LOGINTalang Mayan naik ke level 2 hanya dalam beberapa menit saja. Meledakan energinya dari dalam kolam spiritual. Dari semua murid yang pernah mendaftar di Sekte Empu, baru pertama kali ada seorang remaja memiliki energi spiritual aktif di dalam tubuhnya.
Menariknya, dia mengaktifkan energi itu setelah mendapatkan tekanan berat dari Paraswara.
“Kau bisa mengujiku lebih berat lagi,” gumam Talang Mayan, seolah menantang Paraswara untuk menambah energi spiritual di dalam busur panah emasnya. “Kita lihat, aku akan menciptakan keajaiban.”
Tidak ingin dimanfaatkan oleh Talang Mayan, Paraswara hanya bisa diam menahan amarahnya. Dia tidak yakin seberapa banyak energi spiritual yang dapat dibangkitkan oleh bocah tersebut, tapi kebangkitannya akan menimbulkan kegaduhan di Sekte Empu.
“Kau lolos!” kata Paraswara.
Talang Mayan menarik nafas panjang, akhirnya dia bisa menyelesaikan tantangan pertama dalam ujian ini.
Selanjutnya, Paraswara akan melanjutkan tantangan ke dua yang akan dijalani oleh 30 murid yang berhasil lolos di babak pertama. Ini adalah ujian mental yang secara khusus telah disiapkan oleh Paraswara untuk menguji calon-calon murid di generasi ini.
Dia membawa 30 murid ke tempat lain.
Namun kali ini, ujian babak ke dua akan disaksikan langsung oleh 6 tetua tinggi Sekte Empu yang mewakili setiap keluarga inti. Bukan hanya mereka saja, ada lebih banyak murid resmi yang menyaksikan ujian tersebut.
Bahkan, beberapa murid di level yang berbeda-beda mulai tertarik dengan calon murid di tahun ini.
Di depan mereka ada sebuah pilar yang terbuat dari batu berwarna hitam pekat. Begitu pekatnya, sampai-sampai benda itu bisa menyerap cahaya matahari yang menyinarinya.
“Ini adalah pilar ketakutan,” ucap Paraswara. “Kalian hanya perlu meletakan telapak tangan di posisi yang sudah ditandai, dan membiarkan pilar ini menguji mental kalian. Penilaian akan ditentukan seberapa lama kalian bisa bertahan dari pengaruh negatif pilar tersebut.”
Satu murid kemudian diminta maju ke depan untuk meletakan telapak tangannya di permukaan pilar batu. Pada awalnya, pilar itu tidak bereaksi, hingga murid itu mulai merasa ketakutan, dan pilar memancarkan cahaya merah darah.
Sesuatu langsung menyerang mentalnya, sesuatu yang tidak kasat mata, tidak berbentuk tapi secara efektif menimbulkan ilusi yang menakutkan. Hanya dalam tiga tarikan nafas, murid itu berteriak dan jatuh pingsan karena tidak mampu menahan ilusi yang dilihat di dalam alam bawah sadarnya.
Setiap murid akan mendapatkan ilusi yang berbeda-beda tergantung dengan pikiran dan pengalaman hidup yang mereka alami selama ini. Pada prinsipnya, pilar batu hitam ini membangkitkan rasa takut seorang calon murid dengan merasakan pengalaman yang pernah atau paling tidak didengar oleh mereka.
Jadi, jika seorang calon murid kerap kali mendengar cerita tentang hantu dari orang tuannya, dan menimbulkan rasa takut yang berlebihan, maka pilar batu hitam akan meningkatkan rasa takut itu dua kali lipat.
Dalam prosesnya, pilar itu akan menampilkan gambaran ilusi yang dapat dilihat oleh semua orang meskipun tidak menyentuhnya, tapi bagi mereka yang menyentuh pilar itu, mereka dapat merasakan kengerian itu seolah sangat nyata.
“Pilar batu yang membuka aib seseorang,” gumam Talang Mayan.
Satu persatu murid mulai diminta maju ke depan, dan sebagian dari mereka hanya mampu bertahan selama 5 tarikan nafas saja. Ini merupakan waktu standar bagi para calon murid baru.
Sementara itu, bagi mereka yang hanya mampu bertahan di bawah lima tarikan nafas, akan langsung dianggap gugur oleh Paraswara.
Setelah beberapa waktu lamanya, akhirnya Pelisik si gadis menyebalkan itu maju ke depan. Dia menyentuh pilar batu hitam, dan mulai merasakan sesuatu yang menjalar melewati tangannya, dan berhenti tepat di kepalanya.
Setelah itu, dia mulai melihat bayangan yang tapak begitu nyata. Masa depan yang mengerikan. Rumahnya hancur terbakar, ibunya mati di dalam kobaran api sembari memeluk tumpukan emas.
Namun, Pelisik masih bisa bertahan. Dia berhasil melewati batas standar para murid yang hanya lima tarikan nafas. Pelisik tampaknya belum goyah. Jadi, gambaran lain mulai terlintas di dalam benaknya saat ini.
“Dia tidak takut apapun, kecuali kemiskinan ..,” gumam Paraswara yang menyaksikan bagaimana Pelisik tanpa sadar saat dia berubah menjadi gelandangan yang dikucilkan oleh orang lain. “Dia bahkan tidak menjerit saat ibunya tewas, tapi menjadi gila saat statusnya berada di titik paling hina.”
Suah.
Pelisik akhirnya jatuh. Air matanya masih berderai, mulutnya masih terbuka lebar, dan peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya.
“Menarik,” ucap Paraswara, “kau bertahan selama 8 tarikan nafas, di antara murid yang lain, kau menduduki sekor pertama di ujian kali ini.”
Kini giliran Kuncoro yang diuji oleh pilar batu hitam itu. Dari gambaran ilusi yang muncul, Kuncoro hampir tidak memiliki rasa takut akan apapun, kecuali satu hal yaitu kekalahan. Ketika dia diuji dengan kehilangan harta, kehilangan keluarganya, dia bisa bertahan, tapi ketika dia diuji dengan kekalahan, dia menjadi prustasi dan mulai berteriak tidak karuan.
Kuncoro mulai menyalahkan beberapa orang yang dia lihat di dalam ilusi tersebut, bahkan dia menyalahkan Ayahnya yang dianggap terlambat mengirimnya ke Sekte Empu.
Namun menariknya, Kuncoro bertahan selama 10 tarikan nafas dalam ujian mentalnya. Sekor yang sangat tinggi, menunjukan mental remaja ini begitu kuat. Sekali lagi, Paraswara memuji Kuncoro, dan beranggapan remaja itu akan menjadi murid jenius dan mendapatkan reputasi yang sangat terhormat di Sekte Empu.
Mendengar hal itu, Kuncoro begitu bangga dengan kemampuannya, dia bahkan membusungkan dada di hadapan calon murid yang lain.
“Kakang, kau benar-benar hebat ..,” Pelisik merangkul lengan Kuncoro dengan wajah antusias, memikirkan bahwa pilihannya berada dekat di sisi Kuncoro sudah benar.
Hingga pada akhirnya, Talang Mayan mulai mengambil bagiannya. Dia meletakan telapak tangan di permukaan pilar batu hitam tersebut, lalu mulai memfokuskan pikirannya pada benda itu.
Cahaya merah mulai menyala, menyelimuti seluruh permukaan batu, tapi kali ini begitu terang sampai-sampai tubuh Talang Mayan tenggelam di dalam pijaran cahaya tersebut.
Sayangnya, tidak ada ilusi yang ditampilkan oleh batu tersebut. Seolah, pilar itu tidak mengetahui hal apa yang benar-benar menakutkan bagi Talang Mayan. Dia tidak takut kehilangan apapun, karena dia sadar dia tidak pernah memilikinya di sepanjang kehidupannya.
Talang Mayan juga tidak takut mati, karena dia sudah pernah mengalaminya. Dia juga tidak takut menjadi lemah, karena saat ini dia memiliki segudang pengetahuan di benaknya.
“Seseorang tanpa emosi ..,” tiba-tiba Talang Mayan mendengar suara samar-samar dari pilar batu hitam, “bagaimana seorang manusia kehilangan emosinya? Seberapa banyak penderitaan yang kau alami, Manusia?”
“Siapa dirimu?” tanya Talang Mayan, mencoba mencari darimana sumber suara itu berasal, “tunjukan wajahmu.”
“Kau bahkan tidak takut saat mendengar suaraku,” balasnya. “Manusia tanpa emosi sepertimu sangat berbahaya.”
“Emosi?” Talang Mayan tertawa kecil, “Aku menyimpannya rapat-rapat di dalam jiwaku, ketakutan tidak berarti apapun dihadapanku. Jika segala sesuatu yang kau miliki kemudian direnggut dengan paksa, kau akan kehilangan ketakutan itu.”
Suara itu kemudian menghilang dari benak Talang Mayan, tapi beberapa tarikan nafas kemudian, tiba-tiba dia melihat seorang pria samar melayang di sekitarnya. Seperti hantu.
“Siapa dirimu?” tanya Talang Mayan.
“Aku adalah sisa kesadaran yang menjaga pilar batu hitam ini,” ucap pria tersebut, “Dulu aku dujuluki sebagai Lebah Perak yang mengikuti perintah guruku untuk menjaga sebuah wilayah. Dia menanamkan mantra di dalam jiwaku yang terikat dengan pilar batu hitam, untuk menjamin agar tidak akan meninggalkan tugasku hingga akhir hayat. Pada kematianku, jiwaku akhirnya terikat dengan pilar batu hitam ini.”
Lebah Perak kemudian mengulurkan tangannya, ada sebuah logam berwarna perak di telapak tangan pria tersebut. Sebuah jimat. Ada beberapa tulisan terukir pada logam itu, dan menurut Lebah Perak, tulisan itu menyimpan misteri yang sangat berharga. Hanya jika Talang Mayan berhasil memecahkan misteri tersebut, dia akan menjadi seorang pendekar hebat di kemudian hari.
“Aku menyimpan satu jurus terkuat di dalam logam tersebut, jika kau beruntung kau akan menemukan rahasianya! Setelah ini, pilar batu hitam tidak akan berfungsi lagi.”
“Jadi ini adalah inti dari pilar batu hitam?” Talang Mayan menatap logam perak di telapak tangannya dengan rasa penasaran.
“Akhirnya tugasku menjaga tempat ini sudah selesai, kau adalah pewarisku selanjutnya, ditanganmulah apa yang baik dan apa yang buruk akan terjadi.”
Pertemuan para petinggi anggota Bintang Kejora Merah diadakan di sebuah tempat terpencil yang tiada tertulis di catatan maupun tergambar di dalam peta. Sudah beberapa lama mereka menunggu di atas kursi batu, menghadap kobaran api yang menyala, tidak pernah padam sekalipun.Kursinya ada lima buah, tapi yang duduk di sana hanya tiga orang saja.“Jantung Iblis telah dikalahkan oleh Indraprasta ..,” salah satu dari tiga orang itu akhirnya membuka suara. “Satu kursi telah kosong, kita harus mencari penggantinya.”“Aku dengar, Jantung Iblis dikalahkan oleh pendekar Parasura yang dibentuk oleh Patih Wira beberapa bulan yang lalu. Mereka adalah kumpulan murid terbaik dari segala sekte aliran putih.” Salah satu dari orang yang duduk di sana mengenakan pakaian merah darah, dengan sarung tangan berbentuk cakar naga.“Kehebatan mereka dikatakan dapat menggulingkan sebuah kerajaan, omong kosong!” timpal salah satu dari yang lain, dan kali ini seorang wanita dengan kipas perunggu menimpali pria tad
Di hari lain, Tiwas Kuncir keluar dari kamarnya dengan tatapan yang penuh dengan dendam. Keluarnya dia dari kamar, disambut oleh banyak pendekar Racun Hati, tapi aura pria itu kini berubah.Dia tidak nampak seperti pria tua yang bengis, tapi malah seperti wanita tua yang penuh dengan dendam kesumat. Sakunira mengiringi langkah kakinya dengan perasaan tidak menentu, dan sesekali melirik ke arah beberapa bawahannya agar tidak menyinggung Tiwas Kuncir.“Tuan ..,” salah satu bawahannya mendekat, sedikit berjalan membungkuk, “Begini Tuan, pertemuan antar anggota Bintang Kejora Merah akan berlangsung besok siang. Tuan..,”Wush.Tiwas Kuncir langsung membunuh pria itu dengan sadis. Semua orang langsung tercengang, dan sontak membuat ratusan pendekar ciut nyalinya.“Bintang Kejora Merah, aku tidak peduli lagi dengan semuanya, yang aku inginkan adalah kematian pemuda itu. Kerahkan semua orang untuk memburunya! Jelajahi setiap jengkal tanah Indraprasta, tangkap dia hidup-hidup, dan biarkan aku
Aksi kejar-kejaran terjadi antara Talang Mayan dan pendekar Racun Hati. Hingga pada akhirnya, ke duanya berhasil menghindari mereka dengan bersembunyi di dalam jurang yang cukup gelap.Di sana, Talang Mayan menurunkan Intan Selake, sementara gadis itu hanya menangis cengeng sembari membenarkan seluruh pakaiannya. Saat itu, Talang Mayan langsung pergi menjauh, berdiri di antara celah-celah cadas sembari memantau ke adaan di permukaan atas.Dari pantauan Mata Batinnya, Talang Mayan menemukan beberapa pendekar Racun Hati sedang mengamati permukaan jurang. Di saat itulah, Talang Mayan langsung menarik tubuh Intan Selake, dan bersembunyi lebih dalam pada celah batu yang berukuran sangat cempit.Kedua tubuh mereka kini berhimpitan, “hussttt ..,” bisik Talang Mayan di telinga gadis itu, “mereka ada di atas sana.”Jantung Intan Selake berdebar-debar dengan situasi ini. Wajahnya mungkin memerah, mungkin malu, mungkin pula panik, tapi saat ini situasinya membuat gadis itu terus berpelukan denga
Belati Dasaka keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan, dan roh senjata itu tertawa girang. Energi menakutkan menyeruak memenuhi seluruh bagian belati itu, menciptakan percikan kilatan hitam yang menggetarkan jiwa.Sesaat, getaran halus menjalar di dinding ruangan itu, sebelum akhirnya dinding-dingding itu menjadi retak seribu.“Hahahaa!!!” tawa Dasakala memekakan telinga Talang Mayan, “Aku merasakan lawan yang cukup sepadan.”Ya, semenjak Dasakala menyerap energi spiritual dari senjata pimpinan Jantung Iblis, tanpa disadari oleh Talang Mayan, ternyata kekuatan Dasakala meningkat sangat pesat. Aura haus darah yang kental kini hampir tidak bisa dikendalikan.Sementara itu, di kamar pribadinya, Ki Tiwas Kuncir memandangi sekujur tubuh Intan Selake yang tergeletak tidak berdaya di atas pembarian. Kaki dan tangan gadis itu terbelenggu oleh jaring laba-laba, dan meskipun dia meronta sekuat tenaga, gadis itu sudah jatuh dalam perngkap menjijikan pimpinan Racun Hati.“Yuhuhuhuh ..,” Pri
“Hoiii .., siapa yang mau jadi pasangan wanita menakutkan seperti dirimu!” teriak Talang Mayan yang langsung berusaha membebaskan diri dari jerat jaring laba-laba di dua tangannya, dan meskipun tidak berhasil, dia selalu berusaha sekuat tenaga.Melihat hal itu, Sakunanira malah tertawa semakin genit dan mulai mengelus leher hingga dada Talang Mayan. Di sisi lain, pemuda itu merasakan rasa jijik yang luar biasa, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri, dan darahnya nyaris membeku.Seumur hidupnya, Talang Mayan tidak pernah dirayu oleh seorang gadis sebegitunya, dan hari ini, pengalaman pertamanya malah dilakukan oleh manusia setengah siluman yang jelas-jelas mengerikan. Ah, meskipun jika berada pada wujud manusia dia juga cukup cantik, tapi tetap saja, ketika dia berubah menjadi setengah laba-laba raut wajahnya lebih parah dari siluman itu sendiri.“Tolong cari pemuda lain saja ..,” kata Talang Mayan, hampir merengek di hadapan Sakunira, “sebenarnya, aku tidak menyukai .., aku tidak meny
Sementara itu, Talang Mayan harus rela mengikuti Intan Selake yang penuh semangat saat menjelajahi goa yang begitu dalam. Meskipun ada perasaan khawatir, nyatanya rasa penasaran yang dimiliki gadis itu mengalahkan rasa takutnya.Talang Mayan menggunakan Mata Batin nya untuk menganalisa lorong goa yang begitu panjang, hanya untuk memastikan bahwa mereka berjalan di rute yang lebih aman.Semakin dalam, situasi di lorong goa menjadi semakin gelap. Udara bersih terasa menipis, membuat keduanya harus mengatur nafas sedemikian rupa.Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya kedua orang itu menemukan tiga cabang lorong yang dipenuhi oleh sarang laba-laba.“Kita akan menjelajahi lorong tengah ..,” kata Intan Selake.Talang Mayan mengedarkan mata batinya, dan meskipun dia tidak bisa melihat tanda-tanda bahaya, akan tetapi firasatnya mengatakan bahwa tempat ini sangat berbahaya.Tidak ada lorong yang lebih baik dari lorong yang lain. Semuanya menyimpan potensi yang sama-sama berbahaya, meskipun
Rindu Ati dan empat temannya tidak berani melawan perintah Talang Mayan. Mereka, mengambil harta rampasan di tangan jasad perampok, dan pergi meninggalkan Talang Mayan.Urusan mayat, itu soal mudah. Talang Mayan mengumpulkan semua mayat menjadi satu tumpukan besar, melucuti semua harta yang mereka
Di antara mereka semua, Talang Mayan mengenali satu gadis yang tidak lain adalah sepupunya sendiri, Pelisik. Gadis itu membawa busur panah, karena, dia memang seorang murid dari keluarga Panah.Talang Mayan merasakan energi spiritual dari tubuh Pelisik, telah mencapai 21 cakra. Hal ini menunjukan s
“Dua tahun lagi, ada pertemuan penting di Istana Indraprasta. Mereka mengundang seluruh sekte dari berbagai penjuru negara. Setiap empat tahun sekali, Indraprasta akan mengundang semua sekte untuk mempererat hubungan kerajaan dengan semua Sekte di wilayah kekuasaanya. Aku ingin kau datang mewakili
Nyi Loro Ati mengumpulkan 8 muridnya. Dia mengatakan bahwa Talang Mayan sudah pergi meninggalkan Sekte Empu sejak ayahnya meninggal dunia.“Guru, apa hal buruk akan terjadi kepada Talang Mayan?” Gundalini bertanya dengan ragu.Nyi Loro Ati mengangguk pelan, dan benar, Talang Mayan dalam bahaya saat







