Inicio / Pendekar / Talang Mayan / 5. PIlar Batu Hitam

Compartir

5. PIlar Batu Hitam

Autor: Pancur Lidi
last update Última actualización: 2026-02-21 21:37:03

Talang Mayan naik ke level 2 hanya dalam beberapa menit saja. Meledakan energinya dari dalam kolam spiritual. Dari semua murid yang pernah mendaftar di Sekte Empu, baru pertama kali ada seorang remaja memiliki energi spiritual aktif di dalam tubuhnya.

Menariknya, dia mengaktifkan energi itu setelah mendapatkan tekanan berat dari Paraswara.

“Kau bisa mengujiku lebih berat lagi,” gumam Talang Mayan, seolah menantang Paraswara untuk menambah energi spiritual di dalam busur panah emasnya. “Kita lihat, aku akan menciptakan keajaiban.”

Tidak ingin dimanfaatkan oleh Talang Mayan, Paraswara hanya bisa diam menahan amarahnya. Dia tidak yakin seberapa banyak energi spiritual yang dapat dibangkitkan oleh bocah tersebut, tapi kebangkitannya akan menimbulkan kegaduhan di Sekte Empu.

“Kau lolos!” kata Paraswara.

Talang Mayan menarik nafas panjang, akhirnya dia bisa menyelesaikan tantangan pertama dalam ujian ini.

Selanjutnya, Paraswara akan melanjutkan tantangan ke dua yang akan dijalani oleh 30 murid yang berhasil lolos di babak pertama. Ini adalah ujian mental yang secara khusus telah disiapkan oleh Paraswara untuk menguji calon-calon murid di generasi ini.

Dia membawa 30 murid ke tempat lain.

Namun kali ini, ujian babak ke dua akan disaksikan langsung oleh 6 tetua tinggi Sekte Empu yang mewakili setiap keluarga inti. Bukan hanya mereka saja, ada lebih banyak murid resmi yang menyaksikan ujian tersebut.

Bahkan, beberapa murid di level yang berbeda-beda mulai tertarik dengan calon murid di tahun ini.

Di depan mereka ada sebuah pilar yang terbuat dari batu berwarna hitam pekat. Begitu pekatnya, sampai-sampai benda itu bisa menyerap cahaya matahari yang menyinarinya.

“Ini adalah pilar ketakutan,” ucap Paraswara. “Kalian hanya perlu meletakan telapak tangan di posisi yang sudah ditandai, dan membiarkan pilar ini menguji mental kalian. Penilaian akan ditentukan seberapa lama kalian bisa bertahan dari pengaruh negatif pilar tersebut.”

Satu murid kemudian diminta maju ke depan untuk meletakan telapak tangannya di permukaan pilar batu. Pada awalnya, pilar itu tidak bereaksi, hingga murid itu mulai merasa ketakutan, dan pilar memancarkan cahaya merah darah.

Sesuatu langsung menyerang mentalnya, sesuatu yang tidak kasat mata, tidak berbentuk tapi secara efektif menimbulkan ilusi yang menakutkan. Hanya dalam tiga tarikan nafas, murid itu berteriak dan jatuh pingsan karena tidak mampu menahan ilusi yang dilihat di dalam alam bawah sadarnya.

Setiap murid akan mendapatkan ilusi yang berbeda-beda tergantung dengan pikiran dan pengalaman hidup yang mereka alami selama ini. Pada prinsipnya, pilar batu hitam ini membangkitkan rasa takut seorang calon murid dengan merasakan pengalaman yang pernah atau paling tidak didengar oleh mereka.

Jadi, jika seorang calon murid kerap kali mendengar cerita tentang hantu dari orang tuannya, dan menimbulkan rasa takut yang berlebihan, maka pilar batu hitam akan meningkatkan rasa takut itu dua kali lipat.

Dalam prosesnya, pilar itu akan menampilkan gambaran ilusi yang dapat dilihat oleh semua orang meskipun tidak menyentuhnya, tapi bagi mereka yang menyentuh pilar itu, mereka dapat merasakan kengerian itu seolah sangat nyata.

“Pilar batu yang membuka aib seseorang,” gumam Talang Mayan.

Satu persatu murid mulai diminta maju ke depan, dan sebagian dari mereka hanya mampu bertahan selama 5 tarikan nafas saja. Ini merupakan waktu standar bagi para calon murid baru.

Sementara itu, bagi mereka yang hanya mampu bertahan di bawah lima tarikan nafas, akan langsung dianggap gugur oleh Paraswara.

Setelah beberapa waktu lamanya, akhirnya Pelisik si gadis menyebalkan itu maju ke depan. Dia menyentuh pilar batu hitam, dan mulai merasakan sesuatu yang menjalar melewati tangannya, dan berhenti tepat di kepalanya.

Setelah itu, dia mulai melihat bayangan yang tapak begitu nyata. Masa depan yang mengerikan. Rumahnya hancur terbakar, ibunya mati di dalam kobaran api sembari memeluk tumpukan emas.

Namun, Pelisik masih bisa bertahan. Dia berhasil melewati batas standar para murid yang hanya lima tarikan nafas. Pelisik tampaknya belum goyah. Jadi, gambaran lain mulai terlintas di dalam benaknya saat ini.

“Dia tidak takut apapun, kecuali kemiskinan ..,” gumam Paraswara yang menyaksikan bagaimana Pelisik tanpa sadar saat dia berubah menjadi gelandangan yang dikucilkan oleh orang lain. “Dia bahkan tidak menjerit saat ibunya tewas, tapi menjadi gila saat statusnya berada di titik paling hina.”

Suah.

Pelisik akhirnya jatuh. Air matanya masih berderai, mulutnya masih terbuka lebar, dan peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya.

“Menarik,” ucap Paraswara, “kau bertahan selama 8 tarikan nafas, di antara murid yang lain, kau menduduki sekor pertama di ujian kali ini.”

Kini giliran Kuncoro yang diuji oleh pilar batu hitam itu. Dari gambaran ilusi yang muncul, Kuncoro hampir tidak memiliki rasa takut akan apapun, kecuali satu hal yaitu kekalahan. Ketika dia diuji dengan kehilangan harta, kehilangan keluarganya, dia bisa bertahan, tapi ketika dia diuji dengan kekalahan, dia menjadi prustasi dan mulai berteriak tidak karuan.

Kuncoro mulai menyalahkan beberapa orang yang dia lihat di dalam ilusi tersebut, bahkan dia menyalahkan Ayahnya yang dianggap terlambat mengirimnya ke Sekte Empu.

Namun menariknya, Kuncoro bertahan selama 10 tarikan nafas dalam ujian mentalnya. Sekor yang sangat tinggi, menunjukan mental remaja ini begitu kuat. Sekali lagi, Paraswara memuji Kuncoro, dan beranggapan remaja itu akan menjadi murid jenius dan mendapatkan reputasi yang sangat terhormat di Sekte Empu.

Mendengar hal itu, Kuncoro begitu bangga dengan kemampuannya, dia bahkan membusungkan dada di hadapan calon murid yang lain.

“Kakang, kau benar-benar hebat ..,” Pelisik merangkul lengan Kuncoro dengan wajah antusias, memikirkan bahwa pilihannya berada dekat di sisi Kuncoro sudah benar.

Hingga pada akhirnya, Talang Mayan mulai mengambil bagiannya. Dia meletakan telapak tangan di permukaan pilar batu hitam tersebut, lalu mulai memfokuskan pikirannya pada benda itu.

Cahaya merah mulai menyala, menyelimuti seluruh permukaan batu, tapi kali ini begitu terang sampai-sampai tubuh Talang Mayan tenggelam di dalam pijaran cahaya tersebut.

Sayangnya, tidak ada ilusi yang ditampilkan oleh batu tersebut. Seolah, pilar itu tidak mengetahui hal apa yang benar-benar menakutkan bagi Talang Mayan. Dia tidak takut kehilangan apapun, karena dia sadar dia tidak pernah memilikinya di sepanjang kehidupannya.

Talang Mayan juga tidak takut mati, karena dia sudah pernah mengalaminya. Dia juga tidak takut menjadi lemah, karena saat ini dia memiliki segudang pengetahuan di benaknya.

“Seseorang tanpa emosi ..,” tiba-tiba Talang Mayan mendengar suara samar-samar dari pilar batu hitam, “bagaimana seorang manusia kehilangan emosinya? Seberapa banyak penderitaan yang kau alami, Manusia?”

“Siapa dirimu?” tanya Talang Mayan, mencoba mencari darimana sumber suara itu berasal, “tunjukan wajahmu.”

“Kau bahkan tidak takut saat mendengar suaraku,” balasnya. “Manusia tanpa emosi sepertimu sangat berbahaya.”

“Emosi?” Talang Mayan tertawa kecil, “Aku menyimpannya rapat-rapat di dalam jiwaku, ketakutan tidak berarti apapun dihadapanku. Jika segala sesuatu yang kau miliki kemudian direnggut dengan paksa, kau akan kehilangan ketakutan itu.”

Suara itu kemudian menghilang dari benak Talang Mayan, tapi beberapa tarikan nafas kemudian, tiba-tiba dia melihat seorang pria samar melayang di sekitarnya. Seperti hantu.

“Siapa dirimu?” tanya Talang Mayan.

“Aku adalah sisa kesadaran yang menjaga pilar batu hitam ini,” ucap pria tersebut, “Dulu aku dujuluki sebagai Lebah Perak yang mengikuti perintah guruku untuk menjaga sebuah wilayah. Dia menanamkan mantra di dalam jiwaku yang terikat dengan pilar batu hitam, untuk menjamin agar tidak akan meninggalkan tugasku hingga akhir hayat. Pada kematianku, jiwaku akhirnya terikat dengan pilar batu hitam ini.”

Lebah Perak kemudian mengulurkan tangannya, ada sebuah logam berwarna perak di telapak tangan pria tersebut. Sebuah jimat. Ada beberapa tulisan terukir pada logam itu, dan menurut Lebah Perak, tulisan itu menyimpan misteri yang sangat berharga. Hanya jika Talang Mayan berhasil memecahkan misteri tersebut, dia akan menjadi seorang pendekar hebat di kemudian hari.

“Aku menyimpan satu jurus terkuat di dalam logam tersebut, jika kau beruntung kau akan menemukan rahasianya! Setelah ini, pilar batu hitam tidak akan berfungsi lagi.”

“Jadi ini adalah inti dari pilar batu hitam?” Talang Mayan menatap logam perak di telapak tangannya dengan rasa penasaran.

“Akhirnya tugasku menjaga tempat ini sudah selesai, kau adalah pewarisku selanjutnya, ditanganmulah apa yang baik dan apa yang buruk akan terjadi.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Talang Mayan   21. Bangunan Kuno

    Satu hari lamanya di dalam goa tersebut, tapi gerombolan para siluman belum juga menyurut. Talang Mayan berfikir keras, apa yang memicu para siluman ini keluar dari sarangnya. Atau apakah ada jenis siluman yang memiliki kesadaran seperti manusia yang memberikan perintah kepada siluman-siluman ini?“Aku belum pernah mendengarnya,” gumam Talang Mayan, “siluman yang memiliki kesadaran. Sekarang tidak ada yang bisa aku lakukan di sini, keluar dari goa hanya akan membuatku tewas di makan siluman. Dengan kemampuanku seperti ini, aku hanya bisa membunuh 10 siluman level rendahan saja.”Di kehidupan pertamanya, Talang Mayan meningkatkan level energi sepiritual dengan menyerap mustika siluman. Hal itu bisa dia lakukan karena darah iblis yang mengalir di dalam nadinya, dapat menetralkan efek samping mustika tersebut.Namun, di kehidupan ini, jangankan darah iblis, hanya untuk memiliki 30 cakra spiritual harus berlatih tahunan di dalam ruangan tersembunyi.“Saudara Mayan, apa yang kau pikirkan?”

  • Talang Mayan   20. Rahasia Sekte

    Talang Mayan menemukan goa cukup luas setelah dia berhasil menghindari para siluman. Sekarang, di dalam goa itu, dia meletakan Rindu Ati di atas batu. Kondisi gadis itu masih lemah, tapi racun di tubuhnya telah menghilang.Hanya menunggu waktu, dia akan sadar. Namun di sisi lain, perasaan Talang Mayan menjadi tidak menentu. Dia masih tidak mengerti, kenapa membantu Rindu Ati. Dia adalah putri dari keluarga Pedang, keluarga yang menginginkan dirinya mati.Jika bukan Gurunya, Nyi Loro Ati telah menyembunyikan keberadaan Talang Mayan selama 6 tahun lamanya, remaja itu mungkin sudah menyatu dengan tanah. 6 tahun tinggal di ruang rahasia, itu seperti penjara yang menyiksa.Dia tidak pernah melihat matahari, tidak pula rembulan malam. Talang Mayan bahkan tidak lagi mengetahui bedanya siang dan malam saat di ruang rahasia tersebut. Namun, tekadnya untuk bertahan hidup, membuat Talang Mayan bertahan, berlatih dan patuh terhadap Nyi Loro Ati.Sekarang di hadapannya, sosok gadis dari keluarga P

  • Talang Mayan   19. Kepungan

    Talang Mayan kembali memeriksa beberapa mayat untuk mencari penawar racun dari senjata yang mereka miliki. Dengan pengalamannya yang cukup banyak, Talang Mayan akhirnya mendapatkan penawar itu yang di simpan di dalam gigi palsu.‘Cara yang cerdik,’ ucap Talang Mayan.Untuk berjaga-jaga di hari depan, Talang Mayan segera mengambil semua penawar racun dari gigi-gigi palsu para pendekar aliran hitam, sebelum kemudian dia berlari lagi menunju murid Sekte Empu.“Kau sudah kembali?” Pelisik menatap Talang Mayan yang pergi dan kembali hanya dalam beberapa detik saja.Talang Mayan tidak menjawab apapun, dia langsung menyerahkan satu penawar kepada Wayang Sari untuk diberikan kepada Rindu Ati. Lalu menyerahkan satunya lagi kepada Duguk Ireng.Merasa tidak diperhatikan, Pelisik merasa kesal. Dia menduga apakah Talang Mayan sengaja mengacuhkan dirinya, karena statusnya yang bukan berasal dari keluarga inti Sekte Empu? Atau karena kekuatannya berada di level yang lebih rendah dari Rindu Ati dan W

  • Talang Mayan   18. Siluman Kepiting

    Ada gejolak bergerak liar di dalam pantai, sementara Duguk Ireng masih sibuk berburu ikan di antara terumbung karang.Talang Mayan menarik dua belati miliknya, kemudian bergegas mendekati pantai, tapi di saat yang sama pula, muncul sosok monster ikan dari dalam air. Seperti kepiting tapi memiliki ekor kalajengking.Hanya satu jengkal saja, ya satu jengkal saja! jarak antara kematian dengan kepala Duguk Ireng, sebelum kemudian Talang Mayan berhasil tiba tepat waktu, dan memotong ekor kepiting tersebut.Mahluk itu meraung kesakitan, terdengar seperti suara desisan ular besar yang bersiap melahap mangsanya. “Pergi ke daratan!” Talang Mayan berkata dingin, dijawab balik dengan suara gemetar dari mulut Duguk Ireng.Ketika Duguk Ireng berlari pontang-pangting meninggalkan bibir pantai, Talang Mayan harus berhadapan dengan kepiting itu untuk ke dua kalinya. Sial, mahluk mengerikan ini meskipun sudah terluka, tapi dua capit besar miliknya sangat berbahaya.Hanya dengan satu kali capitan saja,

  • Talang Mayan   17. Perjalanan Bersama

    Esok paginya, Talang Mayan sudah meninggalkan Kota Pagar Banyu untuk melanjutkan perjalannya. Namun siapa sangka, dia kembali bertemu dengan rombongan murid Sekte Empu di gerbang kota.“Tuan Pemburu ..,” Rindu Ati menyapa pemuda bertopeng itu lebih dulu, “sepertinya kita bertemu lagi.”Talang Mayan menatap gadis itu beberapa saat, kemudian dia menyapukan pandangan ke arah empat remaja yang lain. Pandangan Talang Mayan jatuh ke wajah Pelisik, ada rasa kesal di hati pemuda itu setiap kali melihat wajah sepupunya tersebut. Ibu gadis ini sudah membuat banyak masalah dengan Ayahnya, dan bahkan gadis itu sering kali merendahkannya setiap kali mendapatkan kesempatan.Mendapat tatapan sedingin embun pagi, Pelisik langsung menundukan kepalanya, benar-benar tidak berani menatap balik mata Talang Mayan.“Senior ..,” seorang pemuda yang dua tangannya sedang terikat oleh perban, kini memberi hormat, “terima kasih, kau sudah menyelematkan kami semua. Saya, Murantang tidak akan melupakan budi baik S

  • Talang Mayan   16. Bandul Melati

    Rindu Ati dan empat temannya tidak berani melawan perintah Talang Mayan. Mereka, mengambil harta rampasan di tangan jasad perampok, dan pergi meninggalkan Talang Mayan.Urusan mayat, itu soal mudah. Talang Mayan mengumpulkan semua mayat menjadi satu tumpukan besar, melucuti semua harta yang mereka miliki, dan mengambil uang yang ada di saku celananya.Dengan ekspresi datar, Talang Mayan membakar seluruh mayat itu. Membiarkannya membusuk hanya akan menjadikan sarang penyakit dan virus yang menular. Lagipula, paling tidak jasad mereka akan berguna untuk menyuburkan tanah atau memberi makan pohon-pohon di dalam hutan ini.“Lumayan,” ucap Talang Mayan, saat menghitung kepingan uang logam yang dikumpulkan menjadi satu, “ratusan gepeng.”Gepeng adalah sebutan uang koin di dataran Indraprasta. Terbuat dari perak bercampur emas.Meninggalkan kobaran api yang melahap tubuh para perampok, Talang Mayan kembali ke Kota Pagar Banyu. Dengan kepingan gepeng di sakunya, dia tidak lagi khawatir untuk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status