Home / Fantasi / Taring Emas Sang Alpha / 85. Akrab dan Hangat

Share

85. Akrab dan Hangat

Author: Lubna Karkata
last update publish date: 2026-06-11 23:48:07

Dua pengawal di depan pintu ganda kamar itu mengetukkan tombak mereka, membuka jalan bagi empat orang yang baru saja tiba. Begitu pintu terbuka lebar, kehangatan dari perapian kamar langsung menyapa.

Di atas ranjang megah berkelambu, Raja Ricgard dan Ratu Ralitsa tampak sedang bersandar pada tumpukan bantal. Gerakan tangan sang ratu yang bersiap mengangkat cangkir porselennya seketika terhenti di udara, terjeda oleh kedatangan Solvatar yang menggandeng erat tangan Runala, diikuti Vilkar dan Lu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Taring Emas Sang Alpha   87. Sangkar yang Mulai Menyempit

    Engsel yang kokoh itu berputar tanpa derit tatkala pintu terbuka perlahan dari dalam. Tanpa dentuman. Tanpa amarah yang dilampiaskan melalui kayu tebal itu. Solvatar hanya melangkah keluar, lalu membalikkan tubuh untuk menutup kembali daun pintu kamar orang tuanya dengan begitu lembut, memastikan ketenangan di dalam sana sama sekali tidak terganggu.Akan tetapi, begitu pintu itu tertutup rapat dan Solvatar membalikkan tubuhnya menghadap koridor, kelembutan itu menguap tanpa sisa.Sepasang netra emasnya langsung membara di detik yang sama kala menangkap basah posisi Ragnavar yang sedang menyudutkan Runala di pilar. Tatapannya seolah-olah menyala, dipenuhi oleh api kemarahan dan insting predator yang mendidih dalam sekejap. Aura emas yang selama ini dia tekan habis-habisan kini meledak keluar, memenuhi udara dengan tekanan yang begitu

  • Taring Emas Sang Alpha   86. Seseorang di Masa Lalu

    Pintu besar itu tertutup rapat dengan dentuman berat, memisahkan Runala dari Solvatar yang tertinggal di dalam bersama kedua orang tuanya.Runala mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan. Tatkala dia berbalik, koridor panjang itu sudah sepi. Dia hanya sempat melihat ujung gaun Lunielle yang melenggang angkuh di belokan koridor, mengekor di belakang punggung tegap Vilkar yang berjalan cepat kembali ke ruang kerja istana.Kini, Runala benar-benar sendirian. Di sepanjang koridor, hanya ada dua pengawal berbaju zirah yang berdiri kaku bagai patung marmer, sama sekali tidak berniat mengajaknya bicara.Rasa cemas mulai merambat. Runala memilih mondar-mandir di depan pintu. Jemarinya meraba leher hingga tengkuk, berusaha meredakan kegelisahan. Setiap ketukan sepatunya di ata

  • Taring Emas Sang Alpha   85. Akrab dan Hangat

    Dua pengawal di depan pintu ganda kamar itu mengetukkan tombak mereka, membuka jalan bagi empat orang yang baru saja tiba. Begitu pintu terbuka lebar, kehangatan dari perapian kamar langsung menyapa. Di atas ranjang megah berkelambu, Raja Ricgard dan Ratu Ralitsa tampak sedang bersandar pada tumpukan bantal. Gerakan tangan sang ratu yang bersiap mengangkat cangkir porselennya seketika terhenti di udara, terjeda oleh kedatangan Solvatar yang menggandeng erat tangan Runala, diikuti Vilkar dan Lunielle di belakang mereka.Sepasang netra Ratu Ralitsa melebar terkejut melihat formasi kawanan yang tidak biasa ini. Namun, sedetik kemudian, seulas senyum tulus terbit di wajah wanita itu. Serupa dengan milik Raja Richgard di sampingnya. Rona wajah keduanya terlihat jauh lebih segar, tidak selemas kemarin.Vilkar melangkah maju memimpin, diikuti yang lain. Sesuai tata krama tertinggi istana, Solvatar dan Vilkar segera berlutut dengan satu kaki di dekat ranjang, gerakan yang langsung diikuti se

  • Taring Emas Sang Alpha   84. Malah Makin Erat

    Derap langkah kaki Solvatar dan Runala terdengar seirama tatkala menyusuri selasar yang menghubungkan ke area ruang kerja istana. Angin musim dingin sesekali berembus melewati pilar-pilar batu besar, membawa serpihan es yang langsung mencair begitu menyentuh kehangatan jubah yang membungkus bahu hingga punggung mereka. Di sisi kiri mereka, pelataran taman luas yang tertutup salju membentang putih, sementara di sisi kanan, deretan pintu kayu kokoh pembatas ruang kerja berjejer formal.Langkah mereka berhenti tepat di depan pintu ganda ruang kerja Vilkar. Dua pengawal serigala yang berjaga di sana langsung merunduk hormat, bersiap membukakan jalan.Akan tetapi, sebelum jemari Solvatar menyentuh gagang pintu, Runala menahan lengannya pelan. Solvatar menoleh dengan glabela bertaut rendah.“Solvatar, aku tidak akan ikut masuk,” ujar Runala tenang. Dia tahu di dalam sana Solvatar akan membahas urusan mengenai Desa Demura. Sebagai orang asing yang statusnya belum jelas, Runala sadar diri unt

  • Taring Emas Sang Alpha   83. Emosi yang Tertahan

    Lunielle hanya menatapnya selama beberapa detik. Namun, mampu menimbulkan gemuruh yang hebat di hati Runala.Begitu pintu kamarnya kembali tertutup rapat dari dalam, Runala bersandar di sana dengan napas memburu. Bayangan senyuman angkuh Lunielle tatkala keluar dari kamar Solvatar terus berputar di kepalanya, memicu rasa perih dan tidak aman yang mendalam. Sebagai gadis asal Demura yang kini berada di istana hanya karena sebagai Luna palsu, Runala mendadak sadar betapa rapuh posisinya.Dengan jemari yang masih bergetar, Runala melangkah menuju meja rias. Setelah meletakkan cawan zamrud kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan, takut jika benda berharga itu berdenting dan memecah keheningan, dia membasuh sisa tumpahan sari Iron-Lily di sela jari.Ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Runala terlonjak. Sebelum sempat melangkah, pintu sudah terbuka dari luar dan sosok tegap Solvatar bergerak masuk.Seketika, napas Runala tertahan gugup. Sang pangeran tampak berantakan. Kendati udara

  • Taring Emas Sang Alpha   82. Guncangan yang Membuat Tangan Gemetar

    Runala tidak bisa tenang. Langkah kakinya bergerak mondar-mandir di atas karpet tebal, memotong kesunyian kamar yang luas. Tatapannya sesekali tertuju pada pintu kayu yang terkunci rapat, lalu beralih ke deretan botol ekstrak bunga di atas meja. Kecemasan menggerogoti hatinya sejak Solvatar melangkah pergi ke koridor utama. Istana ini terasa seperti labirin yang penuh dengan duri tidak kasat mata.Kehilangan Solvatar dari pandangannya membuat malam terasa berkali-kali lipat lebih mencekam.Ketukan itu seketika memutus ketegangan Runala. Dia bergegas mendekat, memutar kunci dengan cepat, dan membukakan pintu. Begitu sosok tegap Solvatar menyelinap masuk, Runala langsung merapatkan kembali daun pintu dan menguncinya dari dalam.Solvatar berdiri dengan napas yang agak tertahan. Di bawah pendar lilin kamar yang temaram, rahang pangeran bungsu itu tampak mengeras, dengan kilat amarah yang pekat di kedua matanya. Runala tidak perlu mendengar sepatah kata pun untuk tahu jawabannya. Intuisiny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status