Home / Pendekar / Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis / 110. Perjalanan ke Pesisir Pantai Utara

Share

110. Perjalanan ke Pesisir Pantai Utara

Author: Pancur Lidi
last update publish date: 2026-04-24 21:44:36

Seiring waktu yang mereka lewati antara Satrio Pamungkas dan Wayang Sari, hal itu menumbuhkan benih-benih suka di hati Satrio Pamungkas. Awalnya hanya sekedar kagum, tapi pertemuan setiap hari yang terjadi di antara keduanya, membuat bibit-bibit itu mulai tumbuah menjadi subur.

Satrio Pamungkas tidak lagi melihat Wayang Sari sebagai gadis judes yang kasar dan keras kepala, tapi melihat dia sebagai sosok bidadari yang memiliki daya tarik tersendiri. Dia mungkin tidak secantik Intan Selake, atau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Norma Yunita
kumpulin dulu biar puas baca banyak bab
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   111. Perguruan Racun Hati

    Talang Mayan berniat menambang kudanya pada batu sebesar paha yang berada tepat di depan pintu masuk goa. Namun, tiba-tiba hal tak terdua terjadi. Dua kuda itu langsung meringkih, mengangkat dua kakinya, dan meluncur secepat mungkin, meninggalkan dua tuannya di sana.“Hoi ..!” Talang Mayan berusaha memanggil dua kuda itu, tapi hewan sialan itu tidak peduli dengan panggilan, seolah telinganya menjadi tuli. “Sepertinya, mereka ketakutan ..,” gumam pemuda tersebut.Di satu sisi, Intan Selake hanya bisa menghela nafas panjang, melihat hewan tunggangannya perlahan menghilang di telan padang tandus yang kering dan panas.‘Sialan, penghianat keji itu pasti mati ..,’ Talang Mayan menyipitkan matanya sebelum kemudian menoleh ke arah Intan Selake yang tersenyum pahit.“Hemmm ..,” Talang Mayan mengelus dagunya berulang kali, “Aku penasaran kenapa kuda-kuda itu melarikan diri, pasti ada yang tidak beres dengan goa ini.”Intan Selake setuju, meskipun dia tidak tahu apa yang menghuni goa itu, tapi

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   110. Perjalanan ke Pesisir Pantai Utara

    Seiring waktu yang mereka lewati antara Satrio Pamungkas dan Wayang Sari, hal itu menumbuhkan benih-benih suka di hati Satrio Pamungkas. Awalnya hanya sekedar kagum, tapi pertemuan setiap hari yang terjadi di antara keduanya, membuat bibit-bibit itu mulai tumbuah menjadi subur.Satrio Pamungkas tidak lagi melihat Wayang Sari sebagai gadis judes yang kasar dan keras kepala, tapi melihat dia sebagai sosok bidadari yang memiliki daya tarik tersendiri. Dia mungkin tidak secantik Intan Selake, atau semanis Rindu Ati adik Talang Mayan, tapi bagi Satrio Pamungkas, Wayang Sari jauh lebih menarik hatinya dibanding dengan dua gadis itu.Sekali lagi Satrio Pamungkas mengungkapkan perasaanya di hadapan Wayang Sari, dan dengan wajah sedikit tertunduk, pemuda itu menatap Wayang Sari dengan penuh harap.“Aku fikir, otakmu memang bermasalah, Pamungkas,” jawab Wayang Sari sembari memalingkan wajahya ke arah lain, “Pergi sana dan berobat!”“Ya, otakku memang bermasalah,” jawab Satrio Pamungkas, “Tapi a

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   109. Penghormatan Bagi Mereka Yang Gugur

    Hari berikutnya, Talang Mayan menghadap kepada Senopati Mandra. Ruang pertemuan itu dihadiri oleh banyak orang, prajurit dan para pendekar Parasura. Mata mereka tertuju kepada Talang Mayan dengan perasaan kagum.Putri Intan Selake di temani oleh Wayang Sari hanya tersenyum kecil, sementara Satrio Pamungkas mengangkat ibu jarinya ke arah Talang Mayan.Kemudian satu persatu para prajurit mulai bertepuk tangan, mengiringi langkah kaki Talang Mayan di sepanjang barisan rapi di dalam ruang pertemuan itu.“Saudara Talang Mayan ..,” Senopati Mandra berkata dengan nada tenang dan penuh kekaguman, “Tindakanmu yang penuh resiko dan keberanian tidak tertandingi, telah melindungi sekaligus memukul mundur para mahluk buas itu. Sebagai panglima tertinggi dan penanggung jawab benteng utara, aku mewakili semua pasukan untuk memberikan penghormatan yang sebesar-besarnya kepadamu.”“Hahahaha ..,” Talang Mayan tertawa kecil, “apa yang kau katakan, Senopati Mandra, kenapa begitu resmi?”“Kau adalah pahl

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   108. Hampir Tidak Terkendali

    Matilah! Talang Mayan mengatupkan dua telapak tangannya, di saat yang sama, cakram sudra mulai mengincar semua siluman yang ada di tempat itu, baik di dalam tanah maupun yang ada di permukaan tanah.Cakram sudra itu sendiri kini berukuran sangat besar, akibat dari semua logam yang berputar mengelilinginya.“Hoi, Hoi, senjata macam apa yang dia gunakan saat ini?!” Satrio Pamungkas merasa panik ketika cakram sudra menyerang ke arah mereka, -bukan ke arah para prajurit tapi ke arah siluman-siluman banteng.“Cepat tiarap, atau kita akan tersapu oleh serangannya!” teriak Wayang Sari.Di ikuti suara teriakan panik, semua prajurit maupun pendekar langsung berpose tiarap ketika cakram sudra terbang di ketinggian satu meter dari permukaan tanah.“Mayan!” Putri Intan Selake berseru keras, “Jangan sampai senjatamu malah menghancurkan benteng kita!”“Aku tahu,” jawab Talang Mayan, tapi suaranya terdengar gemetar. Saat ini, mengendalikan cakram sudra seperti mengendalikan batu bulat yang menggelin

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   107. Tiga Gelombang Badai

    Belum pula selesai menghabisi siluman serigala, ada juga siluman semut dan kini ditambah siluman banteng. Situasi kini menjadi lebih tegang, lebih lagi para prajurit tidak pernah menghadapi tiga jenis siluman secara bersaaman.Kini, mereka mulai kehabisan anak panah. Satu persatu prajurit terpaksa melepaskan busur di tangannya, mengganti dengan senjata jarak dekat seperti tombak, pedang atau pula kapak.Sementara itu, Wayang Sari, Satrio Pamungkas yang berada di luar benteng pertahanan tampaknya hanya bisa pasrah saat gelombang siluman banteng bergerak semakin dekat.Menyadari teman-temannya dalam bahaya, Talang Mayan meminta Putri Intan Selake untuk membantu yang lain, sementara dia akan menghadapi siluman semut seorang diri.“Mereka lebih membutuhkanmu,” kata Talang Mayan.Meskipun berat hati meninggalkan Talang Mayan sendirian, pada akhirnya Putri Intan Selake kembali mundur ke barisan belakang, dan bergabung bersama dengan yang lain.Sampai akhirnya, terdengar suara teriakan dari

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   106. Gelombang Kedua

    Dua pendekar Parasura kini berada di luar Benteng Pertahanan, Talang Mayan dan Putri Intan Selake. Sungguh hal nekad yang membuat semua prajurit merasa ngeri melihat keduanya dengan gagah berani menantang maut.Namun, Wayang Sari juga memutuskan untuk terjun langsung ke medan perang. Dengan tombaknya, dia menghadapi gerombolan siluman semut yang menyerang mereka seperti tiada habisnya.“Tunggu aku!” Satrio Pamungkas sudah membulatkan tekadnya, dan akhirnya memutuskan untuk terjun langsung ke medan perang. Tindakan pemuda itu akhirnya diikuti oleh seluruh pendekar Parasura yang lain.Bom. Saat Satrio Pamungkas mendarat di belakang Wayang Sari, untuk sejenak nafasnya terhenti, dan jantungnya berdetak tidak karuan. Dia merasakan bahaya mengintainya dari segala arah, menciutkan nyalinya untuk sesaat.Namun, nasi sudah menjadi bubur. Setelah terjun ke medan perang, satu-satunya yang bisa dilakukan olehnya hanyalah betarung habis-habisan.“Kalian semua, pertahankan pondasi benteng!” perinta

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   74. Kedudukan Para Pendekar

    “Maaf Patih Wira,” ucap Wayang Sari, mengangkat jari telunjuk dari kursinya, “sebelum itu, apa aku boleh tahu berapa besar gaji yang akan kami dapatkan?”“Pertanyaan bagus, meskipun sedikit tidak sopan,” gumam beberapa pendekar yang lain, “jika gajinya lebih kecil dari pada tinggal di Sekte, aku ti

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   73. Organisasi Parasura

    “Tu tu tuan, kau adalah Ayah Rindu Ati?! Dan kau, saudara laki-lakinya?” Satrio Pamungkas rasanya ingin melarikan diri ke ujung dunia dan bersembunyi di lubang semut karena merasa malu.Pemuda kurang ajar ini, bagaimana bisa dia tidak memiliki adab sama sekali di hadapan orang tua dari gadis yang d

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   72. Mencari Makanan

    Setibanya di pusat Ibu Kota, Talang Mayan menyarankan untuk pergi ke Toko Rancak Manggareh yang berada tidak jauh dari Istana. Menurutnya, makanan di sana sangat lezat, dan arak yang mereka jual hampir tidak ada duanya.“Kau pernah ke Toko Rancak Manggareh? Memang benar, mereka menyediakan makanan

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   71. Tanpa Tersisa

    Talang Mayan tersenyum sinis, mulai berjalan mendekati para pendekar aliran hitam itu. Dia memegang belati di tangan kanannya, dan dalam hitungan detik yang sangat singkat, pemuda itu mendadak meluncur seperti anak panah, lalu berhenti di antara musuh-musuhnya.Namun, belati itu sudah berdarah.Ket

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status