LOGIN"Boleh saja."
Aarick tersenyum simpul dan mengabaikan pandangan atasannya yang begitu tajam seperti bambu runcing. Meski risih dengan wanita yang bergelayut manja di lengannya, namun Aarick tetap cuek saja menanggapinya. "Benarkah?" Gisel langsung kegirangan dengan sikap ramah tamah Aarick dan tanpa ragu dia mengecup pipi, lalu merambat ke bibir pria itu di hadapan madam Velove. "Terima kasih, Aarick. Kamu baik sekali," ucapnya dengan gemas. "Ehem ... ehem." Madam Velove berdehem keras. Geram dan ingin rasanya memotong bibir Gisel agar tidak kegatalan saat melihat pria tampan idamannya. Aarick masih dengan sikap santainya. Baginya, biarlah si genit Gisel di atasi oleh si Madam songong. " Apa kamu tidak Lihat mataku ini, Gisel? Apa kamu pikir aku senang melihatmu bersikap genit dan sok manja seperti itu? Atau kamu ingin aku membatalkan semua kerjasama kita?" Dengan nada yang cepat, madam Velove memberikan ancaman tegas. "Aku melihatnya dengan jelas, Madam, tapi apa salahnya kita pulang bersama-sama? Toh tujuan kita kan sama aja," Celine menjelaskan dengan santai karena dia tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Dia juga tidak terlalu paham dengan kehidupan asmara Madam Velove. Sepengetahuannya, wanita yang memiliki banyak bisnis itu haram itu tidak pernah tertarik dengan pria berstatus rendah seperti Aarick. Madam Velove berusaha menekan amarahnya. Tidak mungkin dia mengatakan rasa tidak sukanya hanya karena iri melihat Aarick didekati wanita lain. Cukup satu kali semua orang mencurigainya saat proses shooting dihentikan dengan tiba-tiba. Agar terlihat rileks, sang madam menarik nafas terlebih dulu. "Aku ada urusan penting dengan Aarick, jadi silakan cari tumpangan lain," ucap madam Velove dengan suara yang dipelankan, kemudian iris matanya kembali menatap Aarick yang diam-diam menggoda sejak tadi. "Katakan padanya jika kita ada urusan pribadi!" suruhnya pada pria itu agar bertindak tegas pada Gisel. "Urusan pribadi?" Aarick cukup terkejut, keheranan dengan sikap yang tiba-tiba itu. "Ya, perjanjian yang telah kita sepakati, apa kamu sudah melupakannya? Atau kamu ingin membatalkannya ?" tambah madam Velove dengan suara yang meninggi. Mendengar itu, Aarick langsung tersadar. "Ah ... i ... iya," jawabnya terburu-buru. Barter yang telah ditawarkan tadi malam tidak mungkin terlewatkan. Bahkan dia tidak menyangka jika bosnya secepat itu mengucapkan kata setuju. Aarick kemudian menurunkan tangan Gisel dari lengannya. "Maaf ya aku tidak bisa mengikutsertakan kamu, sebaiknya kamu pulang dengan kru yang lain!" suruhnya. "Tapi kita masih bisa bertemu kembali kan, Aarick?" Gisel mengedipkan sebelah matanya. Berkali-kali mendapatkan klimaks di bawah kungkungan Aarick membuatnya candu dan ingin kembali mengulanginya, maka bertemu yang dimaksudnya adalah sesuatu yang menguntungkan untuk mereka berdua. "Tentu saja, tapi tidak gratis," bisik Aarick di telinga Gisel. Sama halnya dengan ucapan sebelumnya, Aarick yang memiliki tubuh proporsional dan ketampanan bak dewa Yunani tidak akan rela memberikan pelayanan secara cuma-cuma. Jika seorang wanita saja kerap memanfaatkan tubuhnya, kenapa tidak dengan pria? "A ... Apa?" Mulut Gisel menganga, tidak menyangka dengan apa yang didengarnya pagi itu. Hanya dalam satu malam saja bisa merubah pola pikir Aarick yang awalnya terlihat polos dan tidak menginginkan materi dalam hal apapun. " Selamat tinggal, Nona Gisel!" Aarick pun meninggalkan Gisel yang masih terkesiap dengan ucapannya. Pagi itu, Aarick mengemudi dengan laju yang lumayan tinggi agar mereka segera tiba di restoran tujuan. Perut yang terasa lapar membuatnya memilih diam dan tak berkomentar apapun saat berada di dalam mobil. Bahkan dia mengabaikan obrolan basi antara madam Velove dan asisten wanita itu. Restoran. Di depan Bayu, si asisten setia, sang madam dan Aarick bergantian menandatangani berkas berisi perjanjian di antara atasan dan bodyguard itu. Tidak akan ada penyesalan di kemudian hari karena keduanya berada dalam keadaan penuh kesadaran dan sehat tanpa paksaan. Sebelum menandatangani berkas perjanjian, keduanya juga sudah memastikan isi di dalam surat perjanjian tersebut. Terdapat beberapa poin penting yang harus dipatuhi kedua belah pihak. Aarick menyetujui permintaan madam Velove yang akan menjadikannya partner dan juga sebagai bintang panas dalam berbagai proyek pilihan yang ditangani wanita pebisnis gelap itu dengan bayaran tinggi. Sebagai gantinya, madam Velove tidak boleh melarang Aarick berhubungan dengan wanita manapun dan juga bebas memasang jasa escort. Satu hal yang paling penting, madam dan juga seluruh anak buahnya harus menjauhkan diri dari keluarga Aarick yang hingga detik ini masih mengintai keberadaan dua adik perempuan Aarick. Aarick mengulurkan tangannya pada sang madam. "Deal."Meja marmer panjang memantulkan cahaya lampu gantung yang terlalu terang. Di ujungnya, Marco Stevens dengan wajah tegang mengetuk-ngetukkan pena pada berkas kontrak.“Saya tidak mau nama bioskop saya dikaitkan dengan mantan escort,” katanya pelan, tapi cukup keras untuk membuat seluruh ruangan membeku.“Kita bicara soal reputasi. Soal keluarga yang datang bawa anak kecil. Saya tidak akan mempertaruhkan itu untuk satu aktor baru yang ternyata cukup kontroversial.”Beberapa eksekutif mengangguk hati-hati. Tidak ada yang berani membantah, namun satu orang di pojok ruangan merekam semuanya. Rekaman itu berdurasi 17 detik. Cukup untuk mengacaukan semuanya.12 jam kemudian.Rekaman itu bocor.Judulnya sederhana “Pemilik bioskop terbesar di kota Jabadia tolak kemunculan perdana Rick Nocturne; 'Saya tidak mau dikaitkan dengan mantan escort'."Dalam hitungan jam, berita itu meledak. Akan tetapi, di twitter dan instagram dukungan untuk Aarick juga meledak, penuh tagar #TalentOverPast.Di sebu
Lampu kristal Grand Palais memantulkan cahaya ke gaun-gaun mahal. Trailer "Crimson Protokol" diputar di layar utama. Ketika adegan Aarick berdiri di Jembatan Charles sambil merokok muncul, seluruh ruangan terdiam, terpana dengan pesona ketampanan pria perkasa itu.Sutradara lain berbisik pada Erick, “Kau yakin dia tidak pernah sekolah akting? Dia bahkan mampu membawa suasana ruangan ini, menurutmu, dari mana bakat itu?”Erick hanya tersenyum. “Dia tidak perlu sekolah. Dia hanya perlu menghidupkan perannya.”Di luar ruangan, di koridor VIP, tiga wanita berdiri mengelilingi poster film. Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil.“Dia masih sama,” kata Clara. “Dingin. Tapi sekarang semua orang bisa melihatnya.”Sofia mengangguk. “Dulu aku membayar mahal hanya untuk sebuah kepuasan. Sekarang dunia membayar untuk mendengarkannya.”Isabella mengeluarkan ponsel. “Kalau industri ini menolaknya, aku siap membuatnya jadi raja.”Mereka bertiga memposting foto bersama poster film dengan caption.
84.Kota Jabadia, 10 hari setelah malam di Praha.Ruang konferensi pers hotel Aston dipenuhi wartawan. Poster "Crimson Protokol" terpampang di belakang panggung. Wajah Rick Nocturne dengan tatapan tegas dan wanita-wanita pemeran pendukung memenuhi layar besar.Erick Mayer menepuk mikrofon pelan. “Baik, sesi tanya jawab dimulai. Satu pertanyaan per orang.”Tangan pertama yang terangkat milik Dessy, reporter senior dari salah satu media ternama. Wanita itu tersenyum tipis, seperti orang yang sudah memegang kartu truf.“Tuan Nocturne, kami telah memutar thriller flim perdana Anda berulang kali dan itu membuat kami takjub, kami juga tidak sabar untuk menonton filmnya, tapi sekarang yang ingin saya tanyakan adalah gosip yang beredar sebelum penayangan film ini yang mana publik di kota Jabadia juga mulai bertanya-tanya. Benarkah Anda dulunya bekerja sebagai pendamping pribadi untuk klien VIP? Dan apakah debut film ini adalah cara Anda mencuci nama?”Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kamera l
83Harry menyeringai. “Industri ini belum selesai denganmu, Aarick. Dan aku belum selesai denganmu juga. Dulu kau mempermalukanku hingga aku dideportasi. Sekarang giliranku.”Air di wastafel berhenti menetes. Sunyi hanya dipecah oleh suara napas mereka berdua.Aarick yang marah mengepalkan kedua tinjunya, menunjukkan sisi keperkasaannya sebagai pria yang dominan.Tapi menyaksikan itu, senyum Harry tiba-tiba berubah. Matanya menyipit, menatap Aarick dari atas sampai bawah seperti menilai barang yang tiba-tiba jadi berharga lagi.“Little bastard,” gumam Harry pelan, hampir seperti mengagumi. “Setelah lama tak bertemu, kau malah semakin menjadi, kau membuatku lebih gila.”Aarick mengerutkan alis. “Maksudmu?”Harry menghela napas panjang, dadanya naik turun. “Jangan pura-pura tidak tahu. Kau selalu begitu. Dingin, keras, tapi ada sesuatu dari caramu berdiri, caramu marah dan menatap… yang membuat orang gila.”Harry melangkah maju setengah langkah lagi. Suaranya berubah, lebih rendah, lebi
82.Harry yang duduk santai, gelas wine di tangan, senyum tipis di bibir. Seperti orang yang baru saja menang undian. "Finally," ujarnya pelan.Aarick membeku setengah detik. Ingatan beberapa bulan lalu, tawaran palsu dengan bayaran fantastis, hotel berdarah, rayuan pria belok itu, lalu pukulan bertubi-tubi yang mendarat di rahang Harry, muncul sekaligus.Jadi, kita bertemu lagi.Anne masih bicara, tapi Aarick sudah tidak mendengar. Ruangan yang tadinya ramai tiba-tiba terasa sunyi. Hanya ada dia dan Harry, dan dendam yang belum selesai.*Malam berjalan terus, selain Anne, banyak wanita cantik dari kalangan atas duduk di sana. Anak pengusaha, putri diplomat, model yang wajahnya sering muncul di sampul majalah Eropa. Mereka datang bukan hanya untuk bisnis, tapi juga untuk melihat langsung Aarick yang mereka dengar memiliki pesona yang memabukkan.Dan di antara mereka, ada Anita.Anita berdiri dekat bar kecil, mengenakan gaun silver mewah dan membuat siluetnya semakin tajam. Rambut hit
Aarick belum melihat sosok Harry. Dia masih berbisik pelan dengan Erick, tidak sadar bahwa puluhan meter dari sana, orang yang pernah dia permalukan sedang menatapnya dengan tatapan penuh perhitungan.Harry meletakkan gelasnya perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi bukan karena takut. Ini kesempatan. Kesempatan yang tidak dia rencanakan, tapi datang sendiri.Di kepalanya, rencananya sudah berjalan.Kalau dia membuka mulut sekarang, di depan semua orang penting ini, satu kalimat saja cukup untuk mengungkit skandal lama itu.Dia melangkah maju satu langkah, gelas wine di tangan satunya berayun pelan.Aarick masih belum menoleh, dan di sekelilingnya, tamu lain terus berbincang.Harry menarik napas, bersiap memanggil nama Aarick keras-keras. Satu teriakan saja, dan semua mata yang sudah tertuju pada kedatangan Aarick akan berubah arah padanya.“Ar—”"Rick Nocturne!”Suara itu memotong lebih cepat. Nyaring, ceria, dan terlalu dekat.Seorang wanita dalam gaun hitam tanpa lengan mel
Aarick berbalik tanpa menyentuh tangan yang gemetar terjulur ke arahnya. Langkahnya sudah mantap menuju pintu, meninggalkan penyesalan dan bau obat di kamar 307. Tapi tiba-tiba sebuah kalimat menohok seketika menghentikan langkah Aarick. Dunia seolah ditarik rem mendadak."Aku bukan ayah kandungmu,
Efek kurang tidur dan rasa lelah yang menderanya, Aarick tertidur lagi di taksi yang mereka tumpangi, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.Hennah yang melihatnya hanya bisa mengusap lembut puncak kepala Aarick. "Hanya doa dan harapan yang bisa ibu panjatkan untukmu, semoga kamu mendapatkan kehi
Aarick membanting HP ke bantal. Napasnya memburu. Dia teringat dua adiknya yang sekarang sudah remaja, yang dulu jadi alasan dia mengalah.Adik-adiknya sudah aman. Bersekolah tanpa kekurangan uang. Sudah bisa ketawa. Ibunya juga memiliki penghasilan walau tidak berlebih-lebihan. Tapi Aarick? Dia ma
"I ... Ibu ...." Lain halnya pada kedua hansip tadi, kali ini ekspresi Aarick terlihat gugup dan ketakutan seperti sedang ketahuan maling."Dari mana saja kamu?" Hennah melotot tajam. Kebingungan dengan sikap putranya. "Baru saja pulang kampung, bukannya istirahat, tapi malah keluyuran gak jelas."







