MasukJoni melangkah masuk tanpa suara ke dalam kamar utama.Pintu yang setengah terbuka tidak ia tutup rapat, sengaja membiarkan celah kecil agar tidak mengundang curiga dari bawah.Begitu Joni berdiri tepat di hadapannya, pertahanan Aya runtuh total. Ia menatap Joni dengan mata basah yang sarat akan rasa putus asa.Tanpa sepatah kata pun, Joni menarik tubuh ramping Aya ke dalam dekapannya.Tangan kekar Joni melingkar erat di punggung wanita itu, menempelkan dada bidangnya yang hangat ke tubuh Aya yang dingin dan kaku.Aya tersentak panik, kedua tangannya sempat mendorong dada Joni pelan seraya melirik ke arah pintu yang terbuka.
“Apa kamu bilang?!” Napas Rama memburu kasar di ruang tamu.Penolakan terang-terangan dari mulut Aya barusan terasa bagai tamparan keras bagi harga diri dan egonya sebagai kepala keluarga. Pria itu menatap istrinya dengan rahang mengeras, lalu melangkah maju dan mencengkeram pergelangan tangan Aya dengan kasar."Ikut aku ke atas," desis Rama dingin tanpa memberi ruang bantahan."Mas! Lepas, sakit!" rintih Aya berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeraman Rama terlalu kuat.Rama menyeret Aya menaiki anak tangga menuju kamar utama. Pintu kamar dibanting menutup dengan bunyi berdebum keras. Rama mulai melonggarkan dasi dan membuka kancing kemejanya dengan gerakan tergesa-gesa. Matanya menatap Aya dengan lapar bercampur amarah, sebuah tuntutan primitif seorang pria yang ingin menegaskan kepemilikan mutlak atas istrinya setelah lelah berhari-hari di luar kota."Mas mau ngapain?!" tanya Aya panik, mundur beberapa langkah hingga kakinya menabrak tepi ranjang."Ngapain?" Rama mendengus si
Pagi harinya, Joni membuka matanya lebih dulu. Fisiknya terasa segar bugar, berbeda dengan Aya yang masih tidur mendengkur halus di sampingnya dengan tubuh terbungkus selimut sebatas dada.Joni menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Pandangannya langsung terpaku pada leher jenjang Aya yang tersingkap bebas. Di dekat tulang selangka wanita itu, bercak merah keunguan tercetak jelas, tanda kepemilikan yang ia tinggalkan semalam.Joni tersenyum tipis. Tangannya terulur, mengusap tanda merah itu dengan ibu jarinya yang kasar.“Mm..?” Sentuhan itu membuat Aya melenguh pelan. Kelopak matanya terbuka pelan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Joni yang tengah menatapnya lekat-lekat dari jarak begitu dekat."Pagi, Tante," sapa Joni rendah. Suaranya serak khas bangun tidur.Sebelum Aya sempat mengumpulkan kesadarannya, Joni mencondongkan tubuh, mendaratkan ciuman lembut di bibir merekah wanita itu, lalu beralih turun mengecup tanda merah di lehernya.Tubuh Aya meremang seketik
Tanpa membuang waktu, Joni mencengkeram kedua sisi pinggang ramping Aya, lalu dengan satu tarikan bertenaga, ia mengangkat tubuh wanita itu kembali ke atas kasur empuk. Tubuh Aya mendarat di atas seprai, rambutnya terurai berantakan membingkai wajahnya yang merah padam.Joni merangsek naik ke atas ranjang. Tubuh kekarnya yang menjulang menaungi Aya sepenuhnya, mengurung wanita itu di antara kedua lengannya yang kokoh."Joni... masukin sekarang..." rintih Aya parau seraya merengkuh bahu berotot pemuda itu. Suaranya terdengar begitu memelas, lenyap sudah wibawa sang nyonya rumah yang biasa memberi perintah. "Tante mau kamu... cepat, Joni… please…"Namun, lagi-lagi, Joni tidak langsung menurut. Ia sengaja menahan pinggulnya, menatap lurus ke dalam manik mata Aya yang bergetar. Sudut bibir Joni terangkat tipis, menikmati setiap detik permohonan yang terlontar dari bibir wanita dewasa di bawahnya."Siapa yang pegang kendali malam ini, Tante, hmm?" tanya Joni dengan nada rendah dan menunt
Lilitan handuk putih di pinggang Joni terlepas, jatuh tanpa suara ke atas lantai. Udara dingin dari pendingin ruangan seketika menyapu kulitnya, tetapi hawa panas yang membakar di dalam kamar itu jauh lebih dominan.Aya masih bersandar lemas di atas kasur dengan dada yang kembang kempis. Matanya yang sayu terpaku pada kejantanan Joni yang kini tersingkap bebas tanpa sehelai benang pun. Napas wanita itu tercekat. Ada getaran lapar yang kembali menyengat dadanya, mengikis habis sisa-sisa tenaga pasca pelepasan barusan.Aya mengulurkan tangannya, hendak menarik Joni agar segera naik ke atas ranjang dan menyatukan tubuh mereka.Namun, Joni menahan pergelangan tangan lentik itu. Cengkeramannya tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk menegaskan siapa yang memegang kendali di ruangan ini.“Tunggu, Tante.”Aya mendongak menatapnya. “Kenapa, Jon? Kamu nggak mau langsung aja? Udah tegang begitu loh,” katanya dengan nada tidak sabar. “Sini Tante bantu.”Joni menggeleng. "Bukan pakai tangan kayak
"Baring di kasur, Tante," perintah Joni rendah. Nada suaranya datar, tanpa basa-basi.Aya mengangguk dan membaringkan tubuh sintalnya di kasur. “Buka baju Tante sendiri,” kata Joni lagi.Aya tersentak kecil, sedikit heran. Namun hanya sebentar karena desiran aneh kini merayapi sekujur sarafnya saat mendengar nada memerintah dari pemuda yang biasanya memanggilnya dengan nada hormat itu.Tanpa membantah sepatah kata pun, wanita itu perlahan menurunkan tali gaun tidur satinnya melewati kedua pundak.Kain hitam yang licin itu meluncur turun dengan lembut ke atas kasur, mengekspos lekuk tubuh montoknya yang mulus tanpa sehelai benang pun. Aya kemudian kembali merebahkan punggungnya, membiarkan rambut hitamnya terurai bebas di atas bantal.Aya menatap Joni, mengira pemuda itu akan segera merangkak naik dan menindih tubuhnya seperti biasa.Namun Joni tetap bergeming.Pemuda itu hanya berdiri tegak di tepi ranjang, masih mengenakan handuk putih yang melilit pinggang kekarnya. Sorot matanya







