LOGINbab 34 sedang di revisi, terjadi salah uplod
Siapa yang akan menantang Talang Mayan? Tentu saja semua orang kini menatap ke arah pemuda itu dengan penuh tanda tanya. Beberapa orang merasa dia terlalu percaya diri dengan kemampuannya, beberapa orang yang lain menganggapnya sebagai pemuda pemberani dan memiliki ambisi besar.“Lihatlah!” kata salah satu murid, “aku tidak habis fikir, kenapa ada orang seperti dirinya di Sekte Empu?”“Mungkin dia berfikir, dengan perolehan nilainya di babak pertama dan ke dua, sudah menjamin kemenangannya.”“Masih ada Nona Rindu Ati, Wayang Sari dan Kuncoro, mereka bertiga merupakan murid yang jenius, aku yakin dia bahkan tidak akan mampu menyelesaikan satu pertandingan ini.”Sementara itu, Rindu Ati langsung memberi hormat, dan menyatakan dirinya tidak akan bertarung melawan Talang Mayan.“Nona, kenapa kau tidak ingin melawan pemuda itu? apa karena dia adalah Putra Mundru?” Wayang Sari merasa ada yang salah dengan temannya ini, pasalnya Rindu Ati tidak pernah membicarakan apapun yang berkaitan denga
Aturan pertandingan cukup mudah, tidak boleh membunuh, tidak boleh menggunakan racun, dan tidak boleh menggunakan senjata lain selain senjata yang baru saja mereka buat barusan.“Siapa yang keluar arena lebih dahulu, akan kalah! Siapa yang mengaku kalah, dianggap kalah,” ucap Ki Paraswara, “Setiap perseta mendapatkan kesempatan untuk menantang lima peserta yang lain.”Semua peserta itu mengangguk tanda mengerti. “Tidak ada yang boleh melenggar aturan, atau mereka akan mendapatkan hukuman yang sangat berat, dan statusnya sebagai murid utama akan diturunkan menjadi murid biasa.”Pertandingan pada sore ini akan segera dilaksanakan, dan mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menilai siapa yang akan menjadi pemenang utama. Semua peserta tampak bersemangat, kecuali Talang Mayan yang dari tadi lebih banyak diam tanpa memberikan sedikitpun tanggapan.“Sekarang siapa yang akan maju lebih dahulu?!” kata Paraswara memberikan kesempatan kepada peserta itu untuk tampil pertama kali di
Nomor undian dibagi secara secara acak, kemudian dipanggil pula secara acak. Ki Paraswara mengambil enam gulungan kertas, kemudian dia berkata, “Nomor 1, 5, 6,18,7 dan 12. Silahkan maju ke depan.”Talang Mayan menatap nomornya, “Nomor 18, itu aku,” gumam Talang Mayan.Pemuda itu maju ke depan diikuti oleh beberapa murid dari keluarga lain, termasuk Pelisik yang secara tidak terduga berada di nomor urut 5. Di hadapan mereka, ada tong berisi pasir besi yang masin ‘kotor’.Pertandingan pertama itu mudah, murnikan pasir besi itu hingga menjadi logam solid.Karena ukuran setiap senjata berbeda, waktu yang diberikan kepada masing-masing juga berbeda-beda. Talang Mayan hanya membuat sebuah belati, jadi dia tidak perlu mengambil terlalu banyak pasir besi. Hanya secukupnya.Hanya dalam beberapa menit kemudian, Talang Mayan sudah berhasil mendapatkan logam solid yang dia inginkan dengan kualitas terbaiknya. Semua orang tidak terlalu memperhatikan pemuda tersebut, ya, karena memang senjata yang
Pelisik gemetar karena ketakutan, tekanan energi spiritual yang teramat kuat ini membuatnya langsung muntah darah.“Kau yang menggangguku barusan?!” Ki Paraswara mengepalkan tinjunya, sembari menatap wajah Pelisik dengan rasa marah, kemudian dia meminta kepada Ki Pamanahan agar urusan ini diserahkan kepada dirinya. “Kau urus gadis itu dengan bijak!” ucap Ki Pamanahan, “itu tanggung jawabmu sebagai gurunya!”Ki Pamanahan langsung menarik tekanan energi spiritualnya, dan Pelisik pikir dirinya sudah selamat hari ini. Tanpa memandang wajah gadis itu, pria itu langsung pergi meninggalkan arena latihan.Sementara itu, Ki Paraswara menanyakan alasan yang dilakukan oleh Pelisik hari ini. Sebagai seorang murid, apakah tindakannya layak dimaafkan?“Guru .., aku .., aku tidak bermaksud untuk mengganggumu, hanya saja ..,” Pelisik berbicara dengan suara gagap, nafasnya tampak kembang kempis, “Aku tadi hanya, hanya tidak sengaja.”“Benar, Guru.” Kuncoro langsung memberikan tanggapan untuk memban
Talang Mayan memegang mustika burung hantu berusia seribu tahun di tangan kanannya, kemudian dia meminta Ki Paraswara untuk membaca mantra jiwa terhadap siluman itu. Namun disinilah letak kesalahan yang dilakukan oleh Ki Paraswara.Dia fikir dapat menggunakan mantra jiwa saat siluman burung hantu -yang dia bawa pula, dapat dilakukan jika siluman itu masih hidup. Namun tepat ketika nyawa siluman itu hampir sepenuhnya menghilang, maka mantra jiwa harus diucapkan.Sebaliknya, mantra itu tetap tidak akan berfungsi jika kematian siluman itu sudah lama. Jiwanya sudah pergi meninggalkan dunia ini.Untuk membantu Ki Paraswara, Talang Mayan mengeluarkan belatinya, kemudia dengan cepat menyembelih siluman burung hantu tersebut. “Bacakan mantranya!” kata Talang Mayan.Ki Paraswara mengangguk, langsung memulai mantra jiwa bersama dengan berakhirnya nyawa di dalam tubuh siluman tersebut.Beberapa saat kemudian, cahaya berwarna ungu tua muncul dari tubuh siluman burung hantu tersebut, yang melayang
“Oh, mengendalikan dua senjata sekaligus, kau benar-benar berbakat, Manusia kerdil. Namun apa yang akan kau lakukan dengan belati itu? kau tidak bisa mengalahkan angin dengan logam, mahluk kerdil?!”Tentu saja, siapa yang akan mengalahkan angin dengan logam. Talang Mayan tidak akan melakukannya, tapi dia tahu bahwa kayu bisa dikalahkan dengan belati. Ya, tujuan Talang Mayan jelas, memotong ranting yang ada di atas, membuat sekuntum bunga jatuh.Mengetahui niat Talang Mayan, Ratu Lebah Nirvana mencoba menghentikannnya, tapi sudah terlambat. Belati itu meluncur cepat, menerobos angin kencang tanpa hambatan.Wush.Ranting kecil di pucuk pohon itu kini terpotong, perlahan mulai jatuh. Sebelum sekuntum bunga itu terbang dibawa angin, Talang Mayan mengerahkan kemampuan pengendaliannya, yang memungkinkan bunga itu tidak akan melayang jauh.Wush.Dia melompat tinggi, meninggalkan Cakram Sudra yang berputar cepat menahan hembusan angin yang datang dari empat sisi.Berhasil. Pemuda itu menangka







