LOGINMeja marmer panjang memantulkan cahaya lampu gantung yang terlalu terang. Di ujungnya, Marco Stevens dengan wajah tegang mengetuk-ngetukkan pena pada berkas kontrak.“Saya tidak mau nama bioskop saya dikaitkan dengan mantan escort,” katanya pelan, tapi cukup keras untuk membuat seluruh ruangan membeku.“Kita bicara soal reputasi. Soal keluarga yang datang bawa anak kecil. Saya tidak akan mempertaruhkan itu untuk satu aktor baru yang ternyata cukup kontroversial.”Beberapa eksekutif mengangguk hati-hati. Tidak ada yang berani membantah, namun satu orang di pojok ruangan merekam semuanya. Rekaman itu berdurasi 17 detik. Cukup untuk mengacaukan semuanya.12 jam kemudian.Rekaman itu bocor.Judulnya sederhana “Pemilik bioskop terbesar di kota Jabadia tolak kemunculan perdana Rick Nocturne; 'Saya tidak mau dikaitkan dengan mantan escort'."Dalam hitungan jam, berita itu meledak. Akan tetapi, di twitter dan instagram dukungan untuk Aarick juga meledak, penuh tagar #TalentOverPast.Di sebu
Lampu kristal Grand Palais memantulkan cahaya ke gaun-gaun mahal. Trailer "Crimson Protokol" diputar di layar utama. Ketika adegan Aarick berdiri di Jembatan Charles sambil merokok muncul, seluruh ruangan terdiam, terpana dengan pesona ketampanan pria perkasa itu.Sutradara lain berbisik pada Erick, “Kau yakin dia tidak pernah sekolah akting? Dia bahkan mampu membawa suasana ruangan ini, menurutmu, dari mana bakat itu?”Erick hanya tersenyum. “Dia tidak perlu sekolah. Dia hanya perlu menghidupkan perannya.”Di luar ruangan, di koridor VIP, tiga wanita berdiri mengelilingi poster film. Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil.“Dia masih sama,” kata Clara. “Dingin. Tapi sekarang semua orang bisa melihatnya.”Sofia mengangguk. “Dulu aku membayar mahal hanya untuk sebuah kepuasan. Sekarang dunia membayar untuk mendengarkannya.”Isabella mengeluarkan ponsel. “Kalau industri ini menolaknya, aku siap membuatnya jadi raja.”Mereka bertiga memposting foto bersama poster film dengan caption.
84.Kota Jabadia, 10 hari setelah malam di Praha.Ruang konferensi pers hotel Aston dipenuhi wartawan. Poster "Crimson Protokol" terpampang di belakang panggung. Wajah Rick Nocturne dengan tatapan tegas dan wanita-wanita pemeran pendukung memenuhi layar besar.Erick Mayer menepuk mikrofon pelan. “Baik, sesi tanya jawab dimulai. Satu pertanyaan per orang.”Tangan pertama yang terangkat milik Dessy, reporter senior dari salah satu media ternama. Wanita itu tersenyum tipis, seperti orang yang sudah memegang kartu truf.“Tuan Nocturne, kami telah memutar thriller flim perdana Anda berulang kali dan itu membuat kami takjub, kami juga tidak sabar untuk menonton filmnya, tapi sekarang yang ingin saya tanyakan adalah gosip yang beredar sebelum penayangan film ini yang mana publik di kota Jabadia juga mulai bertanya-tanya. Benarkah Anda dulunya bekerja sebagai pendamping pribadi untuk klien VIP? Dan apakah debut film ini adalah cara Anda mencuci nama?”Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kamera l
83Harry menyeringai. “Industri ini belum selesai denganmu, Aarick. Dan aku belum selesai denganmu juga. Dulu kau mempermalukanku hingga aku dideportasi. Sekarang giliranku.”Air di wastafel berhenti menetes. Sunyi hanya dipecah oleh suara napas mereka berdua.Aarick yang marah mengepalkan kedua tinjunya, menunjukkan sisi keperkasaannya sebagai pria yang dominan.Tapi menyaksikan itu, senyum Harry tiba-tiba berubah. Matanya menyipit, menatap Aarick dari atas sampai bawah seperti menilai barang yang tiba-tiba jadi berharga lagi.“Little bastard,” gumam Harry pelan, hampir seperti mengagumi. “Setelah lama tak bertemu, kau malah semakin menjadi, kau membuatku lebih gila.”Aarick mengerutkan alis. “Maksudmu?”Harry menghela napas panjang, dadanya naik turun. “Jangan pura-pura tidak tahu. Kau selalu begitu. Dingin, keras, tapi ada sesuatu dari caramu berdiri, caramu marah dan menatap… yang membuat orang gila.”Harry melangkah maju setengah langkah lagi. Suaranya berubah, lebih rendah, lebi
82.Harry yang duduk santai, gelas wine di tangan, senyum tipis di bibir. Seperti orang yang baru saja menang undian. "Finally," ujarnya pelan.Aarick membeku setengah detik. Ingatan beberapa bulan lalu, tawaran palsu dengan bayaran fantastis, hotel berdarah, rayuan pria belok itu, lalu pukulan bertubi-tubi yang mendarat di rahang Harry, muncul sekaligus.Jadi, kita bertemu lagi.Anne masih bicara, tapi Aarick sudah tidak mendengar. Ruangan yang tadinya ramai tiba-tiba terasa sunyi. Hanya ada dia dan Harry, dan dendam yang belum selesai.*Malam berjalan terus, selain Anne, banyak wanita cantik dari kalangan atas duduk di sana. Anak pengusaha, putri diplomat, model yang wajahnya sering muncul di sampul majalah Eropa. Mereka datang bukan hanya untuk bisnis, tapi juga untuk melihat langsung Aarick yang mereka dengar memiliki pesona yang memabukkan.Dan di antara mereka, ada Anita.Anita berdiri dekat bar kecil, mengenakan gaun silver mewah dan membuat siluetnya semakin tajam. Rambut hit
Aarick belum melihat sosok Harry. Dia masih berbisik pelan dengan Erick, tidak sadar bahwa puluhan meter dari sana, orang yang pernah dia permalukan sedang menatapnya dengan tatapan penuh perhitungan.Harry meletakkan gelasnya perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi bukan karena takut. Ini kesempatan. Kesempatan yang tidak dia rencanakan, tapi datang sendiri.Di kepalanya, rencananya sudah berjalan.Kalau dia membuka mulut sekarang, di depan semua orang penting ini, satu kalimat saja cukup untuk mengungkit skandal lama itu.Dia melangkah maju satu langkah, gelas wine di tangan satunya berayun pelan.Aarick masih belum menoleh, dan di sekelilingnya, tamu lain terus berbincang.Harry menarik napas, bersiap memanggil nama Aarick keras-keras. Satu teriakan saja, dan semua mata yang sudah tertuju pada kedatangan Aarick akan berubah arah padanya.“Ar—”"Rick Nocturne!”Suara itu memotong lebih cepat. Nyaring, ceria, dan terlalu dekat.Seorang wanita dalam gaun hitam tanpa lengan mel
Velove menyilangkan tangan, memperhatikan perubahan di wajah Aarick. Senyumnya berubah getir. Tampak sekali jika partner seksnya itu menyukai Ara hingga terlihat salah tingkah."Dia ikut denganku, aku harap kamu gak masalah kalau Ara juga ada di sini?" sindir Velove sambil mendengu
Aarick menoleh ke Lena, lalu menunjuk ke ranjang dengan dagunya. "Transfer dulu setengahnya. Sekarang juga. Sisanya kalau kalian puas. Dan percayalah bayaran ini tak kan sia-sia ..." Aarick menarik Anita mendekat sampai pinggul mereka menempel, "Tidak ada yang pernah kecewa dengan pelayanank
Aarick diseret paksa menyusuri karpet tebal lorong. Di depan pintu 1708, dia akhirnya memberontak. Dengan satu sentakan kasar dia merenggut tangannya lepas dari cengkeraman Lena."Cukup!" geram Aarick, suaranya akhirnya pecah. Dia menatap Lena tajam, dadanya naik-turun. "Kamu pikir kamu siapa, main
"Aarick," panggil Anita dengan suaranya serak dan manja. Aarick menoleh sedikit, namun tidak menjawab. Anita segera bangkit, membiarkan selimut merosot dari tubuhnya yang sintal. Dia mendekat dari belakang, lalu melingkarkan lengannya di perut Aarick. Dada telanjangnya menempel di punggung Aaric







