Home / Urban / Tanteku Yang Pengertian / Bab 18 Gara-gara belalang

Share

Bab 18 Gara-gara belalang

Author: Allina
last update publish date: 2026-10-20 22:33:07

Esoknya, Rehan harus servis kipas.

Rehan menggulung lengan kaos abu-abunya sampai bahu, mengeluarkan obeng

dari tas, lalu membongkar kipas pertama sebelum jam dinding toko menunjukkan

pukul tujuh lewat dua menit.

"Tiga unit, tiga jam kalau kamu amatir. Saya kasih batas dua jam.

Lewat dari itu, upahmu saya potong." Meiling berdiri di seberang meja

dengan tangan terlipat, dan kacamata tipisnya memantulkan lampu neon.

"Satu jam juga cukup, Ci," jawab Rehan tanpa menoleh dari baut

yang sedang dia p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 30

    Eskalator itu membawa mereka ke lantai dasar dalam diam."Dua puluh menit lalu Tante masih ketawa di ruang ganti, Han. Sekarang Tante tidak tahu harus ketawa atau nangis. Sembilan tahun Tante kira semua ini salah Tante karena kurang sabar." Tante menatap ujung sepatunya sendiri."Tante boleh pilih dua-duanya, dan saya tidak akan berkomentar. Saya di sini sampai Tante selesai. Kalau Tante mau nangis, saya pinjamkan bahu. Kalau Tante mau ketawa, saya ikut ketawa, walaupun telinga saya merah."Tante mengangguk kecil. Di basemen, dia memasang helm, mengancingkan talinya dua kali, lalu menatap Rehan dengan mata kering."Han. Jangan pulang dulu. Bawa Tante ke mana saja asal bukan ke rumah itu. Tante nggak mau lihat rumah itu malam ini."Rehan mengangguk, memasang helmnya, dan menyalakan mesin. Tante naik ke boncengan, melingkarkan kedua tangan di pinggang Rehan, lalu menempelkan keningnya di punggung Rehan."Aku di sini, Tante," ucap Rehan sambil memutar gas.Sore itu Rehan memarkir motor b

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 29 

    [Misi tersembunyi selesai. Rehan diam supaya Tante melihat sendiri. 3 XP. XP 114.][Komentar Sistem: XP ini diberikan karena Rehan menahan diri dan membiarkan Tante melihat sendiri. Soal niatnya, itu urusan Rehan.]"Saya boleh lihat terus, Tante? Kalau Tante tidak nyaman, saya langsung berhenti. Saya bisa tutup mata juga.""Boleh, Han. Lihat lewat cermin saja, jangan lihat Tante langsung, nanti Tante malu. Tante mau main sendiri. Biasanya Tante lakukan diam-diam. Tapi kali ini Tante mau ada yang lihat." Tante tersenyum ke arah cermin, lalu menurunkan tangan kanannya dan menyelipkannya ke dalam celana dalam merah itu.Rehan membeku.Telapaknya di perut Tante terasa makin panas. Kulit di sana hangat dan sedikit lembap. Setiap kali jari Tante bergerak di bawah, otot perutnya mengencang di telapak Rehan, lalu mengendur lagi mengikuti napasnya.Rehan mendekatkan mulut ke telinga Tante. "Tante mau saya diam saja, atau mau saya ceritain apa yang saya lihat di cermin?""Ceritain, Han. Hhh, Ta

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 28

    Setengah jam kemudian, motor bebek Om sudah parkir di basemen Galeria Mall.Kado untuk Bapak selesai dalam waktu singkat, yaitu sebuah syal rajut cokelat. Tante membayarnya dari amplop bertuliskan KUE yang ada di dalam tasnya. "Ini dari Tante buat Bapak kamu, dan kamu jangan menolak. Bapakmu sudah menitipkan anaknya ke Tante, masa Tante cuma memberi makan doang?"Efek Pil Bugar mulai terasa. Tante melangkah cepat di lorong mal dengan pipi merah segar. Lututnya yang biasanya nyeri waktu naik tangga sekarang tidak nyeri lagi. Dia membeli roti kayu manis di kios depan eskalator, lalu memakannya sambil berjalan. Gula bubuk menempel di sudut bibirnya."Tante laper manis terus nih, Han. Padahal baru sarapan nasi goreng." Tante menjilat jarinya satu per satu, mulai dari jempol.Rehan buru-buru menatap papan petunjuk. Jilatan itu membuatnya lebih gugup daripada waktu di polsek.Di lantai tiga, Tante berhenti mendadak di depan etalase sebuah butik. Manekin di sana memakai lingerie merah tua ya

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 27

    Rehan memutar lebih cepat dan menekan dinding bagian atas, sesuai dengan yang Tante tunjukkan tadi. Tubuh Tante melengkung tinggi, pinggulnya terangkat, dan jeritannya teredam bantal yang dia sambar dengan tangan satunya.Cairan hangat menyembur ke telapak Rehan, mengenai pergelangan tangannya, lalu membasahi sprei sampai membentuk bercak besar di bawah pinggul Tante.Rehan diam tidak bergerak. Dia hanya menahan jarinya di dalam dan merasakan dinding itu meremas, melepas, lalu meremas lagi.Tante menurunkan bantal dari wajahnya. Matanya basah, pipinya merah sampai ke telinga, lalu dia tertawa sambil menutup muka dengan kedua tangan."Awas kalau kamu tanya air yang nyembur tadi itu pipis atau bukan.""Saya nggak tanya, Tante. Saya cuma memikirkan sprei yang harus dicuci."Tante tertawa makin keras sampai badannya berguncang. Rehan menarik tangannya pelan-pelan dan memandangi lengannya yang basah sampai ke siku. Dia bingung harus merasa bangga dulu, atau cuci tangan dulu.[Misi selesai.

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 26

    Layar biru muncul di depan Rehan.[Misi: Pelajari cara membuat Tante klimaks memakai tangan, sesuai arahan Tante. Syarat, Tante yang minta.][Reward: 6,5 poin, 1 Poin Atribut.]Rehan duduk di tepi kasur dengan punggung tegak. "Saya dengarkan baik-baik, Tante. Kalau ada yang salah, langsung dikoreksi saja.""Tenang, Han. Tante koreksi terus sampai kamu benar."Tante melepas daster biru itu lewat kepala, melipatnya sekali, lalu meletakkannya di kaki ranjang. Sekarang yang menutupi tubuhnya hanya celana dalam krem.Di bawah lampu meja, kulit Tante yang kuning langsat terlihat hangat. Melonnya penuh dan berat, dan bergoyang ketika Tante membetulkan bantal di belakangnya. Putingnya cokelat muda dan sudah sedikit menegang karena udara AC. Perutnya lembut, dengan pusar kecil yang naik turun mengikuti napasnya.Rehan belum berani menatap ke bawah sebelum diizinkan. Jadi dia menatap puting kiri Tante saja. Menurut Rehan, itu pilihan paling sopan untuk keadaan begini.Tante menjepit jempol dan

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 25 Mmpph

    Tante membaca pesan Rudi sambil menggeser layar dengan dua jari. Dia memperbesar foto surat itu, memperkecilnya, lalu memperbesarnya lagi. Rahangnya mengeras setiap kali foto itu berganti ukuran.Rehan belum pernah melihat wajah Tante yang begitu. Biasanya wajah Tante lembut dan mudah berkaca-kaca. Malam ini wajahnya serius dan tidak bergerak. Tante sedang memeriksa dokumen dengan teliti, dan Rehan bisa melihatnya dengan jelas.Tante meletakkan ponsel di meja, lalu menunjuk layarnya dengan dagu. "Surat panggilan polisi yang asli tidak pernah dikirim lewat WA, Han. Petugas yang mengantarnya ke rumah. Penerimanya tanda tangan, dan nomor suratnya dicatat di buku register. Yang ini cuma foto. Nomor suratnya tidak ada, dan stempelnya miring."Rehan melongo. "Tante kok tahu soal buku register? Saya kira Tante cuma jago bikin bolu sama nonton sinetron.""Tante empat tahun kerja di kelurahan sebelum menikah, bagian surat-menyurat. Tiap hari Tante mengecap, mencatat, dan menandatangani surat y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status