共有

27. Jual Beli

作者: Pancur Lidi
last update 最終更新日: 2026-02-28 09:59:38

Talang Mayan masuk ke dalam kamar terakhir, kamar pribadi Dewa Semaranta ketika dia hidup di bumi ke tujuh. Di dalam kamar, Mayan menemukan banyak sekali tumpukan kertas yang berisi catatan metode pelatihan. Namun itu tidak berguna, karena pemilik metode itu kini telah menjadi Guru bagi pemuda itu.

Mengikuti saran gurunya, Mayan kemudian memeriksa kolong lemari. Tangannya tiba-tiba menyentuh kain, dan setelah dia mendapatkan benda tersebut, pemuda itu merasa kecewa, “guru, ini hanya kantong pen
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   64. Mayan vs Ki Ribas

    Rindu Ati adalah cucu kandung Ki Ribas, membenarkan semua yang diucapkan oleh Talang Mayan. Lebih jauh, Rindu Ati mengatakan, Ki Ribas menggunkan ibunya untuk mengendalikan Rindu Ati, agar gadis ini tunduk demi kepentingan keluarga mereka.“Rindu Ati, fitnahmu sungguh membuat hati orang tua ini hancur! Semua yang aku lakukan semata-mata untuk dirimu sendiri, aku tidak mengendalikanmu, aku hanya ingin kau menjadi pewaris keluarga, tidak seperti Anggar Sukma yang lebih memilih orang dari luar, sebagai suaminya, dan melahirkan anak haram ini!”“Bukankah Kakek tadi menginginkan Kuncoro sebagai suamiku, bukankah dia juga orang luar?” timpal Rindu Ati dengan air mata yang berlinangan karena merasa sangat kecewa.Mendengar hal itu, Ki Ribas langsung terdiam. Tidak terduga, jika tindakan cerobohnya barusan malah membuat aibnya terbuka di hadapan semua tetua sekte dan murid-murid di sini.“Apa lagi yang kau inginkan, bukti apa lagi yang kau butuhkan?!” ucap Nyi Loro Ati yang kini tiba-tiba ang

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   63. Tantangan Hidup dan Mati

    Serangan yang dilakukan oleh Kuncoro, -dengan rasa percaya diri, dihentikan oleh belati yang berputar seperti cincin. Kekuatan yang dikatakan tidak memiliki tandingannya itu, kini benar-benar ditahan oleh Talang Mayan.“Aku tidak akan kalah!” Kuncoro berteriak, mengalirkan energi spiritual kepada busur panahanya. Ukuran anak panah itu menjadi lebih besar, mendorong putaran belati yang menahannya.Energi emas terlihat mendominasi, menekan dan mencoba menghancurkan jurus Lingkaran Maut yang digunakan oleh Talang Mayan.“Kuncoro, buktikan kau bisa mengalahkannya, dan kau akan mendapatkan Rindu Ati sebagai istrimu!” Ki Ribas berkata pelan, tapi ucapannya terdengar oleh Kuncoro karena pria tua itu menggunakan kekuatan spiritualnya.Kuncoro semakin bersemangat, menguras habis energi spiritualnya, sebagai bahan bakar jurus Bayang-bayang elang. Namun di sisi lain, Talang Mayan yang berdiri di atas lantai arena, -hanya menggunakan satu telapak tangan kanannya saja, mendadak tersenyum lebar.S

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   62. Hancurnya Hati Seorang Guru

    Kuncuro mulai frustasi, serangannya membabi buta, tapi Talang Mayan masih berdiri di tempatnya, memainkan jari telunjuk sambil sesekail menggaruk kepalanya. Sebagai seorang pendekar pilih tanding yang sudah menghabisi siluman berusia sepuluh ribu tahun, melawan Kuncuro tentu bukan masalah bagi Talang Mayan.Kemampuan dirinya dalam menempa senjata sudah dibuktikan malam ini. Belati, yang dianggap lemah dan tidak berguna, ternyata dapat menahan semua serangan yang dikirim Kuncuro ke arah pemuda tersebut.Bukan satu kali benturan, hampir lebih dari 20 kali benturan, tapi belati itu masih tetap bertahan.“Jurus Bayang-Bayang Elang.” Kini Kuncor akhirnya menggunakan jurus terkuat yang dimiliki oleh Keluarga Panah. Dia melompat ke udara, kemudian dua atau tiga detik kemudian, burus di tangannya mulai diselimuti oleh cahaya berwarna ke emasan.Sesaat, muncul bayangan busur raksasa di atas kepala pemuda tersebut.“Jurus yang kuat,” gumam beberapa murid di pinggir Arena, “hanya dalam satu hari

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   61. Mayan vs Kuncoro

    Siapa yang akan menantang Talang Mayan? Tentu saja semua orang kini menatap ke arah pemuda itu dengan penuh tanda tanya. Beberapa orang merasa dia terlalu percaya diri dengan kemampuannya, beberapa orang yang lain menganggapnya sebagai pemuda pemberani dan memiliki ambisi besar.“Lihatlah!” kata salah satu murid, “aku tidak habis fikir, kenapa ada orang seperti dirinya di Sekte Empu?”“Mungkin dia berfikir, dengan perolehan nilainya di babak pertama dan ke dua, sudah menjamin kemenangannya.”“Masih ada Nona Rindu Ati, Wayang Sari dan Kuncoro, mereka bertiga merupakan murid yang jenius, aku yakin dia bahkan tidak akan mampu menyelesaikan satu pertandingan ini.”Sementara itu, Rindu Ati langsung memberi hormat, dan menyatakan dirinya tidak akan bertarung melawan Talang Mayan.“Nona, kenapa kau tidak ingin melawan pemuda itu? apa karena dia adalah Putra Mundru?” Wayang Sari merasa ada yang salah dengan temannya ini, pasalnya Rindu Ati tidak pernah membicarakan apapun yang berkaitan denga

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   60. Pertarungan Seimbang

    Aturan pertandingan cukup mudah, tidak boleh membunuh, tidak boleh menggunakan racun, dan tidak boleh menggunakan senjata lain selain senjata yang baru saja mereka buat barusan.“Siapa yang keluar arena lebih dahulu, akan kalah! Siapa yang mengaku kalah, dianggap kalah,” ucap Ki Paraswara, “Setiap perseta mendapatkan kesempatan untuk menantang lima peserta yang lain.”Semua peserta itu mengangguk tanda mengerti. “Tidak ada yang boleh melenggar aturan, atau mereka akan mendapatkan hukuman yang sangat berat, dan statusnya sebagai murid utama akan diturunkan menjadi murid biasa.”Pertandingan pada sore ini akan segera dilaksanakan, dan mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menilai siapa yang akan menjadi pemenang utama. Semua peserta tampak bersemangat, kecuali Talang Mayan yang dari tadi lebih banyak diam tanpa memberikan sedikitpun tanggapan.“Sekarang siapa yang akan maju lebih dahulu?!” kata Paraswara memberikan kesempatan kepada peserta itu untuk tampil pertama kali di

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   59. Ejekan dari Penonton

    Nomor undian dibagi secara secara acak, kemudian dipanggil pula secara acak. Ki Paraswara mengambil enam gulungan kertas, kemudian dia berkata, “Nomor 1, 5, 6,18,7 dan 12. Silahkan maju ke depan.”Talang Mayan menatap nomornya, “Nomor 18, itu aku,” gumam Talang Mayan.Pemuda itu maju ke depan diikuti oleh beberapa murid dari keluarga lain, termasuk Pelisik yang secara tidak terduga berada di nomor urut 5. Di hadapan mereka, ada tong berisi pasir besi yang masin ‘kotor’.Pertandingan pertama itu mudah, murnikan pasir besi itu hingga menjadi logam solid.Karena ukuran setiap senjata berbeda, waktu yang diberikan kepada masing-masing juga berbeda-beda. Talang Mayan hanya membuat sebuah belati, jadi dia tidak perlu mengambil terlalu banyak pasir besi. Hanya secukupnya.Hanya dalam beberapa menit kemudian, Talang Mayan sudah berhasil mendapatkan logam solid yang dia inginkan dengan kualitas terbaiknya. Semua orang tidak terlalu memperhatikan pemuda tersebut, ya, karena memang senjata yang

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status