로그인Victor membawa Adriana masuk ke dalam kamar tidur utama, ruangan luas bernuansa abu-abu gelap dan maskulin yang selama ini hanya bisa Adriana bayangkan.Ia mendudukkan Adriana dengan hati-hati di tepi ranjang berukuran king size, seolah wanita itu adalah barang pecah belah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Victor berjalan menuju lemari di sudut ruangan dan kembali dengan sebuah kotak P3K lengkap di tangannya.Lampu kamar yang temaram menyembunyikan sebagian ekspresi Victor, namun Adriana bisa merasakan ketegangan yang menguar dari tubuh pria itu.Victor menarik sebuah kursi mendekat ke tepi ranjang, lalu duduk tepat di hadapan Adriana. "Ini akan sedikit perih," gumam Victor pelan, suaranya terdengar berat namun lembut.Kapas basah itu menyentuh sudut bibir Adriana yang sobek."Sshhh..." Adriana mendesis refleks, tubuhnya sedikit tersentak mundur."Maaf," ujar Victor cepat. Tangannya berhenti di udara sejenak, membiarkan Adriana mengatur napas, sebelum kembali menyentuh luka itu de
Awalnya, Adriana mengira mobil yang dikendarai Victor tu akan melaju menuju pusat kota, kembali ke gedung apartemen mewah tempat penthouse Victor berada.Ia sudah terlalu lelah untuk bertanya. Setelah lelah menangis dan meronta hanya untuk diabaikan oleh Victor, akhirnya Adriana memilih diam. Tubuhnya terasa remuk, dan rasa perih di wajahnya berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Adriana menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin, membiarkan dirinya pasrah.Namun, ketika mobil mulai melambat dan berbelok tajam, mata Adriana terbuka.Pemandangan diluar jendela membuatnya seketika menegakkan tubuhnya. Rasa kantuk dan lelahnya lenyap, digantikan oleh rasa ketakutan yang muncul begitu saja.Mereka tidak berada di basement gedung pencakar langit yang dikenali Adriana.Di hadapannya, sebuah gerbang besi raksasa perlahan terbuka secara otomatis. Adriana mengenali tempat ini. Ia pernah ke sini untuk mengambil dokumen atas perintah Victor.Ini kediaman keluarga Sterling.Tidak, ba
Adriana memalingkan wajahnya, tidak sanggup menahan tatapan intens pria itu lebih lama lagi. Rasa perih di pipinya tidak sebanding dengan rasa malu yang membakar dadanya. Ia benci saat ada orang yang melihatnya dalam kondisi seperti ini.“Kumohon... pergilah.”“Tidak.” Victor menjawab dengan cepat. Tangannya masih mengurung Adriana, menolak memberinya ruang untuk pergi.Adriana tertawa kecil, ia menatap pria itu dengan tatapan menantang.“Berhenti bertingkah bodoh, kau terlihat konyol,” desis Adriana. “Reaksimu terlalu berlebihan untuk seorang pria yang hanya menginginkan tubuhku.”Wajah Victor menegang. Ada kilatan penyesalan di matanya, ia ingin membantah tuduhan itu.“Aku tidak…”“Kau sudah memperjelas semuanya waktu itu, Victor,” potong Adriana. Ia sudah tidak peduli lagi untuk bersikap sopan. Untuk apa ia menjaga tata krama pada orang yang sedang berusaha ia usir? Ia lelah, ia merasa bersalah. Ia juga benci dengan fakta berurusan dengan pra itu telah menariknya ke lubang neraka
“Aku bilang, buka pintunya Adriana.”Suara Victor terdengar rendah, namun mampu membuat Adriana merasa tidak berdaya. Ia mengabaikan bentakan Adriana, mengabaikan pengakuan wanita itu tentang memanfaatkan dirinya.Bagi Victor saat ini, semua kata-kata itu tidak ada artinya dibandingkan dengan lebam yang terlihat jelas di wajah wanita itu.“Pergi! Apa kau bodoh?!” jerit Adriana dari balik pintu, suaranya pecah karena air mata yang mulai jatuh.Rahang Victor mengeras. Kesabarannya tidak cukup untuk terus membujuk wanita itu membuka pintunya secara baik-baik.Ia tidak menjawab. Sebaliknya, Victor mundur selangkah, lalu menghentakkan bahunya ke daun pintu dengan sekuat tenaga.BRAK!Adriana terlonjak mundur karena hentakan tubuh Victor di pintunya. Pria ini gila. Batinnya.BRAK!Victor menghantamkan tubuhnya sekali lagi, Kayu tua yang menahan rantai itu di pintu itu kalah begitu saja. Rantai pengaman yang sudah berkarat itu terlepas dari kusennya, terpental ke lantai dengan suara denting
Evelyn menatap pintu yang baru saja tertutup itu dengan napas memburu. Tangannya gemetar, karena lonjakan amarah yang begitu hebat hingga membuat ujung-ujung jarinya terasa dingin.“Sialan!” teriak Evelyn, menyapu seluruh isi nampan makan malam di meja ke lantai.Suara piring pecah dan denting sendok garpu yang beradu dengan lantai marmer menggema di kamar yang sunyi itu. Evelyn menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang, mencengkeram kepalanya yang berdenyut.Evelyn benar-benar membenci tempat ini. Dan lebih dari segalanya, ia membenci kehadiran Theo.Kenapa bajingan itu harus ada di rumah ini sekarang? Padahal terakhir kali ia ke sini pria itu sedang dalam perjalanan bisnis yang panjang.Evelyn membenci Theo. Sangat membencinya. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia lebih membenci dirinya sendiri karena pernah membiarkan pria itu mempermainkannya.Theo memang saudara tirinya, tapi dulu, sebelum semua kekacauan ini terjadi, Theo adalah segalanya bagi Evelyn. Pria itu cerdas, tampan, dan satu-sat
Adriana berbaring di tempat tidurnya yang berantakan, tangannya menekan bungkusan es batu yang dibalut handuk kecil ke pipinya. Ia menatap kosong ke arah barang-barangnya di sudut ruangan. Mungkin ia harus pergi.Pikiran itu melintas begitu saja, hanya tinggal menunggu waktu hingga ayahnya tahu di mana ia tinggal. Dan jika saat itu tiba, bukan hanya pukulan lagi yang menunggu Adriana.Kota ini sudah tidak aman baginya.Adriana melirik ke arah dompetnya yang terletak begitu saja di nakas. Mungkin mau tidak mau, ia harus menggunakan uang pemberian Victor di rekeningnya.Ia juga punya beberapa cek yang belum dicairkan. Ia mungkin bisa mencairkannya diam-diam sebelum Victor sadar dan masih bisa hidup untuk beberapa lama dengan uang itu.Dia sudah tidak punya pilihan lain, ia akan mengambil uang itu dan menghilang dari kota ini.Lamunan Adriana pecah ketika tiba-tiba ia kembali mendengar suara bel. Tubuhnya menegang.Ia menatap pintu depan dengan tatapan waspada. Siapa lagi sekarang? Davi







