Compartir

Sekte Empu

Autor: Pancur Lidi
last update Última actualización: 2026-02-20 14:44:00

“Nak, darimana kau tahu hal itu?” Mundru bertanya penuh selidik.

“Anu .., ehmm ..,” Talang Mayan tidak mungkin mengatakan semuanya di hadapan Mundru tentang siapa sebenarnya dirinya saat ini -bukan Talang Mayan yang dikenalnya dahulu, jadi bocah ini terpaksa berbohong demi kebaikan Ayahnya, “Saat tertimbun bebatuan, aku bermimpi bertemu dengan seorang pemuda, dia memberi tahuku tentang energi spiritual, kekuatan dan dampaknya bagi kesehatan jika dihancurkan oleh musuh.”

Mundru percaya begitu saja, karena dia mengenal Talang Mayan sebagai bocah yang jujur, tidak pernah berbohong meskipun hal itu bersifat sangat rahasia. Namun di sisi lain, Mundru merasa bangga akhirnya, putranya yang dianggap sebagai bocah tanpa cita-cita akhirnya mengetahui konsep tentang energi spiritual.

“Kau sudah besar, Putraku,” ucap Mundru kemudian batuk kering beberapa kali lagi, setelah itu dia menyerahkan sebuah kalung dengan bandul bunga melati yang dipahat dari batu zambrud. “Kalung ini adalah pemberian Ibumu, jika kau bertemu dengannya, dia akan mengenalimu langsung.”

Esok paginya, Mundru sudah menyiapkan semua bekal yang dibutuhkan oleh Talang Mayan untuk pergi ke pusat Sekte Empu. Mundru tidak bisa menemani Talang Mayan, bukan tanpa alasan, dia tidak ingin menimbulkan masalah setelah tiba di pusat Sekte Empu.

Apa lagi, ada banyak kenangan pahit di tempat itu, membuat hati Mundru lebih menderita jika harus datang ke tempat.

“Nak, jika mereka tidak menerimamu, jangan berkecil hati, ya ..,” Mundru tidak ingin putranya kehilangan semangat dan membuang impiannya begitu saja jika mendapati dirinya tidak berhasil menjadi murid resmi Sekte Empu.

“Ayah tidak perlu khawatir,” ucap Talang Mayan sembari tersenyum tipis, “aku ini adalah Putramu, tidak mungkin berkecil hati hanya karena satu kegagalan saja.”

“Hehehe, uhuk uhuk, kau benar, kau memang benar, kau tidak boleh mengikuti jejak diriku.”

Namun siapa menduga, Selisik gadis yang usianya lebih tua dua tahun dari Talang Mayan juga pergi ke pusat sekte bersama dengan Kuncoro. Selain itu, Selisik merupakan sepupu Talangan Mayan, anak dari Bibi Inem yang merupakan adik Ayahnya.

Kuncoro merupakan putra dari mandor tambang yang terkenal pelit, peritungan dan sering kali melakukan kejahatan keji di pertambangan. Sebagai salah satu mandor dari sekian banyak mandor, dia mungkin yang paling jahat terhadap keluarga Talang Mayan.

Namun jabatan di pertambangan membuat Mundru tetap harus menghormatinya, karena ditangannya semua gaji harian setiap pekerja.

Saat mengetahui Talang Mayan juga bermimpi untuk menjadi murid resmi Sekte Empu, terlihat wajah Bibi Inem meledek Kakaknya alias Ayah Talang Mayan.

"Apa kau yakin, Talang Mayan akan menjadi Murid Resmi? Sejak kecil kau memang mengajarinya memecah batu, pegang palu dan linggis, tapi tanpa pemahaman energi spiritual dia tidak memiliki kesempatan." Inem mencibir Mundru yang mengizinkan Talang Mayan mengiktui ujian seleksi calon murid resmi Sekte Empu.

Meskipun Inem merupakan bibi kandung Talang Mayan, tapi perhatian wanita licik ini tertuju pada Kuncoro yang merupakan anak mandor tambang.

Putrinya dilarang keras berteman dengan Talang Mayan, menganggap ponakannya itu hanya akan menjadi aib dan sampah di masa depan, tidak bisa diandalkan sama seperti Mundru.

"Tidak sepatutnya kau berbicara seperti itu terhadap ponakan mu sendiri, Inem!" Mundru ingin berteriak tetapi batuk kering menghentikannya.

"Jika bukan dirimu, aku tidak akan hidup seperti ini. Kau merusak masa depanku, masa depan putriku. Kesalahanmu yang membuat aku seperti ini. Mundru, sekarang ini hanya Kuncoro harapan yang bisa membalikan keadaan keluargaku saat ini."

Mundru langsung terdiam seribu bahasa saat adik kandungnya mencaci dan menyalahkan dirinya. Jika bukan karena cinta bodoh Mundru, mereka tidak akan diusir dari Sekte dan berakhir menjadi buruh tambang seperti saat ini.

Namun, Mundru menyesalkan tindakan Inem yang membenci Talang Mayan, yang kehadirannya di anggap sebagai aib dan malapetaka.

"Mundru, tidak lama lagi kau akan mati karena luka dalammu. Itu adalah karma buruk yang harus kau terima, dan tambang ini akan membuatmu lebih buruk lagi."

Di dalam tambang, seringkali Mundru menghirup gas beracun, debu pasir dan logam yang berbahaya, membuat luka dalamnya menjadi lebih parah. Meskipun mungkin ada cara untuk mengembalikan energi spiritualnya, tapi luka dalam ini mungkin sudah terlambat untuk diobati.

"Kau akan mati dengan penderitaan, tidak akan tenang karena putramu akan menjadi seorang pecundang."

Uhuk.

Mundru batuk lagi, tapi kini lebih parah, karena darah keluar dari dalam mulutnya. Melihat hal itu, Inem bukan bersimpati malah tersenyum jijik melihat kondisi Kakaknya yang semakin memburuk.

Wanita itu pergi begitu saja, meninggalkan Mundru yang mengurut dada karena menahan sakit.

Sementara itu, Talang Mayan akhirnya tiba di pusat Sekte Empu. Tempat ini begitu memukau, ada pelataran luas tempat para calon murid berkumpul untuk melakukan ujian seleksi penerimaan murid resmi.

Di sebelahnya, tampak Selisik tersenyum mengejek, seakan merendahkan Talang Mayan.

Di sebelah Selisik, remaja bertubuh besar dan tinggi menatap Talang Mayan dengan sikap yang megintimidasi dan merendahkan.

"Kau punya nyali juga," cibir Kuncoro putra dari mandor tambang. "Sebagai seorang teman, aku sarankan agar kau kembali saja, jangan mempermalukan dirimu di sini."

"Yang dikatakan Kakang Kuncoro benar, kau tidak lihat ada ratusan calon murid resmi di sini?! Daripada kau membuat kami malu, lebih baik segera tinggalkan tempat ini!"

Selisik mendekati Kuncoro, seolah ingin membuat Talang Mayan merasa cemburu terhadap hubungan mereka.

"Talang Mayan, aku tidak berharap besar kepadamu," kali ini Mandor Tambang alias Peliru yang mencoba menekan Talang Mayan, "kembalilah, lebih baik kau jaga ayahmu daripada menerima rasa malu di sini."

Talang Mayan tersenyum dingin, langsung mengalihkan perhatian ke sisi lain. Meladeni tiga orang bodoh ini hanya buang buang waktu saja.

"Kau-" Selisik hendak menyeret Talang Mayan, tapi bocah itu sudah berlalu tanpa peduli dengan ocehan mereka semua.

"Tiga orang bodoh, jika aku masih memiliki kekuatanku, kalian bertiga akan mati dengan kepala dan tubuh yang terpisah."

Setelah beberapa waktu kemudian seorang pria berjanggut putih panjang, dengan mata menyipit berjalan ke tengah pelataran.

Wajahnya tampak bersahaja, aura yang mendominasi sekaligus berwibawa membuat semua orang di pelataran itu tidak berani menatap matanya secara langsung.

Namun, tidak dengan Talang Mayan. Dia menatap wajah pria tua itu, sembari menilai dan mencoba menganalisa kekuatannya.

Jika dugaan Talang Mayan benar, dari aura yang dipancarkan pria tua itu, energi spiritualnya sudah mencapai level tinggi. Setara dengan pendekar pilih tanding.

"Sepertinya calon murid tahun ini jauh lebih banyak dari tahun tahun yang lalu," Pria itu bergumam dengan ekspresi kurang senang, "sayang aku tidak melihat banyak bakat di sini."

"Dia adalah Paraswara," Kata Peliru, "Kuncoro dan Pelisik, dia merupakan guru yang hebat, kalian harus berusaha menarik perhatiannya."

Paraswara dikenal sebagai seorang ahli tempa senjata di level master sekaligus ahli dalam teknik bela diri dengan senjata berupa panah.

Beberapa busur panah yang dibuat olehnya telah mengguncang dunia persilatan di era ini, dan tidak jarang diperebutkan oleh para pendekar karena kekuatannya.

Siapapun yang bermimpi untuk menjadi pemanah sekaligus pencipta busur panah, dialah guru yang paling tepat.

"Aku tidak akan membuang waktu, ujian seleksi menjadi murid resmi akan dimulai. Ada dua ujian yang harus kalian lewati, pertama ujian mental dan kedua ujian pisik."

Paraswara tidak memasukan ujian bakat dalam hal ini, karena dia percaya, bakat akan terbentuk saat proses belajar dilakukan.

Lagipula kebanyakan calon murid merupakan anak anak dari pekerja tambang, dan hanya sedikit dari luar. Mereka pasti sudah paham betul tentang palu, pahat atau pula jenis jenis logam.

"Pertama ujian spiritual!" kata Paraswara.

Dia mengeluarkan busur panah berwarna emas, beberapa saat kemudian, busur itu melayang di udara dengan aura yang sangat berat.

Paraswara meminta setiap calon murid untuk menyentuh busur tersebut, jika mereka bisa melakukannya, mereka dianggap lolos ujian tahap pertama ini.

"Gunakan metode apapun yang kalian miliki untuk menyentuhnya!" tantang Paraswara sembari tersenyum dingin. "Kita akan mulai dari dirimu!" Dia menunjuk seorang bocah yang berdiri paling kanan dari barisan.

Ketika bocah itu mendekat, aura yang berat langsung mendorong tubuhnya ke belakang.

Semakin kuat keinginannya untuk menyentuh busur tersebut, semakin jauh pula dia terdorong mundur.

"Gagal!" kata Paraswara. "Datanglah tahun depan lagi jika kau masih memiliki tekad."

Dari 50 murid yang maju, baru 15 orang yang berhasil menyentuh busur tersebut.

Waktu berlalu dengan cepat, kini hampir 2/3 calon murid dinyatakan gugur dalam ujian tahap pertama.

Sementara itu, Talang Mayan mulai menyadari sesuatu dengan busur tersebut. Menurut dirinya, busur itu hanya dapat disentuh jika seorang bocah sudah memiliki dasar energi spiritual.

Dasar spiritual terbentuk di bawah pusar di perut, sering juga disebut sebagai kolam spiritual, telaga spiritual atau bahkan lautan spiritual di level yang lebih tinggi.

Karena busur itu juga mengandung energi spiritual milik Paraswara, maka menyentuhnya paling tidak harus memiliki dasar spiritual yang sudah terbentuk.

Sekarang Pelisik maju ke depan.

"Adik, aku yakin tantangan ini cukup mudah dilakukan," ucap Kuncoro.

Pelisik dengan penuh percaya diri maju ke depan. Dia menatap Talang Mayan sejenak dengan ekpresi merendahkan, sebelum kemudian mendekati busur panah.

Seperti beberapa murid yang lolos, ada dorongan terhadap tubuhnya, tapi hal itu tidak berlangsung lama, sebelum kemudian dia akhirnya berhasil menyentuh busur panah itu.

"Lolos ke babak selanjutnya!" kata Paraswara.

Pelisik kembali dengan rasa bangga, kemudian kembali menoleh ke arah Talang Mayan, dan senyum merendahkan kembali tersirat di bibirnya.

"Sekarang kau!" Paraswara menatap wajah Kuncoro.

Dengan dada membusung, wajah terangkat dan tangan terkepal, Kuncoro berjalan gagah di hadapan banyak calon murid.

"Hanya menyentuhnya, ini mudah." Tanpa ada dorongan sama sekali, Kuncoro berhasil menyentuh busur tersebut.

"Hebat! Siapa remaja itu? Dia memiliki bakat yang baik."

Paraswara mulai tersenyum puas, nampaknya ada juga satu remaja yang menarik perhatiannya setelah begitu banyak calon murid yang melakukan ujian.

Pujian demi pujian dilontarkan kepada Kuncoro, dari beberapa remaja lain, dari gadis gadis kecil dan dari murid resmi yang menyaksikan ujian tersebut.

"Sepertinya sudah berakhir!" Paraswara menghiraukan seseorang bocah bertubuh lebih pendek dan usia yang lebih kecil dari peserta yang lain. Dia menganggap ujian babak pertama ini sudah selesai, hal ini membuat Talang Mayan merasa tidak mendapatkan ke adilan.

"Kenapa kau tidak memanggilku, bukankah kau sudah melihatku?" tanya Talang Mayan.

Paraswara menepiskan tangannya, hanya berkomentar bahwa Talang Mayan tidak memenuhi kriterianya. Usianya terlalu kecil, dan tubuhnya terlalu kurus.

Alasan yang tidak masuk akal. Bukankah ada peserta yang memiliki postur tubuh yang juga kurus, bukankah ada pula yang berusia 10 tahun?

"Kau belum mengizinkan aku mencoba busur panahmu, dan kau memutuskan bahwa aku tidak layak? Apakah seorang tetua sekaligus pemandu kehilangan kebijakansanaanya?"

Di sisi lain, Kuncoro dan Ayahnya tersenyum mengejek. Mereka sudah menduga hal ini sejak awal, Talang Mayan akan ditolak oleh Sekte Empu karena Ayahnya.

Salah satu keluarga inti tidak menginginkan Talang Mayan, bocah itu akan menjadi masalah di kemudian hari, jadi sebelum hal itu terjadi akan lebih baik jika dia ditolak.

"Talang Mayan, meskipun Tetua Paraswara mengizinkanmu, hasilnya tetap sama. Apa kau meragukan pengalaman seorang Empu?" Pelisik mulai mencari perhatian, dia tahu waktu yang tepat untuk mengambil alih panggung pertunjukan.

"Pengalaman yang kau maksud membawa seseorang dalam kebijaksanaan, jika pengalaman itu membawanya kedalam ketidak adilan, pengalaman itu hanya catatan kumuh tidak berarti."

"Apa yang kau katakan, darimana kau mendapatakan kalimat seperti itu, bajingan!" Selasik semakin memperkeruh suasana di atas pelataran, "tundukan kepalamu dan minta maaf pada Tetua!"

Talang Mayan tidak mendengar ucapan Selisik, dia hanya menunggu keputusan Paraswara.

"Baiklah, Baiklah!" Paraswara merasa geram, tapi kebijakannya sedang dipertaruhkan saat ini. "Aku mengizinkanmu!"

Talang Mayan tersenyum tipis, dia berjalan mendekati busur panah, tapi tanpa disadari oleh orang lain, Paraswara mengalirkan energi spiritualnya lebih banyak kedalam busur untuk mempermalukan Talang Mayan.

Baru beberapa langkah saja, tubuh Talang Mayan langsung menerima aura yang begitu berat, seolah ada balon udara besar yang menahan langkah kakinya saat ini.

“Dia mempermainkanku ..,” Talang Mayan bisa merasaka energi spiritual pada busur panah emas itu jauh lebih besar daripada sebelumnya. “Aku tidak akan menyerah.”

Talang Mayan mencoba mengaktifkan dasar energi spiritual di tubuhnya untuk mencegah tekanan ekstrime yang menyerangnya. “Tubuh ini memang masih lemah, tapi aku masih memiliki pengetahuan dari kehidupan lamaku.”

“Apa yang akan kau lakukan, bocah?” gumam Paraswara, “kau pikir aku akan mengizinkanmu menyentuh busur panas emas milikku?”

Tekanan dari busur panah emas itu menjadi lebih kuat, membuat tubuh Talang Mayan mundur beberapa langkah jauhnya. Namun, dia tidak menyerah, di dalam alam bawah sadarnya, kolam spiritualnya mulai bergerak oleh rangsangan dari luar.

Hingga tiba-tiba.

Boom. Ledakan energi kecil muncul dari dalam tubuh Talang Mayan, mengejutkan Paraswara sekaligus beberapa murid resmi yang menyaksikan acara tersebut.

“Dia berhasil mengaktifkan energi spiritualnya? Dengan memanfaatkan tekanan dari energi spiritual milikku?” Paraswara menyipitkan mata karena merasa heran, “Apa Mundru sudah melatihnya secara diam-diam?”

“Apa yang terjadi?” Kuncoro tercengang, di ikuti oleh Ayahnya dan Pelisik.

“Sekali lagi ..,” teriak Talang Mayan.

Booom. Level energi spiritualnya kembali meledakan, yang menandakan kenaikan level energi spiritualnya sedang terjadi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Talang Mayan   21. Bangunan Kuno

    Satu hari lamanya di dalam goa tersebut, tapi gerombolan para siluman belum juga menyurut. Talang Mayan berfikir keras, apa yang memicu para siluman ini keluar dari sarangnya. Atau apakah ada jenis siluman yang memiliki kesadaran seperti manusia yang memberikan perintah kepada siluman-siluman ini?“Aku belum pernah mendengarnya,” gumam Talang Mayan, “siluman yang memiliki kesadaran. Sekarang tidak ada yang bisa aku lakukan di sini, keluar dari goa hanya akan membuatku tewas di makan siluman. Dengan kemampuanku seperti ini, aku hanya bisa membunuh 10 siluman level rendahan saja.”Di kehidupan pertamanya, Talang Mayan meningkatkan level energi sepiritual dengan menyerap mustika siluman. Hal itu bisa dia lakukan karena darah iblis yang mengalir di dalam nadinya, dapat menetralkan efek samping mustika tersebut.Namun, di kehidupan ini, jangankan darah iblis, hanya untuk memiliki 30 cakra spiritual harus berlatih tahunan di dalam ruangan tersembunyi.“Saudara Mayan, apa yang kau pikirkan?”

  • Talang Mayan   20. Rahasia Sekte

    Talang Mayan menemukan goa cukup luas setelah dia berhasil menghindari para siluman. Sekarang, di dalam goa itu, dia meletakan Rindu Ati di atas batu. Kondisi gadis itu masih lemah, tapi racun di tubuhnya telah menghilang.Hanya menunggu waktu, dia akan sadar. Namun di sisi lain, perasaan Talang Mayan menjadi tidak menentu. Dia masih tidak mengerti, kenapa membantu Rindu Ati. Dia adalah putri dari keluarga Pedang, keluarga yang menginginkan dirinya mati.Jika bukan Gurunya, Nyi Loro Ati telah menyembunyikan keberadaan Talang Mayan selama 6 tahun lamanya, remaja itu mungkin sudah menyatu dengan tanah. 6 tahun tinggal di ruang rahasia, itu seperti penjara yang menyiksa.Dia tidak pernah melihat matahari, tidak pula rembulan malam. Talang Mayan bahkan tidak lagi mengetahui bedanya siang dan malam saat di ruang rahasia tersebut. Namun, tekadnya untuk bertahan hidup, membuat Talang Mayan bertahan, berlatih dan patuh terhadap Nyi Loro Ati.Sekarang di hadapannya, sosok gadis dari keluarga P

  • Talang Mayan   19. Kepungan

    Talang Mayan kembali memeriksa beberapa mayat untuk mencari penawar racun dari senjata yang mereka miliki. Dengan pengalamannya yang cukup banyak, Talang Mayan akhirnya mendapatkan penawar itu yang di simpan di dalam gigi palsu.‘Cara yang cerdik,’ ucap Talang Mayan.Untuk berjaga-jaga di hari depan, Talang Mayan segera mengambil semua penawar racun dari gigi-gigi palsu para pendekar aliran hitam, sebelum kemudian dia berlari lagi menunju murid Sekte Empu.“Kau sudah kembali?” Pelisik menatap Talang Mayan yang pergi dan kembali hanya dalam beberapa detik saja.Talang Mayan tidak menjawab apapun, dia langsung menyerahkan satu penawar kepada Wayang Sari untuk diberikan kepada Rindu Ati. Lalu menyerahkan satunya lagi kepada Duguk Ireng.Merasa tidak diperhatikan, Pelisik merasa kesal. Dia menduga apakah Talang Mayan sengaja mengacuhkan dirinya, karena statusnya yang bukan berasal dari keluarga inti Sekte Empu? Atau karena kekuatannya berada di level yang lebih rendah dari Rindu Ati dan W

  • Talang Mayan   18. Siluman Kepiting

    Ada gejolak bergerak liar di dalam pantai, sementara Duguk Ireng masih sibuk berburu ikan di antara terumbung karang.Talang Mayan menarik dua belati miliknya, kemudian bergegas mendekati pantai, tapi di saat yang sama pula, muncul sosok monster ikan dari dalam air. Seperti kepiting tapi memiliki ekor kalajengking.Hanya satu jengkal saja, ya satu jengkal saja! jarak antara kematian dengan kepala Duguk Ireng, sebelum kemudian Talang Mayan berhasil tiba tepat waktu, dan memotong ekor kepiting tersebut.Mahluk itu meraung kesakitan, terdengar seperti suara desisan ular besar yang bersiap melahap mangsanya. “Pergi ke daratan!” Talang Mayan berkata dingin, dijawab balik dengan suara gemetar dari mulut Duguk Ireng.Ketika Duguk Ireng berlari pontang-pangting meninggalkan bibir pantai, Talang Mayan harus berhadapan dengan kepiting itu untuk ke dua kalinya. Sial, mahluk mengerikan ini meskipun sudah terluka, tapi dua capit besar miliknya sangat berbahaya.Hanya dengan satu kali capitan saja,

  • Talang Mayan   17. Perjalanan Bersama

    Esok paginya, Talang Mayan sudah meninggalkan Kota Pagar Banyu untuk melanjutkan perjalannya. Namun siapa sangka, dia kembali bertemu dengan rombongan murid Sekte Empu di gerbang kota.“Tuan Pemburu ..,” Rindu Ati menyapa pemuda bertopeng itu lebih dulu, “sepertinya kita bertemu lagi.”Talang Mayan menatap gadis itu beberapa saat, kemudian dia menyapukan pandangan ke arah empat remaja yang lain. Pandangan Talang Mayan jatuh ke wajah Pelisik, ada rasa kesal di hati pemuda itu setiap kali melihat wajah sepupunya tersebut. Ibu gadis ini sudah membuat banyak masalah dengan Ayahnya, dan bahkan gadis itu sering kali merendahkannya setiap kali mendapatkan kesempatan.Mendapat tatapan sedingin embun pagi, Pelisik langsung menundukan kepalanya, benar-benar tidak berani menatap balik mata Talang Mayan.“Senior ..,” seorang pemuda yang dua tangannya sedang terikat oleh perban, kini memberi hormat, “terima kasih, kau sudah menyelematkan kami semua. Saya, Murantang tidak akan melupakan budi baik S

  • Talang Mayan   16. Bandul Melati

    Rindu Ati dan empat temannya tidak berani melawan perintah Talang Mayan. Mereka, mengambil harta rampasan di tangan jasad perampok, dan pergi meninggalkan Talang Mayan.Urusan mayat, itu soal mudah. Talang Mayan mengumpulkan semua mayat menjadi satu tumpukan besar, melucuti semua harta yang mereka miliki, dan mengambil uang yang ada di saku celananya.Dengan ekspresi datar, Talang Mayan membakar seluruh mayat itu. Membiarkannya membusuk hanya akan menjadikan sarang penyakit dan virus yang menular. Lagipula, paling tidak jasad mereka akan berguna untuk menyuburkan tanah atau memberi makan pohon-pohon di dalam hutan ini.“Lumayan,” ucap Talang Mayan, saat menghitung kepingan uang logam yang dikumpulkan menjadi satu, “ratusan gepeng.”Gepeng adalah sebutan uang koin di dataran Indraprasta. Terbuat dari perak bercampur emas.Meninggalkan kobaran api yang melahap tubuh para perampok, Talang Mayan kembali ke Kota Pagar Banyu. Dengan kepingan gepeng di sakunya, dia tidak lagi khawatir untuk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status