Share

Bab 34

Author: Allina
last update publish date: 2026-10-26 20:43:35

Putaran Tante makin cepat. Dadanya bergoyang di depan wajah Rehan, rambutnya lengket di bahu, dan bau melati dari kulitnya pelan-pelan mengalahkan parfum Om di bantal.

Lalu Tante berhenti mendadak dan mengatur napas. "Ganti, Han. Tante mau pegangan di situ."

Tante turun dari tubuh Rehan, berlutut di tengah kasur, lalu meletakkan kedua tangan di kepala ranjang. Punggungnya melengkung, dan rambutnya jatuh ke satu sisi bahu.

Rehan menarik napas dulu sebelum bertanya. "Dari belakang, Tante? Boleh?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 34

    Putaran Tante makin cepat. Dadanya bergoyang di depan wajah Rehan, rambutnya lengket di bahu, dan bau melati dari kulitnya pelan-pelan mengalahkan parfum Om di bantal.Lalu Tante berhenti mendadak dan mengatur napas. "Ganti, Han. Tante mau pegangan di situ."Tante turun dari tubuh Rehan, berlutut di tengah kasur, lalu meletakkan kedua tangan di kepala ranjang. Punggungnya melengkung, dan rambutnya jatuh ke satu sisi bahu.Rehan menarik napas dulu sebelum bertanya. "Dari belakang, Tante? Boleh?""Boleh. Pelan dulu. Kalau Tante bilang, baru kamu kencengin."Dari belakang, Rehan bisa melihat semuanya. Punggung Tante yang mulus melengkung turun ke pinggang ramping, lalu melebar ke pinggul dan pantat yang bulat. Keringat mengalir pelan di sepanjang tulang punggungnya, dan bau melati bercampur asin keringat memenuhi hidung Rehan.Rehan berlutut di belakang Tante dan memegang pinggulnya dengan dua tangan. Tante mendesah panjang begitu mereka menyatu lagi, lalu kepalanya tertunduk di antara k

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 33

    Rehan tidak berani menebak. Yang jelas, Tante yang biasanya menunduk tiap kali Om bicara, pagi ini berani menyindirnya sambil meniup tempe.Om mendorong piringnya menjauh, lalu berdiri sampai kursinya berderit. "Saya ke Semarang lagi hari ini, pulang Jumat."Telunjuk Om pindah ke muka Rehan. "Sebelum saya pulang, motor itu sudah ada di garasi. Kalau ada lecet satu goresan pun, kamu yang ganti.""Siap, Om. Jumat pagi motornya udah di garasi."Jam tujuh tepat, Om menyeret koper ke carport. Mesin sedan menyala, pagar berderit, lalu bunyi mobil itu menjauh sampai hilang di mulut komplek.[Radar Rumah. Burhan keluar dari rumah. Di dalam rumah, Tante dan Rehan.]Rehan mengembuskan napas sampai bahunya turun. "Tante tadi nekat banget. Kalau Om sadar, Tante bisa kena marah.""Tante cuma cerita yang Tante lihat, Han. Masa cerita aja nggak boleh?" Tante mengangkat bahu, lalu kembali memotong tempe di piringnya dengan santai.Rehan menggeleng sambil tersenyum, lalu meraba saku celana. Kunci Agya

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 32 

    Tante mencengkeram lengan kaus Rehan sampai kukunya terasa menembus kain. "Han, itu mobil Mas Burhan. Lampu kamar atas juga nyala. Jangan-jangan dia nungguin kita dari tadi."Rehan tidak langsung menjawab. Sejam lalu, di jalan hutan, Sistem membuka satu fitur baru, dan sampai sekarang Rehan belum sempat mencobanya. Dia memanggil fitur itu dalam hati.[Radar Rumah. Burhan di kamar atas, berbaring, tidak bergerak sejak empat puluh menit lalu. Tidak ada orang lain di dalam rumah.]Komentar, [Radar Rumah hanya membaca posisi orang. Dengkuran tidak ikut terbaca.]Om sudah berbaring empat puluh menit tanpa bergerak. Artinya, Om hampir pasti sudah tidur, dan lampu itu hanya lupa dia matikan.Rehan mengembuskan napas panjang. "Om tidur, Tante. Lampunya cuma lupa dimatiin.""Kamu tahu dari mana? Dari tadi kamu duduk di sebelah Tante terus.""Firasat, Tante. Senin kemarin di polsek firasat saya benar, kan?"Tante menatapnya lama, lalu melepaskan cengkeramannya. "Firasatmu belakangan ini bagus t

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 31

    Rehan duduk di tengah jok. Tante naik ke pangkuannya dengan punggung menempel ke dada Rehan, menghadap sandaran jok depan. Tak lama, kepala Rehan membentur atap mobil dengan bunyi dok."Aduh!" Rehan memegangi ubun-ubunnya.Tante tertawa sampai punggungnya berguncang di dada Rehan. "Muridku benjol di hari pertama praktik lapangan."Rehan nyengir sambil mengusap kepalanya. "Atap Agya ini pendek banget, Tante. Kalau besok kepala saya benjol dua, Tante yang tanggung jawab, ya.""Iya, nanti Tante kompres pakai es batu." Tante tertawa lagi, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Rehan.Tangan Rehan terangkat, lalu berhenti di udara. "Boleh saya pegang, Tante?""Boleh. Yang Tante ajarin hari Senin, sekarang praktekin."Telapak Rehan mendarat di payudara kiri Tante. Renda itu kasar di kulit, tetapi di bawahnya puting itu keras dan hangat. Setiap Tante menarik napas, puting itu menekan telapaknya. Rehan menunduk, mencium sisi payudara kanan, lalu menghisap puting itu lewat renda yang mulai lembap

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 30

    Eskalator itu membawa mereka ke lantai dasar dalam diam."Dua puluh menit lalu Tante masih ketawa di ruang ganti, Han. Sekarang Tante tidak tahu harus ketawa atau nangis. Sembilan tahun Tante kira semua ini salah Tante karena kurang sabar." Tante menatap ujung sepatunya sendiri."Tante boleh pilih dua-duanya, dan saya tidak akan berkomentar. Saya di sini sampai Tante selesai. Kalau Tante mau nangis, saya pinjamkan bahu. Kalau Tante mau ketawa, saya ikut ketawa, walaupun telinga saya merah."Tante mengangguk kecil. Di basemen, dia memasang helm, mengancingkan talinya dua kali, lalu menatap Rehan dengan mata kering."Han. Jangan pulang dulu. Bawa Tante ke mana saja asal bukan ke rumah itu. Tante nggak mau lihat rumah itu malam ini."Rehan mengangguk, memasang helmnya, dan menyalakan mesin. Tante naik ke boncengan, melingkarkan kedua tangan di pinggang Rehan, lalu menempelkan keningnya di punggung Rehan."Aku di sini, Tante," ucap Rehan sambil memutar gas.Sore itu Rehan memarkir motor b

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 29 

    [Misi tersembunyi selesai. Rehan diam supaya Tante melihat sendiri. 3 XP. XP 114.][Komentar Sistem: XP ini diberikan karena Rehan menahan diri dan membiarkan Tante melihat sendiri. Soal niatnya, itu urusan Rehan.]"Saya boleh lihat terus, Tante? Kalau Tante tidak nyaman, saya langsung berhenti. Saya bisa tutup mata juga.""Boleh, Han. Lihat lewat cermin saja, jangan lihat Tante langsung, nanti Tante malu. Tante mau main sendiri. Biasanya Tante lakukan diam-diam. Tapi kali ini Tante mau ada yang lihat." Tante tersenyum ke arah cermin, lalu menurunkan tangan kanannya dan menyelipkannya ke dalam celana dalam merah itu.Rehan membeku.Telapaknya di perut Tante terasa makin panas. Kulit di sana hangat dan sedikit lembap. Setiap kali jari Tante bergerak di bawah, otot perutnya mengencang di telapak Rehan, lalu mengendur lagi mengikuti napasnya.Rehan mendekatkan mulut ke telinga Tante. "Tante mau saya diam saja, atau mau saya ceritain apa yang saya lihat di cermin?""Ceritain, Han. Hhh, Ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status