LOGIN"Tasnya bagus yang merah ini atau hitam, Pak?" tanya Bianca dengan centil. Pak Laksana terkekeh. "Ambil dua-duanya, Sayang—eh, Mbak Bianca maksudnya!" balasnya. Bianca segera mulai akting. "Tapi saya belum gajian, Pak. Kerja aja baru mulai hari ini," balasnya. Pak Laksana tersenyum lebar. "Ah, kamu kan sekretaris saya! Pakai saja yang saya!" katanya lalu mengeluarkan kartu kreditnya. Bianca segera meniupkan ciuman untuk sang bos. "Ihihi, Bapak baik, deh!" balasnya. SPG yang melayani mereka diam-diam menggerutu. "Dasar enong-enong murahan."Bianca langsung menatapnya. "Eh, Mbak barusan bilang apa, ya?" tanyanya. Si SPG segera memasang senyum terbaiknya. "Tasnya mau langsung dipakai atau dimasukkan kantong, Mbak?" tanyanya ramah. Bianca segera memperhatikan kedua tasnya. "Yang merah ini saya pakai langsung, deh Mbak. Yang hitam ini masukkan kantong," katanya. Ujung bibir Mbak-mbak SPG itu berkedut sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum. Sepertinya dia sudah sering ber
Maka keesokan harinya, Bianca resmi dicopot dari jabatannya sebagai sekretaris Tian. Jelas hal itu membuat para karyawan yang membencinya "berpesta". Mereka senang orang yang dianggap masuk lewat jalur orang dalam itu akhirnya dipecat. Belum lagi kinerjanya yang ternyata benar-benar buruk.. Tapi mereka segera tahu bahwa Bianca dipindahkan ke kantor cabang. Walaupun begitu, para karyawan di kantor pusat tetap merasa senang tidak harus sekantor dengan Bianca lagi. "Katanya dia jadi sekretaris Pak Laksana," kata seorang karyawati mulai menggosip. "Cih! Pasti bakalan menggatal dia sama beliau. Beliau kan terkenal brengseknya. Nggak mungkin dia akan melepaskan mangsa seperti Bianca yang nyodorin dirinya sendiri," balas karyawati lain dengan muak. "Eh, omong-omong katanya setiap bulan si Bapak nyewa LC?" sahut karyawan lain. "Yah, YTTA lah, ha ha ha!" balas karyawan lain lalu tertawa. Maka, kepergian Bianca selain disambut oleh semua orang, juga membuat mereka menggosip kan hal baru d
Sementara itu, Bianca sendiri sedang memantapkan posisinya di kantor Tian. Dia kini menjabat sebagai sekretaris pribadi lelaki itu. Tugasnya cuma dua, melayani urusan kantor. Dan melayani Tian. Tugas kedua jelas cuma akal-akalan pasangan itu saja. Bianca memang sengaja menyenangkan hati Tian agar memudahkannya mendapat keuntungan di salah satu perusahaan Sadawijaya Group. Tian sendiri? Masa iya dia mau menolak usaha Bianca. Dia kan laki-laki, jelas mau kalau disodori ikan asin. Banyak karyawan yang tidak menyukai pengaturan itu. Jalan Bianca yang masuk melalui jalur orang dalam jelas membuat banyak orang geram. Orang-orang yang susah payah berusaha untuk sampai ke posisinya akhirnya tidak mendapatkan apa-apa kecuali tetap tinggal di posisi mereka saat ini. "Lacur, dia," kata seorang karyawan Divisi Keuangan. "Jelas, lihat pakaiannya. Mau kerja apa "kerja" sih?" sindir karyawan lainnya. "Harusnya Mischa tuh, yang dapat posisi itu! Dia udah lolos tes sampai tahap akhir!" protes ka
"Nah, gitu dong, Mbak!" seru seorang pria sambil melipat tangannya depan dada. "Kenapa Mbak baru berani, sih?" lanjutnya. Seorang wanita lalu memukul lengannya. "Hus, udah, Pa!" balasnya. Husain, adik Marlina satu-satunya, paman Yasmin dan Tian memandang istrinya. Usianya 45 tahun. Wajahnya masih terlihat tampan, dan sama seperti Marlina, dia memiliki fitur wajah memukau yang menujukkan bahwa saat muda dia pasti tampan. Dia sedang berada di apartemen Yasmin bersama dengan istrinya. "Ya gimana, Ma. Mbak Lina itu terlalu baik sama suaminya! Bahkan sampai si tua bangka itu memanfaatkannya dan menikah lagi!" lanjut Husain dengan kesal. Clara, istri Husain memutar bola matanya. Dia lalu menatap Marlina dengan ekspresi minta maaf. "Maaf, Mbak. Husain emang kalo ngomong nggak dipikir dulu," katanya sambil mencubit lengan suaminya. Marlina tersenyum kecil. "Yaaa dia bisa dibilang benar juga kok. Cuma penyampaiannya aja yang emang kurang ajar," balasnya yah membuat Cl
"Saga menangani kasusku, Tante. Dia sudah mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Tian tapi Om Guntur lalu membebaskannya dengan jaminan," katanya dengan pahit. Marlina kembali terperangah. "Guntur melakukan itu? Nonsense! Tapi Tante kenal karakternya. Dia pasti mau bersih-bersih kalau ada masalah! Jadi harusnya Tante nggak heran kalau dia pakai koneksi dan uang buat membebaskan Tian," balasnya dengan suara getir. "Itu nggak adil buat kamu, Del! Harusnya Tian mempertanggungjawabkan perbuatannya! Kalau—amit-amit ya—waktu itu kamu terluka sampai meninggal, gimana?" lanjutnya sambil mema.ndang Adeline dengan prihatin. Adelibe menggigit bibirnya. Dia segera memandang Yasmin seolah meminta bantuan. Yasman diam-diam mengangguk. Maka Adelinepun mendapatkan keberanian. "Jadi, gini Tante. Setelah kepalaku membentur meja, aku pingsan. Tian pikir aku—aku udah tewas, Tante. Terus aku dengar Om Guntur bilang ke Tian buat membereskanku. Tante tentu tahu maksudnya, kan?" katanya dengan pelan karena
"Tanteee!!!" seru Adeline lalu segera berlari ke arah Marlina dan memeluknya. Marlina, ibu Yasmin dan Tian tertawa kecil kepadanya. Dia duduk di atas kursi roda. Wajahnya agak pucat, tapi tetap memiliki pesona masa mudanya. Rambutnya yang hitam dan disela dengan uban panjangnya di atas dada. Wajahnya putih bersih, bibirnya dipulas lipbalm berwarna merah yang menambahkan rona di wajahnya. "Eh, Adeline! Ya ampun Tante lama nggak ketemu kamu!" balas beliau kemudian. Beliau membalas pelukan Adeline dengan sama hangatnya. Adeline menatap wanita di depannya. "Adeline juga udah lama nggak ketemu Tante. Satu bulan kayak berasa lamaaa banget, kangen!" balasnya lalu memeluk Marlina lagi. Yasmin sementara itu tersenyum sambil memilah-milah buah di dapur kecilnya. Dia melihat interaksi keduanya dengan senang. "Coba kamu jadi adik kandungku, Del. Bisa-bisa kamu dimanja habis-habisan sama Mama," katanya lalu terkekeh.Adeline menatap Yasmin dan Marlina bergantian. "Aku sih mau-mau aja jadi p







