MasukSelama seratus tahun lamanya, Sekte Empu berdiri dan melahirkan penempa senjata terbaik di dunia. Nama mereka mulai dikenal luas berkat senjata-senjata yang dibuatnya telah mengguncang dunia persilatan.
Sebagai sekte aliran lurus, banyak berbagai pihak dari aliran putih yang mengandalkan ketrampilan para tukang tempa besi dari sekte ini. Mereka mampu menciptakan berbagai jenis senjata, mulai dari pedang, panah, tombak, gadah dan lain sebagainya.
Mulai dari kualitas rendah hingga pada kualitas paling tinggi sekalipun, mereka mampu menciptakannya, seolah anggota dari sekte ini telah ditakdirkan sebagai seorang seniman ulung di bidang penempaan senjata.
Kebutuhan akan biji besi dan logam lain membuat sekte ini mulai merambah ke dunia pertambangan, dan alasan inilah kenapa tempat ‘sekte Bulan Darah’ jatuh ke tangan Sekte Empu.
Mereka mempekerjakan banyak orang sebagai buruh tambang, termasuk Mundru bersama putranya, Talang Mayan.
“Jadi begitu ..,” Talang Mayan menutup buku catatan di lemari ayahnya, “tempat ini sudah ditinggalkan cukup lama, dan kini dikuasai oleh Sekte Empu, Sekte yang bergerak dalam penempaan senjata. Kenapa aku tidak pernah mendengar nama sekte ini sebelumnya, apa mereka berasal dari luar benua?”
Talang Mayan berencana bergabung dengan Sekte Empu, meskipun mungkin hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Setelah dia memeriksa tubuh barunya, Talang Mayan merasa tubuh ini tidak terlalu buruk.
Meskipun berusia 10 tahun, nyatanya tubuh ini memiliki kolam spiritual di alam bawah sadarnya. Hanya saja belum diaktifkan. Sebagai anak seorang buruh, Talang Mayan memiliki bakat untuk menjadi seorang pendekar di masa depan.
Dia hanya butuh seorang guru untuk mengajarinya cara membangkitkan energi spiritual di dalam tubuhnya, dan mempeluas kolam spiritual tersebut hingga menjadi lautan spiritual. Sayangnya, pemilik tubuh ini berakhir tragis.
“Sekte Empu ..,” ucap Talang Mayan dengan kening berkerut, “Jika mereka bisa menciptakan senjata level tinggi, artinya mereka bukanlah orang sembarangan. Energi spritual mereka pasti cukup besar.”
Seingatnya, para penempa senjata meskipun bukan seorang pendekar aktif di dunia persilatan, biasanya mereka memiliki energi spritual yang sangat besar. Beberapa logam keras terkadang membutuhkan api yang lebih panas dari api biasanya, dalam hal ini para tukang tempa senjata akan menggunakan energi spiritualnya untuk meningkatkan suhu di dalam tungku perapian.
Setelah menjelang malam hari, Mundru pulang dengan sup jamur tiram kesukaan putranya. Meskipun terlukis lelah di wajahnya yang tua, akan tetapi rasa bahagia membuatnya menepiskan kelelahan itu.
Beberapa minggu kemudian.
Saat mereka sedang menyantap makanan di bawah atap ilalang yang berlubang, tiba-tiba Talang Mayan mengutarakan niatnya untuk menjadi bagian dari Tukang tempa senjata.
Tentu saja Mundru langsung terkejut mendengar keinginan putranya saat ini, tapi di sisi lain, dia merasa bangga karena Talang Mayan akhirnya memiliki sebuah impian. Selama ini, Talang Mayan tidak pernah berambisi untuk menjadi pendekar atau pula tukang tempa senjata, dia ingin tetap tinggal di sini karena ada gadis kecil yang disukainya.
“Ayah, apa kau mengetahui sedikit informasi tentang Sekte Empu?” tanya Talang Mayan dengan rasa penasaran.
“Ayah tidak memiliki banyak informasi, tapi ada beberapa hal yang mungkin perlu kau ketahui tentang Sekte tersebut.”
Malam ini, Mundru akhirnya membuka kisah lama sekaligus informasi tentang Sekte Empu yang kini dikenal sebagai salah satu Sekte terkuat di Kerajaan Indraprasta.
Sekte ini berkembang sangat pesat karena ada enam keluarga inti yang menopangnya dari dalam. Enam keluarga besar ini disimbolkan sebagai pilar tinggi yang bertahan dari segala medan dan perubahan zaman.
Mereka bukan orang-orang biasa, selain kaya raya dan cerdas mereka juga merupakan para pendekar di level pilih tanding. Talang Mayan terdiam sejenak, dulu dia juga merupakan pendekar pilih tanding, tapi kenapa dia masih tidak mengenali Sekte ini di kehidupan pertamanya.
“Dunia Sekte Empu cukup rumit, bagaimana seorang tukang tempa diharuskan memiliki kekuatan layaknya seorang pendekar. Ini adalah kunci penting di sekte ini. Selain kecerdasan, dan imajinasi yang tinggi, ternyata energi spiritual membantu penempaan senjata berjalan dengan lebih maksimal.”
Secara garis besar, dan diketahui oleh orang luar, ada lima golongan di sekta ini. Golongan pertama adalah buruh tambang. Ya, seperti Mundru dan para pekerja tambang yang lain, mereka secara organisasi sudah termasuk ke dalam bagian Sekte Empu. Dianggap sebagai anggota tidak resmi, atau anggota yang bisa diganti kapanpun jika mau.
Di level selanjutnya, disebut tahap pemula. Ini adalah anggota utama Sekte Empu, murid-murid muda yang diangkat menjadi bagian Sekte Empu, dan diikat dengan sumpah darah untuk setia sampai mati.
Yang diketahui sejauh ini oleh Mundru, terdapat sekitar 1000 murid tahap pemula di sekte tersebut. Jumlah ini akan terus bertambah sesuai dengan permintaan pasar, dan kebutuhan Sekte Empu itu sendiri.
“Ujian seleksi untuk menjadi anggota Sekte Empu cukup sulit, Nak,” ucap Mundru memperingatkan Talang Mayan untuk bekerja keras agar diterima di Sekte tersebut. “Jika kau memang ingin bergabung sebagai murid resmi, mulai hari ini paling tidak kau harus memahami dasa-dasar energi spiritual.”
Talang Mayan sudah menduganya sejak awal. Para tukang tempa besi tidak pernah benar-benar ‘orang biasa’ biasanya mereka memiliki energi spiritual yang cukup besar.
“Setelah kau berhasil memahami dasar-dasar energi spiritual, ada kemungkinan sebesar 50% kau akan diterima sebagai murid resmi. Setelah kau berhasil masuk, kau akan mengetahui tingkatan level para tukang tempa senjata ini.”
“Ayah, bagaimana kau tahu tentang energi spiritual dan sebagainya, apa jangan-jangan Ayah dulu pernah menjadi bagian dari Sekte?”
Mundru mendadak murung, dan inilah yang akan dia bicarakan malam ini. Rahasia lama yang disimpan rapat-rapat dari Talang Mayan, dan akhirnya harus diungkapkan pula.
“Ya, kau benar, Nak .., Ayahmu ini pernah menjadi bagian dari Sekte Empu ..,”
Kisahnya dimulai ketika Mundru menjadi salah satu tukang tempa level elite. Kemampuannya dalam menciptakan senjata diakui oleh banyak orang, termasuk para tetua sekte dan keluarga inti. Dia bukan lagi seorang murid resmi, tapi sebagai seorang murid utama, yang tingkatnya lebih tinggi lagi.
Suatu hari, Mundru bertemu seorang gadis cantik dari keluarga inti. Seiring waktu berjalan, Mundru dan gadis itu mulai merajut tali kasih, dan memutuskan untuk menikah. Sayangnya, keluarga inti tidak merestui pernikahan itu, karena menganggap Mundru bukan dari keluarga inti bukan pula sebagai tetua dengan status level master, meskipun kemampuannya saat itu sangat membanggakan di kalangan anak muda.
Mundru memutuskan untuk membawa gadis itu pergi dari Sekte, dan menikah secara diam-diam. Beberapa tahun, lahirlah Talang Mayan.
Namun, kebahagiaan itu terasa sangat singkat sekali. Keluarga istrinya menemukan lokasi persembunyian mereka, dan tragedi yang sangat menyedihkan akhirnya terjadi. Mereka melucuti seluruh energi spiritual di tubuh Mundru, menghancurkannya hingga tanpa sisa, membuat Mundru kehilangan masa depan dan harapan.
Lebih tragis lagi, istrinya dibawa kembali ke dalam Sekte, sementara Talang Mayan yang masih balita ditinggalkan bersama dengan dirinya.
‘Pantas saja, otot ayah tidak seperti otot para pekerja tambang yang lain,’ gumam Talang Mayan.
“Beberapa kali, aku berniat untuk mengakhiri kehidupanku. Ketika mendengar ibumu akhirnya menikah lagi, duniaku seketika hancur. Semua impian dan harapan yang kami rajut bersama sirna begitu saja. Jika bukan karena tangisan kecilmu saat itu, aku tidak memiliki apapun untuk diperjuangkan dalam kehidupan ini.”
“Ayah, aku berjanji akan menjadi seorang ahli tempa senjata dan membawamu kembali ke dalam sekte,” ucap Talang Mayan dengan wajah yang serius, “Aku akan menjadi master di sana, aku berjani Ayah.”
Uhuk uhuk. Suara batuk kering terdengar dari mulut Mundru, hal biasa yang terjadi ketika seorang pendekar kehilangan energi spiritualnya, menyisakan luka dalam yang tidak bisa disembuhkan lagi. Pada dasarnya, kehidupan Mundru sudah berada di pase pengujung usia, karena luka dalam ini.
“Ayah ..,” Talang Mayan berniat memeriksa tubuh Mundru, tapi telapak tangan pria tua itu menghentikan tindakanya, “Tidak apa-apa, Ayah baik-baik saja.”
“Bagaimana Ayah bisa baik-baik saja, energi spiritualmu dilucuti, menyisakan luka dalam yang sangat serius. Tidak bisa diobati, kecuali kau mendapatkan energi spirutal lagi.”
Mendadak Mundru tercengang mendengar ucapan Talang Mayan.
Satu minggu telah berlalu sejak markas Jantung Iblis berhasil ditaklukan oleh Parasura dan prajurit Indraprasta. Beberapa waktu belakang, misi itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan para anggota Parasura dan para pejabat yang ada di istana.Penyerahan mendali penghargaan dibagikan oleh Patih Wira bagi Intan Selake dan yang lainnya. Tentu saja, karena ini adalah misi level S yang sangat sulit untuk dilakukan oleh kebanyakan pendekar maupun para prajurit.Namun diantara daftar itu, tidak ada nama Talang Mayan di papan pengumuman. Setelah dia kembali dari misinya, Talang Mayan tetaplah Talang Mayan, tanpa topeng hitam tanpa jubahnya. Dia hanya mendapatkan nilai kontribusi level B, sebagaimana kelasnya saat ini.Namun mengenai Pendekar bertopeng hitam itu, tetap saja menjadi perbincangan di kalangan para prajurit yang menyaksikan kehebatannya.“Jika saja, dia adalah anggota Parasura, mungkin dia akan mendapatkan mendali penghargaan seperti yang lain,” gumam beberapa prajurit yang sedan
Malam itu, hubungan antara Talang Mayan dan Putri Intan Selake terasa lebih hangat. Siapa yang menduga, jika Intan Selake merupakan gadis yang gemar berbicara, penuh canda jenaka, dan sesekali menunjukan sifat marah sebagaimana wanita pada umumnya.Di sisi lain, Talang Mayan dengan hati sedingin es yang nyaris tidak memiliki emosi sama sekali, kini menjadi lebih lunak di hadapan gadis tersebut. Ya, tidak banyak orang yang bisa membuat hatinya menjadi lebih hangat, hanya bisa dihitung oleh lima jari tangan saja.Namun malam ini, rasanya sedikit berbeda. Setiap kali Talang Mayan mengintip wajah Intan Selake dari celah lubang topeng, jantungnya terasa akan melompat keluar dari dadanya sendiri.Malam itu, Putri Intan Selake tidur bersandar di batang pohon. Melihatnya, Talang Mayan melepaskan jubah hitamnya, dan menyelimuti tubuh gadis tersebut.Sebagai orang yang peminum, Talang Mayan tidak pernah bisa benar-benar tidur dengan nyenyak, apa lagi ada sosok gadis yang harus dia jaga malam i
Dalam kesendiriannya setelah mengalahkan Jantung Iblis, mendadak Putri Intan Selake muncul di belakang Talang Mayan, di Desa Raya Keling yang kini sudah tidak memiliki warganya lagi.Kala itu, Talang Mayan terlihat duduk di kursi panjang dengan arak di tangannya. Setelah pertarungan yang melelahkan, pemuda itu berencana untuk berisitirahat beberapa hari di sini sebelum kembali ke Istana Indraprasta untuk melaporkan hasil misi.Namun dia tidak menduga, -yang dikira semua orang sudah kembali ke Istana, rupanya Putri Intan Selake diam-diam mengikuti pemuda tersebut.“Tuan Putri ..,” ucap Talang Mayan, sedikit tersedak oleh arak yang dia minum.“Kau sudah mengetahui namaku, tapi aku belum mengetahui namamu,” ucap Putri Intan Selake, dan diapun duduk di sebelah Talang Mayan sembari meletakan pedang pusaka es di pangkuannya.“Apalah arti sebuah nama,” kata Talang Mayan, “kadang kala seseorang bisa melupakannya dengan sangat mudah?”“Aku mendengar semua tentang Pendekar Bertopeng Hitam yang
“Astaga, berapa banyak barang berharga yang dimiliki orang ini?!” Senopati Anom yang dari tadi selalu memasang standar kehormatan yang tinggi di hadapan para pendekar, akhirnya memasang wajah yang konyol ketika melihat Cakram Sudra yang keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan.Dengan mata terbelalak tak percaya, dan mulut sedikit terbuka, hingga mungkin lalat bisa masuk tanpa dia sadari, Senopati itu kembali berkata, “dua harta pusaka, itu tidak ternilai dengan apapun, tidak dengan harta, jabatan dan status.”Sementara itu, Putri Intan Selake melirik ke arah Talang Mayan sejenak, hatinya berdebar saat merasakan gejolak dari Cakram Sudra.Lalu menyeranglah gadis itu lebih dahulu ke arah para tetua yang berdiri congak di atas markas mereka. Energi yang dingin membekukan udara dalam hitungan detik, memutihkan seluruh udara di sekitar tempat itu.Markas itu dengan cepat menjadi bangunan es yang berkilauan saat ini, tapi bahkan serangan yang sesungguhnya belum menyentuh para tetua it
Harta yang sangat berharga. Inilah kalimat yang terlintas dalam benak para pendekar dan para prajurit yang menyaksikan kemenangan Talangan Mayan atas pimpinan tertinggi Jantung Iblis.Belati Dasakala, adalah harta berharga yang membuat orang lain merasa iri, sekaligus takut berhadapan dengan Talang Mayan. Semua pendekar di level tanpa tanding, bisa merasakan roh senjata yang bersemayam di dalam belati itu, bukan berasal dari jiwa siluman.“Jiwa yang begitu liar, jahat, dan kuat,”kata salah satu dari tetua Jantung Iblis, “tidak salah lagi, itu adalah Jiwa Dasakala.”“Bocah itu terlalu beruntung, bisa menjadikan Dasakala sebagai roh senjata miliknya.”“Beruntung?” Senopati Anom yang mendengar perkataan para tetua Jantung Iblis lansung menyela, “Tidak ada keberuntungan di dunia ini. Jika kau mendapatkan sesuatu yang berharga, itu karena hasil dari penderitaan yang kau alami di masa lalu.”Senopati Anom kemudian mengangkat telapak tangannya ke atas, di saat yang sama pula, semua prajurit
Rewak mulai menggunakan potensi pedang jantung iblis kehancuran, tapi di sisi lain, Talang Mayan dengan Belati Dasakala yang terbang dengan kehendaknya sendiri tidak menunjukan rasa gentar sedikitpun.Belati Dasakala terbang ke langit, kemudian meluncur dengan kecepatan tinggi dan langsung bertemu dengan pedang Rewak yang dikenal sangat menakutkan. Dalam adu kekuatan senjata, energi yang benturan yang dihasilkan oleh ke duanya berhasil menyapu bersih medan pertempuran di sekitar mereka.Tanah terkelupas, gelombang kejut menghempaskan segala benda, dan di situ, Rewak harus menahan tekanan energi belati yang terus menyerangnya dari segala arah.-Jurus Lingkaran Maut-Talang Mayan tidak membuang-buang kesempatan, di saat belati Dasakala sibuk menyerang dan membatasi pergerakan Rewak, Talang Mayan justru memanfaatkan situasi itu untuk melancarkan serangan yang tidak terduga.Tanpa dua belati, Talang Mayan terpaksa menggunakan semua sayap-sayap lebah untuk melengkapi serangannya.“Cih,” Re
Dua gadis itu langsung terjaga, setelah sayap sayap lebah kini sudah menempel pada kaki-kaki mereka. Salah satu dari dua gadis itu, mencoba membebaskan diri dari senjata kecil itu, tapi Talang Mayan memberikan isyarat agar keduanya tidak banyak melakukan gerakan, karena kurang dari satu detik saja,
Demang Raya Keling memaki Talang Mayan karena hampir saja membunuh dirinya, sementara dua gadis yang entah apakah pengawal atau pendekar yang dia sewa,-Talang Mayan tidak tahu, kini mulai bersiap melawan pemuda tersebut.Talang Mayan hanya tersenyum dingin, menatap satu persatu lawan-lawannya. Bela
Demang itu benar-benar membocorkan rahasia kelamnya kepada Talang Mayan, yang bersembunyi di sisi lain ruangan itu. Dia tidak pernah berfikir, seorang pendekar pilih tanding yang direncanakan mati malam ini, ternyata sudah ada di dalam rumahnya, dan menguping semua pembicaraan dia dan dua gadis can
Waktu berlanjut, tapi Talang Mayan masih di luar desa memperhatikan setiap sisi tempat itu tanpa disadari oleh dua rekannya atau pula Demang Raya Keling -yang mencurigakan.Sementara itu.“Tuan Demang, dua pendekar masih berada di penginapan, hanya satu pendekar yang bertugas.” Seorang pria mendata







