Share

BAB 5

Author: Rainina
last update Last Updated: 2025-11-27 16:40:41

Wajah Adriana memerah dengan hebat saat mendengarkan perkataan Victor.

Adriana melupakan fakta bahwa pria itu berbeda dengan para pria muda bodoh yang begitu mudah digoda. Pria itu punya lebih banyak pengalaman, dan dia mungkin adalah predator sebenarnya di sini.

Adriana masih berdiri di tengah ruangan itu, tapi Victor sudah kembali duduk di mejanya. Mengabaikan Adriana sepenuhnya dan memenuhi ruangan dengan suara keyboard.

Adriana menunduk akibat rasa malu yang menyusup dalam dirinya. “Saya permisi dulu.”

Adriana tidak menunggu jawaban dari victor dan segera keluar dari ruangan dengan gerakan terburu. Begitu pintu tertutup ia langsung menutup wajahnya dengan dokumen yang masih ia pegang.

“Aaaaa…” Adriana berteriak pelan, ia ingin pulang. Ia bahkan ingin segera berhenti bekerja. Perkataan Victor benar-benar merusak kepercayaan dirinya.

Kenapa ayah dan anak itu begitu mirip dalam hal seperti ini? Adriana sudah benar-benar berjalan dengan begitu lemas ke mejanya ketika lagi-lagi ponselnya berbunyi.

Adriana menghela nafas lelah, sudah bisa menebak siapa yang mengirim pesan untuk dirinya, tapi tetap saja tangannya membuka pesan itu secara otomatis.

Sebuah video. Adriana membukanya dengan gerakan malas.

“Menurutmu mana yang lebih bagus? Ini?” Evelyn menunjukkan sebuah gaun putuh yang masih digunakan sebuah manequin. Lalu bergerak ke sebelahnya setelah menunjukkan menunjukkannya ke kamera. “Atau yang ini?”

“Oh, tapi Darren sepertinya lebih suka yang ini.” Wanita itu berjalan ke tempat pajangan yang lain. Menunjukkan sebuah gaun mermaid. “Aku benar-benar bingung, bagaimana menurutmu?”

“Siapa yang kamu hubungi?” suara seorang pria yang sangat dikenali oleh Adriana terdengar di belakang kamera.

“Adriana.” Evelyne menjawab dengan cerita, tapi sedetik kemudian, kamera itu terguncang karena sepertinya ponselnya direbut oleh Darren.

Dan video itu berhenti di sana. Adriana bisa merasakan darahnya mendidih. Menjijikkan sekali, padahal jika ia tidak berselingkuh, saat ini ia mungkin sudah menjadi istri Darren.

Tapi pria itu justru memilih berselingkuh dan bahkan sudah merencanakan pernikahan dengan wanita itu dalam waktu singkat?

Padahal Adriana sudah menceritakan semua kebusukan Evelyn pada pria itu dan persaingannya dengan Evelyn sejak mereka masih berkuliah dulu.

Adriana menggenggam ponselnya dengan begitu erat. Berani-beraninya…

“Apa kamu baik-baik saja?” Davian, asisten Victor yang entah sejak kapan sudah berdiri tidak jauh dari Adriana bertanya dengan wajah bingung.

Tidak mengherankan, karena Adriana berhenti hanya beberapa langkah dari mejanya dan wajahnya pasti terlihat seperti penuh emosi saat ini.

“Ah, tidak apa-apa. Aku hanya membaca beberapa instruksi yang diberikan Tuan Victor.” Davian mengangguk pelan dan melanjutkan langkahnya ke ruang Victor tanpa bertanya lagi.

Adriana akhirnya duduk di mejanya. Semua perasaan ingin menyerah yang tadi ia rasakan sudah kembali menguap. 

Jika ia berhasil merebut hati Victor dan Evelyn mengetahuinya, Adriana harus mengingat untuk memberitahu Evelyn ini adalah salahnya sendiri sehingga Adriana terus memutuskan tidak jadi mundur.

=

Keesokan harinya, penampilan Adriana kembali berubah. Tidak, ia tidak merubahnya karena malu dengan reaksi yang diberikan oleh Victor kemarin.

Tapi karena ia menghabiskan sepanjang malam untuk mempelajari gaya berpakaian para mantan kekasih pria itu yang diketahui oleh media.

Wanita-wanita itu jauh lebih dewasa dari Adriana, dan mereka berpakaian dengan jauh lebih berkelas juga. Mungkin gaya seperti itulah yang seharusnya dikejar oleh Adriana.

Alih-alih pakaian yang terlalu pendek atau garis leher yang terlalu rendah, Adriana menggunakan rok pensil yang dipadukan dengan blouse putih biasa.

Ia tidak lagi ingin menonjolkan bentuk tubuhnya, tapi fakta bahwa ia bisa menjadi apa yang Victor sukai.

“Tuan, ini kopi anda.”

Adriana masuk dengan nampan berisi kopi di tangannya dan berjalan untuk meletakkannya di meja milik pria itu.

“Hmm…” Victor hanya menjawab dengan gumaman, matanya fokus pada dokumen di tangannya sambil berdiri membelakangi jendela besar di belakangnya.

Adriana memperhatikan pria itu sambil berjalan. Bagaimana kacamatanya menggantung di hidung tinggi pria itu dan bagaimana cahaya matahari jatuh tepat pada dirinya.

Adriana menggigit bagian dalam pipinya, mencoba menyembunyikan ekspresi di wajahnya.

Apa pria seumuran Victor bisa diizinkan untuk terlihat setampan itu? Bagaimana bisa?

“Meeting dengan client siang ini akan dilaksanakan di restaurant tidak jauh dari sini. Saya sudah memberitahu supir untuk bersiap.” ucap Adriana, mengingatkan Victor pada jadwal siangnya.

“Oke.” pria itu hanya menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangannya. Harusnya itu adalah tanda Adriana untuk mengundurkan diri dari ruangan itu.

Tapi ia masih memperhatikan pria itu hingga pandangannya jatuh pada dasinya yang sedikit berantakan. Sesuatu menggelitik di pikiran Adriana. 

Mungkin ini kesempatannya untuk membuat pria itu memperhatikannya.

“Tuan.” Adriana berjalan ke pria itu perlahan. “Dasi anda sedikit berantakan. Apa anda ingin saya membantu merapikannya sedikit?”

Victor tidak menjawab, tapi ia juga tidak menjauh atau menolak tawaran itu. Keheningan itu dianggap Adriana sebagai izin.

Dengan jantung yang mulai berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, Adriana melangkah maju. Mengikis jarak yang sebelumnya ada diantara mereka. Adriana merasa nafasnya tercekat saat aroma parfum yang dikenakan pria itu masuk ke penciumannya.

“Permisi,” gumam Adriana pelan, suaranya terdengar lebih serak dari yang ia rencanakan.

Tangan Adriana terangkat, jemarinya yang lentik menyentuh kerah kemeja Victor dengan gerakan hati-hati. Victor masih diam, namun Adriana bisa merasakan tatapan pria itu turun, memperhatikan setiap gerakan tangan Adriana di lehernya.

Adriana melonggarkan sedikit simpul dasi sutra berwarna gelap itu sebelum menariknya kembali agar lebih rapi. Gerakan yang memaksanya untuk sedikit berjinjit dan mencondongkan tubuh. Tapi Adriana, tentu saja memanfaatkannya untuk berdiri jauh lebih dekat dari seharusnya.

Adriana memberanikan diri untuk mendongak. Dan tepat saat itu, manik matanya bertabrakan langsung dengan mata Victor yang tajam.

Mereka saling bertatapan untuk waktu yang lama. Tidak ada yang bergerak maupun berbicara. Hingga pintu ruang kerja Victor terbuka dengan tiba-tiba.

Seorang wanita cantik yang terlihat beberapa tahun lebih tua dari Adriana masuk dengan wajah keheranan melihat kedekatan Victor dan Adriana.

“Sayang?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 222

    Beberapa hari kemudian, di sebuah ruang private viewing butik perhiasan paling eksklusif di kota.Berbagai macam kotak beludru berisi kalung berlian, cincin, dan tiara bernilai jutaan dolar terhampar di atas meja kaca. Di sebelahnya, tumpukan katalog venue pernikahan dan sample dekorasi bunga dari wedding organizer kelas atas ikut memenuhi ruangan.Adriana duduk bersandar di sofa kulit yang empuk, menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya pelan. Merencanakan pesta pernikahan dengan Victor ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada yang ia bayangkan, apalagi dengan Victor yang bersikeras memberikan semua hal terbaik yang bisa dibeli dengan uang.Padahal ini bukan pertama kalinya Adriana merencanakan pesta pernikahan jika ia menghitung persiapan pernikahannya dengan Darren waktu itu.Melihat istrinya yang tampak kelelahan, Victor memberi isyarat tangan. Para staf butik dan perwakilan wedding organizer yang sejak tadi berdiri di ruangan itu langsung menunduk hormat dan bergegas

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 221

    "Bukannya... bukannya kau bilang kau mendapatkan penawaran kerja dari ayahku lagi?" tuntut Evelyn dengan suara bergetar, menatap lurus ke mata pria itu.Davian menatapnya dengan raut tak terbaca. "Ya.""Lalu? Apa kau tidak mengambilnya?" desak Evelyn. Langkah kakinya tanpa sadar maju mendekati Davian.Matanya memancarkan permohonan yang menyedihkan. "Kau sudah mendapatkan dokumennya waktu itu, kan? Kenapa kau harus repot-repot mencari pekerjaan di luar kota kalau posisimu di sini sudah aman?"Mendengar rentetan pertanyaan putus asa itu, Davian terdiam. Pria itu menatap wajah istrinya yang pucat pasi cukup lama, sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang dan berat.Rasa lelah perlahan menyapu raut wajah Davian yang selalu kaku. Mengingat tenggat waktu mereka yang tinggal menghitung hari, Davian sadar kebohongan impulsif yang ia ciptakan malam itu sudah tidak ada gunanya lagi untuk dipertahankan."Ah..." gumam Davian pelan. "Itu."Tanpa mengatakan apa-apa lagi untuk menjelaskan, Davia

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 220

    Adriana membuka pintu ruang kerja suaminya dengan perlahan. Pikirannya masih tertinggal pada satu kata lirih yang baru saja menyapa telinganya di lorong tadi. Victor mendongak dari balik tumpukan dokumennya. Melihat raut wajah istrinya yang tampak sedikit tertegun, pria paruh baya itu segera meletakkan penanya."Ada apa, Sayang? Kau berpapasan dengannya di luar?" tanya Victor. Suara baritonnya mengalun tenang, menyambut kedatangan Adriana.Adriana mengangguk pelan. Ia melangkah mendekati meja kerja Victor dan duduk di kursi tepat di hadapan suaminya. Mengingat sejarah panjang permusuhan dan kebencian Evelyn padanya, wajar jika Adriana merasa khawatir rencana pesta pernikahan ini akan kembali memicu amukan dari putri tirinya itu."Apa Evelyn bisa menerimanya?" tanya Adriana langsung pada intinya.Victor menyandarkan punggung tegapnya ke kursi kulit kebesarannya. Ekspresi wajahnya menunjukkan keheranan yang sama persis dengan yang dirasakan istrinya saat ini."Ya" jawab Victor pelan.

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 219

    "Aku dan Adriana akan mengadakan pesta pernikahan."Itu adalah kalimat pertama yang menyambut Evelyn begitu ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Tidak ada basa-basi ataupun sapaan hangat yang diberikan Ayah Evekyn itu.Pagi tadi, Victor tiba-tiba memanggilnya datang ke rumah utama. Panggilan itu sempat membuat Evelyn bertanya-tanya dengan dada berdebar. Apa yang membuat ayahnya mendadak mengundangnya setelah berhari-hari membiarkannya ‘diasingkan’ di paviliun tanpa gangguan apa pun? Apakah ayahnya tahu tentang kekacauan di dapur tadi pagi? Ataukah tentang kontrak pernikahannya dengan Davian?Ternyata, dugaannya salah. Ini tentang Adriana."Oh." gumam Evelyn pelan.Hanya satu kata itu yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Memangnya, apa lagi yang harus Evelyn bilang? Ia tidak terkejut. Wanita itu sudah tahu soal status mereka sejak ia memergoki Davian mengerjakan rancangan pernikahan waktu itu.Melihat respons putrinya yang luar biasa datar, Victor menautkan alisnya.

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 218

    Jeritan tertahan meluncur dari bibir Evelyn. Wanita itu menarik tangannya secepat kilat. Rasa panas yang menyengat langsung menjalar dari kulit telapak tangannya yang melepuh.Evelyn menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Nyeri yang tajam membuat matanya seketika memanas. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Evelyn, Tapi, Nona Sterling itu menolak menyerah. Ia menahan isak tangis di tenggorokannya, memaksakan diri meraih spatula itu kembali dengan tangannya yang gemetar, berniat melanjutkan membalik sosis yang mulai mengeluarkan asap hitam."Kenapa anda berteriak?" Sebuah suara bariton yang berat dan serak khas orang bangun tidur tiba-tiba terdengar dari arah pintu kamar.Evelyn tersentak hebat hingga spatulanya kembali terlepas. Ia menoleh dengan panik. Di ambang pintu, Davian berdiri dengan rambut yang sedikit berantakan dan kaus tidur yang melekat di tubuh tegapnya. Pria itu menatap lurus ke arah Evelyn, lalu tatapannya beralih menyapu pemandangan dapur yang hancur berantakan

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 217

    Adriana tersenyum manis, hatinya menghangat mendengar pujian suaminya yang selalu berhasil meruntuhkan segala keraguannya. Matanya kembali menatap lembaran sketsa di atas map coklat itu. Setelah menimbang-nimbang sejenak, jari telunjuknya akhirnya berhenti pada salah satu desain.Gaun itu berpotongan A-line dengan kerah off-shoulder berenda klasik. Siluetnya jatuh dengan sangat elegan, tidak terlalu ketat di bagian perut, memberikan kesan mewah tanpa terlihat berlebihan."Aku suka yang ini." bisik Adriana lembut. "Sederhana, tapi sangat cantik."Victor menunduk, menatap sekilas sketsa yang ditunjuk istrinya sebelum pandangannya kembali terkunci pada bibir Adriana."Pilihan yang sempurna." puji Victor dengan suara serak yang berat. "Sama sempurnanya dengan wanita yang akan memakainya."Sebelum Adriana sempat merespons gombalan maut itu, tangan Victor yang berada di tengkuk istrinya memberikan tarikan lembut. Pria itu menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam. Map coklat d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status