MasukLayar biru muncul di depan Rehan.[Misi: Pelajari cara membuat Tante klimaks memakai tangan, sesuai arahan Tante. Syarat, Tante yang minta.][Reward: 6,5 poin, 1 Poin Atribut.]Rehan duduk di tepi kasur dengan punggung tegak. "Saya dengarkan baik-baik, Tante. Kalau ada yang salah, langsung dikoreksi saja.""Tenang, Han. Tante koreksi terus sampai kamu benar."Tante melepas daster biru itu lewat kepala, melipatnya sekali, lalu meletakkannya di kaki ranjang. Sekarang yang menutupi tubuhnya hanya celana dalam krem.Di bawah lampu meja, kulit Tante yang kuning langsat terlihat hangat. Payudaranya penuh dan berat, dan bergoyang ketika Tante membetulkan bantal di belakangnya. Chococipsnya cokelat muda dan sudah sedikit menegang karena udara AC. Perutnya lembut, dengan pusar kecil yang naik turun mengikuti napasnya.Rehan belum berani menatap ke bawah sebelum diizinkan. Jadi dia menatap chococips kiri Tante saja. Menurut Rehan, itu pilihan paling sopan untuk keadaan begini.Tante menjepit je
Tante membaca pesan Rudi sambil menggeser layar dengan dua jari. Dia memperbesar foto surat itu, memperkecilnya, lalu memperbesarnya lagi. Rahangnya mengeras setiap kali foto itu berganti ukuran.Rehan belum pernah melihat wajah Tante yang begitu. Biasanya wajah Tante lembut dan mudah berkaca-kaca. Malam ini wajahnya serius dan tidak bergerak. Tante sedang memeriksa dokumen dengan teliti, dan Rehan bisa melihatnya dengan jelas.Tante meletakkan ponsel di meja, lalu menunjuk layarnya dengan dagu. "Surat panggilan polisi yang asli tidak pernah dikirim lewat WA, Han. Petugas yang mengantarnya ke rumah. Penerimanya tanda tangan, dan nomor suratnya dicatat di buku register. Yang ini cuma foto. Nomor suratnya tidak ada, dan stempelnya miring."Rehan melongo. "Tante kok tahu soal buku register? Saya kira Tante cuma jago bikin bolu sama nonton sinetron.""Tante empat tahun kerja di kelurahan sebelum menikah, bagian surat-menyurat. Tiap hari Tante mengecap, mencatat, dan menandatangani surat y
Rehan memegang kedua pinggul Tante dan masuk dari belakang. Tante mendesah panjang, kepalanya terkulai di antara lengannya. "Aah, dalem banget, Han. Lebih dalem lagi. Tante kuat."Plak. Plak. Plak.Bunyi daging bertemu daging memenuhi dapur, dan gelas di atas meja ikut bergetar.Rehan menghentak makin cepat. Pinggul Tante bergoyang mengikuti irama, dan kedua payudaranya ikut terayun di bawah dadanya. Rehan mengulurkan tangan, menangkup salah satunya dari belakang, lalu meremasnya pelan."Mmh, Han, iya, remes. Hhh, Tante, Tante mau keluar!""Saya nggak berhenti, Tante.""Jangan berhenti! Dikit lagi, aah, dikit lagi!""Sayuuur! Bu Ratih! Terongnya baru dateng, Bu!"Celaka tiga belas! Teriakan itu menembus jendela dapur. Gerobak Mbak Ningsih berhenti tepat di depan pagar, rodanya berderit, dan suara perempuan itu terdengar jelas di seberang tembok.Rehan membeku di tengah gerakan. Tante menutup mulutnya dengan telapak tangan, menoleh dengan mata melotot, lalu menggeleng keras ke arah Reh
Di ambang dapur, Rehan berhenti. Tante berdiri di depan kompor memakai kemeja kotak-kotak milik Rehan yang kemarin dia pakai, dan hanya dua kancing bagian bawah yang terpasang. Ujung kemeja itu jatuh sampai pertengahan paha. Tiap kali Tante mengangkat tangan untuk mengambil garam, bagian belakangnya yang bulat ikut mengintip keluar.Mochi duduk di kursi makan dan mengawasi wajan dengan mata malas."Duduk, Han. Telurnya sebentar lagi mateng," kata Tante tanpa menoleh.Rehan menurut, tapi dia memilih kursi yang menghadap jendela, bukan kompor. Dari kaca jendela dapur, dia bisa melihat pantulan Tante yang sedang menggoyangkan wajan, dan pantulan itu terlalu jelas untuk ukuran pagi hari.Tante berjalan ke kulkas dengan langkah melebar dan kaku, seperti orang yang baru turun dari motor setelah perjalanan jauh."Tante, kakinya kenapa?" tanya Rehan, polos sekali.Tante berbalik sambil menodongkan spatula. "Gara-gara siapa coba?""Saya nggak tahu, Tante.""Kamu tahu. Jangan pura-pura bodoh."
"Tante nyaman. Dari tadi Tante mikirin ini terus." Tante mengangkat wajahnya, dan matanya yang masih basah memantulkan lampu jalan.Layar biru menyala redup di samping kursi Rehan.[Misi: Balas ciuman Tante. Syarat, Tante yang mulai. Reward: 4 poin.]Dalam gelap, dada Tante naik turun di balik kebaya hijau yang tegang, dan tiap tarikan napasnya menekan lengan Rehan. Wangi melati dari sanggulnya bercampur bau keringat dan air mata yang mengering. Lalu Tante menempelkan bibirnya ke bibir Rehan.Hanya menempel, diam, hangat, dan sedikit asin karena air mata. Rehan kaku dengan mulut tertutup rapat dan kedua tangan mencengkeram lututnya sendiri.Tante tertawa kecil di bibir Rehan. "Buka dikit, Han. Kamu kayak lagi dicium tukang parkir.""Maaf, Tante, saya belum pernah," bisik Rehan jujur."Tante tau. Makanya Tante yang ajarin."Ujung lidah Tante menyentuh bibir bawah Rehan. "Mmh, buka dikit, iya, gitu."Rehan membuka mulutnya. Lidah Tante masuk, hangat dan basah, menyentuh lidahnya sekali,
Om muncul dari belakang membawa segelas sirup merah, lalu sengaja memperkeras suaranya supaya terdengar sampai meja sebelah."Sopir saya izin, Bu, jadi anak ini saya pinjam buat nyetir. Soal gemuk, kebayanya sampai kayak lemper, Bu. Udah saya bilangin dari rumah supaya ganti, tapi Ratih ngeyel," kata Om, dan tawanya pecah paling keras di antara semua orang.Saudara-saudara di meja itu ikut tertawa."Lemper isi daging, Mas Burhan, makanya Ratih nggak muat!" seru seorang bibi bersanggul, dan tawa di meja itu pecah lagi, lebih keras.Senyum Tante membeku di wajahnya seperti pajangan toko. Tangan kirinya yang bercincin mencengkeram ujung jarik sampai kain itu kusut, dan Rehan tahu betul perempuan itu sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.Rehan menggenggam tas selempang itu sampai buku jarinya memutih. Mati kutu. Kalau dia maju dan membentak Om di depan saudara-saudara, Om punya alasan sempurna untuk mengusirnya malam ini juga.Kalau Rehan diusir, UKT tidak terbayar. Kala







