Share

Cinta Yang Terlarang

Author: Pancur Lidi
last update publish date: 2026-02-20 14:43:36

Selama seratus tahun lamanya, Sekte Empu berdiri dan melahirkan penempa senjata terbaik di dunia. Nama mereka mulai dikenal luas berkat senjata-senjata yang dibuatnya telah mengguncang dunia persilatan.

Sebagai sekte aliran lurus, banyak berbagai pihak dari aliran putih yang mengandalkan ketrampilan para tukang tempa besi dari sekte ini. Mereka mampu menciptakan berbagai jenis senjata, mulai dari pedang, panah, tombak, gadah dan lain sebagainya.

Mulai dari kualitas rendah hingga pada kualitas paling tinggi sekalipun, mereka mampu menciptakannya, seolah anggota dari sekte ini telah ditakdirkan sebagai seorang seniman ulung di bidang penempaan senjata.

Kebutuhan akan biji besi dan logam lain membuat sekte ini mulai merambah ke dunia pertambangan, dan alasan inilah kenapa tempat ‘sekte Bulan Darah’ jatuh ke tangan Sekte Empu.

Mereka mempekerjakan banyak orang sebagai buruh tambang, termasuk Mundru bersama putranya, Talang Mayan.

“Jadi begitu ..,” Talang Mayan menutup buku catatan di lemari ayahnya, “tempat ini sudah ditinggalkan cukup lama, dan kini dikuasai oleh Sekte Empu, Sekte yang bergerak dalam penempaan senjata. Kenapa aku tidak pernah mendengar nama sekte ini sebelumnya, apa mereka berasal dari luar benua?”

Talang Mayan berencana bergabung dengan Sekte Empu, meskipun mungkin hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Setelah dia memeriksa tubuh barunya, Talang Mayan merasa tubuh ini tidak terlalu buruk.

Meskipun berusia 10 tahun, nyatanya tubuh ini memiliki kolam spiritual di alam bawah sadarnya. Hanya saja belum diaktifkan. Sebagai anak seorang buruh, Talang Mayan memiliki bakat untuk menjadi seorang pendekar di masa depan.

Dia hanya butuh seorang guru untuk mengajarinya cara membangkitkan energi spiritual di dalam tubuhnya, dan mempeluas kolam spiritual tersebut hingga menjadi lautan spiritual. Sayangnya, pemilik tubuh ini berakhir tragis.

“Sekte Empu ..,” ucap Talang Mayan dengan kening berkerut, “Jika mereka bisa menciptakan senjata level tinggi, artinya mereka bukanlah orang sembarangan. Energi spritual mereka pasti cukup besar.”

Seingatnya, para penempa senjata meskipun bukan seorang pendekar aktif di dunia persilatan, biasanya mereka memiliki energi spritual yang sangat besar. Beberapa logam keras terkadang membutuhkan api yang lebih panas dari api biasanya, dalam hal ini para tukang tempa senjata akan menggunakan energi spiritualnya untuk meningkatkan suhu di dalam tungku perapian.

Setelah menjelang malam hari, Mundru pulang dengan sup jamur tiram kesukaan putranya. Meskipun terlukis lelah di wajahnya yang tua, akan tetapi rasa bahagia membuatnya menepiskan kelelahan itu.

Beberapa minggu kemudian.

Saat mereka sedang menyantap makanan di bawah atap ilalang yang berlubang, tiba-tiba Talang Mayan mengutarakan niatnya untuk menjadi bagian dari Tukang tempa senjata.

Tentu saja Mundru langsung terkejut mendengar keinginan putranya saat ini, tapi di sisi lain, dia merasa bangga karena Talang Mayan akhirnya memiliki sebuah impian. Selama ini, Talang Mayan tidak pernah berambisi untuk menjadi pendekar atau pula tukang tempa senjata, dia ingin tetap tinggal di sini karena ada gadis kecil yang disukainya.

“Ayah, apa kau mengetahui sedikit informasi tentang Sekte Empu?” tanya Talang Mayan dengan rasa penasaran.

“Ayah tidak memiliki banyak informasi, tapi ada beberapa hal yang mungkin perlu kau ketahui tentang Sekte tersebut.”

Malam ini, Mundru akhirnya membuka kisah lama sekaligus informasi tentang Sekte Empu yang kini dikenal sebagai salah satu Sekte terkuat di Kerajaan Indraprasta.

Sekte ini berkembang sangat pesat karena ada enam keluarga inti yang menopangnya dari dalam. Enam keluarga besar ini disimbolkan sebagai pilar tinggi yang bertahan dari segala medan dan perubahan zaman.

Mereka bukan orang-orang biasa, selain kaya raya dan cerdas mereka juga merupakan para pendekar di level pilih tanding. Talang Mayan terdiam sejenak, dulu dia juga merupakan pendekar pilih tanding, tapi kenapa dia masih tidak mengenali Sekte ini di kehidupan pertamanya.

“Dunia Sekte Empu cukup rumit, bagaimana seorang tukang tempa diharuskan memiliki kekuatan layaknya seorang pendekar. Ini adalah kunci penting di sekte ini. Selain kecerdasan, dan imajinasi yang tinggi, ternyata energi spiritual membantu penempaan senjata berjalan dengan lebih maksimal.”

Secara garis besar, dan diketahui oleh orang luar, ada lima golongan di sekta ini. Golongan pertama adalah buruh tambang. Ya, seperti Mundru dan para pekerja tambang yang lain, mereka secara organisasi sudah termasuk ke dalam bagian Sekte Empu. Dianggap sebagai anggota tidak resmi, atau anggota yang bisa diganti kapanpun jika mau.

Di level selanjutnya, disebut tahap pemula. Ini adalah anggota utama Sekte Empu, murid-murid muda yang diangkat menjadi bagian Sekte Empu, dan diikat dengan sumpah darah untuk setia sampai mati.

Yang diketahui sejauh ini oleh Mundru, terdapat sekitar 1000 murid tahap pemula di sekte tersebut. Jumlah ini akan terus bertambah sesuai dengan permintaan pasar, dan kebutuhan Sekte Empu itu sendiri.

“Ujian seleksi untuk menjadi anggota Sekte Empu cukup sulit, Nak,” ucap Mundru memperingatkan Talang Mayan untuk bekerja keras agar diterima di Sekte tersebut. “Jika kau memang ingin bergabung sebagai murid resmi, mulai hari ini paling tidak kau harus memahami dasa-dasar energi spiritual.”

Talang Mayan sudah menduganya sejak awal. Para tukang tempa besi tidak pernah benar-benar ‘orang biasa’ biasanya mereka memiliki energi spiritual yang cukup besar.

“Setelah kau berhasil memahami dasar-dasar energi spiritual, ada kemungkinan sebesar 50% kau akan diterima sebagai murid resmi. Setelah kau berhasil masuk, kau akan mengetahui tingkatan level para tukang tempa senjata ini.”

“Ayah, bagaimana kau tahu tentang energi spiritual dan sebagainya, apa jangan-jangan Ayah dulu pernah menjadi bagian dari Sekte?”

Mundru mendadak murung, dan inilah yang akan dia bicarakan malam ini. Rahasia lama yang disimpan rapat-rapat dari Talang Mayan, dan akhirnya harus diungkapkan pula.

“Ya, kau benar, Nak .., Ayahmu ini pernah menjadi bagian dari Sekte Empu ..,”

Kisahnya dimulai ketika Mundru menjadi salah satu tukang tempa level elite. Kemampuannya dalam menciptakan senjata diakui oleh banyak orang, termasuk para tetua sekte dan keluarga inti. Dia bukan lagi seorang murid resmi, tapi sebagai seorang murid utama, yang tingkatnya lebih tinggi lagi.

Suatu hari, Mundru bertemu seorang gadis cantik dari keluarga inti. Seiring waktu berjalan, Mundru dan gadis itu mulai merajut tali kasih, dan memutuskan untuk menikah. Sayangnya, keluarga inti tidak merestui pernikahan itu, karena menganggap Mundru bukan dari keluarga inti bukan pula sebagai tetua dengan status level master, meskipun kemampuannya saat itu sangat membanggakan di kalangan anak muda.

Mundru memutuskan untuk membawa gadis itu pergi dari Sekte, dan menikah secara diam-diam. Beberapa tahun, lahirlah Talang Mayan.

Namun, kebahagiaan itu terasa sangat singkat sekali. Keluarga istrinya menemukan lokasi persembunyian mereka, dan tragedi yang sangat menyedihkan akhirnya terjadi. Mereka melucuti seluruh energi spiritual di tubuh Mundru, menghancurkannya hingga tanpa sisa, membuat Mundru kehilangan masa depan dan harapan.

Lebih tragis lagi, istrinya dibawa kembali ke dalam Sekte, sementara Talang Mayan yang masih balita ditinggalkan bersama dengan dirinya.

‘Pantas saja, otot ayah tidak seperti otot para pekerja tambang yang lain,’ gumam Talang Mayan.

“Beberapa kali, aku berniat untuk mengakhiri kehidupanku. Ketika mendengar ibumu akhirnya menikah lagi, duniaku seketika hancur. Semua impian dan harapan yang kami rajut bersama sirna begitu saja. Jika bukan karena tangisan kecilmu saat itu, aku tidak memiliki apapun untuk diperjuangkan dalam kehidupan ini.”

“Ayah, aku berjanji akan menjadi seorang ahli tempa senjata dan membawamu kembali ke dalam sekte,” ucap Talang Mayan dengan wajah yang serius, “Aku akan menjadi master di sana, aku berjani Ayah.”

Uhuk uhuk. Suara batuk kering terdengar dari mulut Mundru, hal biasa yang terjadi ketika seorang pendekar kehilangan energi spiritualnya, menyisakan luka dalam yang tidak bisa disembuhkan lagi. Pada dasarnya, kehidupan Mundru sudah berada di pase pengujung usia, karena luka dalam ini.

“Ayah ..,” Talang Mayan berniat memeriksa tubuh Mundru, tapi telapak tangan pria tua itu menghentikan tindakanya, “Tidak apa-apa, Ayah baik-baik saja.”

“Bagaimana Ayah bisa baik-baik saja, energi spiritualmu dilucuti, menyisakan luka dalam yang sangat serius. Tidak bisa diobati, kecuali kau mendapatkan energi spirutal lagi.”

Mendadak Mundru tercengang mendengar ucapan Talang Mayan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   117. Kabar yang lucu

    Pertemuan para petinggi anggota Bintang Kejora Merah diadakan di sebuah tempat terpencil yang tiada tertulis di catatan maupun tergambar di dalam peta. Sudah beberapa lama mereka menunggu di atas kursi batu, menghadap kobaran api yang menyala, tidak pernah padam sekalipun.Kursinya ada lima buah, tapi yang duduk di sana hanya tiga orang saja.“Jantung Iblis telah dikalahkan oleh Indraprasta ..,” salah satu dari tiga orang itu akhirnya membuka suara. “Satu kursi telah kosong, kita harus mencari penggantinya.”“Aku dengar, Jantung Iblis dikalahkan oleh pendekar Parasura yang dibentuk oleh Patih Wira beberapa bulan yang lalu. Mereka adalah kumpulan murid terbaik dari segala sekte aliran putih.” Salah satu dari orang yang duduk di sana mengenakan pakaian merah darah, dengan sarung tangan berbentuk cakar naga.“Kehebatan mereka dikatakan dapat menggulingkan sebuah kerajaan, omong kosong!” timpal salah satu dari yang lain, dan kali ini seorang wanita dengan kipas perunggu menimpali pria tad

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   116. Pengakuan Yang Jujur

    Di hari lain, Tiwas Kuncir keluar dari kamarnya dengan tatapan yang penuh dengan dendam. Keluarnya dia dari kamar, disambut oleh banyak pendekar Racun Hati, tapi aura pria itu kini berubah.Dia tidak nampak seperti pria tua yang bengis, tapi malah seperti wanita tua yang penuh dengan dendam kesumat. Sakunira mengiringi langkah kakinya dengan perasaan tidak menentu, dan sesekali melirik ke arah beberapa bawahannya agar tidak menyinggung Tiwas Kuncir.“Tuan ..,” salah satu bawahannya mendekat, sedikit berjalan membungkuk, “Begini Tuan, pertemuan antar anggota Bintang Kejora Merah akan berlangsung besok siang. Tuan..,”Wush.Tiwas Kuncir langsung membunuh pria itu dengan sadis. Semua orang langsung tercengang, dan sontak membuat ratusan pendekar ciut nyalinya.“Bintang Kejora Merah, aku tidak peduli lagi dengan semuanya, yang aku inginkan adalah kematian pemuda itu. Kerahkan semua orang untuk memburunya! Jelajahi setiap jengkal tanah Indraprasta, tangkap dia hidup-hidup, dan biarkan aku

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   115. Menjadi Wanita

    Aksi kejar-kejaran terjadi antara Talang Mayan dan pendekar Racun Hati. Hingga pada akhirnya, ke duanya berhasil menghindari mereka dengan bersembunyi di dalam jurang yang cukup gelap.Di sana, Talang Mayan menurunkan Intan Selake, sementara gadis itu hanya menangis cengeng sembari membenarkan seluruh pakaiannya. Saat itu, Talang Mayan langsung pergi menjauh, berdiri di antara celah-celah cadas sembari memantau ke adaan di permukaan atas.Dari pantauan Mata Batinnya, Talang Mayan menemukan beberapa pendekar Racun Hati sedang mengamati permukaan jurang. Di saat itulah, Talang Mayan langsung menarik tubuh Intan Selake, dan bersembunyi lebih dalam pada celah batu yang berukuran sangat cempit.Kedua tubuh mereka kini berhimpitan, “hussttt ..,” bisik Talang Mayan di telinga gadis itu, “mereka ada di atas sana.”Jantung Intan Selake berdebar-debar dengan situasi ini. Wajahnya mungkin memerah, mungkin malu, mungkin pula panik, tapi saat ini situasinya membuat gadis itu terus berpelukan denga

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   114. Kesucian Yang Terjaga

    Belati Dasaka keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan, dan roh senjata itu tertawa girang. Energi menakutkan menyeruak memenuhi seluruh bagian belati itu, menciptakan percikan kilatan hitam yang menggetarkan jiwa.Sesaat, getaran halus menjalar di dinding ruangan itu, sebelum akhirnya dinding-dingding itu menjadi retak seribu.“Hahahaa!!!” tawa Dasakala memekakan telinga Talang Mayan, “Aku merasakan lawan yang cukup sepadan.”Ya, semenjak Dasakala menyerap energi spiritual dari senjata pimpinan Jantung Iblis, tanpa disadari oleh Talang Mayan, ternyata kekuatan Dasakala meningkat sangat pesat. Aura haus darah yang kental kini hampir tidak bisa dikendalikan.Sementara itu, di kamar pribadinya, Ki Tiwas Kuncir memandangi sekujur tubuh Intan Selake yang tergeletak tidak berdaya di atas pembarian. Kaki dan tangan gadis itu terbelenggu oleh jaring laba-laba, dan meskipun dia meronta sekuat tenaga, gadis itu sudah jatuh dalam perngkap menjijikan pimpinan Racun Hati.“Yuhuhuhuh ..,” Pri

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   113. Tidak Beradab

    “Hoiii .., siapa yang mau jadi pasangan wanita menakutkan seperti dirimu!” teriak Talang Mayan yang langsung berusaha membebaskan diri dari jerat jaring laba-laba di dua tangannya, dan meskipun tidak berhasil, dia selalu berusaha sekuat tenaga.Melihat hal itu, Sakunanira malah tertawa semakin genit dan mulai mengelus leher hingga dada Talang Mayan. Di sisi lain, pemuda itu merasakan rasa jijik yang luar biasa, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri, dan darahnya nyaris membeku.Seumur hidupnya, Talang Mayan tidak pernah dirayu oleh seorang gadis sebegitunya, dan hari ini, pengalaman pertamanya malah dilakukan oleh manusia setengah siluman yang jelas-jelas mengerikan. Ah, meskipun jika berada pada wujud manusia dia juga cukup cantik, tapi tetap saja, ketika dia berubah menjadi setengah laba-laba raut wajahnya lebih parah dari siluman itu sendiri.“Tolong cari pemuda lain saja ..,” kata Talang Mayan, hampir merengek di hadapan Sakunira, “sebenarnya, aku tidak menyukai .., aku tidak meny

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   112. Terjebak

    Sementara itu, Talang Mayan harus rela mengikuti Intan Selake yang penuh semangat saat menjelajahi goa yang begitu dalam. Meskipun ada perasaan khawatir, nyatanya rasa penasaran yang dimiliki gadis itu mengalahkan rasa takutnya.Talang Mayan menggunakan Mata Batin nya untuk menganalisa lorong goa yang begitu panjang, hanya untuk memastikan bahwa mereka berjalan di rute yang lebih aman.Semakin dalam, situasi di lorong goa menjadi semakin gelap. Udara bersih terasa menipis, membuat keduanya harus mengatur nafas sedemikian rupa.Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya kedua orang itu menemukan tiga cabang lorong yang dipenuhi oleh sarang laba-laba.“Kita akan menjelajahi lorong tengah ..,” kata Intan Selake.Talang Mayan mengedarkan mata batinya, dan meskipun dia tidak bisa melihat tanda-tanda bahaya, akan tetapi firasatnya mengatakan bahwa tempat ini sangat berbahaya.Tidak ada lorong yang lebih baik dari lorong yang lain. Semuanya menyimpan potensi yang sama-sama berbahaya, meskipun

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   61. Mayan vs Kuncoro

    Siapa yang akan menantang Talang Mayan? Tentu saja semua orang kini menatap ke arah pemuda itu dengan penuh tanda tanya. Beberapa orang merasa dia terlalu percaya diri dengan kemampuannya, beberapa orang yang lain menganggapnya sebagai pemuda pemberani dan memiliki ambisi besar.“Lihatlah!” kata sa

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   59. Ejekan dari Penonton

    Nomor undian dibagi secara secara acak, kemudian dipanggil pula secara acak. Ki Paraswara mengambil enam gulungan kertas, kemudian dia berkata, “Nomor 1, 5, 6,18,7 dan 12. Silahkan maju ke depan.”Talang Mayan menatap nomornya, “Nomor 18, itu aku,” gumam Talang Mayan.Pemuda itu maju ke depan diiku

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   58. Hari Pertandingan

    Pelisik gemetar karena ketakutan, tekanan energi spiritual yang teramat kuat ini membuatnya langsung muntah darah.“Kau yang menggangguku barusan?!” Ki Paraswara mengepalkan tinjunya, sembari menatap wajah Pelisik dengan rasa marah, kemudian dia meminta kepada Ki Pamanahan agar urusan ini diserahk

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   57. Gangguan Kecil

    Talang Mayan memegang mustika burung hantu berusia seribu tahun di tangan kanannya, kemudian dia meminta Ki Paraswara untuk membaca mantra jiwa terhadap siluman itu. Namun disinilah letak kesalahan yang dilakukan oleh Ki Paraswara.Dia fikir dapat menggunakan mantra jiwa saat siluman burung hantu -

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status