LOGINElshi tersenyum, ini untuk pertama kalinya dia melihat Damian cemburu."Nanti aku kenalkan kalian," kata Elshi singkat.Sepanjang hari ini Damian tampak tidak mood bekerja, dia masih cemburu kepada Elshi.Setelah jam pulang, Elshi tampak tidak melihat Damian, biasanya pria itu selalu mengantarnya ke depan parkir. Apa dia marah, pikir Elshi.Elshi berinisiatif menghubunginya, namun kali ini nomor ponselnya tampak tidak aktif. Setelah pulang, seharian ini nomor ponselnya tidak aktif, Elshi rasa dia harus menjelaskan dan menemui prianya itu. Dia baru tahu Damian kalau cemburu bakal sama seperti saat dia marah.Ketika waktu menunjukkan pukul 9 malam, Elshi segera menemui Damian di rumahnya, namun ternyata rumah itu tampak kosong. Ke mana Damian sebenarnya.Tiba-tiba terdengar dering ponsel di ponsel Elshi, tampak itu dari sahabat terdekat Damian, Ardy."Hallo, Ardy, apa Damian bersamamu? Aku sedang mencarinya dari tadi," tan
"Kak Elshi, maaf kak, aku tidak kabur, aku obatin luka ku dulu, aku pasti bakal menemui kakak lagi. Zea sedang bersama ku, kami baik-baik saja kak, kakak jangan khawatir," jelas Roy dari balik ponsel."Kamu tahu, apa yang akan di pikirkan anggotaku jika tahu kamu, musuh bebuyutan kami berhasil kabur bersama Zea. Aku bakal di anggap tidak becus karena tidak bisa mengurus orang sepertimu. Dan Hugo, dia pasti akan mentertawakan ku karena dia berhasil membunuh Leo orangku, sedangkan anggotaku Zea justru menyelematkan dan membawamu kabur," murka Elshi.Zea segera mengambil ponsel Roy dan berbicara kepada Elshi."Kak Elshi, kamu akan menyakiti Roy lagi bukan jika dia kembali, aku akan bawa Roy ke luar negeri, kak Elshi jangan repot-repot mencari ku," jelasnya."Kamu sudah tidak peduli dengan almarhum ayah, kamu juga tidak peduli dengan mentalku demi lelaki pengkhianat itu," Elshi berteriak."Aku peduli, tapi apa kakak peduli dengan Roy dan aku,
Setelah menyelidiki Nirwana Chip, Elshi segera pamit kepada anggotanya. Ia mengatakan bahwa dirinya harus segera mengurus Wanita Srigala dan orang-orang Hugo. Ia meminta anggotanya untuk menunggu instruksi berikutnya darinya.Empat puluh lima menit kemudian, Elshi tiba di kediamannya. Rumah itu tampak sepi karena para pelayan dan satpamnya sedang mudik untuk menghadiri pernikahan keluarga mereka.Saat menuju ruangan Zea, mata Elshi terbelalak. Zea tidak berada di sana. Ia segera berlari ke gudang, dan benar saja, Roy juga tidak ada."Brengsek, mereka berani kabur!" murka Elshi.Elshi tiba-tiba menyadari sesuatu. Satu jam lagi seharusnya Damian akan sadar dari tidurnya. Ia segera bergegas ke rumah pohon di tepi danau. Saat Damian terbangun, Elshi harus ada di sampingnya.Empat puluh lima menit kemudian, ia tiba di rumah pohon. Orang-orangnya masih setia menjaga Damian dari luar. Elshi berterima kasih dan meminta mereka untuk segera beristi
Elshi terdiam mendengar perkataan Damian, matanya berkaca-kaca. Dia tidak berniat membujuk lagi, mungkin karena mood dan mentalnya tidak dalam keadaan baik akhir-akhir ini.Elshi melepas ikatan di tangannya dengan mulutnya, kemudian segera beranjak ke arah kunci mobil. Tidak lupa, ia mengucapkan selamat bersenang-senang kepada Damian.Dengan cepat, Damian menarik tangannya dan membawa Elshi ke dalam pelukannya."Sayang, aku hanya mengerjaimu. Aku tidak marah lagi. Temani aku malam ini, ya," rengek Damian.Elshi mendorong tubuh Damian yang dari tadi tidak mengenakan baju dengan kasar, hingga lelaki tampan tersebut jatuh ke atas kasur empuk. Dengan brutal, dia menghujam Damian dengan ciuman bertubi-tubi tanpa ampun.Elshi mengikat tangan Damian ke atas dengan kain yang tadi menutup mata Damian.Bara gairah membara di tubuh Damian. Seluruh tubuhnya kini menegang, napasnya berat dan terengah. Sudah cukup lama Elshi memainkan semua in
Seketika Elshi membatu. Air matanya tak mampu lagi ia bendung. Untuk pertama kalinya, dia kehilangan anggotanya dengan cara tragis. Tanpa mengedipkan mata, air bening itu mengalir begitu saja. Tangannya kini gemetar. Dengan tatapan penuh kebencian, Elshi menatap ke arah Roy. Kali ini, dia berjalan dengan tenang ke arah Roy, kemudian mengambil barbel dan mencoba menghantamkannya ke kepala Roy. Dengan cepat, Zea kembali menghadang hantaman itu. Dia menahan tangan Elshi, namun karena beban tersebut sangat berat, Zea menjatuhkannya ke lantai, ke arah yang lebih aman dari Roy, dengan gerakan sedikit menangkis. Zea memeluk kakaknya dan memohon."Kak Elshi, tolong jangan lakukan ini, Kak. Kakak percaya kepadaku bahwa Roy tidak terlibat dalam misi penumpasan terhadap kita." Tangis Zea pecah.Roy terlihat lunglai dan tak sadarkan diri karena rasa sakit dan cedera yang ia alami. Dia ambruk di lantai.Elshi menghampiri dan ingin menginjak dada Roy dengan kakinya. Ka
Elshi sedang menyisir rambut indahnya di depan cermin rias di dekat ranjang tidurnya. Zea melangkah masuk dan segera berdiri di belakang kakaknya yang sedang duduk di kursi. Dari pantulan cermin, tampak wajah tegang Zea yang terlihat jelas oleh Elshi."Zea, kenapa? Apa ada masalah? Katakan?" kata Elshi."Kak Elshi, jika aku jujur tentang hal besar, apa kakak bisa berjanji untuk tidak sembarangan bertindak? Apa kakak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dulu?" kata Zea memulai pembicaraan."Jika itu kecerobohan, ketidaktahuan, kesalahpahaman, maka aku akan maafkan. Tapi jika bersangkutan dengan pengkhianatan, maka pasti aku hukum bahkan lenyapkan tanpa ampun," sahut Elshi.Tubuh Zea bergidik hebat. Apakah posisi Roy bisa dikatakan sebagai pengkhianatan? Tiba-tiba Zea menangis. Dia yang kuat, ganas, dan mematikan selama berada di kelompok Queen Mafia ternyata harus menangis karena takut kehilangan Roy dari dunia ini."Zea, ada apa? K
"Queen, Hugo berencana membunuh orang kepercayaanmu, Mario. Mario telah menjadi target. Dia juga ingin menjebak mu lewat penyanderaan Mario. Queen, bagaimana ini? Satu lagi, Queen, pemimpin eksekusi penyanderaan dan pembunuhan ini adalah salah satu anak buah kesayangan dan kepercayaan Hugo, eksek
Malam ini hujan turun dengan deras. Jam menunjukkan pukul 00.45 tengah malam. Elshi masih kesusahan tidur, seperti biasa. Dia berdiri di balkon sambil menyeruput kopi hangat.Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di depan pagar rumahnya. Orang itu basah kuyup, sepertinya sosok tidak asi
Zea menarik pelatuknya dan segera bersiap membunuh lelaki yang berada di depannya saat ini."Zea, sayangku, kamu boleh membunuhku, tapi sebelumnya izinkan aku menjelaskan semuanya padamu. Setelah itu aku berjanji, aku akan mati dalam pelukanmu," pinta Roy lirih.Roy maju beberap
Dari gelagatnya aku rasa mereka adalah orang yang berbahaya, aku hanya asal ngomong menyebut mereka mafia," kata Axel.Zea tidak banyak omong, dia tampak linglung di dalam mobil."Zea, aku tahu nama mereka. Lelaki berbaju hijau itu yang berdiri di dekat Roy bernama Hendro,







