Share

Tawanan Cinta Mafia Tampan
Tawanan Cinta Mafia Tampan
Author: Geny Giany

BAB 1

"Lepaskan aku!" teriak Gabby saat kedua pria berbadan kekar menyeretnya ke ruangan Raizel.

“Siapa gadis ini?” tanya Raizel dengan tatapan nanar. Dia melangkah ke arah Gabby sambil memasukkan kedua tangan di saku celana.

“Maaf, Bos! Setelah kami datang ke rumah Riko dan Laura, mereka ditemukan gantung diri dan rumahnya habis terbakar. Yang tersisa hanya gadis ini,” ucap Alex, preman yang bekerja untuk Raizel.

Pandangan Gabby menjelajah seisi ruangan yang berukuran 5x5 meter itu. Suasananya terasa begitu mencekam. Apalagi ruangan yang didominasi oleh warna hitam itu terdapat banyak koleksi senpi dan sajam yang menggantung di dinding. Yang lebih mencuri perhatian Gabby adalah sosok pria tampan bertubuh kekar yang disapa bos oleh kedua preman itu.

“Sebenarnya aku ada di mana? Kalian siapa?” teriak Gabby, masih berusaha memberontak.

“Gimana, Bos? Barangkali dia bisa kita jual,” lanjut Dion, yang turut memegangi Gabby.

Raizel hanya melambaikan tangan, memberi kode agar Dion dan Alex keluar dari ruangannya.

“Tinggalin aja! Biar gue yang urus,” ucap Raizel memberi perintah.

“Baik, Bos!” seru Alex dan Dion secara bersamaan. Kemudian mereka pergi meninggalkan ruangan Raizel.

“Kalian mau ke mana? Bawa aku pergi dari sini!” teriak Gabby dengan raut panik.

Raizel segera mencengkram pipi Gabby hingga gadis itu mendongak.

“Ssst! Tidak perlu takut. Aku tidak akan membunuhmu,” bisik Raizel.

Pria itu menghirup rambut Gabby lalu mengusap pipinya yang tercoreng abu dari rumah yang terbakar.

“Si-siapa kamu? Jangan macam-macam, ya!” seru Gabby dengan suara gemetar. Dia mulai takut akan gerak-gerik Raizel yang terlihat aneh.

“Sepertinya aku akan membutuhkanmu,” ucap Raizel menyeringai.

Pandangan Raizel menelisik lekuk tubuh Gabby yang terlihat kurus. Saat itu Gabby hanya memakai gaun putih polos selutut yang tampak kotor. Tanpa aba-aba, Raizel pun merobek gaun Gabby hingga terpampang pakaian dalamnya.

“Aaah!”

Gabby menjerit sekaligus terkejut. Dia tak pernah menunjukkan bagian dalam tubuhnya kepada lelaki mana pun.

“Apa yang kamu lakukan?” pekik Gabby dengan mata terbelalak. Kedua tangannya sibuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.

Raizel hanya tersenyum kecut menanggapi reaksi gadis di hadapannya. Kemudian dia mulai bertanya sambil memperhatikan Gabby dari ujung rambut hingga kaki.

“Siapa namamu?” tanya Raizel.

“Ga-Gabriella,” jawab Gabby sedikit gugup.

Raizel mengangguk-angguk sambil berjalan mengelilingi Gabby.

“Apa kau tahu kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Raizel kembali.

Gabby hanya menggeleng. Sebenarnya dia belum mencerna situasi yang sedang terjadi.

“Gabriella,” ucap Raizel pelan, “Kau adalah putri semata wayang Riko dan Laura, kan?”

Gabby mendelik ke arah Raizel. Dia tak terima jika pria itu menyebut nama orang tuanya.

“Kenapa? Apa hubungannya semua ini dengan mendiang orang tuaku?” tanya Gabby dengan sinis.

“Orang tuamu berhutang ratusan juta padaku. Tapi mereka malah mengakhiri hidupnya,” jawab Raizel sambil terkekeh.

“Terus? Kau mau bagaimana?” tanya Gabby, menantang.

“Hutangnya harus tetap dibayar. Apa kau sanggup melunasinya hari ini juga?” tanya Raizel, menyeringai.

Seketika Gabby bergeming. Dia tak memiliki uang sepeser pun saat ini. Jangankan untuk membayar hutang, memperbaiki rumah yang habis terbakar pun tak bisa. Dia hanya seorang pengangguran yang bergantung pada orang tua.

“Bagaimana Gabriella?” tanya Raizel, menanti jawabannya.

“Jika aku tidak punya uang, apa yang akan kau lakukan?” Gabby balik bertanya.

Raizel pun menghela napas gusar sambil mengusap dagunya yang dihiasi cambang tipis.

“Kalau begitu kau harus bekerja denganku!” jawab Raizel

“Be-bekerja apa?” tanya Gabby terbata-bata.

“Menjadi penari yang mempertontonkan tubuhmu ini,” jawab Raizel menyeringai. Kini tangannya mengusap lembut bagian tubuh Gabby yang tampak menonjol.

Gadis itu pun menggelinjang lalu menepis tangan Raizel yang bergerak turun ke bagian pribadinya.

“Kalau aku tak mau?” tanya Gabby gemetar. Sepasang netranya sudah berembun, menahan bulir air yang akan melesak keluar.

****

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status