LOGINSuara pertama yang Rehan dengar datang dari jauh, putus-putus.
"Han! Rehan! Bangun, Han, Gusti, anak ini kesetrum, aku harus gimana..."
Sesuatu menekan dadanya, sepertinya Tante Ratih sedang coba memompa jantung Rehan agar kembali berfungsi.
Lima menit, Tante Ratna terus memanggil nama Rehan, sembari air matanya turun.
Bagi wanita itu, Rehan tak ubahnya anak sendiri. Sedari kecil, ia sudah kenal dengan Yunita dan Rehan. Pun ketika Rehan diajak ke rumahnya, Tante Ratih selalu bangga dan menganggap Rehan sebagai anaknya.
Tapi semua itu pupus ketika Rehan dan Yunita pindah ke Jawa Tengah, mereka tak pernah bertemu.
Sampai takdir akhirnya menuntut Rehan datang ke rumah Ratih. Itupun, atas desakan dari ayahnya yang ingin anaknya menyambung silaturrahmi, sekaligus agar anaknya tak nekat putus kuliah hanya karena dipecat dan diusir dari kos.
“Han, plis bangun ya, demi Tante… Tante udah cukup kehilangan sahabat, jangan sampai kamu menyusul kepergian sahabat Tante, cukup Yunita aja…”
Karena sudah pasrah, akhirnya Tante Ratih melakukan satu cara terakhir. Meski tabu, ia harus memberi Rehan napas buatan.
Saat Tante sudah menghembuskan napas untuk kali kelima, Rehan membuka mata.
Wajah Tante Ratih ada tepat di atas wajahnya, begitu dekat sampai bulu matanya kelihatan satu-satu. Dan yang membuat terkejut, ternyata Tante Ratih memberinya napas buatan!
Mampus.
Belum sempat Rehan memutuskan harus bangun, pingsan lagi, atau pura-pura mati sekalian, tulisan biru menyala di depan matanya.
Tulisan itu melayang di antara wajahnya dan wajah Tante, terang dan rapi, tapi mata Tante tidak bergeser ke arahnya. Cuma Rehan yang bisa membacanya.
[SISTEM ACTIVATED]
[Misi utama: Membuat Tante Ratih bahagia. Tante Ratih selama ini menderita bersama suaminya!]
Komentar, [Apabila Rehan ingin mendapat karma baik, maka harus melakukan kebaikan. Kebaikan pertama, kepada Tante Ratih.]
Tante Ratih menjerit kecil dan menarik wajahnya menjauh, tapi satu telapaknya langsung kembali ke dada Rehan, menekan kiri, menekan kanan, mencari detak jantung.
"Kamu jangan mati di rumah Tante, Han. Tante nggak mau dimarahin Mama kamu di akhirat," bisik Tante dengan suara yang masih pecah.
"Sa-saya hidup, Tante. Kayaknya."
Tulisan biru itu belum hilang. Baris misi utama bergeser ke atas, lalu muncul tulisan baru di bawahnya.
[Insiden saat pemasangan Sistem. Napas buatan dari Tante Ratih, dianggap tidak sengaja bertemu bibir. 3 poin. Saldo 3, XP 3.]
Komentar, [Sistem tidak tahu napas buatan bisa pakai lidah. Sistem mencatat.]
Rehan mengedip beberapa kali, berharap tulisan itu hilang. Ternyata, tulisannya tetap di sana, rapi, biru, tidak peduli seberapa banyak dia mengedip.
Lidah? Waktu masih setengah sadar tadi, memang ada yang hangat, licin, lalu menyelip sebentar di antara bibirnya sebelum ditarik lagi.
‘Gusti, ini halusinasi kesetrum apa beneran? Kalau halusinasi, kenapa isinya rasanya begitu nyata? Kalau beneran, berarti barusan Tante...,’ batin Rehan, lalu pikirannya mogok sendiri di situ.
Dari lantai atas, suara TV masih berdentum menembus langit-langit. Tulisan biru di depan matanya bergeser lagi, seperti mengikuti arah suara itu.
[Kepala rumah tangga terdeteksi. Burhan Wiratama, penerima asli Sistem ini.]
Komentar, [Sistem sudah baca rekam jejaknya. Orang ini jahat sama Tante Ratih. Sistem bersyukur salah memilih Rehan sebagai pembawa mandat membuat Tante bahagia.]
Rehan menelan ludah, dan ludah itu terasa seperti kabel. ‘Jadi tulisan ini harusnya buat Om? Pantes nyasar. Orang yang barusan ngedorong kepalaku ke kusen pintu itu, sampai Sistem aja nolak dia.’
"Han? Kok bengong? Kamu beneran nggak apa-apa?" tanya Tante sambil menepuk-nepuk pipinya pelan.
"Nggak apa-apa, Tante. Tinggal matiin MCB-nya dulu."
Tante Ratih hanya menggeleng. Barusan Rehan kesetrum sampai pingsan, tapi kenapa pas siuman, dia lebih memprioritaskan MCB lampunya daripada tubuhnya sendiri?
Seperhatian itukah Rehan padanya? Atau mungkin, ini hanya perasaannya saja?
Sementara itu, Rehan memaksa badannya bangun. Lututnya masih gemetar, telapak kirinya kesemutan sampai siku. Dia menyorot kotak MCB di dinding kamar Tante pakai senter HP-nya sendiri, mencari tuas berlabel KM, lalu menurunkannya.
Klik.
Cahaya senter itu menyapu kamar dan berhenti di lengan atas Tante, tempat lengan daster batik cokelatnya tersingkap. Di kulit kuning langsat itu, ada bekas empat jari yang tadi cuma merah, sekarang berubah keunguan dengan pinggir yang mulai membiru.
Tante buru-buru menarik lengan dasternya turun, lalu menggeleng kecil. "Udah, Han. Om emang gitu, kasar orangnya. Kamu jangan lawan ya, takut kamu diusir sama dia."
Pengakuan Tante membuat sistem memberi misi baru untuk Rehan.
[Misi: Obatin memar Tante sampai Tante bisa tidur.]
[Reward: 1 poin.]
Komentar, [Kompres dingin dulu, jangan dipijat. Abis itu salep memar.]
Mengetahui intruksi dari sistem, segera Rehan memutar otak. Dia kemudian menuju kulkas dan melihat freezer-nya.
Freezer di kulkas cuma berisi es batu sisa dan dua kantong daging bertuliskan spidol, punya Om. Rehan mencungkil es batu, membungkusnya pakai serbet bersih, lalu menyodorkannya ke Tante.
"Tante duduk dulu. Tempelin ini ke lengan, jangan dipijit ya," pinta Rehan sambil menarikkan kursi. "Saya ke minimarket depan sebentar."
"Ndak usah, Han, udah malem. Hujan lagi," tolak Tante, tapi tangannya tetap menerima serbet itu dan menempelkannya ke lengan.
Rehan sudah memakai sandal jepit di teras sebelum Tante selesai bicara.
Minimarket di gerbang komplek masih buka dua puluh empat jam. Kasirnya cewek mungil berpipi tembem yang menguap tiga kali selama Rehan mencari rak obat. Salep memar ukuran kecil dua puluh delapan ribu.
"Malem-malem beli salep memar, Mas. Abis berantem, ya?" tanya kasir itu sambil menguap untuk keempat kalinya, matanya berair tapi melirik lengan Rehan dari ujung sampai siku.
"Abis kesetrum sama kejedot meja, Mbak."
Kasir itu berhenti menguap. Mulutnya masih setengah terbuka waktu dia menyerahkan kembalian.
Dompet Rehan tinggal sembilan belas ribu.
Baru sehari numpang, Rehan sudah nombok. Anehnya, dia berjalan pulang di bawah gerimis sambil menggenggam kantong plastik itu erat-erat.
Uang 19 ribu tidak ada apa-apanya dibanding kesehatan Tante Ratih yang sudah baik padanya.
Saat sudah sampai rumah, TV di atas masih menyala keras waktu Rehan masuk lewat pintu dapur. Sementara itu, Tante masih duduk di kursi yang sama, serbet esnya sudah setengah basah.
"Astaga, kamu tuh, batu banget dibilangin. Ngapain susah-payah beli salep gerimis-gerimis begini, sih? Itu pelipis kamu juga, Han, bengkaknya makin gede. Duduk, Tante ambilin plester!" omel Tante pelan sambil membuka laci bufet.
"Tante dulu, Tante. Yang parah itu lengan Tante."
"Iya, iya, sebentar. Kepala kamu dulu, nanti Tante dimarahin Mama kamu di akhirat," jawab Tante sambil menempelkan plester ke pelipis Rehan dengan telaten, jarinya dingin dan sedikit gemetar.
Tante menepuk plester itu dua kali. "Nah. Sekarang boleh."
Rehan berjongkok di samping kursi sambil membuka tutup salep. "Pinggang Tante tadi kebentur juga, kan? Saya denger bunyinya."
Tante diam. Lama dia memandangi tangga, memastikan pintu kamar atas masih tertutup. Lalu tangannya menyingkap daster batik itu dari samping, pelan-pelan, sampai ke pinggang.
Mata Rehan langsung tertahan.
Kulit kuning langsat itu mulus dari paha sampai pinggang, dengan perut lembut yang menyembul sedikit di atas karet celana dalam krem. Modelnya, yaa… seperti model ibu-ibu pada umumnya, tapi karetnya menekan daging pinggul sampai membentuk lipatan kecil.
Tepat di tulang pinggul, lebam merah sebesar telapak tangan mulai membiru di pinggirnya.
Saat Rehan menempelkan es ke pinggang Tante, Tante mendesis, perutnya mengempis menahan dingin. Kulit di sekitar lebam itu berubah merinding sampai ke paha.
Sesudah kulitnya berubah dingin, Rehan mengoleskan salep pakai dua jari, pelan, cuma dioles, tidak ditekan.
Tiap jari Rehan lewat, Tante mendesis lagi. Desisnya makin lama makin pelan, lalu berubah jadi tarikan napas panjang.
"Tante malu, ihh, kamu tadi lihat apa? Huhuu… ma-mana…"
Rehan memegang kedua pinggul Tante dan masuk dari belakang. Tante mendesah panjang, kepalanya terkulai di antara lengannya. "Aah, dalem banget, Han. Lebih dalem lagi. Tante kuat."Plak. Plak. Plak.Bunyi daging bertemu daging memenuhi dapur, dan gelas di atas meja ikut bergetar.Rehan menghentak makin cepat. Pinggul Tante bergoyang mengikuti irama, dan kedua payudaranya ikut terayun di bawah dadanya. Rehan mengulurkan tangan, menangkup salah satunya dari belakang, lalu meremasnya pelan."Mmh, Han, iya, remes. Hhh, Tante, Tante mau keluar!""Saya nggak berhenti, Tante.""Jangan berhenti! Dikit lagi, aah, dikit lagi!""Sayuuur! Bu Ratih! Terongnya baru dateng, Bu!"Celaka tiga belas! Teriakan itu menembus jendela dapur. Gerobak Mbak Ningsih berhenti tepat di depan pagar, rodanya berderit, dan suara perempuan itu terdengar jelas di seberang tembok.Rehan membeku di tengah gerakan. Tante menutup mulutnya dengan telapak tangan, menoleh dengan mata melotot, lalu menggeleng keras ke arah Reh
Di ambang dapur, Rehan berhenti. Tante berdiri di depan kompor memakai kemeja kotak-kotak milik Rehan yang kemarin dia pakai, dan hanya dua kancing bagian bawah yang terpasang. Ujung kemeja itu jatuh sampai pertengahan paha. Tiap kali Tante mengangkat tangan untuk mengambil garam, bagian belakangnya yang bulat ikut mengintip keluar.Mochi duduk di kursi makan dan mengawasi wajan dengan mata malas."Duduk, Han. Telurnya sebentar lagi mateng," kata Tante tanpa menoleh.Rehan menurut, tapi dia memilih kursi yang menghadap jendela, bukan kompor. Dari kaca jendela dapur, dia bisa melihat pantulan Tante yang sedang menggoyangkan wajan, dan pantulan itu terlalu jelas untuk ukuran pagi hari.Tante berjalan ke kulkas dengan langkah melebar dan kaku, seperti orang yang baru turun dari motor setelah perjalanan jauh."Tante, kakinya kenapa?" tanya Rehan, polos sekali.Tante berbalik sambil menodongkan spatula. "Gara-gara siapa coba?""Saya nggak tahu, Tante.""Kamu tahu. Jangan pura-pura bodoh."
"Tante nyaman. Dari tadi Tante mikirin ini terus." Tante mengangkat wajahnya, dan matanya yang masih basah memantulkan lampu jalan.Layar biru menyala redup di samping kursi Rehan.[Misi: Balas ciuman Tante. Syarat, Tante yang mulai. Reward: 4 poin.]Dalam gelap, dada Tante naik turun di balik kebaya hijau yang tegang, dan tiap tarikan napasnya menekan lengan Rehan. Wangi melati dari sanggulnya bercampur bau keringat dan air mata yang mengering. Lalu Tante menempelkan bibirnya ke bibir Rehan.Hanya menempel, diam, hangat, dan sedikit asin karena air mata. Rehan kaku dengan mulut tertutup rapat dan kedua tangan mencengkeram lututnya sendiri.Tante tertawa kecil di bibir Rehan. "Buka dikit, Han. Kamu kayak lagi dicium tukang parkir.""Maaf, Tante, saya belum pernah," bisik Rehan jujur."Tante tau. Makanya Tante yang ajarin."Ujung lidah Tante menyentuh bibir bawah Rehan. "Mmh, buka dikit, iya, gitu."Rehan membuka mulutnya. Lidah Tante masuk, hangat dan basah, menyentuh lidahnya sekali,
Om muncul dari belakang membawa segelas sirup merah, lalu sengaja memperkeras suaranya supaya terdengar sampai meja sebelah."Sopir saya izin, Bu, jadi anak ini saya pinjam buat nyetir. Soal gemuk, kebayanya sampai kayak lemper, Bu. Udah saya bilangin dari rumah supaya ganti, tapi Ratih ngeyel," kata Om, dan tawanya pecah paling keras di antara semua orang.Saudara-saudara di meja itu ikut tertawa."Lemper isi daging, Mas Burhan, makanya Ratih nggak muat!" seru seorang bibi bersanggul, dan tawa di meja itu pecah lagi, lebih keras.Senyum Tante membeku di wajahnya seperti pajangan toko. Tangan kirinya yang bercincin mencengkeram ujung jarik sampai kain itu kusut, dan Rehan tahu betul perempuan itu sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.Rehan menggenggam tas selempang itu sampai buku jarinya memutih. Mati kutu. Kalau dia maju dan membentak Om di depan saudara-saudara, Om punya alasan sempurna untuk mengusirnya malam ini juga.Kalau Rehan diusir, UKT tidak terbayar. Kala
Tiiin! Tiiin!Klakson mobil Om membelah subuh dari carport, padahal jam dinding kamar tamu baru menunjuk pukul empat lewat lima.Rehan terlonjak dari kasur kempes, lalu mengancingkan kemeja putih lungsuran seragam SMA-nya dengan jari yang masih setengah tidur.Dari kamar Tante terdengar suara yang melengking tapi ditahan supaya tidak sampai ke carport. "Han! Resleting kebaya Tante macet di tengah punggung, dan Mas Burhan udah klakson dua kali! Cepat ke sini, Tante nggak bisa narik sendiri!"Rehan menyelinap masuk, lalu langsung menyesal punya mata. Tante berdiri membelakangi pintu di depan cermin lemari, memakai jarik wiru dan kebaya hijau zamrud yang resletingnya tersangkut di antara dua tulang belikat. Dari celah selebar telapak tangan itu mengintip kulit kuning langsat dan tali BH renda hitam yang baru kemarin mereka beli.Sayang beribu sayang, kebaya itu jelas dijahit saat badan Tante masih sembilan tahun lebih kurus. Kain hijau itu membungkus pinggul Tante sampai jarik di bawahny
Belalang hijau itu melompat keluar dari kerah Rehan, mendarat di tutup kardus, lalu menggosok sungutnya seolah tidak terjadi apa-apa. Waduh! Si pelaku utama malah santai, sementara korbannya hampir pingsan.Tante tertawa. Bahkan dia tertawa sampai menunduk di punggung Rehan, kardus di pangkuannya miring, dan air mata mengalir di pipinya."Itu tadi belalangnya yang keras, atau punya kamu, Han?" tanya Tante di sela napasnya yang tersengal."Belalangnya, Tante. Punya saya sekarang lagi pingsan," jawab Rehan dengan muka merah sampai ke telinga.Tante tertawa lagi. Telapak tangannya masih menempel di sana sedetik lebih lama dari yang diperlukan, lalu dia menariknya dan pura-pura sibuk membetulkan kardus.‘Jo, kamu masih hidup? Bilang apa kek, jangan diam begitu,’ batin Rehan.[Insiden: belalang di celana. Tante menerima kejadiannya. 3 poin. Saldo 38, XP 52.][XP 52. Rehan naik ke Level 3.][Fitur baru terbuka. Kartu FL dan Gelar.][Paket Naik Level. 3 Poin Atribut dan satu Kotak Kejutan gr







