共有

Bab 65

作者: Anna Sahara
last update 公開日: 2026-05-11 17:24:38

"Turun kalian!" seru Aarick dan fokus pada Reno. "Kalau lo gak bisa ngajarin cewek ini ngomong benar, biar gue yang ajarin lo berantem. Jangan menggonggong dari atas kayak anjing kecil."

PRANG!

Reno membanting gelas whiskey-nya ke lantai VIP.

Pecah. "ANJING LO!" Reno berteriak kesal. Tidak ada suara yang berani melengking padanya selama ini. Bahkan orang tuanya sekalipun.

Dia loncat dari lantai dua. Gladys juga menyusul. High heels-nya dicopot, lalu dijinjing di tangan kanan. Dua bodyguard Ren
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 67

    Aarick melirik spion. Saat itu, Ara lagi senyum-senyum sendiri, mungkin sedang ingat film yang dimainkan si Zola Zain, atau masih terpesona dengan kemunculan pria yang hampir setengah abad itu, membuat Aarick semakin cemburu lagi.'Bangke.'Aarick injak gas, halus, tapi jarum speedometer_ naik dari 60 ke 75. Lampu Maboya hill seketika menghilang di kaca samping.Dalam perjalanan menuju tempat makan di tengah malam itu, wajah Aarick terlihat kecut dan tidak tertarik dengan obrolan Ara dan Rudolf.“Rick, kita makan di sana aja yuk!” kata Rudolf sambil menunjuk ke depan. Sebuah papan neon Seafood 94 yang sudah kelihatan dari jauh, merah menyala.Aarick tidak langsung menjawab. Dia melirik Ara sekali lagi dari spion. Gadis itu masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.“Gak usah,” potong Aarick, ketus.Rudolf sama Ara langsung menoleh ke Aarick.“Lho?” Rudolf kaget. “Kenapa? Marah ya?”“Aarick ...,” Ara suaranya kecil. “Kamu masih marah sama pria tadi?”Aarick menggigit pipinya bagian dalam

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 66

    "Zola Zain?" Aarick tiba-tiba mengerutkan dahinya. Dia berhenti pas di depan pintu mobil, tapi tidak membukakan pintu. Tangannya menggantung di handle dengan mata heran menatap Ara."Siapa dia?" tanya Aarick dengan suara yang pelan. "Seperti apa wajahnya sampai kamu menjadikannya sebagai artis favorit?"Ara cukup terkejut karena tak menyangka bahwa Aarick tidak mengenal Zola Zain yang merupakan artis kondang dan menjadi idola di zamannya, bahkan sampai di usianya yang matang, nama sang aktor masih bersinar.Ada nada iri dan tak senang yang tersirat saat Aarick bertanya pada Ara. Jelas terdengar hingga Rudolf yang sedang membuka pintu depan langsung berhenti. Alisnya naik. ‘Lah, cemburu.’Ara mengangkat muka. “Dia salah satu aktor yang menurutku sangat tampan dan mempesona, apa kamu gak kenal?” Ara balik bertanya. Polos dan heran. Bagi Ara, Zola Zain itu seperti Leonardo Dicaprio, semua orang pasti tahu flim yang dimainkannya.Mendengar pujian yang sama dan menurutnya berlebihan, Aari

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 65

    "Turun kalian!" seru Aarick dan fokus pada Reno. "Kalau lo gak bisa ngajarin cewek ini ngomong benar, biar gue yang ajarin lo berantem. Jangan menggonggong dari atas kayak anjing kecil."PRANG!Reno membanting gelas whiskey-nya ke lantai VIP. Pecah. "ANJING LO!" Reno berteriak kesal. Tidak ada suara yang berani melengking padanya selama ini. Bahkan orang tuanya sekalipun.Dia loncat dari lantai dua. Gladys juga menyusul. High heels-nya dicopot, lalu dijinjing di tangan kanan. Dua bodyguard Reno yang badannya besar-besar ternyata sudah standby di belakang.Di belakang Aarick, Rudolf juga sudah gulung lengan hoodie-nya. Urat di tangannya keluar.Ara? Ara sudah mengeluarkan air mata. "Aarick... udah ya, Rick... ini salahku, harusnya aku gak ngajak ke tempat beginian, ini bukan tempat yang aman ternyata ..."Dan di detik ketika tinju Reno tinggal beberapa jengkal dari rahang Aarick, ketika urat di leher Rudolf sudah muncul semua, ketika Gladys sudah mengambil ancang-ancang untuk memeca

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 64

    Kota Jabadia, jam setengah dua belas malam tidak pernah benar-benar tidur. Apalagi Maboya Hill. Sederet ruko yang siang jadi toko HP dan travel umroh, malamnya berubah wajah.Lampu neon warna-warni, musik dari balik pintu kaca, dan parkiran yang isinya fortuner, Alphard, dan sederet mobil jenis lainnya.Pajero Sport hitam Aarick pun berhenti di basement Dragon Club. Mesin dia matikan. Tiga detik cuma ada suara bass yang merambat lewat aspal, naik ke sasis mobil, hingga ke tulang rusuk. Dug. Dug. Dug.Suara itu seperti jantung raksasa yang sedang marah.Aarick tidak langsung turun. Tangannya masih di setir. Dari spion tengah, dia melihat Ara di jok belakang. Gadis itu menggenggam cardigan rajutnya kuat-kuat sampai buku jarinya putih. Dress satin maroon-nya sudah dia pilih dua jam di depan kaca, sekarang kelihatan seperti kostum yang salah tempat."Ara," panggil Aarick akhirnya. Suaranya datar, tapi ada berat yang tak biasa. "Sekali kamu injak lantai klub itu, kamu bukan Ara gadis man

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   63

    Rudolf langsung pasang badan. "Woi Tom, jaga mulut kamu. Apa-apaan sih tuduhanmu ini?! Aarick banyak membantumu selama ini, kenapa kamu malah nuduh sembarang gitu?" "Aku cuma ngingatin," Tommy sekarang full menatap Aarick, bibirnya menyeringai miring. "Ingat, Rick. Kamu udah di atas sekarang dan dulu kamu pernah bilang sahabat lebih penting dari yang lainnya. Kenapa sekarang jadi lebih banyak waktu untuk si Ara itu? Jangan mentang-mentang udah dekat sama orang penting, kenal cewek cakep, kamu lupa sama teman lama." Aarick meletakkan cangkirnya pelan. "Maksud kamu apa, Tom? Siapa yang lupa teman?" Dia keheranan dengan sikap Tommy yang berapi-api. "Maksud aku?" Tommy ketawa pendek. "Aku sih gak mau kamu jatuh, bro. Kamu tau kan, cewek itu kayak mana... Apalagi dia dari keluarga berada, adiknya produser, bos kita ... mainnya bukan level kita yang selama ini kerjaannya gak benar. Nanti kamu sakit sendiri. Mending tau diri deh dari sekarang." Kalimat itu menusuk. Bukan karena perkata

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 62

    'Kena lu, Velo.'Aarick menarik napas panjang. Segala beban dalam dirinya tertutup dengan satu kalimat Ara barusan.Niat Velove membuat Ara ilfeel malah jadi boomerang. Ara bukannya mundur, malah minta diajarin "nakal" dan minta Aarick yang jadi pelindung-nya.Seringai Aarick makin lebar. Ide-ide gila langsung berputar di kepalanya.Dari luar, masih terdengar suara penolakan dari Velove, "Ara, kamu gak usah ikut-ikutan ke tempat kayak gitu. Bahaya dan tempat itu gak cocok sama kamu.""Tapi kan ada Aarick, Kak," bantah Ara. "Dia pasti jagain aku. Boleh ya, please ... sekali aja!" bujuknya.Di dalam kamar mandi, Aarick tertawa puas. Dia menyalakan shower, air hangat langsung mengguyur kepalanya. Tapi bukannya tenang, otaknya malah makin ramai. Suara Ara tadi berputar terus di kepalanya. Dia tidak sabar membawa gadis itu keluar tanpa pantauan Velove.*Kabar Aarick yang telah mendatangani kontrak pembuatan film layar lebar terdengar juga ke telinga rekan-rekannya, terutama dua sahabatny

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status