Share

BAB 6

Author: Rainina
last update Last Updated: 2025-11-27 16:41:10

Adriana tersentak saat mendengar panggilan itu. Dengan cepat ia menarik tangannya dari dasi Victor dan mundur dua langkah.

Sayang? Tapi berita-berita di media itu tidak menyebutkan bahwa Victor sedang memiliki kekasih saat ini.

Sial, bagaimana ini? Sudah terlalu jauh jika dia mundur sekarang. Adriana mengangkat wajahnya sedikit untuk mengintip. Wanita itu terlihat beberapa tahun lebih tua dari Adriana. Tapi wajahnya begitu cantik.

Penampilannya juga begitu elegan, lengkap dengan suara yang begitu menenangkan. Apa ia juga seorang model atau aktris?

“Apa yang kau lakukan di sini, Clara?” suara dingin Victor membuat Adriana sedikit terkejut, tidak menyangka bahwa pria itu akan merespon sebegitu dingin.

“Apa maksudmu?” wajah wanita bernama Clara itu berubah sedih. Seperti tidak menyangka jawaban yang diberikan oleh Victor. “Kita kan sudah sangat lama sekali tidak bertemu. Aku hampir mengira kamu melupakanku.”

Tidak ada jawaban dari Victor, tapi suasana penuh tekanan yang Adriana rasakan membuatnya merasa salah tempat.

Ia membungkukkan tubuhnya sedikit, berniat untuk pergi. “Saya akan keluar dulu Tuan.”

“Tidak.” jawaban singkat dari Victor membekukan langkah Adriana. Ia mengangkat wajahnya sedikit untuk mengintip, tapi mata pria itu masih jatuh pada Clara.

“Bukan kau yang harus keluar dari ruangan ini.”

Wajah Clara yang tadinya terlihat sedih berubah menjadi  kesal hanya dalam sekejap. Perubahan ekspresi yang begitu cepat itu membuat Adriana terkejut. Yang tadi itu… akting?

“Kau jual mahal sekali.” ucap wanita itu dengan nada kesal.

“Kau menggangguku di jam kerja dan di kantorku, itu pelanggaran etika tempat kerja.”

“Hah.” Wanita itu mendengus dengan kasar. “Kau? Etika? Bahkan saat aku masuk kau sedang bermesraan dengan sekretaris barumu. Dan kau bicara soal etika?”

Victor memijat pelipisnya terlihat begitu kesal pada Clara yang semakin berani.

“Aku tidak sedang bermesraan dengan sekretarisku. Dan kau, Clara, aku baru saja menangkap basah dirimu mencoba mendekatiku dengan maksud terselubung. Dan kau masih punya wajah untuk datang ke sini?”

“Aku hanya memintamu untuk membantuku mendapatkan peran lain untuk akting. Berhenti berbicara seolah aku telah melakukan kejahatan besar!” Wanita itu menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.

Adriana yang merasa terjebak diantara pembicaraan itu hanya bisa berdiri canggung, perlahan ia meraih ponselnya di saku dan mengetikkan pesan untuk seseorang di sana.

“Ayolah, Victor!” Clara masih merengek, kali ini nadanya terdengar semakin putus asa dan tidak tahu malu. Wanita itu melangkah maju, mencoba meraih lengan Victor.. “Hanya satu telepon ke produser itu. Apa susahnya? Kau punya saham di rumah produksi mereka!”

Pria itu menjauhkan diri dari jangkauan Clara, terlihat benar-benar jijik padanya. “Wanita sepertimu benar-benar membuatku muak.”

Clara berniat untuk mencoba sekali lagi, tapi tiba-tiba pintu terbuka. Beberapa petugas keamanan gedung sudah berada disana untuk membawa Clara keluar.

“Kau memanggil satpam untuk mengusirku?!” wanita itu berkata tidak terima saat petugas keamanan itu berjalan ke arahnya.

“Nona, mari ikut kami.”

“Jangan pegang aku!” Clara menepis tangan petugas keamanan yang mencoba menyentuh dirinya dengan kasar. Wanita itu benar-benar kesal. “Aku bisa jalan sendiri.”

Ia akhirnya berbalik dan berjalan ke arah pintu sebelum akhirnya kembali menolehkan kepalanya untuk berbicara. “Aku tidak akan menyerah.”

“Haah...” Victor menghela nafas dan memijat pangkal hidungnya. Adriana yang melihat itu mencoba menawarkan air putih yang berada di mejanya.

“Air, Tuan?” tawarnya, kali ini benar-benar khawatir.

Pria itu menerimanya. “Apa kau yang memanggil tugas keamanan?”

“Ah… iya.” jawab Adriana. “Anda terlihat tidak nyaman.”

“Benar. Kerja bagus.” Victor akhirnya duduk di kursinya, sementara Adriana masih berdiri di tempatnya.

“Kembalilah ke tempatmu.” Adriana mengangguk, berniat keluar dan memberi ruang bernafas bagi Victor. Tapi sebelum ia keluar dari pintu suara pria itu kembali menghentikannya.

“Asal kau tahu Adriana, aku benci wanita seperti Clara. Wanita yang mendekatiku dengan niatan buruk yang coba mereka sembunyikan.”

=

Itu adalah peringatan. Adriana berkata dalam hati. Apa yang dikatakan oleh Victor jelas adalah peringatan.

Pria itu pasti tahu bahwa Adriana punya maksud lain, pria itu sudah memperingatkannya sejak Adriana pertama kali menginjakkan kaki ke gedung ini.

Tapi Adriana masih tidak ingin mundur. Ia harus melakukan ini, apapun harganya dia harus berhasil.

Pikiran itu terus mengganggu Adriana bahkan hingga jam kerja selesai. Saat ia menyadari jm kerjanya sudah berakhir, Adriana menyusun barang-barangnya dengan cepat dan pergi menuju basement.

Parkiran basement gedung Sterling Industries sudah sunyi. Mengingat Adriana memang turun cukup terlambat dari jam seharusnya.

Ia berjalan dengan cepat, tiba-tiba merasa takut dengan kesepian yang ada hingga langkah kakinya berhenti mendadak saat ia mendengar pintu mobil dibuka.

Dari salah satu mobil yang masih terparkir di sana, wanita itu, Clara keluar dari mobilnya.

Wanita itu tidak lagi terlihat seanggun saat ia masuk ke ruangan Victor tadi siang. Rambutnya sedikit berantakan, membuat Adriana dapat membayangkan wanita itu mengacak rambutnya karena frustasi.

“Akhirnya kau keluar juga,” wanita itu menyambut Adriana dengan nadanya yang tajam.

“Nona Clara? Saya pikir petugas keamanan sudah mengantar Anda keluar.” 

“Oh, diamlah,” desis Clara sambil melangkah maju, menghalangi jalan Adriana. “Jangan berpura-pura sopan dengan wajah polosmu itu. Itu membuatku muak.”

Adriana menarik napas panjang, berusaha mempertahankan sikap profesionalnya. “Jika tidak ada urusan lain, saya permisi. Saya ingin pulang.”

“Kau pikir aku bodoh?” Clara tertawa sinis dan berjalan semakin mendapat, membuat Adriana dapat mencium aroma parfum mahal wanita itu.  “Kau sengaja memanggil satpam itu, kan? Bukan karena aku membuat keributan. Tapi karena kau ingin menyingkirkan sainganmu.”

Adriana mengerutkan kening. “Saingan? Maaf, tapi saya hanya sekretaris yang menjalankan prosedur keamanan kantor.”

“Jangan berbohong padaku!” bentak Clara tiba-tiba, suaranya meninggi hingga menggema di basement. “Aku melihat caramu menatap Victor. Cara tanganmu menyentuh dasinya tadi... Kau bukan sedang merapikan pakaian bosmu. Kau sedang mencoba merayunya. Kau sama saja denganku.”

Clara menunjuk wajah Adriana dengan jari telunjuknya. “Kau memanggil keamanan karena kau takut aku akan merusak rencanamu. Kau takut Victor akan kembali padaku jika aku diberi waktu lima menit lagi bersamanya. Dasar wanita ular.”

Adriana merasakan darahnya naik ke kepala. Bahkan walau sebagian dari perkataan wanita itu benar, ia tetap tidak terima.

“Dengar, Nona Clara,” ucap Adriana dengan nada dingin dan tegas. “Tuan Victor mengusir Anda karena Anda tidak menghargai waktu kerjanya dan datang tanpa diundang. Itu fakta. Tidak ada hubungannya dengan saya.”

Adriana melangkah maju satu langkah, menantang dominasi Clara. “Dan jika Anda merasa terancam oleh seorang sekretaris biasa seperti saya, mungkin masalahnya ada pada kepercayaan diri Anda sendiri, bukan pada saya.”

Mata Clara membelalak lebar. Wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak seketika mendengar balasan Adriana.

Tanpa peringatan, tangan Clara melayang cepat di udara.

PLAK!

Suara tamparan keras menggema di seluruh penjuru basement yang sunyi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 222

    Beberapa hari kemudian, di sebuah ruang private viewing butik perhiasan paling eksklusif di kota.Berbagai macam kotak beludru berisi kalung berlian, cincin, dan tiara bernilai jutaan dolar terhampar di atas meja kaca. Di sebelahnya, tumpukan katalog venue pernikahan dan sample dekorasi bunga dari wedding organizer kelas atas ikut memenuhi ruangan.Adriana duduk bersandar di sofa kulit yang empuk, menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya pelan. Merencanakan pesta pernikahan dengan Victor ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada yang ia bayangkan, apalagi dengan Victor yang bersikeras memberikan semua hal terbaik yang bisa dibeli dengan uang.Padahal ini bukan pertama kalinya Adriana merencanakan pesta pernikahan jika ia menghitung persiapan pernikahannya dengan Darren waktu itu.Melihat istrinya yang tampak kelelahan, Victor memberi isyarat tangan. Para staf butik dan perwakilan wedding organizer yang sejak tadi berdiri di ruangan itu langsung menunduk hormat dan bergegas

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 221

    "Bukannya... bukannya kau bilang kau mendapatkan penawaran kerja dari ayahku lagi?" tuntut Evelyn dengan suara bergetar, menatap lurus ke mata pria itu.Davian menatapnya dengan raut tak terbaca. "Ya.""Lalu? Apa kau tidak mengambilnya?" desak Evelyn. Langkah kakinya tanpa sadar maju mendekati Davian.Matanya memancarkan permohonan yang menyedihkan. "Kau sudah mendapatkan dokumennya waktu itu, kan? Kenapa kau harus repot-repot mencari pekerjaan di luar kota kalau posisimu di sini sudah aman?"Mendengar rentetan pertanyaan putus asa itu, Davian terdiam. Pria itu menatap wajah istrinya yang pucat pasi cukup lama, sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang dan berat.Rasa lelah perlahan menyapu raut wajah Davian yang selalu kaku. Mengingat tenggat waktu mereka yang tinggal menghitung hari, Davian sadar kebohongan impulsif yang ia ciptakan malam itu sudah tidak ada gunanya lagi untuk dipertahankan."Ah..." gumam Davian pelan. "Itu."Tanpa mengatakan apa-apa lagi untuk menjelaskan, Davia

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 220

    Adriana membuka pintu ruang kerja suaminya dengan perlahan. Pikirannya masih tertinggal pada satu kata lirih yang baru saja menyapa telinganya di lorong tadi. Victor mendongak dari balik tumpukan dokumennya. Melihat raut wajah istrinya yang tampak sedikit tertegun, pria paruh baya itu segera meletakkan penanya."Ada apa, Sayang? Kau berpapasan dengannya di luar?" tanya Victor. Suara baritonnya mengalun tenang, menyambut kedatangan Adriana.Adriana mengangguk pelan. Ia melangkah mendekati meja kerja Victor dan duduk di kursi tepat di hadapan suaminya. Mengingat sejarah panjang permusuhan dan kebencian Evelyn padanya, wajar jika Adriana merasa khawatir rencana pesta pernikahan ini akan kembali memicu amukan dari putri tirinya itu."Apa Evelyn bisa menerimanya?" tanya Adriana langsung pada intinya.Victor menyandarkan punggung tegapnya ke kursi kulit kebesarannya. Ekspresi wajahnya menunjukkan keheranan yang sama persis dengan yang dirasakan istrinya saat ini."Ya" jawab Victor pelan.

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 219

    "Aku dan Adriana akan mengadakan pesta pernikahan."Itu adalah kalimat pertama yang menyambut Evelyn begitu ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Tidak ada basa-basi ataupun sapaan hangat yang diberikan Ayah Evekyn itu.Pagi tadi, Victor tiba-tiba memanggilnya datang ke rumah utama. Panggilan itu sempat membuat Evelyn bertanya-tanya dengan dada berdebar. Apa yang membuat ayahnya mendadak mengundangnya setelah berhari-hari membiarkannya ‘diasingkan’ di paviliun tanpa gangguan apa pun? Apakah ayahnya tahu tentang kekacauan di dapur tadi pagi? Ataukah tentang kontrak pernikahannya dengan Davian?Ternyata, dugaannya salah. Ini tentang Adriana."Oh." gumam Evelyn pelan.Hanya satu kata itu yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Memangnya, apa lagi yang harus Evelyn bilang? Ia tidak terkejut. Wanita itu sudah tahu soal status mereka sejak ia memergoki Davian mengerjakan rancangan pernikahan waktu itu.Melihat respons putrinya yang luar biasa datar, Victor menautkan alisnya.

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 218

    Jeritan tertahan meluncur dari bibir Evelyn. Wanita itu menarik tangannya secepat kilat. Rasa panas yang menyengat langsung menjalar dari kulit telapak tangannya yang melepuh.Evelyn menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Nyeri yang tajam membuat matanya seketika memanas. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Evelyn, Tapi, Nona Sterling itu menolak menyerah. Ia menahan isak tangis di tenggorokannya, memaksakan diri meraih spatula itu kembali dengan tangannya yang gemetar, berniat melanjutkan membalik sosis yang mulai mengeluarkan asap hitam."Kenapa anda berteriak?" Sebuah suara bariton yang berat dan serak khas orang bangun tidur tiba-tiba terdengar dari arah pintu kamar.Evelyn tersentak hebat hingga spatulanya kembali terlepas. Ia menoleh dengan panik. Di ambang pintu, Davian berdiri dengan rambut yang sedikit berantakan dan kaus tidur yang melekat di tubuh tegapnya. Pria itu menatap lurus ke arah Evelyn, lalu tatapannya beralih menyapu pemandangan dapur yang hancur berantakan

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 217

    Adriana tersenyum manis, hatinya menghangat mendengar pujian suaminya yang selalu berhasil meruntuhkan segala keraguannya. Matanya kembali menatap lembaran sketsa di atas map coklat itu. Setelah menimbang-nimbang sejenak, jari telunjuknya akhirnya berhenti pada salah satu desain.Gaun itu berpotongan A-line dengan kerah off-shoulder berenda klasik. Siluetnya jatuh dengan sangat elegan, tidak terlalu ketat di bagian perut, memberikan kesan mewah tanpa terlihat berlebihan."Aku suka yang ini." bisik Adriana lembut. "Sederhana, tapi sangat cantik."Victor menunduk, menatap sekilas sketsa yang ditunjuk istrinya sebelum pandangannya kembali terkunci pada bibir Adriana."Pilihan yang sempurna." puji Victor dengan suara serak yang berat. "Sama sempurnanya dengan wanita yang akan memakainya."Sebelum Adriana sempat merespons gombalan maut itu, tangan Victor yang berada di tengkuk istrinya memberikan tarikan lembut. Pria itu menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam. Map coklat d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status