LOGINSeketika mulut Aarick menggembung. Untuk menekan hasratnya, dia menggigit bibir bagian bawahnya agar bisa menahan diri sebelum terjadi kesepakatan.
Dengan jelas, Aarick merasakan dua gundukan kenyal milik Madam Velove telah menyatu dengan punggungnya, sungguh satu tarikan yang membuat urat-uratnya ikut menegang. Aarick menghela nafas dalam agar terdengar rileks saat mengajukan penawaran. "Kita harus membuat satu kesepakatan, Madam. Saya tidak ingin dijadikan pria gratisan, karena sudah cukup tenaga saya selama ini sia-sia sebagai Bodyguard tanpa bayaran," ungkapnya. "Berapa yang kamu inginkan?" Madam Velove semakin menekan tubuhnya hingga tidak ada jarak antara mereka berdua. Dia kehilangan akal dan akan memberi apapun yang diminta pengawalnya itu. " 500 juta untuk satu adegan ranjang, dan biarkan saya bebas untuk memilih jalan hidup," ucap Aarick tanpa ragu. "Satu hal lagi, harus ada perjanjian hitam di atas putih." Aarick sengaja mengajukan permintaan yang menguntungkan kedua belah pihak dan tetap berada dalam dunia Madam Velove agar terhindar dari masalah besar yang mana wanita itu memiliki seorang saudara laki-laki yang kejam. Hanya dengan cara seperti itu maka Aarick tidak dapat dipandang rendah dan memiliki penghasilan walaupun dengan cara yang salah. " Baiklah, akan aku sanggupi semuanya." Madam Velove sudah tak sanggup menahan lagi, sikap formalnya pun sudah berubah santai ketika berbicara dengan Aarick. "Ayo kita lakukan, aku benar-benar sudah tidak tahan." Aarick juga merasakan hal yang sama. Segera dia berbalik dan melakukan tugasnya. Dia menggiring atasan yang selalu dijaganya itu ke atas ranjang. Karena sudah kehilangan kendali dan sebagai bentuk kebenciannya pada wanita yang telah menjerumuskannya ke lembah hitam itu, Aarick pun melempar madam Velove ke atas ranjang dengan kasar. "Nikmati malam ini, Madam!" Aarick menindih dan menggumuli tubuh wanita itu sesuka hati. Tidak ada kelembutan saat mereka bercinta, seperti yang diinginkan Velove, namun anehnya sang madam terlihat menikmati permainan yang diberikan Aarick . Wanita itu justru menyukai setiap gaya ekstrem yang diperankan Aarick. Sepertinya dia mulai terobsesi dengan bawahannya sendiri, dan dia senang dapat tersalurkan malam ini. "Don't call me madam!" pinta Velove dengan wajah memerah. "Jadi aku harus memanggilmu apa?" tanya Aarick sambil terus menghujamkan perkakasnya. "Velo, panggil saja namaku, Aarick!" Velove merasakan nikmat yang luar biasa hingga lupa status di antara mereka berdua. "Baiklah, Velo, as you wish," Aarick menurut sesuai keinginan partner ranjangnya itu. * "Aku puas malam ini, aku benar-benar puas," ucap madam Velove dengan jujur setelah mereka berdua mendapatkan klimaks berkali-kali. Aarick tersenyum getir, bersikap seolah-olah dia menyukai kejadian menjijikkan ini. Penampilan elegan dan berwibawa yang sering ditunjukkan Velove setiap hari seketika menghilang setelah melakukan penyatuan tubuh dengan Aarick. "Aku ingin kita melakukannya sesering mungkin, kamu harus selalu ada setiap aku menginginkan kamu, ingat itu!" Salah satu sudut bibir Aarick terangkat ke atas, namun tidak mengurangi kharismanya sebagai pria gagah nan mempesona. "Baiklah," balasnya dengan pasrah. Bisa apa dia melawan wanita berkuasa itu. "Apa Madam sudah lama tidak merasakan nikmat seperti yang saya berikan?" Aarick memancing wanita itu, akan semakin mudah baginya untuk menundukkan madam Velove jika dugaannya benar. "Dulu pernah saat pasanganku masih muda, dan aku juga masih sangat belia waktu itu tapi sekarang dia sudah tua, sudah tidak begitu kuat lagi, apalagi yang aku dengar dia sudah memiliki wanita idaman lain yang lebih muda dan seksi dariku," tanpa sadar Velove bercerita tentang kehidupan pribadinya, hal yang tidak pernah dilakukannya pada siapapun. "Sekarang, jika kita hanya berdua saja, jangan terlalu formal padaku, anggap aku ini adalah pasangan untukmu, kamu paham!?" "Baiklah," lagi-lagi Aarick manut, namun dari senyum tipis yang tersungging di bibirnya terlihat jelas jika masih ada niat tersendiri dalam dirinya. "Kalau begitu aku yang akan memuaskan Madam, tapi dengan satu syarat." Dia menjeda ucapannya sambil menatap wanita keturunan Pakistan itu. "Kamu semakin ngelunjak, Aarick." Madam Velove terkekeh. Sedikit kesal di hatinya, tapi dia lebih fokus menikmati kebersamaan mereka malam itu. "Demi kepuasan batinmu, Madam." Aarick tersenyum manis, dia cukup puas memegang kelemahan atasannya. "Kepuasan kita bersama, Aarick, karena aku lihat kamu juga menikmatinya." Madam Velove membalas senyuman Aarick, lantas mengecup singkat bibir pria itu. "Sekarang katakan, apa syaratnya?" "Berhenti mengikuti kehidupan keluargaku, biarkan mereka bebas dan jangan pernah berniat buruk lagi pada kedua adik perempuanku !" Madam terdiam sejenak. Satu syarat yang sangat sulit untuk dipenuhi karena satu keluarga miskin itu adalah kelemahan Aarick agar tetap menuruti semua keinginannya. "Apa pengabdian yang aku berikan selama ini masih kurang?" Aarick bertanya ketika melihat wajah madam Velove tampak seperti orang yang sedang berpikir. "Bahkan kini aku mampu menjadi pemuas nafsumu." " Kenapa kamu begitu peduli dengan keluargamu itu? Mereka jelas-jelas menggadaikan masa mudamu padaku, jadi untuk apa memikirkan orang yang belum tentu memikirkan keselamatanmu?" jelas Velove, yang masih berusaha mempengaruhi Aarick agar berhenti melindungi kedua anak perempuan dari mantan bawahannya itu. "Mereka adalah adik-adikku. Kami bertiga terlahir dari rahim wanita yang sama, terlepas apa yang dilakukan ayahku, aku tetap menyayangi ibu dan kedua adikku, aku akan melindungi mereka sampai kapanpun," ungkap Aarick dengan keyakinan penuh. " Apa kamu tidak ingin mengetahui alasan di balik sikap ayahmu yang tidak berperasaan itu?" goda Madam Velove, yang dengan sengaja mengaduk-aduk perasaan Aarick. Tok ... Tok... Suara ketukan di pintu kamar seketika mengagetkan Aarick dan madam Velove hingga keduanya menoleh secara bersamaan. Ya, malam sudah semakin larut, namun keduanya tak kunjung keluar dan memberikan penjelasan tentang keberlangsungan syuting malam itu. "Katakan sekarang, apa Madam mengetahui banyak tentang rahasia ayahku?" Aarick mendesak, sebelum mereka bergabung dengan para kru, dia ingin mengetahui latar ayahnya yang selama masa muda juga bergaul dengan dunia Velove. Madam Velove mengelus lembut pipi pemuda berkulit sawo matang itu. "Tidak untuk saat ini, Honey," ucapnya, lantas mengecup lama bibir seksi pria tampan itu, mencoba menikmati kebersamaan mereka. Aarick mendesah pelan, lalu buru-buru menghindar dan memalingkan wajah. Kecewa dan jijik dengan kelakuan madam Velove, namun demikian dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada sang atasan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Aarick turun dari ranjang, meraih pakaiannya dan langsung mengenakannya. * Selang beberapa menit kemudian, syuting kembali dilaksanakan. Namun kali ini Aarick tidak melihat kehadiran madam Velove dalam pengambilan video. "Tumben dia tidak duduk di sini, apa dia masih kelelahan? Tapi baguslah, setidaknya dia tidak akan mengacaukan proses syuting lagi," pikir Aarick yang merasa bersyukur dengan absennya madam Velove. Di ruangan lain, madam Velove yang mulai terobsesi dengan bawahannya itu ternyata sudah memiliki rasa iri jika pria itu berpasangan dengan wanita lain. Demi kepuasannya, dia pun memutuskan untuk mengabulkan permintaan Aarick dan akan mengurus surat perjanjian yang telah disepakati dengan pria itu. Bersama dengan Bayu, Madam Velove menyanggupi tawaran Aarick, tidak lupa dia juga menyuruh asistennya untuk memberikan minuman yang sudah dicampur obat perangsang, plus obat kuat pada Aarick dan juga Gisel agar proses pembuatan adegan ranjang berjalan dengan sempurna. "Kenapa aku baru menyadari keperkasaan pria kampungan itu ya?" Sambil rebahan di ruang istirahatnya, madam Velove tersenyum sendiri mengingat percintaannya dengan Aarick. "Aku pernah gagal mendapatkan cinta dan perhatian ayah kandungnya Aarick, tapi tidak apa-apa, sekarang aku justru terpuaskan oleh anaknya sendiri yang tak kalah perkasanya, dan mulai sekarang, aku akan menjadikan Aarick sebagai pemuas nafsuku sepanjang hidupnya." * "Oke ... sempurna," ucap sang sutradara sebelum akhirnya menutup proses syuting. Malam ini, 3 ronde bersama dengan Gisel dan satu ronde bersama dengan madam Velove, membuat tubuh Aarick ambruk di atas ranjang. Aarick yang sudah kelelahan diberi waktu istirahat. Tubuhnya terbaring lemas di samping tubuh Gisel yang hanya terbalut selimut. Keduanya masih tersadar dan sama-sama menatap langit-langit kamar. Sedangkan produser dan para kru yang lain telah keluar dari ruangan itu sembari membawa peralatan syuting. " Apa yang membuatmu rela melakukan ini? Apa kamu tidak merasa bersalah berbuat seperti ini dengan orang yang bukan suamimu?" Aarick yang masih penasaran memberanikan diri untuk bertanya pada wanita di sebelahnya. Gisel memiringkan tubuhnya, menatap wajah tampan Aarick yang masih dipenuhi peluh akibat percintaan panas mereka. "Karena gaya hidup," jawab wanita berusia 25 tahun itu. "Kamu tahu, selain mendapatkan upah, madam Velove juga menjanjikan akan mengangkat namaku menjadi artis papan atas, bukankah menurutmu aku sangat beruntung dalam hal ini?" "Hanya itu?" dalam hati Aarick mengutuk kebodohan Gisel. Di saat dia ingin terbebas dari genggaman madam Velove, Gisel malah dengan entengnya menyerahkan diri begitu saja, hanya demi mendapatkan uang dan juga sebuah nama. "Di industri perfilman ini, aku rasa kamu sudah paham dengan kekuasaan yang dimiliki madam Velove, beliau bisa dengan mudah membolak-balik keadaan dengan koneksi yang dimilikinya, dalam sekejap mata, aku yakin dia pasti akan membantuku untuk menjadi artis terkenal," Gisel melanjutkan. "Bukankah selama ini kamu sudah memiliki job, lalu kenapa masih ingin berlaku curang dengan jalan pintas seperti ini?" Aarick tidak setuju karena dia tahu dengan kemampuannya, Gisel masih bisa sukses di atas kakinya sendiri. "Aku sudah bosan berjuang sendiri, lagi pula aku tidak ingin membuang kesempatan ini, jika aku berpacaran dengan seorang pria, bisa jadi aku hanya akan memberikan tubuhku secara gratis padanya dengan hanya modal ucapan cinta, aku tidak ingin merugi dalam hal ini," ungkap Gisel dengan pemikirannya. Aarick mengangguk paham. Meski tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat Gisel, namun dia tidak perlu men-gudge wanita di depannya. Setiap orang pasti memiliki alasan sendiri dalam menjalani hidup, termasuk dirinya yang tergadaikan sejak remaja oleh keegoisan sang ayah. Setelah berpikir sejenak, untuk saat ini dan seterusnya, Aarick juga akan melakukan hal yang sama dengan Gisel. Pria itu hanya akan menomorsatukan uang di atas segalanya. Ya, Aarick akan menanamkan pemikiran itu, karena masa depannya sudah hancur bersama terekamnya video panasnya yang pertama. "Kamu sendiri kenapa hanya menurut saat disuruh Madam Velove? Aku dengar kamu hanya seorang bodyguard selama ini, apa ada alasan di balik ketidakberdayaan kamu itu?" Gisel turut penasaran dengan kehidupan Aarick. Bibir Aarick melengkung ke atas ketika dia membuang nafas dengan kasar. Perlahan, dia mengangkat tubuhnya untuk duduk bersandar di headboard ranjang. "Panjang ceritanya," jawab Aarick, lalu mengulang tarikan nafas yang sama. "Intinya aku tidak ingin mengingatnya lagi, jadi tidak usah bertanya tentang masa laluku yang sangat buruk!" "Baiklah, tidak apa-apa kalau kamu tidak ingin bercerita, aku menghargainya." Gisel mencoba bergerak untuk menyamakan posisinya dengan Aarick. Namun tiba-tiba terdengar pekikan dari mulut Gisel. "Awwww ...," ringisnya. Dia baru menyadari rasa sakit di bagian intinya setelah selesai bercinta karena dari tadi masih bercampur dengan kenikmatan. Meski ini bukanlah yang pertama kalinya namun Gisel mengakui kehebatan Aarick yang nyaris mirip dengan seekor kuda jantan. "Kenapa, apa sangat sakit?" Aarick memberi sedikit perhatian dengan mencondongkan tubuhnya, hingga tubuh mereka kembali berdekatan. "Tentu saja sakit, punyamu itu sangat besar, panjang dan berurat, mirip king cobra saat on fire, kamu juga sangat perkasa saat melakukannya tadi sampai badanku remuk redam dibuatnya," katanya sambil terkekeh pelan. "Oh ... begitu, ya?" Aarick cukup berbangga diri, tapi masih malu untuk mengakuinya. Dia mengusap tengkuknya dengan wajah bersemu merah, ternyata kehebatannya di ranjang telah diakui oleh dua wanita cantik sekaligus. Ini termasuk modal besar untuk Aarick. Gisel menatap wajah pria di depannya dengan lekat dan sebuah keberanian tiba-tiba muncul. "Aarick, Bolehkah kita menjadi sepasang kekasih ? Aku benar-benar menyukaimu, sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu." Sontak saja Aarick terkekeh mendengarnya. "Jangan pernah ucapkan kata itu, Nona Gisel, karena mulai detik ini, aku akan menghapus kata cinta dari hidupku!" Pagi harinya. Aarick menemui madam Velove. Mereka akan kembali ke kota dan sebagai bodyguard, dia harus memastikan keamanan atasannya itu. "Selamat pagi, Madam!" ucap Aarick dengan sopan sambil membungkukkan badan. Hubungan formal itu terjalin kembali karena ada orang luar di sekitar mereka. Madam Velove juga langsung menunjukkan keanggunan dan kewibawaannya. "Pagi ," balasnya dengan singkat, lalu seperti biasa berjalan lebih dulu menuju mobil yang sudah disiapkan di pelataran Villa. Sebelum kembali ke kota, mereka akan menuju sebuah restoran yang jaraknya tidak begitu jauh dari villa tersebut. Namun baru tiba di teras Villa, Gisel dengan centilnya berlari menuju Aarick dan langsung menggamit lengan pria itu. "Aku ikut denganmu ya, Rick?" Gisel memasang wajah yang menggemaskan. Dia bahkan tidak peduli dengan pandangan madam Velove yang sedang menatapnya dengan tatapan mematikan. "Wanita ini benar-benar tidak tahu diri," kata Velove pada asisten pribadinya yang sedikit kemayu. Di lain sisi, Aarick tidak masalah dengan permintaan Gisel. Dia menyunggingkan senyumnya yang nakal sembari menikmati sentuhan Gisel. "Boleh-boleh saja, tapi ..."Pesan itu terkirim dalam keadaan marah. Satu baris, pendek, tapi tajam seperti sayatan.[Jadi selama ini aku mencintai orang yang menjual dirinya pada banyak wanita? Hebat, Rick. Kau memang pintar menipu dan mempermainkan perasaan wanita.]Ponsel Aarick bergetar di saku jaketnya saat dia baru saja tiba di apartment. Rudolf melihat wajah Aarick yang tiba-tiba berubah. “Kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.Aarick tidak menjawab. Dia masih menatap layar, membaca ulang pesan itu. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard ponsel, tapi tidak menekan apa-apa.Di Islamabad, Ara melempar ponselnya ke atas kasur. Dadanya naik turun. Dia tidak tahu harus marah, menangis, atau tertawa pahit.“Bodoh,” bisiknya lagi. “Kenapa aku masih peduli?”Di lain sisi, Ara juga tidak bisa berhenti memutar ulang kalimat Aarick di konferensi pers:_“Seorang gadis yang membuka mata hati saya, mendorong saya untuk segera meninggalkan dunia kotor itu… dia adalah dewiku.”_Ara tahu. Dia tahu dan yakin gadis itu adalah
87.Aarick menatapnya lama, lalu menekan tolak.“Kenapa?” tanya Rudolf.“Belum saatnya,” jawab Aarick. “Kalau aku angkat sekarang, aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak mau dia dengar ini dari berita.”Rudolf mengangguk. “Kau akan cerita padanya?"Aarick tidak menjawab. Dia hanya menatap layar ponsel yang kembali gelap.***Islamabad.Ara duduk di lantai kamarnya, punggung bersandar ke tempat tidur. Ponselnya masih terbuka di halaman berita.Judulnya berulang-ulang.“Mantan escort, kini menjadi bintang film.”“Rick Nocturne calon bintang akui masa lalu.”Tangannya gemetar. Bukan marah. Bukan jijik. Hanya tidak percaya pria yang dicintainya ternyata seorang gigolo elit yang memiliki banyak klien VIP.Dia menelpon untuk meminta penjelasan. Nada sambung berdering. Satu kali. Dua kali. Ditolak.Pesan masuk satu menit kemudian:[Ara. Aku lihat kamu menelepon. Aku akan cerita semuanya. Tapi tidak lewat telepon. Tunggu aku. Jangan dengar tentang aku dari orang lain.”Ara membaca pesan i
Meja marmer panjang memantulkan cahaya lampu gantung yang terlalu terang. Di ujungnya, Marco Stevens dengan wajah tegang mengetuk-ngetukkan pena pada berkas kontrak.“Saya tidak mau nama bioskop saya dikaitkan dengan mantan escort,” katanya pelan, tapi cukup keras untuk membuat seluruh ruangan membeku.“Kita bicara soal reputasi. Soal keluarga yang datang bawa anak kecil. Saya tidak akan mempertaruhkan itu untuk satu aktor baru yang ternyata cukup kontroversial.”Beberapa eksekutif mengangguk hati-hati. Tidak ada yang berani membantah, namun satu orang di pojok ruangan merekam semuanya. Rekaman itu berdurasi 17 detik. Cukup untuk mengacaukan semuanya.12 jam kemudian.Rekaman itu bocor.Judulnya sederhana “Pemilik bioskop terbesar di kota Jabadia tolak kemunculan perdana Rick Nocturne; 'Saya tidak mau dikaitkan dengan mantan escort'."Dalam hitungan jam, berita itu meledak. Akan tetapi, di twitter dan instagram dukungan untuk Aarick juga meledak, penuh tagar #TalentOverPast.Di sebu
Lampu kristal Grand Palais memantulkan cahaya ke gaun-gaun mahal. Trailer "Crimson Protokol" diputar di layar utama. Ketika adegan Aarick berdiri di Jembatan Charles sambil merokok muncul, seluruh ruangan terdiam, terpana dengan pesona ketampanan pria perkasa itu.Sutradara lain berbisik pada Erick, “Kau yakin dia tidak pernah sekolah akting? Dia bahkan mampu membawa suasana ruangan ini, menurutmu, dari mana bakat itu?”Erick hanya tersenyum. “Dia tidak perlu sekolah. Dia hanya perlu menghidupkan perannya.”Di luar ruangan, di koridor VIP, tiga wanita berdiri mengelilingi poster film. Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil.“Dia masih sama,” kata Clara. “Dingin. Tapi sekarang semua orang bisa melihatnya.”Sofia mengangguk. “Dulu aku membayar mahal hanya untuk sebuah kepuasan. Sekarang dunia membayar untuk mendengarkannya.”Isabella mengeluarkan ponsel. “Kalau industri ini menolaknya, aku siap membuatnya jadi raja.”Mereka bertiga memposting foto bersama poster film dengan caption.
84.Kota Jabadia, 10 hari setelah malam di Praha.Ruang konferensi pers hotel Aston dipenuhi wartawan. Poster "Crimson Protokol" terpampang di belakang panggung. Wajah Rick Nocturne dengan tatapan tegas dan wanita-wanita pemeran pendukung memenuhi layar besar.Erick Mayer menepuk mikrofon pelan. “Baik, sesi tanya jawab dimulai. Satu pertanyaan per orang.”Tangan pertama yang terangkat milik Dessy, reporter senior dari salah satu media ternama. Wanita itu tersenyum tipis, seperti orang yang sudah memegang kartu truf.“Tuan Nocturne, kami telah memutar thriller flim perdana Anda berulang kali dan itu membuat kami takjub, kami juga tidak sabar untuk menonton filmnya, tapi sekarang yang ingin saya tanyakan adalah gosip yang beredar sebelum penayangan film ini yang mana publik di kota Jabadia juga mulai bertanya-tanya. Benarkah Anda dulunya bekerja sebagai pendamping pribadi untuk klien VIP? Dan apakah debut film ini adalah cara Anda mencuci nama?”Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kamera l
83Harry menyeringai. “Industri ini belum selesai denganmu, Aarick. Dan aku belum selesai denganmu juga. Dulu kau mempermalukanku hingga aku dideportasi. Sekarang giliranku.”Air di wastafel berhenti menetes. Sunyi hanya dipecah oleh suara napas mereka berdua.Aarick yang marah mengepalkan kedua tinjunya, menunjukkan sisi keperkasaannya sebagai pria yang dominan.Tapi menyaksikan itu, senyum Harry tiba-tiba berubah. Matanya menyipit, menatap Aarick dari atas sampai bawah seperti menilai barang yang tiba-tiba jadi berharga lagi.“Little bastard,” gumam Harry pelan, hampir seperti mengagumi. “Setelah lama tak bertemu, kau malah semakin menjadi, kau membuatku lebih gila.”Aarick mengerutkan alis. “Maksudmu?”Harry menghela napas panjang, dadanya naik turun. “Jangan pura-pura tidak tahu. Kau selalu begitu. Dingin, keras, tapi ada sesuatu dari caramu berdiri, caramu marah dan menatap… yang membuat orang gila.”Harry melangkah maju setengah langkah lagi. Suaranya berubah, lebih rendah, lebi
Aarick berbalik tanpa menyentuh tangan yang gemetar terjulur ke arahnya. Langkahnya sudah mantap menuju pintu, meninggalkan penyesalan dan bau obat di kamar 307. Tapi tiba-tiba sebuah kalimat menohok seketika menghentikan langkah Aarick. Dunia seolah ditarik rem mendadak."Aku bukan ayah kandungmu,
Ya, wanita berusia 35 tahun itu sesungguhnya tengah berhasrat dan tentunya menginginkan Aarick sebagai pelampiasannya. Velove butuh Aarick untuk menuntaskan hasratnya. Dia tidak tahan ketika melihat Aarick yang gagah dan tampan bercumbu dengan Gisel. Tiba-tiba dia menginginkannya. Dia bahkan i
Taksi berhenti. Sebelum Aarick turun, dia tetap membayar tagihan taksi. Setelah menutup pintu mobil, Aarick langsung menghampiri bangku panjang _Warung Bu Lastri_. Eliza masih di situ, duduk tepat di samping Aluna. Dan masih dalam balutan dress off-shoulder putih yang tadi.
"Boleh saja." Aarick tersenyum simpul dan mengabaikan pandangan atasannya yang begitu tajam seperti bambu runcing. Meski risih dengan wanita yang bergelayut manja di lengannya, namun Aarick tetap cuek saja menanggapinya. "Benarkah?" Gisel langsung kegirangan dengan sikap ramah tamah Aarick dan







