INICIAR SESIÓN“Nak, darimana kau tahu hal itu?” Mundru bertanya penuh selidik.
“Anu .., ehmm ..,” Talang Mayan tidak mungkin mengatakan semuanya di hadapan Mundru tentang siapa sebenarnya dirinya saat ini -bukan Talang Mayan yang dikenalnya dahulu, jadi bocah ini terpaksa berbohong demi kebaikan Ayahnya, “Saat tertimbun bebatuan, aku bermimpi bertemu dengan seorang pemuda, dia memberi tahuku tentang energi spiritual, kekuatan dan dampaknya bagi kesehatan jika dihancurkan oleh musuh.”
Mundru percaya begitu saja, karena dia mengenal Talang Mayan sebagai bocah yang jujur, tidak pernah berbohong meskipun hal itu bersifat sangat rahasia. Namun di sisi lain, Mundru merasa bangga akhirnya, putranya yang dianggap sebagai bocah tanpa cita-cita akhirnya mengetahui konsep tentang energi spiritual.
“Kau sudah besar, Putraku,” ucap Mundru kemudian batuk kering beberapa kali lagi, setelah itu dia menyerahkan sebuah kalung dengan bandul bunga melati yang dipahat dari batu zambrud. “Kalung ini adalah pemberian Ibumu, jika kau bertemu dengannya, dia akan mengenalimu langsung.”
Esok paginya, Mundru sudah menyiapkan semua bekal yang dibutuhkan oleh Talang Mayan untuk pergi ke pusat Sekte Empu. Mundru tidak bisa menemani Talang Mayan, bukan tanpa alasan, dia tidak ingin menimbulkan masalah setelah tiba di pusat Sekte Empu.
Apa lagi, ada banyak kenangan pahit di tempat itu, membuat hati Mundru lebih menderita jika harus datang ke tempat.
“Nak, jika mereka tidak menerimamu, jangan berkecil hati, ya ..,” Mundru tidak ingin putranya kehilangan semangat dan membuang impiannya begitu saja jika mendapati dirinya tidak berhasil menjadi murid resmi Sekte Empu.
“Ayah tidak perlu khawatir,” ucap Talang Mayan sembari tersenyum tipis, “aku ini adalah Putramu, tidak mungkin berkecil hati hanya karena satu kegagalan saja.”
“Hehehe, uhuk uhuk, kau benar, kau memang benar, kau tidak boleh mengikuti jejak diriku.”
Namun siapa menduga, Selisik gadis yang usianya lebih tua dua tahun dari Talang Mayan juga pergi ke pusat sekte bersama dengan Kuncoro. Selain itu, Selisik merupakan sepupu Talangan Mayan, anak dari Bibi Inem yang merupakan adik Ayahnya.
Kuncoro merupakan putra dari mandor tambang yang terkenal pelit, peritungan dan sering kali melakukan kejahatan keji di pertambangan. Sebagai salah satu mandor dari sekian banyak mandor, dia mungkin yang paling jahat terhadap keluarga Talang Mayan.
Namun jabatan di pertambangan membuat Mundru tetap harus menghormatinya, karena ditangannya semua gaji harian setiap pekerja.
Saat mengetahui Talang Mayan juga bermimpi untuk menjadi murid resmi Sekte Empu, terlihat wajah Bibi Inem meledek Kakaknya alias Ayah Talang Mayan.
"Apa kau yakin, Talang Mayan akan menjadi Murid Resmi? Sejak kecil kau memang mengajarinya memecah batu, pegang palu dan linggis, tapi tanpa pemahaman energi spiritual dia tidak memiliki kesempatan." Inem mencibir Mundru yang mengizinkan Talang Mayan mengiktui ujian seleksi calon murid resmi Sekte Empu.
Meskipun Inem merupakan bibi kandung Talang Mayan, tapi perhatian wanita licik ini tertuju pada Kuncoro yang merupakan anak mandor tambang.
Putrinya dilarang keras berteman dengan Talang Mayan, menganggap ponakannya itu hanya akan menjadi aib dan sampah di masa depan, tidak bisa diandalkan sama seperti Mundru.
"Tidak sepatutnya kau berbicara seperti itu terhadap ponakan mu sendiri, Inem!" Mundru ingin berteriak tetapi batuk kering menghentikannya.
"Jika bukan dirimu, aku tidak akan hidup seperti ini. Kau merusak masa depanku, masa depan putriku. Kesalahanmu yang membuat aku seperti ini. Mundru, sekarang ini hanya Kuncoro harapan yang bisa membalikan keadaan keluargaku saat ini."
Mundru langsung terdiam seribu bahasa saat adik kandungnya mencaci dan menyalahkan dirinya. Jika bukan karena cinta bodoh Mundru, mereka tidak akan diusir dari Sekte dan berakhir menjadi buruh tambang seperti saat ini.
Namun, Mundru menyesalkan tindakan Inem yang membenci Talang Mayan, yang kehadirannya di anggap sebagai aib dan malapetaka.
"Mundru, tidak lama lagi kau akan mati karena luka dalammu. Itu adalah karma buruk yang harus kau terima, dan tambang ini akan membuatmu lebih buruk lagi."
Di dalam tambang, seringkali Mundru menghirup gas beracun, debu pasir dan logam yang berbahaya, membuat luka dalamnya menjadi lebih parah. Meskipun mungkin ada cara untuk mengembalikan energi spiritualnya, tapi luka dalam ini mungkin sudah terlambat untuk diobati.
"Kau akan mati dengan penderitaan, tidak akan tenang karena putramu akan menjadi seorang pecundang."
Uhuk.
Mundru batuk lagi, tapi kini lebih parah, karena darah keluar dari dalam mulutnya. Melihat hal itu, Inem bukan bersimpati malah tersenyum jijik melihat kondisi Kakaknya yang semakin memburuk.
Wanita itu pergi begitu saja, meninggalkan Mundru yang mengurut dada karena menahan sakit.
Sementara itu, Talang Mayan akhirnya tiba di pusat Sekte Empu. Tempat ini begitu memukau, ada pelataran luas tempat para calon murid berkumpul untuk melakukan ujian seleksi penerimaan murid resmi.
Di sebelahnya, tampak Selisik tersenyum mengejek, seakan merendahkan Talang Mayan.
Di sebelah Selisik, remaja bertubuh besar dan tinggi menatap Talang Mayan dengan sikap yang megintimidasi dan merendahkan.
"Kau punya nyali juga," cibir Kuncoro putra dari mandor tambang. "Sebagai seorang teman, aku sarankan agar kau kembali saja, jangan mempermalukan dirimu di sini."
"Yang dikatakan Kakang Kuncoro benar, kau tidak lihat ada ratusan calon murid resmi di sini?! Daripada kau membuat kami malu, lebih baik segera tinggalkan tempat ini!"
Selisik mendekati Kuncoro, seolah ingin membuat Talang Mayan merasa cemburu terhadap hubungan mereka.
"Talang Mayan, aku tidak berharap besar kepadamu," kali ini Mandor Tambang alias Peliru yang mencoba menekan Talang Mayan, "kembalilah, lebih baik kau jaga ayahmu daripada menerima rasa malu di sini."
Talang Mayan tersenyum dingin, langsung mengalihkan perhatian ke sisi lain. Meladeni tiga orang bodoh ini hanya buang buang waktu saja.
"Kau-" Selisik hendak menyeret Talang Mayan, tapi bocah itu sudah berlalu tanpa peduli dengan ocehan mereka semua.
"Tiga orang bodoh, jika aku masih memiliki kekuatanku, kalian bertiga akan mati dengan kepala dan tubuh yang terpisah."
Setelah beberapa waktu kemudian seorang pria berjanggut putih panjang, dengan mata menyipit berjalan ke tengah pelataran.
Wajahnya tampak bersahaja, aura yang mendominasi sekaligus berwibawa membuat semua orang di pelataran itu tidak berani menatap matanya secara langsung.
Namun, tidak dengan Talang Mayan. Dia menatap wajah pria tua itu, sembari menilai dan mencoba menganalisa kekuatannya.
Jika dugaan Talang Mayan benar, dari aura yang dipancarkan pria tua itu, energi spiritualnya sudah mencapai level tinggi. Setara dengan pendekar pilih tanding.
"Sepertinya calon murid tahun ini jauh lebih banyak dari tahun tahun yang lalu," Pria itu bergumam dengan ekspresi kurang senang, "sayang aku tidak melihat banyak bakat di sini."
"Dia adalah Paraswara," Kata Peliru, "Kuncoro dan Pelisik, dia merupakan guru yang hebat, kalian harus berusaha menarik perhatiannya."
Paraswara dikenal sebagai seorang ahli tempa senjata di level master sekaligus ahli dalam teknik bela diri dengan senjata berupa panah.
Beberapa busur panah yang dibuat olehnya telah mengguncang dunia persilatan di era ini, dan tidak jarang diperebutkan oleh para pendekar karena kekuatannya.
Siapapun yang bermimpi untuk menjadi pemanah sekaligus pencipta busur panah, dialah guru yang paling tepat.
"Aku tidak akan membuang waktu, ujian seleksi menjadi murid resmi akan dimulai. Ada dua ujian yang harus kalian lewati, pertama ujian mental dan kedua ujian pisik."
Paraswara tidak memasukan ujian bakat dalam hal ini, karena dia percaya, bakat akan terbentuk saat proses belajar dilakukan.
Lagipula kebanyakan calon murid merupakan anak anak dari pekerja tambang, dan hanya sedikit dari luar. Mereka pasti sudah paham betul tentang palu, pahat atau pula jenis jenis logam.
"Pertama ujian spiritual!" kata Paraswara.
Dia mengeluarkan busur panah berwarna emas, beberapa saat kemudian, busur itu melayang di udara dengan aura yang sangat berat.
Paraswara meminta setiap calon murid untuk menyentuh busur tersebut, jika mereka bisa melakukannya, mereka dianggap lolos ujian tahap pertama ini.
"Gunakan metode apapun yang kalian miliki untuk menyentuhnya!" tantang Paraswara sembari tersenyum dingin. "Kita akan mulai dari dirimu!" Dia menunjuk seorang bocah yang berdiri paling kanan dari barisan.
Ketika bocah itu mendekat, aura yang berat langsung mendorong tubuhnya ke belakang.
Semakin kuat keinginannya untuk menyentuh busur tersebut, semakin jauh pula dia terdorong mundur.
"Gagal!" kata Paraswara. "Datanglah tahun depan lagi jika kau masih memiliki tekad."
Dari 50 murid yang maju, baru 15 orang yang berhasil menyentuh busur tersebut.
Waktu berlalu dengan cepat, kini hampir 2/3 calon murid dinyatakan gugur dalam ujian tahap pertama.
Sementara itu, Talang Mayan mulai menyadari sesuatu dengan busur tersebut. Menurut dirinya, busur itu hanya dapat disentuh jika seorang bocah sudah memiliki dasar energi spiritual.
Dasar spiritual terbentuk di bawah pusar di perut, sering juga disebut sebagai kolam spiritual, telaga spiritual atau bahkan lautan spiritual di level yang lebih tinggi.
Karena busur itu juga mengandung energi spiritual milik Paraswara, maka menyentuhnya paling tidak harus memiliki dasar spiritual yang sudah terbentuk.
Sekarang Pelisik maju ke depan.
"Adik, aku yakin tantangan ini cukup mudah dilakukan," ucap Kuncoro.
Pelisik dengan penuh percaya diri maju ke depan. Dia menatap Talang Mayan sejenak dengan ekpresi merendahkan, sebelum kemudian mendekati busur panah.
Seperti beberapa murid yang lolos, ada dorongan terhadap tubuhnya, tapi hal itu tidak berlangsung lama, sebelum kemudian dia akhirnya berhasil menyentuh busur panah itu.
"Lolos ke babak selanjutnya!" kata Paraswara.
Pelisik kembali dengan rasa bangga, kemudian kembali menoleh ke arah Talang Mayan, dan senyum merendahkan kembali tersirat di bibirnya.
"Sekarang kau!" Paraswara menatap wajah Kuncoro.
Dengan dada membusung, wajah terangkat dan tangan terkepal, Kuncoro berjalan gagah di hadapan banyak calon murid.
"Hanya menyentuhnya, ini mudah." Tanpa ada dorongan sama sekali, Kuncoro berhasil menyentuh busur tersebut.
"Hebat! Siapa remaja itu? Dia memiliki bakat yang baik."
Paraswara mulai tersenyum puas, nampaknya ada juga satu remaja yang menarik perhatiannya setelah begitu banyak calon murid yang melakukan ujian.
Pujian demi pujian dilontarkan kepada Kuncoro, dari beberapa remaja lain, dari gadis gadis kecil dan dari murid resmi yang menyaksikan ujian tersebut.
"Sepertinya sudah berakhir!" Paraswara menghiraukan seseorang bocah bertubuh lebih pendek dan usia yang lebih kecil dari peserta yang lain. Dia menganggap ujian babak pertama ini sudah selesai, hal ini membuat Talang Mayan merasa tidak mendapatkan ke adilan.
"Kenapa kau tidak memanggilku, bukankah kau sudah melihatku?" tanya Talang Mayan.
Paraswara menepiskan tangannya, hanya berkomentar bahwa Talang Mayan tidak memenuhi kriterianya. Usianya terlalu kecil, dan tubuhnya terlalu kurus.
Alasan yang tidak masuk akal. Bukankah ada peserta yang memiliki postur tubuh yang juga kurus, bukankah ada pula yang berusia 10 tahun?
"Kau belum mengizinkan aku mencoba busur panahmu, dan kau memutuskan bahwa aku tidak layak? Apakah seorang tetua sekaligus pemandu kehilangan kebijakansanaanya?"
Di sisi lain, Kuncoro dan Ayahnya tersenyum mengejek. Mereka sudah menduga hal ini sejak awal, Talang Mayan akan ditolak oleh Sekte Empu karena Ayahnya.
Salah satu keluarga inti tidak menginginkan Talang Mayan, bocah itu akan menjadi masalah di kemudian hari, jadi sebelum hal itu terjadi akan lebih baik jika dia ditolak.
"Talang Mayan, meskipun Tetua Paraswara mengizinkanmu, hasilnya tetap sama. Apa kau meragukan pengalaman seorang Empu?" Pelisik mulai mencari perhatian, dia tahu waktu yang tepat untuk mengambil alih panggung pertunjukan.
"Pengalaman yang kau maksud membawa seseorang dalam kebijaksanaan, jika pengalaman itu membawanya kedalam ketidak adilan, pengalaman itu hanya catatan kumuh tidak berarti."
"Apa yang kau katakan, darimana kau mendapatakan kalimat seperti itu, bajingan!" Selasik semakin memperkeruh suasana di atas pelataran, "tundukan kepalamu dan minta maaf pada Tetua!"
Talang Mayan tidak mendengar ucapan Selisik, dia hanya menunggu keputusan Paraswara.
"Baiklah, Baiklah!" Paraswara merasa geram, tapi kebijakannya sedang dipertaruhkan saat ini. "Aku mengizinkanmu!"
Talang Mayan tersenyum tipis, dia berjalan mendekati busur panah, tapi tanpa disadari oleh orang lain, Paraswara mengalirkan energi spiritualnya lebih banyak kedalam busur untuk mempermalukan Talang Mayan.
Baru beberapa langkah saja, tubuh Talang Mayan langsung menerima aura yang begitu berat, seolah ada balon udara besar yang menahan langkah kakinya saat ini.
“Dia mempermainkanku ..,” Talang Mayan bisa merasaka energi spiritual pada busur panah emas itu jauh lebih besar daripada sebelumnya. “Aku tidak akan menyerah.”
Talang Mayan mencoba mengaktifkan dasar energi spiritual di tubuhnya untuk mencegah tekanan ekstrime yang menyerangnya. “Tubuh ini memang masih lemah, tapi aku masih memiliki pengetahuan dari kehidupan lamaku.”
“Apa yang akan kau lakukan, bocah?” gumam Paraswara, “kau pikir aku akan mengizinkanmu menyentuh busur panas emas milikku?”
Tekanan dari busur panah emas itu menjadi lebih kuat, membuat tubuh Talang Mayan mundur beberapa langkah jauhnya. Namun, dia tidak menyerah, di dalam alam bawah sadarnya, kolam spiritualnya mulai bergerak oleh rangsangan dari luar.
Hingga tiba-tiba.
Boom. Ledakan energi kecil muncul dari dalam tubuh Talang Mayan, mengejutkan Paraswara sekaligus beberapa murid resmi yang menyaksikan acara tersebut.
“Dia berhasil mengaktifkan energi spiritualnya? Dengan memanfaatkan tekanan dari energi spiritual milikku?” Paraswara menyipitkan mata karena merasa heran, “Apa Mundru sudah melatihnya secara diam-diam?”
“Apa yang terjadi?” Kuncoro tercengang, di ikuti oleh Ayahnya dan Pelisik.
“Sekali lagi ..,” teriak Talang Mayan.
Booom. Level energi spiritualnya kembali meledakan, yang menandakan kenaikan level energi spiritualnya sedang terjadi.
Pertemuan para petinggi anggota Bintang Kejora Merah diadakan di sebuah tempat terpencil yang tiada tertulis di catatan maupun tergambar di dalam peta. Sudah beberapa lama mereka menunggu di atas kursi batu, menghadap kobaran api yang menyala, tidak pernah padam sekalipun.Kursinya ada lima buah, tapi yang duduk di sana hanya tiga orang saja.“Jantung Iblis telah dikalahkan oleh Indraprasta ..,” salah satu dari tiga orang itu akhirnya membuka suara. “Satu kursi telah kosong, kita harus mencari penggantinya.”“Aku dengar, Jantung Iblis dikalahkan oleh pendekar Parasura yang dibentuk oleh Patih Wira beberapa bulan yang lalu. Mereka adalah kumpulan murid terbaik dari segala sekte aliran putih.” Salah satu dari orang yang duduk di sana mengenakan pakaian merah darah, dengan sarung tangan berbentuk cakar naga.“Kehebatan mereka dikatakan dapat menggulingkan sebuah kerajaan, omong kosong!” timpal salah satu dari yang lain, dan kali ini seorang wanita dengan kipas perunggu menimpali pria tad
Di hari lain, Tiwas Kuncir keluar dari kamarnya dengan tatapan yang penuh dengan dendam. Keluarnya dia dari kamar, disambut oleh banyak pendekar Racun Hati, tapi aura pria itu kini berubah.Dia tidak nampak seperti pria tua yang bengis, tapi malah seperti wanita tua yang penuh dengan dendam kesumat. Sakunira mengiringi langkah kakinya dengan perasaan tidak menentu, dan sesekali melirik ke arah beberapa bawahannya agar tidak menyinggung Tiwas Kuncir.“Tuan ..,” salah satu bawahannya mendekat, sedikit berjalan membungkuk, “Begini Tuan, pertemuan antar anggota Bintang Kejora Merah akan berlangsung besok siang. Tuan..,”Wush.Tiwas Kuncir langsung membunuh pria itu dengan sadis. Semua orang langsung tercengang, dan sontak membuat ratusan pendekar ciut nyalinya.“Bintang Kejora Merah, aku tidak peduli lagi dengan semuanya, yang aku inginkan adalah kematian pemuda itu. Kerahkan semua orang untuk memburunya! Jelajahi setiap jengkal tanah Indraprasta, tangkap dia hidup-hidup, dan biarkan aku
Aksi kejar-kejaran terjadi antara Talang Mayan dan pendekar Racun Hati. Hingga pada akhirnya, ke duanya berhasil menghindari mereka dengan bersembunyi di dalam jurang yang cukup gelap.Di sana, Talang Mayan menurunkan Intan Selake, sementara gadis itu hanya menangis cengeng sembari membenarkan seluruh pakaiannya. Saat itu, Talang Mayan langsung pergi menjauh, berdiri di antara celah-celah cadas sembari memantau ke adaan di permukaan atas.Dari pantauan Mata Batinnya, Talang Mayan menemukan beberapa pendekar Racun Hati sedang mengamati permukaan jurang. Di saat itulah, Talang Mayan langsung menarik tubuh Intan Selake, dan bersembunyi lebih dalam pada celah batu yang berukuran sangat cempit.Kedua tubuh mereka kini berhimpitan, “hussttt ..,” bisik Talang Mayan di telinga gadis itu, “mereka ada di atas sana.”Jantung Intan Selake berdebar-debar dengan situasi ini. Wajahnya mungkin memerah, mungkin malu, mungkin pula panik, tapi saat ini situasinya membuat gadis itu terus berpelukan denga
Belati Dasaka keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan, dan roh senjata itu tertawa girang. Energi menakutkan menyeruak memenuhi seluruh bagian belati itu, menciptakan percikan kilatan hitam yang menggetarkan jiwa.Sesaat, getaran halus menjalar di dinding ruangan itu, sebelum akhirnya dinding-dingding itu menjadi retak seribu.“Hahahaa!!!” tawa Dasakala memekakan telinga Talang Mayan, “Aku merasakan lawan yang cukup sepadan.”Ya, semenjak Dasakala menyerap energi spiritual dari senjata pimpinan Jantung Iblis, tanpa disadari oleh Talang Mayan, ternyata kekuatan Dasakala meningkat sangat pesat. Aura haus darah yang kental kini hampir tidak bisa dikendalikan.Sementara itu, di kamar pribadinya, Ki Tiwas Kuncir memandangi sekujur tubuh Intan Selake yang tergeletak tidak berdaya di atas pembarian. Kaki dan tangan gadis itu terbelenggu oleh jaring laba-laba, dan meskipun dia meronta sekuat tenaga, gadis itu sudah jatuh dalam perngkap menjijikan pimpinan Racun Hati.“Yuhuhuhuh ..,” Pri
“Hoiii .., siapa yang mau jadi pasangan wanita menakutkan seperti dirimu!” teriak Talang Mayan yang langsung berusaha membebaskan diri dari jerat jaring laba-laba di dua tangannya, dan meskipun tidak berhasil, dia selalu berusaha sekuat tenaga.Melihat hal itu, Sakunanira malah tertawa semakin genit dan mulai mengelus leher hingga dada Talang Mayan. Di sisi lain, pemuda itu merasakan rasa jijik yang luar biasa, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri, dan darahnya nyaris membeku.Seumur hidupnya, Talang Mayan tidak pernah dirayu oleh seorang gadis sebegitunya, dan hari ini, pengalaman pertamanya malah dilakukan oleh manusia setengah siluman yang jelas-jelas mengerikan. Ah, meskipun jika berada pada wujud manusia dia juga cukup cantik, tapi tetap saja, ketika dia berubah menjadi setengah laba-laba raut wajahnya lebih parah dari siluman itu sendiri.“Tolong cari pemuda lain saja ..,” kata Talang Mayan, hampir merengek di hadapan Sakunira, “sebenarnya, aku tidak menyukai .., aku tidak meny
Sementara itu, Talang Mayan harus rela mengikuti Intan Selake yang penuh semangat saat menjelajahi goa yang begitu dalam. Meskipun ada perasaan khawatir, nyatanya rasa penasaran yang dimiliki gadis itu mengalahkan rasa takutnya.Talang Mayan menggunakan Mata Batin nya untuk menganalisa lorong goa yang begitu panjang, hanya untuk memastikan bahwa mereka berjalan di rute yang lebih aman.Semakin dalam, situasi di lorong goa menjadi semakin gelap. Udara bersih terasa menipis, membuat keduanya harus mengatur nafas sedemikian rupa.Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya kedua orang itu menemukan tiga cabang lorong yang dipenuhi oleh sarang laba-laba.“Kita akan menjelajahi lorong tengah ..,” kata Intan Selake.Talang Mayan mengedarkan mata batinya, dan meskipun dia tidak bisa melihat tanda-tanda bahaya, akan tetapi firasatnya mengatakan bahwa tempat ini sangat berbahaya.Tidak ada lorong yang lebih baik dari lorong yang lain. Semuanya menyimpan potensi yang sama-sama berbahaya, meskipun
Tidak ada sumber daya, ramuan, atau sejenisnya untuk meningkatkan Bakat Alami seorang pendekar. Meningkatkan bakat alami dan energi spiritual tentu saja berbeda. Hanya melewati pertarungan, seorang pendekar dapat melihat kelemahan dan kelebihan dari bakat yang dia miliki. Dengan begitu, seorang pe
Mereka akhirnya berpisah di jalan setepak setelah berhasil keluar dari gerombolan siluman. Sebelum berpisah, Rindu Ati mendekati Talang Mayan, seakan ingin memeluk pemuda tersebut, tapi menyadari empat murid yang lain masih berada di sana, dia langsung mengurungkan niatnya.“Rindu Ati, sampai jumpa
Talang Mayan masuk ke dalam kamar terakhir, kamar pribadi Dewa Semaranta ketika dia hidup di bumi ke tujuh. Di dalam kamar, Mayan menemukan banyak sekali tumpukan kertas yang berisi catatan metode pelatihan. Namun itu tidak berguna, karena pemilik metode itu kini telah menjadi Guru bagi pemuda itu.
Satu jam lamanya Talang Mayan bertarung di dalam goa batu, menghabiskan hampir setengah dari energi spiritualnya, dan membunuh lebih dari 100 siluman berusia 100 tahun. Seperti janjinya, tempat itu kini menjadi kuburan bagi para siluman.Darah siluman membuat aroma di tempat itu menjadi sangat anyi







