Share

Tidak Ada Yang Gratis

Penulis: Anna Sahara
last update Tanggal publikasi: 2026-04-06 14:59:31

"Boleh saja."

Aarick tersenyum simpul dan mengabaikan pandangan atasannya yang begitu tajam seperti bambu runcing. Meski risih dengan wanita yang bergelayut manja di lengannya, namun Aarick tetap cuek saja menanggapinya.

"Benarkah?" Gisel langsung kegirangan dengan sikap ramah tamah Aarick dan tanpa ragu dia mengecup pipi, lalu merambat ke bibir pria itu di hadapan madam Velove. "Terima kasih, Aarick. Kamu baik sekali," ucapnya dengan gemas.

"Ehem ... ehem." Madam Velove berdehem keras. Geram dan ingin rasanya memotong bibir Gisel agar tidak kegatalan saat melihat pria tampan idamannya.

Aarick masih dengan sikap santainya. Baginya, biarlah si genit Gisel di atasi oleh si Madam songong.

" Apa kamu tidak Lihat mataku ini, Gisel? Apa kamu pikir aku senang melihatmu bersikap genit dan sok manja seperti itu? Atau kamu ingin aku membatalkan semua kerjasama kita?" Dengan nada yang cepat, madam Velove memberikan ancaman tegas.

"Aku melihatnya dengan jelas, Madam, tapi apa salahnya kita pulang bersama-sama? Toh tujuan kita kan sama aja," Celine menjelaskan dengan santai karena dia tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Dia juga tidak terlalu paham dengan kehidupan asmara Madam Velove. Sepengetahuannya, wanita yang memiliki banyak bisnis itu haram itu tidak pernah tertarik dengan pria berstatus rendah seperti Aarick.

Madam Velove berusaha menekan amarahnya. Tidak mungkin dia mengatakan rasa tidak sukanya hanya karena iri melihat Aarick didekati wanita lain. Cukup satu kali semua orang mencurigainya saat proses shooting dihentikan dengan tiba-tiba. Agar terlihat rileks, sang madam menarik nafas terlebih dulu.

"Aku ada urusan penting dengan Aarick, jadi silakan cari tumpangan lain," ucap madam Velove dengan suara yang dipelankan, kemudian iris matanya kembali menatap Aarick yang diam-diam menggoda sejak tadi. "Katakan padanya jika kita ada urusan pribadi!" suruhnya pada pria itu agar bertindak tegas pada Gisel.

"Urusan pribadi?" Aarick cukup terkejut, keheranan dengan sikap yang tiba-tiba itu.

"Ya, perjanjian yang telah kita sepakati, apa kamu sudah melupakannya? Atau kamu ingin membatalkannya ?" tambah madam Velove dengan suara yang meninggi.

Mendengar itu, Aarick langsung tersadar. "Ah ... i ... iya," jawabnya terburu-buru. Barter yang telah ditawarkan tadi malam tidak mungkin terlewatkan. Bahkan dia tidak menyangka jika bosnya secepat itu mengucapkan kata setuju.

Aarick kemudian menurunkan tangan Gisel dari lengannya. "Maaf ya aku tidak bisa mengikutsertakan kamu, sebaiknya kamu pulang dengan kru yang lain!" suruhnya.

"Tapi kita masih bisa bertemu kembali kan, Aarick?" Gisel mengedipkan sebelah matanya. Berkali-kali mendapatkan klimaks di bawah kungkungan Aarick membuatnya candu dan ingin kembali mengulanginya, maka bertemu yang dimaksudnya adalah sesuatu yang menguntungkan untuk mereka berdua.

"Tentu saja, tapi tidak gratis," bisik Aarick di telinga Gisel.

Sama halnya dengan ucapan sebelumnya, Aarick yang memiliki tubuh proporsional dan ketampanan bak dewa Yunani tidak akan rela memberikan pelayanan secara cuma-cuma. Jika seorang wanita saja kerap memanfaatkan tubuhnya, kenapa tidak dengan pria?

"A ... Apa?" Mulut Gisel menganga, tidak menyangka dengan apa yang didengarnya pagi itu. Hanya dalam satu malam saja bisa merubah pola pikir Aarick yang awalnya terlihat polos dan tidak menginginkan materi dalam hal apapun.

" Selamat tinggal, Nona Gisel!" Aarick pun meninggalkan Gisel yang masih terkesiap dengan ucapannya.

Pagi itu, Aarick mengemudi dengan laju yang lumayan tinggi agar mereka segera tiba di restoran tujuan. Perut yang terasa lapar membuatnya memilih diam dan tak berkomentar apapun saat berada di dalam mobil. Bahkan dia mengabaikan obrolan basi antara madam Velove dan asisten wanita itu.

Restoran.

Di depan Bayu, si asisten setia, sang madam dan Aarick bergantian menandatangani berkas berisi perjanjian di antara atasan dan bodyguard itu. Tidak akan ada penyesalan di kemudian hari karena keduanya berada dalam keadaan penuh kesadaran dan sehat tanpa paksaan.

Sebelum menandatangani berkas perjanjian, keduanya juga sudah memastikan isi di dalam surat perjanjian tersebut.

Terdapat beberapa poin penting yang harus dipatuhi kedua belah pihak.

Aarick menyetujui permintaan madam Velove yang akan menjadikannya partner dan juga sebagai bintang panas dalam berbagai proyek pilihan yang ditangani wanita pebisnis gelap itu dengan bayaran tinggi.

Sebagai gantinya, madam Velove tidak boleh melarang Aarick berhubungan dengan wanita manapun dan juga bebas memasang jasa escort. Satu hal yang paling penting, madam dan juga seluruh anak buahnya harus menjauhkan diri dari keluarga Aarick yang hingga detik ini masih mengintai keberadaan dua adik perempuan Aarick.

Aarick mengulurkan tangannya pada sang madam. "Deal."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 68

    Klub malam.House music beat menyala. Lampu strobo menyambar muka semua orang termasuk Aarick dan Rudolf. Sekejap menyala, wajah Aarick kelihatan basah oleh keringat. Sekejap gelap lagi, cuma siluet rahangnya yang keras. Di sebelahnya, Rudolf tertawa lepas, kepalanya mendongak mengikuti lampu. Di lantai dansa, Maboya Hill selalu tumpah di tangan Aarick. Dinginnya botol kontras dengan panas di dadanya. Dia tidak minum malam ini, tapi di tangannya memegang botol Vodka seperti tongkat komando. Model dengan dress slip yang menempel kena keringat. Artis FTV yang mukanya sering wara wiri di televisi. Mahasiswi semester akhir yang ingin lupa skripsi. Anak diplomat yang bosan urusan formal. Wanita karir, blazer sudah dicopot menyisakan tanktop yang ngepas di badan. Semua yang mencari kesenangan sesaat, malam ini, pusatnya satu, Aarick. Para wanita dari segala penjuru itu mengerubungi Aarick. Wangi parfum mahal, murah, bercampur dengan vodka dan asap tipis. Wanita berprofesi sebagai model

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 67

    Aarick melirik spion. Saat itu, Ara lagi senyum-senyum sendiri, mungkin sedang ingat film yang dimainkan si Zola Zain, atau masih terpesona dengan kemunculan pria yang hampir setengah abad itu, membuat Aarick semakin cemburu lagi.'Bangke.'Aarick injak gas, halus, tapi jarum speedometer_ naik dari 60 ke 75. Lampu Maboya hill seketika menghilang di kaca samping.Dalam perjalanan menuju tempat makan di tengah malam itu, wajah Aarick terlihat kecut dan tidak tertarik dengan obrolan Ara dan Rudolf.“Rick, kita makan di sana aja yuk!” kata Rudolf sambil menunjuk ke depan. Sebuah papan neon Seafood 94 yang sudah kelihatan dari jauh, merah menyala.Aarick tidak langsung menjawab. Dia melirik Ara sekali lagi dari spion. Gadis itu masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.“Gak usah,” potong Aarick, ketus.Rudolf sama Ara langsung menoleh ke Aarick.“Lho?” Rudolf kaget. “Kenapa? Marah ya?”“Aarick ...,” Ara suaranya kecil. “Kamu masih marah sama pria tadi?”Aarick menggigit pipinya bagian dalam

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 66

    "Zola Zain?" Aarick tiba-tiba mengerutkan dahinya. Dia berhenti pas di depan pintu mobil, tapi tidak membukakan pintu. Tangannya menggantung di handle dengan mata heran menatap Ara."Siapa dia?" tanya Aarick dengan suara yang pelan. "Seperti apa wajahnya sampai kamu menjadikannya sebagai artis favorit?"Ara cukup terkejut karena tak menyangka bahwa Aarick tidak mengenal Zola Zain yang merupakan artis kondang dan menjadi idola di zamannya, bahkan sampai di usianya yang matang, nama sang aktor masih bersinar.Ada nada iri dan tak senang yang tersirat saat Aarick bertanya pada Ara. Jelas terdengar hingga Rudolf yang sedang membuka pintu depan langsung berhenti. Alisnya naik. ‘Lah, cemburu.’Ara mengangkat muka. “Dia salah satu aktor yang menurutku sangat tampan dan mempesona, apa kamu gak kenal?” Ara balik bertanya. Polos dan heran. Bagi Ara, Zola Zain itu seperti Leonardo Dicaprio, semua orang pasti tahu flim yang dimainkannya.Mendengar pujian yang sama dan menurutnya berlebihan, Aari

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 65

    "Turun kalian!" seru Aarick dan fokus pada Reno. "Kalau lo gak bisa ngajarin cewek ini ngomong benar, biar gue yang ajarin lo berantem. Jangan menggonggong dari atas kayak anjing kecil."PRANG!Reno membanting gelas whiskey-nya ke lantai VIP. Pecah. "ANJING LO!" Reno berteriak kesal. Tidak ada suara yang berani melengking padanya selama ini. Bahkan orang tuanya sekalipun.Dia loncat dari lantai dua. Gladys juga menyusul. High heels-nya dicopot, lalu dijinjing di tangan kanan. Dua bodyguard Reno yang badannya besar-besar ternyata sudah standby di belakang.Di belakang Aarick, Rudolf juga sudah gulung lengan hoodie-nya. Urat di tangannya keluar.Ara? Ara sudah mengeluarkan air mata. "Aarick... udah ya, Rick... ini salahku, harusnya aku gak ngajak ke tempat beginian, ini bukan tempat yang aman ternyata ..."Dan di detik ketika tinju Reno tinggal beberapa jengkal dari rahang Aarick, ketika urat di leher Rudolf sudah muncul semua, ketika Gladys sudah mengambil ancang-ancang untuk memeca

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 64

    Kota Jabadia, jam setengah dua belas malam tidak pernah benar-benar tidur. Apalagi Maboya Hill. Sederet ruko yang siang jadi toko HP dan travel umroh, malamnya berubah wajah.Lampu neon warna-warni, musik dari balik pintu kaca, dan parkiran yang isinya fortuner, Alphard, dan sederet mobil jenis lainnya.Pajero Sport hitam Aarick pun berhenti di basement Dragon Club. Mesin dia matikan. Tiga detik cuma ada suara bass yang merambat lewat aspal, naik ke sasis mobil, hingga ke tulang rusuk. Dug. Dug. Dug.Suara itu seperti jantung raksasa yang sedang marah.Aarick tidak langsung turun. Tangannya masih di setir. Dari spion tengah, dia melihat Ara di jok belakang. Gadis itu menggenggam cardigan rajutnya kuat-kuat sampai buku jarinya putih. Dress satin maroon-nya sudah dia pilih dua jam di depan kaca, sekarang kelihatan seperti kostum yang salah tempat."Ara," panggil Aarick akhirnya. Suaranya datar, tapi ada berat yang tak biasa. "Sekali kamu injak lantai klub itu, kamu bukan Ara gadis man

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   63

    Rudolf langsung pasang badan. "Woi Tom, jaga mulut kamu. Apa-apaan sih tuduhanmu ini?! Aarick banyak membantumu selama ini, kenapa kamu malah nuduh sembarang gitu?" "Aku cuma ngingatin," Tommy sekarang full menatap Aarick, bibirnya menyeringai miring. "Ingat, Rick. Kamu udah di atas sekarang dan dulu kamu pernah bilang sahabat lebih penting dari yang lainnya. Kenapa sekarang jadi lebih banyak waktu untuk si Ara itu? Jangan mentang-mentang udah dekat sama orang penting, kenal cewek cakep, kamu lupa sama teman lama." Aarick meletakkan cangkirnya pelan. "Maksud kamu apa, Tom? Siapa yang lupa teman?" Dia keheranan dengan sikap Tommy yang berapi-api. "Maksud aku?" Tommy ketawa pendek. "Aku sih gak mau kamu jatuh, bro. Kamu tau kan, cewek itu kayak mana... Apalagi dia dari keluarga berada, adiknya produser, bos kita ... mainnya bukan level kita yang selama ini kerjaannya gak benar. Nanti kamu sakit sendiri. Mending tau diri deh dari sekarang." Kalimat itu menusuk. Bukan karena perkata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status