Home / Fantasi / Taring Emas Sang Alpha / 21. Air Mata Mengalir Deras

Share

21. Air Mata Mengalir Deras

Author: Lubna Karkata
last update publish date: 2026-05-04 22:51:23
Ini akan menjadi malam yang panjang.

Permukan sungai tidak lagi perak yang menenangkan, melainkan cairan pekat yang menelan rintihan. Runala berlutut di atas lumpur yang dingin, tidak memedulikan ujung pakaiannya yang koyak atau lutut yang tergores kerikil tajam.

Di hadapan Runala, sosok serigala cokelat dengan helai-helai keemasan tergeletak miring. Napasnya pendek, putus-putus, dan setiap embusan udara dari moncongnya membawa uap hangat yang segera lenyap ditelan udara malam yang membeku.

“Sol
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Taring Emas Sang Alpha   83. Emosi yang Tertahan

    Lunielle hanya menatapnya selama beberapa detik. Namun, mampu menimbulkan gemuruh yang hebat di hati Runala.Begitu pintu kamarnya kembali tertutup rapat dari dalam, Runala bersandar di sana dengan napas memburu. Bayangan senyuman angkuh Lunielle tatkala keluar dari kamar Solvatar terus berputar di kepalanya, memicu rasa perih dan tidak aman yang mendalam. Sebagai gadis asal Demura yang kini berada di istana hanya karena sebagai Luna palsu, Runala mendadak sadar betapa rapuh posisinya.Dengan jemari yang masih bergetar, Runala melangkah menuju meja rias. Setelah meletakkan cawan zamrud kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan, takut jika benda berharga itu berdenting dan memecah keheningan, dia membasuh sisa tumpahan sari Iron-Lily di sela jari.Ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Runala terlonjak. Sebelum sempat melangkah, pintu sudah terbuka dari luar dan sosok tegap Solvatar bergerak masuk.Seketika, napas Runala tertahan gugup. Sang pangeran tampak berantakan. Kendati udara

  • Taring Emas Sang Alpha   82. Guncangan yang Membuat Tangan Gemetar

    Runala tidak bisa tenang. Langkah kakinya bergerak mondar-mandir di atas karpet tebal, memotong kesunyian kamar yang luas. Tatapannya sesekali tertuju pada pintu kayu yang terkunci rapat, lalu beralih ke deretan botol ekstrak bunga di atas meja. Kecemasan menggerogoti hatinya sejak Solvatar melangkah pergi ke koridor utama. Istana ini terasa seperti labirin yang penuh dengan duri tidak kasat mata.Kehilangan Solvatar dari pandangannya membuat malam terasa berkali-kali lipat lebih mencekam.Ketukan itu seketika memutus ketegangan Runala. Dia bergegas mendekat, memutar kunci dengan cepat, dan membukakan pintu. Begitu sosok tegap Solvatar menyelinap masuk, Runala langsung merapatkan kembali daun pintu dan menguncinya dari dalam.Solvatar berdiri dengan napas yang agak tertahan. Di bawah pendar lilin kamar yang temaram, rahang pangeran bungsu itu tampak mengeras, dengan kilat amarah yang pekat di kedua matanya. Runala tidak perlu mendengar sepatah kata pun untuk tahu jawabannya. Intuisiny

  • Taring Emas Sang Alpha   81. Nakas di Samping Tempat Tidur

    Langkah kaki Solvatar menggema di keheningan koridor utama dengan ritme tenang yang hampir tidak bersuara. Jam dinding istana telah menunjukkan waktu tengah malam. Koridor megah itu kini hanya diterangi oleh pendar obor dinding yang mulai meredup, menimbulkan bayangan-bayangan panjang yang meliuk di antara pilar. Sesuai dengan harapannya, Ragnavar tidak ada di sekitar sana. Di depan pintu kamar besar tempat raja dan ratu, dua orang prajurit jaga langsung menegakkan posisi begitu mengenali sosok yang mendekat. Tombak mereka menyilang, menutup akses masuk.“Pangeran Solvatar,” tegur salah satu penjaga dengan suara rendah, tetap menjaga kesopanan di tengah malam buta. “Maaf, Yang Mulia raja dan ratu sedang beristirahat. Sebaiknya tidak ada yang mengganggu mereka hingga esok pagi.”Ekspresi Solvatar tetap sedingin es, tanpa gejolak emosi. “Aku tahu,” jawabnya datar. Tangannya bergerak tenang ke balik jubah, menunjukkan sebelah sarung tangan kulitnya yang kosong. “Sarung tanganku tertingg

  • Taring Emas Sang Alpha   80. Istana yang Murni

    Bunyi ketukan antara alu dan lumpang kayu menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian kamar tamu istana. Di atas meja, tangan Runala bergerak dengan ritme yang teratur. Jemarinya yang ramping dengan cekatan memisahkan beberapa jenis kelopak bunga, menumbuk akar, daun, rempah hingga mengeluarkan saripati berwarna cokelat bening.Akan tetapi, malam ini konsentrasi Runala tidak sepenuhnya utuh. Setiap kali alu menghantam dasar lumpang, isi kepala gadis itu justru berputar mundur, memutar ulang kejadian di ruang makan beberapa jam yang lalu.Kehadiran Lunielle masih membekas begitu nyata di indra Runala. Gadis itu sama sekali bukan orang sembarangan yang bisa diabaikan begitu saja. Kala pintu ruang makan terbuka, Lunielle tidak sekadar masuk; dia membawa aura kemegahan istana. Rambut pirangnya yang berkilau bagai benang emas di bawah pendar lilin, sepasang netra biru jernih sewarna langit musim panas, serta gaun sutra biru yang melekat indah di tubuhnya. Semuanya memancarkan keang

  • Taring Emas Sang Alpha   79. Raut Wajah Tampak Pahit

    Untuk beberapa detik, keheningan mengalir dalam nuansa yang kurang menyenangkan. Raut wajah Solvatar tampak pahit dan Runala merasa bersalah untuk itu. Dia menggigit bibir bawah seraya merutuki diri sendiri. Impulsif, Runala maju dengan cepat demi menyambar daging di ujung garpu yang dipegang Solvatar dengan mulutnya. Lelaki itu tampak terkesiap karena gerakan tiba-tiba. Sebelum akhirnya, senyum simpul terurai di bibirnya. “Rupanya kau sudah sangat lapar, Rabbit,” ujar Solvatar lantas menarik mangkuk berisi sup. Dia menyendok sepotong umbi-umbian berwarna kuning dan jingga dan menyuapkannya ke arah Runala. Alih-alih membuka mulut, Runala malah menghidu uap hangat sup. Aroma tajam, segar, bercampur petrikor memenuhi indra penciumannya. “Ini sup apa?” tanyanya seraya menunjuk sendok yang dipegang Solvatar. “Apa ini juga dihidangkan pada raja dan ratu?”Glabela Solvatar berkerut mendengar dua pertanyaan beruntun. “Aku bisa memanggil koki istana supaya kau bisa bertanya, tapi sebaiknya

  • Taring Emas Sang Alpha   78. Alis Terangkat Heran

    Lima orang pelayan istana memandu jalan ke sisi timur istana. Sepanjang jalan, genggaman tangan Solvatar tidak pernah mengendur. Jemarinya menangkup tangan Runala begitu erat, seolah-olah jika dia lepaskan sedetik saja, gadis itu akan menguap seperti embun terkena matahari. Runala hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya ditarik dalam diam seraya tatapannya bergerak mengagumi kemegahan luar biasa yang terpampang di depan.Bangunan ini sungguh menakjubkan sekaligus terasa begitu ironis. Lantainya terbuat dari marmer putih bersih yang memantulkan cahaya obor dinding laksana cermin. Pilar-pilar penyangga dilapisi ukiran emas membentuk sulur-sulur pohon kuno, dan panji-panji beludru bersulam benang perak bergambar serigala yang memamerkan taring tergantung anggun di setiap jarak sepuluh langkah. Udara di sini hangat dihiasi wewangian mahal menguar dari setiap sudut.Pikiran Runala mendadak melayang kembali ke Demura. Tempat itu berada di bawah langit yang sama, berdiri di atas tanah Wolfaer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status