Home / Urban / Tarif Cinta Sang Pria Perkasa / Berani Bayar Berapa?

Share

Berani Bayar Berapa?

Author: Anna Sahara
last update publish date: 2026-04-02 22:59:04

Ya, wanita berusia 35 tahun itu sesungguhnya tengah berhasrat dan tentunya menginginkan Aarick sebagai pelampiasannya.

Velove butuh Aarick untuk menuntaskan hasratnya. Dia tidak tahan ketika melihat Aarick yang gagah dan tampan bercumbu dengan Gisel. Tiba-tiba dia menginginkannya.

Dia bahkan iri melihat Gisel mendapat perlakuan lembut dari Aarick dan dia juga baru menyadari jika bodyguardnya tersebut tak kalah dengan para pria yang pernah tidur dengannya, bahkan menurutnya Aarick jauh lebih tampan dan gagah daripada pria yang telah menjadikannya simpanan selama ini.

Aarick terkejut bukan main melihat penampilan Madam Velove yang sudah telanjang bulat di hadapannya. 'Gila ...!' pikirnya, namun detik kemudian dia langsung tersadar jika wanita itu sedang butuh pelampiasan.

Aarick menegak salivanya ketika menatap tubuh Velove yang begitu indah dipandang dan pasti nikmat jika dirasa. Tubuh wanita itu tidak jauh beda dengan tubuh Gisel, sama-sama terawat dan tidak memiliki kekurangan sedikitpun.

"Tidak usah berpakaian lagi, untuk saat ini aku yang akan menggantikan peran Gisel." Madam Velove melangkah gontai mendekati Aarick yang masih berdiri di samping ranjang. "Puaskan aku, Aarick, perlakukan aku seperti kamu memberikan kehangatan pada wanita jalang tadi!" pintanya dengan suara yang menggoda.

Aarick menatap Madam dengan ragu. "Apa saya tidak salah dengar? Madam ingin berhubungan dengan orang seperti saya?" dia bertanya, suaranya penuh dengan kehati-hatian.

Madam sombong itu tersenyum dengan genit. "Tentu, Aarick, aku benar-benar menginginkan kamu. Aku sungguh sangat mengagumimu

Aarick juga merasakan hasratnya kian membuncah, tapi dia tidak ingin terburu-buru. "Mengapa? Apa yang membuat Madam tertarik pada saya?"

Madam semakin tertarik. Dia menggigit bibir bagian bawahnya, suaranya juga menjadi lebih lembut, "Aku suka orang yang tidak takut mengambil resiko, dan sekarang, aku ingin kamu membuatku merasa puas."

Aarick tersenyum sinis, matanya menatap Madam dengan intens, "Puas? Madam, saya tidak hanya bisa membuat Anda puas, saya juga akan membuat Anda tak bisa melupakan saya, tapi ...." Suaranya rendah dan penuh dengan kepercayaan diri, membuat Madam merasa terhipnotis.

"Tapi apa...?" Birahi sang madam sudah naik hingga ke ubun-ubun. Sedari tadi dia sudah terpana dengan penampilan dan aksi seorang Aarick. Itu sebabnya dia langsung menghentikan proses syuting sebelum terjadi penyatuan antara Gisel dan Aarick. Dia khawatir hasratnya tidak tersalurkan jika harus menunggu tiga ronde berakhir dalam satu malam.

Bisa jadi madam Velove tidak akan kebagian jatah bercinta dengan Aarick.

Sementara itu, Aarick merasa ini adalah satu kesempatan emas baginya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan momen ini. Menjadi salah satu orang yang paling paham dengan kondisi madam Velove membuat Aarick harus bertindak agresif.

"Berani bayar berapa?" Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Aarick. Dia sudah gerah dengan perlakuan madam Velove yang semena-mena terhadapnya.

Bertahun-tahun mengabdi dan menjadi bodyguard setia tanpa bayaran sepeser pun membuat Aarick lelah dan ingin berontak.

Malam ini, Aarick tidak ingin terlihat lemah lagi. Senada dengan adik kecilnya yang sudah tegang mengeras, semangatnya yang ingin berontak turut menggebu-gebu.

"Apa maksudmu?" Wajah cantik madam Velove mengkerut tak beraturan karena hasrat yang sudah bergejolak bercampur dengan rasa kesal akibat pernyaataan Aarick yang mulai berani.

"Aku rasa pertanyaanku sudah sangat jelas, Madam," Aarick menjawab dengan santai. Dia sangat paham dengan kelakuan atasannya jika saat ini nafsu birahi wanita itu adalah yang paling utama.

Ini saatnya Aarick melakukan penawaran.

"Kamu sudah berani sekarang, Aarick," madam Velove mengerang kesal mendapati anak buahnya yang terbiasa menurut kini terlihat ngelunjak.

"Terserah Madam saja," balas Aarick dengan santai, lantas berpura-pura mengenakan pakaiannya pada bagian bawah. "Saya rasa ini saatnya untuk mendapatkan keuntungan. Bukankah semua para kru mendapat komisi setelah dijadikan pemain dalam setiap proyek Madam, jadi apa salahnya saya meminta hak yang seharusnya pantas untuk saya dapatkan?"

Aarick yakin dengan jalan pikirannya. Kali ini, dia tidak ingin rugi dan tenaganya dikeluarkan dengan sia-sia. Hanya dengan memanfaatkan kelemahan madam Velove, Aarick mampu terlepas dari genggaman wanita yang tidak pernah mampu menahan hasrat untuk bercinta itu.

'Dia pasti mengalah,' dengus Aarick dalam hati, sebelum menarik celana panjangnya, dia pun sengaja menunjukkan batang rudalnya yang masih tegak sempurna di hadapan Madam Velove, lalu perlahan berbalik memunggungi wanita itu.

"Ohhhh ..." Wanita berhasrat tinggi itu melenguh, mendesah sembari menjepit kedua pahanya ketika melihat barang pusaka berukuran tebal dan panjang berurat itu.

Si junior Aarick benar-benar membuat kepala Velove cenat-cenut, 'Kenapa baru sekarang aku melihatnya?' dia sedikit menyesal, gairahnya semakin berkobar, hasratnya tidak terkendali lagi , dia tidak mungkin melewatkan momen ini.

Madam Velove langsung menyergap tubuh Aarick dari belakang, mendekapnya dengan erat. "Aku menginginkanmu, Aarick, ayo kita lakukan sekarang juga!" pintanya dengan napas tersengal-sengal.

"Huffff ..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 88

    Pesan itu terkirim dalam keadaan marah. Satu baris, pendek, tapi tajam seperti sayatan.[Jadi selama ini aku mencintai orang yang menjual dirinya pada banyak wanita? Hebat, Rick. Kau memang pintar menipu dan mempermainkan perasaan wanita.]Ponsel Aarick bergetar di saku jaketnya saat dia baru saja tiba di apartment. Rudolf melihat wajah Aarick yang tiba-tiba berubah. “Kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.Aarick tidak menjawab. Dia masih menatap layar, membaca ulang pesan itu. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard ponsel, tapi tidak menekan apa-apa.Di Islamabad, Ara melempar ponselnya ke atas kasur. Dadanya naik turun. Dia tidak tahu harus marah, menangis, atau tertawa pahit.“Bodoh,” bisiknya lagi. “Kenapa aku masih peduli?”Di lain sisi, Ara juga tidak bisa berhenti memutar ulang kalimat Aarick di konferensi pers:_“Seorang gadis yang membuka mata hati saya, mendorong saya untuk segera meninggalkan dunia kotor itu… dia adalah dewiku.”_Ara tahu. Dia tahu dan yakin gadis itu adalah

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 87

    87.Aarick menatapnya lama, lalu menekan tolak.“Kenapa?” tanya Rudolf.“Belum saatnya,” jawab Aarick. “Kalau aku angkat sekarang, aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak mau dia dengar ini dari berita.”Rudolf mengangguk. “Kau akan cerita padanya?"Aarick tidak menjawab. Dia hanya menatap layar ponsel yang kembali gelap.***Islamabad.Ara duduk di lantai kamarnya, punggung bersandar ke tempat tidur. Ponselnya masih terbuka di halaman berita.Judulnya berulang-ulang.“Mantan escort, kini menjadi bintang film.”“Rick Nocturne calon bintang akui masa lalu.”Tangannya gemetar. Bukan marah. Bukan jijik. Hanya tidak percaya pria yang dicintainya ternyata seorang gigolo elit yang memiliki banyak klien VIP.Dia menelpon untuk meminta penjelasan. Nada sambung berdering. Satu kali. Dua kali. Ditolak.Pesan masuk satu menit kemudian:[Ara. Aku lihat kamu menelepon. Aku akan cerita semuanya. Tapi tidak lewat telepon. Tunggu aku. Jangan dengar tentang aku dari orang lain.”Ara membaca pesan i

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 86

    Meja marmer panjang memantulkan cahaya lampu gantung yang terlalu terang. Di ujungnya, Marco Stevens dengan wajah tegang mengetuk-ngetukkan pena pada berkas kontrak.“Saya tidak mau nama bioskop saya dikaitkan dengan mantan escort,” katanya pelan, tapi cukup keras untuk membuat seluruh ruangan membeku.“Kita bicara soal reputasi. Soal keluarga yang datang bawa anak kecil. Saya tidak akan mempertaruhkan itu untuk satu aktor baru yang ternyata cukup kontroversial.”Beberapa eksekutif mengangguk hati-hati. Tidak ada yang berani membantah, namun satu orang di pojok ruangan merekam semuanya. Rekaman itu berdurasi 17 detik. Cukup untuk mengacaukan semuanya.12 jam kemudian.Rekaman itu bocor.Judulnya sederhana “Pemilik bioskop terbesar di kota Jabadia tolak kemunculan perdana Rick Nocturne; 'Saya tidak mau dikaitkan dengan mantan escort'."Dalam hitungan jam, berita itu meledak. Akan tetapi, di twitter dan instagram dukungan untuk Aarick juga meledak, penuh tagar #TalentOverPast.Di sebu

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 85

    Lampu kristal Grand Palais memantulkan cahaya ke gaun-gaun mahal. Trailer "Crimson Protokol" diputar di layar utama. Ketika adegan Aarick berdiri di Jembatan Charles sambil merokok muncul, seluruh ruangan terdiam, terpana dengan pesona ketampanan pria perkasa itu.Sutradara lain berbisik pada Erick, “Kau yakin dia tidak pernah sekolah akting? Dia bahkan mampu membawa suasana ruangan ini, menurutmu, dari mana bakat itu?”Erick hanya tersenyum. “Dia tidak perlu sekolah. Dia hanya perlu menghidupkan perannya.”Di luar ruangan, di koridor VIP, tiga wanita berdiri mengelilingi poster film. Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil.“Dia masih sama,” kata Clara. “Dingin. Tapi sekarang semua orang bisa melihatnya.”Sofia mengangguk. “Dulu aku membayar mahal hanya untuk sebuah kepuasan. Sekarang dunia membayar untuk mendengarkannya.”Isabella mengeluarkan ponsel. “Kalau industri ini menolaknya, aku siap membuatnya jadi raja.”Mereka bertiga memposting foto bersama poster film dengan caption.

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 84

    84.Kota Jabadia, 10 hari setelah malam di Praha.Ruang konferensi pers hotel Aston dipenuhi wartawan. Poster "Crimson Protokol" terpampang di belakang panggung. Wajah Rick Nocturne dengan tatapan tegas dan wanita-wanita pemeran pendukung memenuhi layar besar.Erick Mayer menepuk mikrofon pelan. “Baik, sesi tanya jawab dimulai. Satu pertanyaan per orang.”Tangan pertama yang terangkat milik Dessy, reporter senior dari salah satu media ternama. Wanita itu tersenyum tipis, seperti orang yang sudah memegang kartu truf.“Tuan Nocturne, kami telah memutar thriller flim perdana Anda berulang kali dan itu membuat kami takjub, kami juga tidak sabar untuk menonton filmnya, tapi sekarang yang ingin saya tanyakan adalah gosip yang beredar sebelum penayangan film ini yang mana publik di kota Jabadia juga mulai bertanya-tanya. Benarkah Anda dulunya bekerja sebagai pendamping pribadi untuk klien VIP? Dan apakah debut film ini adalah cara Anda mencuci nama?”Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kamera l

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 83

    83Harry menyeringai. “Industri ini belum selesai denganmu, Aarick. Dan aku belum selesai denganmu juga. Dulu kau mempermalukanku hingga aku dideportasi. Sekarang giliranku.”Air di wastafel berhenti menetes. Sunyi hanya dipecah oleh suara napas mereka berdua.Aarick yang marah mengepalkan kedua tinjunya, menunjukkan sisi keperkasaannya sebagai pria yang dominan.Tapi menyaksikan itu, senyum Harry tiba-tiba berubah. Matanya menyipit, menatap Aarick dari atas sampai bawah seperti menilai barang yang tiba-tiba jadi berharga lagi.“Little bastard,” gumam Harry pelan, hampir seperti mengagumi. “Setelah lama tak bertemu, kau malah semakin menjadi, kau membuatku lebih gila.”Aarick mengerutkan alis. “Maksudmu?”Harry menghela napas panjang, dadanya naik turun. “Jangan pura-pura tidak tahu. Kau selalu begitu. Dingin, keras, tapi ada sesuatu dari caramu berdiri, caramu marah dan menatap… yang membuat orang gila.”Harry melangkah maju setengah langkah lagi. Suaranya berubah, lebih rendah, lebi

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 18

    Taksi berhenti. Sebelum Aarick turun, dia tetap membayar tagihan taksi. Setelah menutup pintu mobil, Aarick langsung menghampiri bangku panjang _Warung Bu Lastri_. Eliza masih di situ, duduk tepat di samping Aluna. Dan masih dalam balutan dress off-shoulder putih yang tadi.

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 15

    Aarick berbalik tanpa menyentuh tangan yang gemetar terjulur ke arahnya. Langkahnya sudah mantap menuju pintu, meninggalkan penyesalan dan bau obat di kamar 307. Tapi tiba-tiba sebuah kalimat menohok seketika menghentikan langkah Aarick. Dunia seolah ditarik rem mendadak."Aku bukan ayah kandungmu,

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Tidak Ada Yang Gratis

    "Boleh saja." Aarick tersenyum simpul dan mengabaikan pandangan atasannya yang begitu tajam seperti bambu runcing. Meski risih dengan wanita yang bergelayut manja di lengannya, namun Aarick tetap cuek saja menanggapinya. "Benarkah?" Gisel langsung kegirangan dengan sikap ramah tamah Aarick dan

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Boleh Saja

    Seketika mulut Aarick menggembung. Untuk menekan hasratnya, dia menggigit bibir bagian bawahnya agar bisa menahan diri sebelum terjadi kesepakatan. Dengan jelas, Aarick merasakan dua gundukan kenyal milik Madam Velove telah menyatu dengan punggungnya, sungguh satu tarikan yang membuat urat-uratny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status