengan seksama. Adriana mulai merasa tidak nyaman dengan posisi duduknya, sehingga secara refleks ia menutupi pahanya yang tersingkap dengan tas.
Tunggu. Bukankah ini justru bertentangan dengan tujuan Adriana datang kemari?
Dengan perlahan, Adriana menurunkan tas itu dari pangkuannya. Adriana membiarkan helaian rambutnya jatuh menyapu bahu, kemudian menyisihkannya ke belakang telinga perlahan dengan ujung jari.
Berada dalam kompetisi yang terus berjalan dengan Evelyn telah mengajarkan Adriana banyak cara menggoda seorang laki-laki. Dan diantara semuanya, cara halus itu selalu berhasil mencuri fokus.
Adriana menarik tubuhnya lebih tegak, mengatur agar bahunya rileks, lehernya terekspos lebih jelas saat ia menoleh sedikit ke samping. Berpura-pura tertarik pada apapun yang berada di sudut ruangan.
Tidak ada gerakan berlebihan, hanya sedikit perubahan postur untuk menarik perhatian Victor ke arah yang ia inginkan.
Hingga Adriana kembali menolehkan wajahnya dan tatapan mereka kembali bertemu, Adriana menunjukkan senyuman lembut di wajahnya. Untuk sesaat Adriana menangkap perubahan halus pada Victor, tarikan napas pria itu sedikit lebih berat, rahangnya mengeras walau hanya untuk waktu yang singkat.
Dan itu saja sudah cukup bagi Adriana. Ia tahu tepat kapan sesuatu mulai bekerja. Pria itu kembali mengalihkan perhatiannya pada kertas yang berada di hadapannya. Sementara Adriana memanfaatkan waktu itu untuk memperhatikan wajahnya dengan lekat.
Tentu, siapapun tahu bahwa Evelyn datang dari keluarga kaya. Evelyn terlalu sombong untuk tidak memamerkan fakta itu.Tapi Adriana tidak pernah membayangkan seperti apa ayah Evelyn itu sebelumnya.
Ia mengira akan bertemu pria tua dengan perut buncit yang lengkap dengan sikap arogan.
Tapi yang duduk di hadapannya adalah pria dengan tubuh tegap, bahu lebar, dan tatapan yang mampu membuat wanita seumuran Adriana menggila.
“Adriana Brown.” Akhirnya Victor bersuara. Suaranya yang rendah dan berat terasa merayap di kulitnya.
“Ya?” jawab Adriana pelan.
“Aku sudah melihat resumemu.” Victor meletakkan berkas itu di meja. “Kau lulus kuliah dengan nilai terbaik. Pengalaman kerja relevan. Dan saat background check, kami mendengar cukup banyak pujian.”
Ia menautkan jari-jarinya. “Aku cukup terkesan.”
“Benarkah?” Adriana tersenyum kecil, menyingkirkan rambut ke belakang telinga. “Saya senang mendengarnya.”
“Ya.” Victor bersandar ke kursi. “Semua hasil tesmu juga merupakan yang terbaik dibanding kandidat lainnya. Itu membuatku bertanya-tanya.”
Adriana mengerjap. “Maksud Anda, Tuan?”
Tatapan Victor turun ke kaki Adriana yang masih bersilang. Dan menyusuri tubuhnya perlahan.
“Kenapa kau berpakaian,” tatapan itu akhirnya jatuh di mata Adriana, membuat nafasnya tercekat. “dan bertingkah seolah kau sedang menawarkan hal lain padaku?”
Adriana yang tidak menyangka perkataan itu sedikit terkaget. Tapi dengan cepat ia menguasai dirinya dan kembali tersenyum. Tentu saja, seseorang yang memiliki perusahaan terbesar di kota ini tidak mungkin begitu mudah ditipu.
Tangannya yang tadinya beristirahat di pangkuan naik pelan ke lututnya, gerakannya lembut, berusaha menyembunyikan niatnya.
“Saya datang kemari untuk mengisi posisi yang ditawarkan perusahaan Anda.” Adriana menjawab dengan suara lembut yang tenang. “Dan seperti yang Anda lihat pada resume saya, saya benar-benar serius mengenai hal ini.”
Adriana mencondongkan tubuhnya sedikit, sambil tetap menjaga batas aman diantara mereka berdua.
“Jika Anda mengira bahwa saya menawarkan hal lainnya… mungkin itu hanyalah prasangka anda, Tuan Victor.” Matanya menatap langsung tanpa berkedip. “…karena Anda yang menginginkan hal lain.”
Tatapan pria itu sama sekali tidak berubah, masih tajam dan terlihat menilai. Untuk sesaat, Adriana mengutuk keberaniannya yang tiba-tiba terasa lancang. Apa dia sudah salah memilih target?
“Hah...” dengusan pelan terdengar dari mulut pria itu yang diiringi dengan senyuman miring. Hanya sesaat, karena detik selanjutnya pria itu kembali fokus pada dokumen di hadapannya.
“Karirmu di perusahaan sebelumnya cukup baik dan stabil. Kudengar kau juga ditawarkan promosi. Jadi apa yang membuatmu ingin pindah kemari?”
Boss di perusahaan sebelumnya tidak cukup untuk membuat Evelyn menggila. Tapi tentu saja Adriana menelan jawaban itu, dan berusaha untuk tetap terlihat profesional.
“Perusahaan Anda adalah yang terbaik di kota ini. Sama seperti orang lain, saya ingin sesuatu yang lebih.” Adriana terdiam sejenak sebelum melanjutkan jawabannya. “Sesuatu yang hanya bisa ditawarkan oleh Anda… dan perusahaan Anda.”
Victor memperhatikannya dengan seksama. “Kau terlihat ambisius.”
“Untuk seseorang yang memiliki perusahaan sebesar ini, saya rasa Anda jauh lebih ambisius dibandingkan saya.”
Victor mengangguk kecil, mengakui poin itu.
“Perusahaan yang lebih besar berarti ritme kerja yang lebih cepat. Kau mungkin akan mengorbankan kenyamanan yang didapat tempat kerjamu sebelumnya.”
“Tidak masalah.” Jawab Adriana tanpa ragu. “Saya tahu apa konsekuensinya. Sesuatu yang lebih akan menuntut saya untuk memberikan lebih.”
“Aku tidak mentoleransi kesalahan apapun.” jawab Victor lagi. “Bahkan atas nama adaptasi, terutama melihat bagaimana pengalamanmu sebelumnya, aku punya begitu banyak ekspektasi.”
“Saya mengerti.” ujarnya pelan. “Dan saya tidak datang ke sini untuk meminta toleransi, Tuan Sterling. Saya datang karena saya tahu saya bisa memenuhi standar Anda.”
Keheningan mengisi ruangan untuk beberapa saat, tapi tatapan Victor masih tidak lepas dari Adriana. Dan dibalik senyuman yang berusaha tetap ia pertahankan, Adriana dapat merasakan jantungnya berdebar dengan keras.
Adriana bukan orang yang percaya diri. Berbeda dengan Evelyn, Adriana punya begitu banyak perasaan cemas dalam dirinya. Ia selalu cemas ketika seseorang menatap dirinya dengan tatapan menilai.
Tapi tahun-tahun penuh persaingan dengan Evelyn membuatnya mampu menahan segala macam kecemasan yang datang atas dasar satu hal, rasa benci jika Evelyn lebih unggul dari dirinya.
“Baiklah.” ucap Victor tiba-tiba. “Kau bisa mulai minggu depan.”
=
Adriana menghembuskan nafas lega saat ia akhirnya keluar dari ruangan Victor Sterling. Dadanya masih berdebar dengan kencang. Ruangan itu, walau begitu luas terasa begitu menyesakkan.
Mungkin karena Adriana sudah lama tidak melakukan hal seperti ini. Dan lagi targetnya kali ini bukanlah pria muda yang dikencani oleh Evelyn, tapi ayahnya. Fakta itu sudah cukup membuatnya merasa jauh lebih tertekan.
Adriana berniat melanjutkan langkahnya untuk pergi ketika ia tiba-tiba mendengar suara lain dari arah jalan keluarnya.
“Nona Evelyn.”
Adriana terperanjat saat mendengar nama itu.
“Apa anda ingin bertemu dengan ayah anda?”
Beberapa hari kemudian, di sebuah ruang private viewing butik perhiasan paling eksklusif di kota.Berbagai macam kotak beludru berisi kalung berlian, cincin, dan tiara bernilai jutaan dolar terhampar di atas meja kaca. Di sebelahnya, tumpukan katalog venue pernikahan dan sample dekorasi bunga dari wedding organizer kelas atas ikut memenuhi ruangan.Adriana duduk bersandar di sofa kulit yang empuk, menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya pelan. Merencanakan pesta pernikahan dengan Victor ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada yang ia bayangkan, apalagi dengan Victor yang bersikeras memberikan semua hal terbaik yang bisa dibeli dengan uang.Padahal ini bukan pertama kalinya Adriana merencanakan pesta pernikahan jika ia menghitung persiapan pernikahannya dengan Darren waktu itu.Melihat istrinya yang tampak kelelahan, Victor memberi isyarat tangan. Para staf butik dan perwakilan wedding organizer yang sejak tadi berdiri di ruangan itu langsung menunduk hormat dan bergegas
"Bukannya... bukannya kau bilang kau mendapatkan penawaran kerja dari ayahku lagi?" tuntut Evelyn dengan suara bergetar, menatap lurus ke mata pria itu.Davian menatapnya dengan raut tak terbaca. "Ya.""Lalu? Apa kau tidak mengambilnya?" desak Evelyn. Langkah kakinya tanpa sadar maju mendekati Davian.Matanya memancarkan permohonan yang menyedihkan. "Kau sudah mendapatkan dokumennya waktu itu, kan? Kenapa kau harus repot-repot mencari pekerjaan di luar kota kalau posisimu di sini sudah aman?"Mendengar rentetan pertanyaan putus asa itu, Davian terdiam. Pria itu menatap wajah istrinya yang pucat pasi cukup lama, sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang dan berat.Rasa lelah perlahan menyapu raut wajah Davian yang selalu kaku. Mengingat tenggat waktu mereka yang tinggal menghitung hari, Davian sadar kebohongan impulsif yang ia ciptakan malam itu sudah tidak ada gunanya lagi untuk dipertahankan."Ah..." gumam Davian pelan. "Itu."Tanpa mengatakan apa-apa lagi untuk menjelaskan, Davia
Adriana membuka pintu ruang kerja suaminya dengan perlahan. Pikirannya masih tertinggal pada satu kata lirih yang baru saja menyapa telinganya di lorong tadi. Victor mendongak dari balik tumpukan dokumennya. Melihat raut wajah istrinya yang tampak sedikit tertegun, pria paruh baya itu segera meletakkan penanya."Ada apa, Sayang? Kau berpapasan dengannya di luar?" tanya Victor. Suara baritonnya mengalun tenang, menyambut kedatangan Adriana.Adriana mengangguk pelan. Ia melangkah mendekati meja kerja Victor dan duduk di kursi tepat di hadapan suaminya. Mengingat sejarah panjang permusuhan dan kebencian Evelyn padanya, wajar jika Adriana merasa khawatir rencana pesta pernikahan ini akan kembali memicu amukan dari putri tirinya itu."Apa Evelyn bisa menerimanya?" tanya Adriana langsung pada intinya.Victor menyandarkan punggung tegapnya ke kursi kulit kebesarannya. Ekspresi wajahnya menunjukkan keheranan yang sama persis dengan yang dirasakan istrinya saat ini."Ya" jawab Victor pelan.
"Aku dan Adriana akan mengadakan pesta pernikahan."Itu adalah kalimat pertama yang menyambut Evelyn begitu ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Tidak ada basa-basi ataupun sapaan hangat yang diberikan Ayah Evekyn itu.Pagi tadi, Victor tiba-tiba memanggilnya datang ke rumah utama. Panggilan itu sempat membuat Evelyn bertanya-tanya dengan dada berdebar. Apa yang membuat ayahnya mendadak mengundangnya setelah berhari-hari membiarkannya ‘diasingkan’ di paviliun tanpa gangguan apa pun? Apakah ayahnya tahu tentang kekacauan di dapur tadi pagi? Ataukah tentang kontrak pernikahannya dengan Davian?Ternyata, dugaannya salah. Ini tentang Adriana."Oh." gumam Evelyn pelan.Hanya satu kata itu yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Memangnya, apa lagi yang harus Evelyn bilang? Ia tidak terkejut. Wanita itu sudah tahu soal status mereka sejak ia memergoki Davian mengerjakan rancangan pernikahan waktu itu.Melihat respons putrinya yang luar biasa datar, Victor menautkan alisnya.
Jeritan tertahan meluncur dari bibir Evelyn. Wanita itu menarik tangannya secepat kilat. Rasa panas yang menyengat langsung menjalar dari kulit telapak tangannya yang melepuh.Evelyn menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Nyeri yang tajam membuat matanya seketika memanas. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Evelyn, Tapi, Nona Sterling itu menolak menyerah. Ia menahan isak tangis di tenggorokannya, memaksakan diri meraih spatula itu kembali dengan tangannya yang gemetar, berniat melanjutkan membalik sosis yang mulai mengeluarkan asap hitam."Kenapa anda berteriak?" Sebuah suara bariton yang berat dan serak khas orang bangun tidur tiba-tiba terdengar dari arah pintu kamar.Evelyn tersentak hebat hingga spatulanya kembali terlepas. Ia menoleh dengan panik. Di ambang pintu, Davian berdiri dengan rambut yang sedikit berantakan dan kaus tidur yang melekat di tubuh tegapnya. Pria itu menatap lurus ke arah Evelyn, lalu tatapannya beralih menyapu pemandangan dapur yang hancur berantakan
Adriana tersenyum manis, hatinya menghangat mendengar pujian suaminya yang selalu berhasil meruntuhkan segala keraguannya. Matanya kembali menatap lembaran sketsa di atas map coklat itu. Setelah menimbang-nimbang sejenak, jari telunjuknya akhirnya berhenti pada salah satu desain.Gaun itu berpotongan A-line dengan kerah off-shoulder berenda klasik. Siluetnya jatuh dengan sangat elegan, tidak terlalu ketat di bagian perut, memberikan kesan mewah tanpa terlihat berlebihan."Aku suka yang ini." bisik Adriana lembut. "Sederhana, tapi sangat cantik."Victor menunduk, menatap sekilas sketsa yang ditunjuk istrinya sebelum pandangannya kembali terkunci pada bibir Adriana."Pilihan yang sempurna." puji Victor dengan suara serak yang berat. "Sama sempurnanya dengan wanita yang akan memakainya."Sebelum Adriana sempat merespons gombalan maut itu, tangan Victor yang berada di tengkuk istrinya memberikan tarikan lembut. Pria itu menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam. Map coklat d







