LOGINSuara pintu garasi yang tertutup rapat menandai kepulangan Aya dari acara arisan. Langkah kakinya menyusuri selasar bawah terasa terburu-buru, penuh dengan kekesalan tertahan yang sudah membendung sejak dari restoran.Tanpa membuang waktu, Aya melangkah menuju kamar Joni di area belakang. Ia memutar knop pintu tanpa mengetuk lebih dulu.Joni yang sedang duduk di tepi ranjang baru saja selesai melipat pakaian. Ia terkejut melihat Aya muncul di ambang pintu dengan napas berburu dan wajah masam."Tante?" Joni beranjak berdiri, menatap wanita itu bingung. "Ada apa?"Aya menutup pintu rapat-rapat di belakangnya. Matanya berkilat marah."Mirna bener-bener keterlaluan, Jon!" seru Aya sarat kekesalan. "Dia sok tahu banget di depan anak-anak arisan. Pamer soal bisnis Mas Rama yang lagi bermasalah, terus merendahkan aku seolah aku ini cuma istri pajangan yang nggak tahu apa-apa!"Joni mendengarkan dengan seksama, mengamati raut emosi yang jarang sekali ditunjukkan wanita di hadapannya itu. "D
Suara gemerincing sendok dan gelak tawa halus memenuhi area privat sebuah restoran di kawasan Selatan. Atmosfer arisan para istri pengusaha itu terasa sangat mewah, luwes, tapi penuh dengan kepura-puraan.Aya duduk di sudut meja bundar, menyesap tehnya pelan. Beberapa hari terakhir, Rama hampir tidak pernah tidur di rumah karena banyak dinas ke luar kota. Kebetulan itu dimanfaatkan Aya untuk keluar rumah. Ia lelah mengurung diri, sekaligus ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di lingkaran suaminya."Jeng Aya, Rama masih sering ke luar kota ya belakangan ini?" pancing Ratna yang duduk di seberang meja sambil mengoles mentega ke rotinya. "Suamiku bilang rapat aliansi kemarin Rama cuma diwakilin sekretarisnya."Aya tersenyum tipis. "Iya, Mbak. Mas Rama lagi sibuk-sibuknya menangani proyek baru.""Oh, proyek yang di Jawa Tengah itu?" sahut Mirna yang duduk tak jauh dari Aya.Mirna meletakkan cangkirnya dengan gerakan anggun. Ia mengenakan setelan busana kerja dipadu perhiasan
Suasana kafe siang itu relatif lengang, hanya terisi dua meja pelanggan di bagian sudut.Joni sedang mengelap permukaan meja saat Rina menyenggol lengannya pelan dari samping. Rina membawa nampan berisi cangkir-cangkir kotor yang baru saja dibersihkan."Jon, muka kamu kusam banget dari pagi," cetus Rina pelan, menatap Joni dengan dahi berkerut. "Kurang tidur ya? Dari tadi diajak ngobrol malah bengong terus."Joni menghentikan usapannya sejenak, menghela napas pendek untuk mengusir rasa kantuk yang menggelayuti kepalanya. "Capek aja, Rin.""Ya jangan dipaksa lah. Kalo lemas gitu nanti salah bikin pesanan, Mas Doni bisa ngomel," omel Rina, meski ada nada khawatir di suaranya. Ia lalu menunjuk ke arah sudut dekat jendela menggunakan dagunya. "Tuh, ada yang nyariin kamu."Joni menoleh ke arah yang ditunjuk Rina.Mirna.Tanpa ragu, wanita itu yang baru masuk itu melangkah menuju salah satu meja di pojok yang agak tersembunyi.Joni memejamkan mata sejenak, meresapi rasa jenuh yang mendad
Suara deru mobil milik Rama terdengar meraung keras meninggalkan garasi, disusul bunyi pintu gerbang otomatis yang tertutup rapat.Joni yang sejak tadi berdiri diam di kegelapan lorong bawah segera melangkah menaiki tangga.Di selasar lantai dua, tepat di depan pintu ruang kerja Rama, Joni menemukan Aya. Wanita itu merosot di lantai, menyenderkan bahunya pada dinding dengan telapak tangan gemetar menutupi wajahnya. Isak tangisnya tertahan, napasnya tersendat di dada akibat tekanan emosi yang baru saja menghantamnya.Joni berlutut di samping Aya. Ia tidak langsung menyentuh atau merangkul, melainkan hanya diam menunggu selama beberapa saat."Tante," panggil Joni dengan suara rendah dan tenang. "Ayo turun dulu. Jangan di sini."Aya mendongak pelan. Matanya merah dan basah oleh air mata, raut wajahnya pucat. Ia menatap Joni dengan tatapan kosong yang dipenuhi ketakutan."Jon..." bisik Aya, suaranya bergetar hebat. "Dia... dia beneran marah banget...""Iya, saya dengar," kata Joni. Ia m
Pagi harinya di area garasi samping, Joni berdiri sambil menempelkan ponsel ke telinga."Gimana, Jon? Sudah kamu ambil mapnya?" suara Mirna terdengar menuntut dari seberang telepon.Joni hampir mendengus mendengar bagaimana Mirna pura-pura tidak tahu. "Tante pikir saya bego?" ujar Joni dengan suara rendah yang menekan. "Itu kode silent alarm rumah. Sekali saya tekan, sekuriti kompleks sama Om Rama bisa langsung meluncur ke ruang kerja."Mirna tidak mengatakan apapun."Saya cuma mau ngingetin satu hal," bisik Joni. "Kalau saya sampai tertangkap di rumah ini, nama Tante Mirna yang bakal pertama kali saya sebut ke Om Rama. Kita lihat siapa yang lebih dulu hancur.""Jon, dengar dulu. Tante cuma—"Tut.Joni langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu balasan. Ia mengantongi ponselnya kembali.Gertakan Mirna sudah lumpuh. Sekarang wanita itu yang harus memutar otak jika tidak ingin posisinya terbongkar.Sore harinya, Rama tiba di rumah lebih awal dari biasanya. Ia turun dari mobil
Denting gelas kristal beradu pelan dengan meja kaca di sudut lounge yang remang.Mirna menyandarkan punggungnya di sofa, menyilangkan kaki seraya menyesap cocktail kemerahan. Tatapannya mendominasi saat Joni mengambil tempat di hadapannya."Kamu datang sesuai janji, Jon," buka Mirna tanpa basa-basi, meletakkan gelasnya pelan. "Saya harap kamu nggak datang dengan tangan kosong atau alasan berniat mundur."Joni menatap Mirna lurus-lurus, memasang raut wajah datar."Saya udah liat brankasnya di ruang kerja Om Rama," potong Joni cepat dengan suara rendah. "Papan kuncinya pakai PIN digital empat digit. Tanpa angka itu, saya nggak bisa ngapa-ngapain."Mirna menyunggingkan senyum puas. Ia merogoh tas tangan kulitnya, menarik secarik kertas kecil dan pulpen. Dengan gerakan lambat yang disengaja, Mirna menuliskan serangkaian angka di atas kertas tersebut, lalu menggesernya ke hadapan Joni."Empat digit," bisik Mirna. "7-0-4-9."Joni menatap deretan angka di atas kertas itu."Itu kombinasi PI







