LOGIN“Nak, darimana kau tahu hal itu?” Mundru bertanya penuh selidik.
“Anu .., ehmm ..,” Talang Mayan tidak mungkin mengatakan semuanya di hadapan Mundru tentang siapa sebenarnya dirinya saat ini -bukan Talang Mayan yang dikenalnya dahulu, jadi bocah ini terpaksa berbohong demi kebaikan Ayahnya, “Saat tertimbun bebatuan, aku bermimpi bertemu dengan seorang pemuda, dia memberi tahuku tentang energi spiritual, kekuatan dan dampaknya bagi kesehatan jika dihancurkan oleh musuh.”
Mundru percaya begitu saja, karena dia mengenal Talang Mayan sebagai bocah yang jujur, tidak pernah berbohong meskipun hal itu bersifat sangat rahasia. Namun di sisi lain, Mundru merasa bangga akhirnya, putranya yang dianggap sebagai bocah tanpa cita-cita akhirnya mengetahui konsep tentang energi spiritual.
“Kau sudah besar, Putraku,” ucap Mundru kemudian batuk kering beberapa kali lagi, setelah itu dia menyerahkan sebuah kalung dengan bandul bunga melati yang dipahat dari batu zambrud. “Kalung ini adalah pemberian Ibumu, jika kau bertemu dengannya, dia akan mengenalimu langsung.”
Esok paginya, Mundru sudah menyiapkan semua bekal yang dibutuhkan oleh Talang Mayan untuk pergi ke pusat Sekte Empu. Mundru tidak bisa menemani Talang Mayan, bukan tanpa alasan, dia tidak ingin menimbulkan masalah setelah tiba di pusat Sekte Empu.
Apa lagi, ada banyak kenangan pahit di tempat itu, membuat hati Mundru lebih menderita jika harus datang ke tempat.
“Nak, jika mereka tidak menerimamu, jangan berkecil hati, ya ..,” Mundru tidak ingin putranya kehilangan semangat dan membuang impiannya begitu saja jika mendapati dirinya tidak berhasil menjadi murid resmi Sekte Empu.
“Ayah tidak perlu khawatir,” ucap Talang Mayan sembari tersenyum tipis, “aku ini adalah Putramu, tidak mungkin berkecil hati hanya karena satu kegagalan saja.”
“Hehehe, uhuk uhuk, kau benar, kau memang benar, kau tidak boleh mengikuti jejak diriku.”
Namun siapa menduga, Selisik gadis yang usianya lebih tua dua tahun dari Talang Mayan juga pergi ke pusat sekte bersama dengan Kuncoro. Selain itu, Selisik merupakan sepupu Talangan Mayan, anak dari Bibi Inem yang merupakan adik Ayahnya.
Kuncoro merupakan putra dari mandor tambang yang terkenal pelit, peritungan dan sering kali melakukan kejahatan keji di pertambangan. Sebagai salah satu mandor dari sekian banyak mandor, dia mungkin yang paling jahat terhadap keluarga Talang Mayan.
Namun jabatan di pertambangan membuat Mundru tetap harus menghormatinya, karena ditangannya semua gaji harian setiap pekerja.
Saat mengetahui Talang Mayan juga bermimpi untuk menjadi murid resmi Sekte Empu, terlihat wajah Bibi Inem meledek Kakaknya alias Ayah Talang Mayan.
"Apa kau yakin, Talang Mayan akan menjadi Murid Resmi? Sejak kecil kau memang mengajarinya memecah batu, pegang palu dan linggis, tapi tanpa pemahaman energi spiritual dia tidak memiliki kesempatan." Inem mencibir Mundru yang mengizinkan Talang Mayan mengiktui ujian seleksi calon murid resmi Sekte Empu.
Meskipun Inem merupakan bibi kandung Talang Mayan, tapi perhatian wanita licik ini tertuju pada Kuncoro yang merupakan anak mandor tambang.
Putrinya dilarang keras berteman dengan Talang Mayan, menganggap ponakannya itu hanya akan menjadi aib dan sampah di masa depan, tidak bisa diandalkan sama seperti Mundru.
"Tidak sepatutnya kau berbicara seperti itu terhadap ponakan mu sendiri, Inem!" Mundru ingin berteriak tetapi batuk kering menghentikannya.
"Jika bukan dirimu, aku tidak akan hidup seperti ini. Kau merusak masa depanku, masa depan putriku. Kesalahanmu yang membuat aku seperti ini. Mundru, sekarang ini hanya Kuncoro harapan yang bisa membalikan keadaan keluargaku saat ini."
Mundru langsung terdiam seribu bahasa saat adik kandungnya mencaci dan menyalahkan dirinya. Jika bukan karena cinta bodoh Mundru, mereka tidak akan diusir dari Sekte dan berakhir menjadi buruh tambang seperti saat ini.
Namun, Mundru menyesalkan tindakan Inem yang membenci Talang Mayan, yang kehadirannya di anggap sebagai aib dan malapetaka.
"Mundru, tidak lama lagi kau akan mati karena luka dalammu. Itu adalah karma buruk yang harus kau terima, dan tambang ini akan membuatmu lebih buruk lagi."
Di dalam tambang, seringkali Mundru menghirup gas beracun, debu pasir dan logam yang berbahaya, membuat luka dalamnya menjadi lebih parah. Meskipun mungkin ada cara untuk mengembalikan energi spiritualnya, tapi luka dalam ini mungkin sudah terlambat untuk diobati.
"Kau akan mati dengan penderitaan, tidak akan tenang karena putramu akan menjadi seorang pecundang."
Uhuk.
Mundru batuk lagi, tapi kini lebih parah, karena darah keluar dari dalam mulutnya. Melihat hal itu, Inem bukan bersimpati malah tersenyum jijik melihat kondisi Kakaknya yang semakin memburuk.
Wanita itu pergi begitu saja, meninggalkan Mundru yang mengurut dada karena menahan sakit.
Sementara itu, Talang Mayan akhirnya tiba di pusat Sekte Empu. Tempat ini begitu memukau, ada pelataran luas tempat para calon murid berkumpul untuk melakukan ujian seleksi penerimaan murid resmi.
Di sebelahnya, tampak Selisik tersenyum mengejek, seakan merendahkan Talang Mayan.
Di sebelah Selisik, remaja bertubuh besar dan tinggi menatap Talang Mayan dengan sikap yang megintimidasi dan merendahkan.
"Kau punya nyali juga," cibir Kuncoro putra dari mandor tambang. "Sebagai seorang teman, aku sarankan agar kau kembali saja, jangan mempermalukan dirimu di sini."
"Yang dikatakan Kakang Kuncoro benar, kau tidak lihat ada ratusan calon murid resmi di sini?! Daripada kau membuat kami malu, lebih baik segera tinggalkan tempat ini!"
Selisik mendekati Kuncoro, seolah ingin membuat Talang Mayan merasa cemburu terhadap hubungan mereka.
"Talang Mayan, aku tidak berharap besar kepadamu," kali ini Mandor Tambang alias Peliru yang mencoba menekan Talang Mayan, "kembalilah, lebih baik kau jaga ayahmu daripada menerima rasa malu di sini."
Talang Mayan tersenyum dingin, langsung mengalihkan perhatian ke sisi lain. Meladeni tiga orang bodoh ini hanya buang buang waktu saja.
"Kau-" Selisik hendak menyeret Talang Mayan, tapi bocah itu sudah berlalu tanpa peduli dengan ocehan mereka semua.
"Tiga orang bodoh, jika aku masih memiliki kekuatanku, kalian bertiga akan mati dengan kepala dan tubuh yang terpisah."
Setelah beberapa waktu kemudian seorang pria berjanggut putih panjang, dengan mata menyipit berjalan ke tengah pelataran.
Wajahnya tampak bersahaja, aura yang mendominasi sekaligus berwibawa membuat semua orang di pelataran itu tidak berani menatap matanya secara langsung.
Namun, tidak dengan Talang Mayan. Dia menatap wajah pria tua itu, sembari menilai dan mencoba menganalisa kekuatannya.
Jika dugaan Talang Mayan benar, dari aura yang dipancarkan pria tua itu, energi spiritualnya sudah mencapai level tinggi. Setara dengan pendekar pilih tanding.
"Sepertinya calon murid tahun ini jauh lebih banyak dari tahun tahun yang lalu," Pria itu bergumam dengan ekspresi kurang senang, "sayang aku tidak melihat banyak bakat di sini."
"Dia adalah Paraswara," Kata Peliru, "Kuncoro dan Pelisik, dia merupakan guru yang hebat, kalian harus berusaha menarik perhatiannya."
Paraswara dikenal sebagai seorang ahli tempa senjata di level master sekaligus ahli dalam teknik bela diri dengan senjata berupa panah.
Beberapa busur panah yang dibuat olehnya telah mengguncang dunia persilatan di era ini, dan tidak jarang diperebutkan oleh para pendekar karena kekuatannya.
Siapapun yang bermimpi untuk menjadi pemanah sekaligus pencipta busur panah, dialah guru yang paling tepat.
"Aku tidak akan membuang waktu, ujian seleksi menjadi murid resmi akan dimulai. Ada dua ujian yang harus kalian lewati, pertama ujian mental dan kedua ujian pisik."
Paraswara tidak memasukan ujian bakat dalam hal ini, karena dia percaya, bakat akan terbentuk saat proses belajar dilakukan.
Lagipula kebanyakan calon murid merupakan anak anak dari pekerja tambang, dan hanya sedikit dari luar. Mereka pasti sudah paham betul tentang palu, pahat atau pula jenis jenis logam.
"Pertama ujian spiritual!" kata Paraswara.
Dia mengeluarkan busur panah berwarna emas, beberapa saat kemudian, busur itu melayang di udara dengan aura yang sangat berat.
Paraswara meminta setiap calon murid untuk menyentuh busur tersebut, jika mereka bisa melakukannya, mereka dianggap lolos ujian tahap pertama ini.
"Gunakan metode apapun yang kalian miliki untuk menyentuhnya!" tantang Paraswara sembari tersenyum dingin. "Kita akan mulai dari dirimu!" Dia menunjuk seorang bocah yang berdiri paling kanan dari barisan.
Ketika bocah itu mendekat, aura yang berat langsung mendorong tubuhnya ke belakang.
Semakin kuat keinginannya untuk menyentuh busur tersebut, semakin jauh pula dia terdorong mundur.
"Gagal!" kata Paraswara. "Datanglah tahun depan lagi jika kau masih memiliki tekad."
Dari 50 murid yang maju, baru 15 orang yang berhasil menyentuh busur tersebut.
Waktu berlalu dengan cepat, kini hampir 2/3 calon murid dinyatakan gugur dalam ujian tahap pertama.
Sementara itu, Talang Mayan mulai menyadari sesuatu dengan busur tersebut. Menurut dirinya, busur itu hanya dapat disentuh jika seorang bocah sudah memiliki dasar energi spiritual.
Dasar spiritual terbentuk di bawah pusar di perut, sering juga disebut sebagai kolam spiritual, telaga spiritual atau bahkan lautan spiritual di level yang lebih tinggi.
Karena busur itu juga mengandung energi spiritual milik Paraswara, maka menyentuhnya paling tidak harus memiliki dasar spiritual yang sudah terbentuk.
Sekarang Pelisik maju ke depan.
"Adik, aku yakin tantangan ini cukup mudah dilakukan," ucap Kuncoro.
Pelisik dengan penuh percaya diri maju ke depan. Dia menatap Talang Mayan sejenak dengan ekpresi merendahkan, sebelum kemudian mendekati busur panah.
Seperti beberapa murid yang lolos, ada dorongan terhadap tubuhnya, tapi hal itu tidak berlangsung lama, sebelum kemudian dia akhirnya berhasil menyentuh busur panah itu.
"Lolos ke babak selanjutnya!" kata Paraswara.
Pelisik kembali dengan rasa bangga, kemudian kembali menoleh ke arah Talang Mayan, dan senyum merendahkan kembali tersirat di bibirnya.
"Sekarang kau!" Paraswara menatap wajah Kuncoro.
Dengan dada membusung, wajah terangkat dan tangan terkepal, Kuncoro berjalan gagah di hadapan banyak calon murid.
"Hanya menyentuhnya, ini mudah." Tanpa ada dorongan sama sekali, Kuncoro berhasil menyentuh busur tersebut.
"Hebat! Siapa remaja itu? Dia memiliki bakat yang baik."
Paraswara mulai tersenyum puas, nampaknya ada juga satu remaja yang menarik perhatiannya setelah begitu banyak calon murid yang melakukan ujian.
Pujian demi pujian dilontarkan kepada Kuncoro, dari beberapa remaja lain, dari gadis gadis kecil dan dari murid resmi yang menyaksikan ujian tersebut.
"Sepertinya sudah berakhir!" Paraswara menghiraukan seseorang bocah bertubuh lebih pendek dan usia yang lebih kecil dari peserta yang lain. Dia menganggap ujian babak pertama ini sudah selesai, hal ini membuat Talang Mayan merasa tidak mendapatkan ke adilan.
"Kenapa kau tidak memanggilku, bukankah kau sudah melihatku?" tanya Talang Mayan.
Paraswara menepiskan tangannya, hanya berkomentar bahwa Talang Mayan tidak memenuhi kriterianya. Usianya terlalu kecil, dan tubuhnya terlalu kurus.
Alasan yang tidak masuk akal. Bukankah ada peserta yang memiliki postur tubuh yang juga kurus, bukankah ada pula yang berusia 10 tahun?
"Kau belum mengizinkan aku mencoba busur panahmu, dan kau memutuskan bahwa aku tidak layak? Apakah seorang tetua sekaligus pemandu kehilangan kebijakansanaanya?"
Di sisi lain, Kuncoro dan Ayahnya tersenyum mengejek. Mereka sudah menduga hal ini sejak awal, Talang Mayan akan ditolak oleh Sekte Empu karena Ayahnya.
Salah satu keluarga inti tidak menginginkan Talang Mayan, bocah itu akan menjadi masalah di kemudian hari, jadi sebelum hal itu terjadi akan lebih baik jika dia ditolak.
"Talang Mayan, meskipun Tetua Paraswara mengizinkanmu, hasilnya tetap sama. Apa kau meragukan pengalaman seorang Empu?" Pelisik mulai mencari perhatian, dia tahu waktu yang tepat untuk mengambil alih panggung pertunjukan.
"Pengalaman yang kau maksud membawa seseorang dalam kebijaksanaan, jika pengalaman itu membawanya kedalam ketidak adilan, pengalaman itu hanya catatan kumuh tidak berarti."
"Apa yang kau katakan, darimana kau mendapatakan kalimat seperti itu, bajingan!" Selasik semakin memperkeruh suasana di atas pelataran, "tundukan kepalamu dan minta maaf pada Tetua!"
Talang Mayan tidak mendengar ucapan Selisik, dia hanya menunggu keputusan Paraswara.
"Baiklah, Baiklah!" Paraswara merasa geram, tapi kebijakannya sedang dipertaruhkan saat ini. "Aku mengizinkanmu!"
Talang Mayan tersenyum tipis, dia berjalan mendekati busur panah, tapi tanpa disadari oleh orang lain, Paraswara mengalirkan energi spiritualnya lebih banyak kedalam busur untuk mempermalukan Talang Mayan.
Baru beberapa langkah saja, tubuh Talang Mayan langsung menerima aura yang begitu berat, seolah ada balon udara besar yang menahan langkah kakinya saat ini.
“Dia mempermainkanku ..,” Talang Mayan bisa merasaka energi spiritual pada busur panah emas itu jauh lebih besar daripada sebelumnya. “Aku tidak akan menyerah.”
Talang Mayan mencoba mengaktifkan dasar energi spiritual di tubuhnya untuk mencegah tekanan ekstrime yang menyerangnya. “Tubuh ini memang masih lemah, tapi aku masih memiliki pengetahuan dari kehidupan lamaku.”
“Apa yang akan kau lakukan, bocah?” gumam Paraswara, “kau pikir aku akan mengizinkanmu menyentuh busur panas emas milikku?”
Tekanan dari busur panah emas itu menjadi lebih kuat, membuat tubuh Talang Mayan mundur beberapa langkah jauhnya. Namun, dia tidak menyerah, di dalam alam bawah sadarnya, kolam spiritualnya mulai bergerak oleh rangsangan dari luar.
Hingga tiba-tiba.
Boom. Ledakan energi kecil muncul dari dalam tubuh Talang Mayan, mengejutkan Paraswara sekaligus beberapa murid resmi yang menyaksikan acara tersebut.
“Dia berhasil mengaktifkan energi spiritualnya? Dengan memanfaatkan tekanan dari energi spiritual milikku?” Paraswara menyipitkan mata karena merasa heran, “Apa Mundru sudah melatihnya secara diam-diam?”
“Apa yang terjadi?” Kuncoro tercengang, di ikuti oleh Ayahnya dan Pelisik.
“Sekali lagi ..,” teriak Talang Mayan.
Booom. Level energi spiritualnya kembali meledakan, yang menandakan kenaikan level energi spiritualnya sedang terjadi.
Satu minggu telah berlalu sejak markas Jantung Iblis berhasil ditaklukan oleh Parasura dan prajurit Indraprasta. Beberapa waktu belakang, misi itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan para anggota Parasura dan para pejabat yang ada di istana.Penyerahan mendali penghargaan dibagikan oleh Patih Wira bagi Intan Selake dan yang lainnya. Tentu saja, karena ini adalah misi level S yang sangat sulit untuk dilakukan oleh kebanyakan pendekar maupun para prajurit.Namun diantara daftar itu, tidak ada nama Talang Mayan di papan pengumuman. Setelah dia kembali dari misinya, Talang Mayan tetaplah Talang Mayan, tanpa topeng hitam tanpa jubahnya. Dia hanya mendapatkan nilai kontribusi level B, sebagaimana kelasnya saat ini.Namun mengenai Pendekar bertopeng hitam itu, tetap saja menjadi perbincangan di kalangan para prajurit yang menyaksikan kehebatannya.“Jika saja, dia adalah anggota Parasura, mungkin dia akan mendapatkan mendali penghargaan seperti yang lain,” gumam beberapa prajurit yang sedan
Malam itu, hubungan antara Talang Mayan dan Putri Intan Selake terasa lebih hangat. Siapa yang menduga, jika Intan Selake merupakan gadis yang gemar berbicara, penuh canda jenaka, dan sesekali menunjukan sifat marah sebagaimana wanita pada umumnya.Di sisi lain, Talang Mayan dengan hati sedingin es yang nyaris tidak memiliki emosi sama sekali, kini menjadi lebih lunak di hadapan gadis tersebut. Ya, tidak banyak orang yang bisa membuat hatinya menjadi lebih hangat, hanya bisa dihitung oleh lima jari tangan saja.Namun malam ini, rasanya sedikit berbeda. Setiap kali Talang Mayan mengintip wajah Intan Selake dari celah lubang topeng, jantungnya terasa akan melompat keluar dari dadanya sendiri.Malam itu, Putri Intan Selake tidur bersandar di batang pohon. Melihatnya, Talang Mayan melepaskan jubah hitamnya, dan menyelimuti tubuh gadis tersebut.Sebagai orang yang peminum, Talang Mayan tidak pernah bisa benar-benar tidur dengan nyenyak, apa lagi ada sosok gadis yang harus dia jaga malam i
Dalam kesendiriannya setelah mengalahkan Jantung Iblis, mendadak Putri Intan Selake muncul di belakang Talang Mayan, di Desa Raya Keling yang kini sudah tidak memiliki warganya lagi.Kala itu, Talang Mayan terlihat duduk di kursi panjang dengan arak di tangannya. Setelah pertarungan yang melelahkan, pemuda itu berencana untuk berisitirahat beberapa hari di sini sebelum kembali ke Istana Indraprasta untuk melaporkan hasil misi.Namun dia tidak menduga, -yang dikira semua orang sudah kembali ke Istana, rupanya Putri Intan Selake diam-diam mengikuti pemuda tersebut.“Tuan Putri ..,” ucap Talang Mayan, sedikit tersedak oleh arak yang dia minum.“Kau sudah mengetahui namaku, tapi aku belum mengetahui namamu,” ucap Putri Intan Selake, dan diapun duduk di sebelah Talang Mayan sembari meletakan pedang pusaka es di pangkuannya.“Apalah arti sebuah nama,” kata Talang Mayan, “kadang kala seseorang bisa melupakannya dengan sangat mudah?”“Aku mendengar semua tentang Pendekar Bertopeng Hitam yang
“Astaga, berapa banyak barang berharga yang dimiliki orang ini?!” Senopati Anom yang dari tadi selalu memasang standar kehormatan yang tinggi di hadapan para pendekar, akhirnya memasang wajah yang konyol ketika melihat Cakram Sudra yang keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan.Dengan mata terbelalak tak percaya, dan mulut sedikit terbuka, hingga mungkin lalat bisa masuk tanpa dia sadari, Senopati itu kembali berkata, “dua harta pusaka, itu tidak ternilai dengan apapun, tidak dengan harta, jabatan dan status.”Sementara itu, Putri Intan Selake melirik ke arah Talang Mayan sejenak, hatinya berdebar saat merasakan gejolak dari Cakram Sudra.Lalu menyeranglah gadis itu lebih dahulu ke arah para tetua yang berdiri congak di atas markas mereka. Energi yang dingin membekukan udara dalam hitungan detik, memutihkan seluruh udara di sekitar tempat itu.Markas itu dengan cepat menjadi bangunan es yang berkilauan saat ini, tapi bahkan serangan yang sesungguhnya belum menyentuh para tetua it
Harta yang sangat berharga. Inilah kalimat yang terlintas dalam benak para pendekar dan para prajurit yang menyaksikan kemenangan Talangan Mayan atas pimpinan tertinggi Jantung Iblis.Belati Dasakala, adalah harta berharga yang membuat orang lain merasa iri, sekaligus takut berhadapan dengan Talang Mayan. Semua pendekar di level tanpa tanding, bisa merasakan roh senjata yang bersemayam di dalam belati itu, bukan berasal dari jiwa siluman.“Jiwa yang begitu liar, jahat, dan kuat,”kata salah satu dari tetua Jantung Iblis, “tidak salah lagi, itu adalah Jiwa Dasakala.”“Bocah itu terlalu beruntung, bisa menjadikan Dasakala sebagai roh senjata miliknya.”“Beruntung?” Senopati Anom yang mendengar perkataan para tetua Jantung Iblis lansung menyela, “Tidak ada keberuntungan di dunia ini. Jika kau mendapatkan sesuatu yang berharga, itu karena hasil dari penderitaan yang kau alami di masa lalu.”Senopati Anom kemudian mengangkat telapak tangannya ke atas, di saat yang sama pula, semua prajurit
Rewak mulai menggunakan potensi pedang jantung iblis kehancuran, tapi di sisi lain, Talang Mayan dengan Belati Dasakala yang terbang dengan kehendaknya sendiri tidak menunjukan rasa gentar sedikitpun.Belati Dasakala terbang ke langit, kemudian meluncur dengan kecepatan tinggi dan langsung bertemu dengan pedang Rewak yang dikenal sangat menakutkan. Dalam adu kekuatan senjata, energi yang benturan yang dihasilkan oleh ke duanya berhasil menyapu bersih medan pertempuran di sekitar mereka.Tanah terkelupas, gelombang kejut menghempaskan segala benda, dan di situ, Rewak harus menahan tekanan energi belati yang terus menyerangnya dari segala arah.-Jurus Lingkaran Maut-Talang Mayan tidak membuang-buang kesempatan, di saat belati Dasakala sibuk menyerang dan membatasi pergerakan Rewak, Talang Mayan justru memanfaatkan situasi itu untuk melancarkan serangan yang tidak terduga.Tanpa dua belati, Talang Mayan terpaksa menggunakan semua sayap-sayap lebah untuk melengkapi serangannya.“Cih,” Re
Berjalan bersama dengan para budak, kini Talang Mayan tiba di dapur utama. Ada puluhan pekerja dapur, diawasi oleh lusinan pendekar yang bermata tajam. Talang Mayan segera meletakan bakul beras. Diam diam memotong rantai di kakinya, lalu menyelinap pergi dari ruangan itu. Dia berjalan di antara r
Di hari itu, para warga dibantu oleh para budak-budak menciptakan kendaraan angkut sederhana untuk meninggalkan desa. Sementara itu, di saat yang sama pula, Talang Mayan pergi ke perbatasan bersama dengan pendekar Jantung Iblis,-yang sudah dilumpuhkan.Bukan gila dengan niat menyerang markas besar
Untuk menjamin perkataanya, Talang Mayan melepaskan sayap sayap lebah yang melekat di kaki dua gadis tersebut. Dia kemudian meminta mereka untuk menyerang para pendekar Jantung Iblis dengan menggunakan cambuk.Tanpa energi spiritual.Meskipun ke dua gadis itu merasa ragu -apakah cambuk mereka bisa
“Formasi bertahan!” Mereka mengalirkan energi spiritual ke tanah dengan telapak tangannya. Di saat itulah, energi spiritual semuanya bergabung menjadi satu menciptakan ratusan benang halus yang saling terikat membentuk jala atau jaring.Selain dapat menahan serangan lawan, di dalam formasi itu, ene







