مشاركة

Bab 48

مؤلف: Anna Sahara
last update تاريخ النشر: 2026-05-01 21:00:49

"Kita makan dulu, yuk, kakak sudah bawa makanan!"

Aarick terkesima ketika Velove bicara dengan Ara. Biasanya wanita itu sangar, tapi kali ini sikap penyayang dan mengayomi nya lebih mendominasi.

'Bisa lembut juga wanita binal ini,' pikir Aarick.

"Kamu juga ikut, Aarick, kita makan bersama," tambah Velove.

"Baik, Madam." Aarick langsung mengangguk paham. Sebagai pengawal yang selalu patuh, dia pun meraih beberapa bingkisan makanan yang dibawakan mada
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 54

    Ketika makan malam, suasana di meja makan itu seperti kuburan saja. Heningnya cukup horor, karena tidak ada suara sama sekali, bahkan bunyi sendok ketemu piring pun tak terdengar. Aarick menatap steak di piringnya yang belum terjamah. Tidak selera. Hanya matanya saja yang bolak-balik mencuri pandang pada Ara di seberang meja. Piring Ara juga utuh. Makanan hanya dipelototin tanpa disentuh. "Menunya nggak enak, ya?" Aarick buka suara, memberi perhatian. "Di belakang masih ada yang lain. Mau aku ambilin menu yang lain?" Ara masih diam, dan bahkan tidak mengangkat muka. Hanya saja sorot matanya mengandung arti. Dia masih kecewa pada Aarick, juga Velove. Alasan Aarick sebelumnya dia telan saja. Di ujung meja, Velove meremas serbet di pangkuannya. Buku jarinya putih. Dia lihat cara Aarick memperhatikan Ara, dan itu membuatnya murka. "Cukup!!"BRAK. Velove menggebrak meja. Piring bergeser dan air di gelas tumpah sedikit. Mukanya masam, tapi dia tahan amarah demi menjaga images di depa

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 53

    Aarick cukup puas memuntahkan kekesalan yang sudah mengendap bertahun-tahun. Dia muak jadi pion. Karena sekarang hidupnya punya poros, kali ini dia mau bebas. Ara. Gadis itu harus dia perjuangkan. Aarick tidak peduli Ara membalas suka atau tidak. Kehadiran Ara saja sudah cukup jadi tamparan dari Tuhan. Sebuah jalan keluar dari kubangan dosa yang selama ini dia sebut "hidup". Ara adalah alasannya untuk jadi manusia yang lebih baik. "Aku memang ngizinin kamu main sama wanita lain," Velove mendesis, suaranya bergetar menahan amarah. "Tapi adik aku? Jangan pernah. Jangan pernah berani sentuh Ara, atau keluarga kamu yang akan menanggung semuanya!" Ancaman itu lagi. Langkah Aarick terhenti. Tangannya yang sudah di gagang pintu, dia lepas kembali. Perlahan, dia berbalik. Menatap wanita itu bukan sebagai atasan lagi, tapi sebagai lawan yang sepadan. Sorot matanya dingin, setajam belati. "Aku bosan mendengarnya," kata Aarick. Suaranya pelan, tapi tiap katanya menghantam. "Bosan m

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 52

    Aarick tidak menjawab. Dia hanya menatap Velove. Lama. Dalam. Sorot matanya datar, tapi di baliknya ada badai yang membuat mulutnya terkunci rapat. Bilang ke Velove kalau dia jatuh hati pada adiknya? Sekarang? Itu gila. Bunuh diri namanya. Belum waktunya. Belum saat kepalanya sendiri masih kusut kayak gini. Velove makin gelisah. Ini bukan Aarick yang dia kenal. Aarick-nya biasanya buas. Begitu dicium, dia langsung membalas lebih rakus, lebih menuntut, sampai Velove kehabisan napas dan ketagihan. Aarick yang ini dingin dan terasa asing. Satu-satunya penjelasan yang masuk akal dan paling dia takutkan merayap di kepala Velove. Seminggu. Seminggu penuh Aarick dan Ara tinggal berdua. Tanpa pengawasan. "Jangan bilang..." Suara Velove meninggi, tuduhan meluncur tajam. "Ada apa-apa antara kamu sama Ara, katakan dengan jujur?!"Tubuh Aarick menegang seketika. Dituduh tepat sasaran rasanya seperti ditampar. Tapi wajahnya tetap dia jaga, tetap dingin. Untuk sekarang, kejujuran adalah k

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 51

    Aarick mengerang tertahan saat jemari Velove menyelinap ke pangkuannya, menyentuh bagian terlarangnya. Serta-merta ia menepis tangan nakal itu. "Jaga sikapmu. Ini bukan ruangan pribadi," desisnya tajam, menahan gejolak.Velove justru tersenyum miring, tak sedikit pun terusik. Tangannya kembali bergerak, kali ini lebih berani, menelusuri lekuk di balik kain celana Aarick dengan tatapan menggoda. "Aku kangen kamu... Hampir seminggu gak kena suntik batang kamu, aku kangen banget."Napas Velove memburu ketika merasakan reaksi Aarick yang tak bisa berbohong. Senyumnya melebar, puas. "Kamu juga kangen aku, kan? Lihat ini, langsung berdiri aja si Otong ini," bisiknya serak. "Ayo sekarang aja.""Ara ada di sini, apa kamu tidak takut dia melihat kita seperti ini?" Aarick berbisik geram, napasnya tersengal. Hasrat dan akal sehatnya berperang di dada. "Jangan sekarang, Velove!""Kalau begitu kita bisa ke kamar!" Brengsek. Itu satu kata yang melintas di kepala Aarick. Ara baru saja kelua

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 50

    Wajah Aarick yang tadinya tegang, mendadak luluh. Bukan karena tawaran film itu. Bukan karena iming-iming terkenal dan keberhasilan. Tapi karena cara Ara membelanya, polos, tulus, tanpa curiga sedikit pun. "Kamu yakin aku punya talenta untuk menjadi seorang aktor layar lebar?" Aarick memastikan. Sekarang, apa yang keluar dari mulut Ara seperti doa untuknya, Aarick percaya ucapan Ara selalu berbuah kebaikan untuknya. Ara mengangguk cepat. "Yakin banget! Kamu itu keren, Aarick, bertalenta." Velove bersandar, menatap Ara dan Aarick lurus. "Aku memilihmu karena kamu nggak perlu akting untuk jadi karakter itu, Aarick. Kamu cuma perlu jadi dirimu sendiri. Dingin dan berbahaya. Tapi kalau sudah setia..." matanya melirik Ara sekilas, "...Kamu bahkan bisa mati untuk orang itu." Aarick membuka map itu. Ringkasan skenario, kontrak kerja, jadwal syuting di Praha. Semua nyata. Ini bukan jebakan. Ini jalan keluar bagi Aarick untuk menjadi sukses, dan dengan kesuksesan itu dia tidak perlu lagi

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 49

    Sebenarnya, Aarick sudah lama muak menjadi bayangan orang lain. Dunia bodyguard bukan lagi tempatnya. Namun tawaran Ara dengan mata berbinar dan nada menantang itu berhasil mengusiknya. Maka dia memilih topeng, menampilkan wajah kecewa karena pemecatan itu, menyembunyikan ketertarikan yang diam-diam tumbuh."Saya mengerti, Madam," kata Aarick dengan suara serak. "Saya mungkin sudah gagal jadi bodyguard yang baik buat Anda. Pasti ada yang salah dengan cara kerja saya selama ini..." Dia jeda sejenak, melirik Velove. "Tolong, kasih tahu... salah saya apa? Setidaknya biar saya berhenti dan pergi tanpa jadi orang bodoh yang nggak tahu alasan dia dipecat."Efeknya langsung terasa. Di sisi lain meja, Ara menggigit bibir. Matanya meredup. Raut wajahnya jelas terluka, seolah dia sedang merasakan apa yang dirasakan Aarick. "Kak, jangan begitu dong, kalau Kakak gak setuju dengan permintaanku, abaikan saja, tapi tolong jangan pecat Aarick!" pintanya dengan sungg

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status