Se connecterTante tidak mengangkat kepala dari bahu Rehan, dan matanya setengah terpejam. "Makanya pelan-pelan. Dari luar, Tante cuma ngantuk, dan kamu cuma pacar yang bahunya dipinjem."Lalu Tante menarik tangan kanan Rehan ke bawah selendang, dan meletakkannya di atas lututnya sendiri, di atas kain rok batik yang lebar."Yang ini Tante yang minta, Han. Kamu cuma nurut."Rehan menelan ludah. Lutut Tante hangat di balik kain. Dia menoleh sedikit ke wajah Tante, yang sekarang bersemu merah sampai ke telinga."Saya boleh masuk ke balik roknya, Tante?"Tante tidak menjawab dengan kata. Dia menarik ujung roknya sendiri ke atas di bawah selendang, sejengkal demi sejengkal, sampai tangan Rehan menyentuh kulit paha yang telanjang. Kulit itu hal
Sambungan telepon itu putus sebelum Rehan sempat menjawab.Rehan menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Tiga belas setengah juta. Gaji kafe sebulan saja belum sampai sepersepuluhnya. Saldo Sistem kalau ditukar semua jadi uang pun hanya satu setengah juta lebih sedikit, belum sepertiga dari bunganya.'Siapin duitnya, katanya. Dikira aku punya pohon duit di belakang losmen,' rutuk Rehan dalam hati.Di sebelahnya, Tante menggeliat tanpa membuka mata. "Siapa, Han?""Salah sambung, Tante. Tidur lagi aja."Rehan meletakkan ponsel itu terbalik di atas meja. Matanya tetap terbuka sampai azan subuh dari musala di seberang rel.***Jam semb
Sabtu pagi, Stasiun Lempuyangan sudah ramai sejak jam enam.Rehan berdiri di peron dua dengan tas ransel di punggung. Di dalam ransel itu ada dua kaus, sikat gigi, dan satu kantong kado yang sudah berminggu-minggu tersimpan di kamar tamu, yaitu syal rajut cokelat untuk Bapak dari Galeria.Tante datang lima menit kemudian, diantar Tante Mira sampai pintu masuk peron. Tante memakai blus biru tua yang sederhana, rok panjang cokelat, dan rambut digelung rendah tanpa jepit mencolok. Wajahnya hanya dibedaki tipis.Tante Mira melambai dari balik pagar peron sambil berteriak cukup keras untuk didengar separuh stasiun."Jagain temenku, ya, Rehan! Kalau sampai lecet, aku yang nagih!"KRL itu berangkat tepat waktu. Tiga puluh lima menit
Ibu jari Rehan menemukan simpul yang paling keras, tinggi di paha bagian dalam, hanya sejengkal dari pangkalnya. Dia menekannya pelan dan memutarnya.Putri melenguh panjang. Kepalanya tersandar ke loker di belakangnya, dan matanya terpejam. Sesudah itu dia langsung membuka mata lagi dan melotot ke arah Rehan, seperti tersadar suara apa yang barusan keluar dari mulutnya."Itu, itu gue lega, Bro! Itu suara lega orang abis kram! Jangan mikir yang aneh-aneh!""Saya nggak mikir apa-apa, Put. Saya mikirin ototnya.""Bagus! Terusin, tapi jangan lihat muka gue!"Rehan meneruskan pijatannya sambil menatap loker biru di seberang ruangan. Pelan-pelan, otot paha itu melunak di bawah telapaknya, dan napas Putri mulai teratur.
Rabu siang, jam satu, Rehan baru keluar dari kelas Statistik Bisnis ketika sebuah bola futsal menggelinding ke depan sepatunya."Woi, Bro! Tendang balik ke sini!"Rehan mengangkat wajah. Di pinggir lapangan futsal kampus, seorang perempuan berdiri dengan tangan di pinggang. Dialah yang hari Senin tertawa ngakak dari bangku paling belakang, yang menyindir Kevin soal berpikir tiga menit sebelum bergerak.Rambutnya pendek sebahu, diikat asal di tengkuk, dan beberapa helainya menempel di dahi yang basah keringat. Dia memakai jersey futsal biru kebesaran dengan nomor sepuluh di punggung, dan celana training hitam yang digulung sampai betis. Betisnya keras dan berotot, kulitnya sawo matang terbakar matahari, dan dari leher jersey yang melorot di satu sisi terlihat tali sport bra hitam.
Rehan membeku. Dari celah bawah pintu biru, dia bisa melihat bayangan sandal yang berhenti di dekat gerobak.Mbak Ningsih melepaskan mulutnya dengan bunyi basah kecil, tetapi tangannya tetap menggenggam pangkal batang Rehan. Tanpa berdiri, dia menoleh sedikit ke arah pintu dan berteriak dengan suara pedagang yang biasa sekali."Bentar, Bu! Lagi ngiket kangkung! Lima menit lagi aku keluar!""Kangkungnya sisain dua ikat, ya, Mbak!""Iya, Bu! Dua ikat, yang paling seger!"Bayangan sandal itu menjauh ke arah warung kopi di ujung gang.Mbak Ningsih menoleh lagi ke Rehan, lalu menyeringai lebar. "Ngiket kangkung. Aku nggak bohong, Mas. Ini juga sejenis kangkung, cuma batangnya lebih teb







